Percepatan Stimulus Belanja Pemerintah

Penulis: Joko Tri Haryanto (Tahun 2017)

Realisasi pertumbuhan ekonomi di kuartal ketiga 2017 hanya mencapai 5,06% year on year (yoy). Meski lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2015 yang hanya 4,77% atau 2016 sebesar 5,01%, pencapaian tersebut masih dianggap penggambaran melemahnya daya beli masyarakat akhir-akhir ini. Terlebih jika dikaitkan dengan konsensus beberapa ekonomi yang memprediksikan pencapaian sekitar 5,12% atau proyeksi dari Bank Indonesia (BI) yang menyentuh kisaran 5,17% (KONTAN, 7 November 2017). Menariknya berdasarkan riset Nielsen, disebutkan bahwa daya beli masyarakat memang sudah melemah sejak lima tahun terakhir. Hal ini dibuktikan dengan melorotnya pertumbuhan penjualan fast moving consumer goods (FMCG) (KONTAN, 3 November 2017).

 

Klik disini...


Waspada Arus Kas APBN 2017.pdf

Penulis: Joko Tri Haryanto (Tahun 2017)

Menjelang akhir tahun 2017, Pemerintah tampaknya berusaha sekuat tenaga mengejar target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2%. Meskipun dirasa berat, namun optimisme masih tetap ada. Salah satu opsi yang dijalankan adalah percepatan belanja APBN sebagai salah satu stimulus utama dalam menggerakkan roda ekonomi di sektor riil. Hingga 31 Agustus 2017, realisasi belanja negara sudah mencapai Rp1.198,26 triliun atau 56,16% dari target APBN-P 2017. Dari komposisinya, belanja pemerintah pusat sudah mencapai Rp695,66 triliun atau 50,9% dari target sementara Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TkD&DD) mencapai Rp502,6 triliun atau 65,6%.

 

Klik disini...


Bansos Untuk Pertumbuhan Inklusif

Penulis: Joko Tri Haryanto (Tahun 2017)

Paska pidato kenegaraan Presiden tanggal 16 Agustus 2017 yang lalu sekaligus menyampaikan pengantar Nota Keuangan Rancangan APBN (R-APBN) 2018, saat ini pemerintah dan DPR sedang membahas secara intensif. Dalam beberapa kesempatan, pemerintah sepertinya mengambil langkah moderat mengingat kondisi perekonomian global di tahun 2018 diproyeksikan masih mengalami perlambatan (4,8% di negara berkembang dan 1,9% di negara maju) dengan volume perdagangan dunia hanya berkisar 3,8%-3,9%. Perlambatan masih muncul seiring dengan meningkatnya proteksionisme perdagangan, penguatan dolar AS yang akan memicu pembalikan modal di negara berkembang, harga-harga komoditas yang masih lesu, risiko geopolitik dampak Brexit serta isu penuaan populasi di beberapa negara maju.

 

Klik disini...

Telah diterbitkan di Koran Kontan pada tanggal 27 Oktober 2017


ESELON I KEMENTERIAN KEUANGAN


KONTAK: Jl. Dr. Wahidin No. 1 Gd. R. M. Notohamiprodjo, Jakarta Pusat 10710
email: ikp@fiskal.depkeu.go.id

  Kurs Pajak : KMK Nomor 46/KM.10/2017,   USD : 13,538.00    AUD : 10,270.01    GBP : 17,854.48    SGD : 9,975.68    JPY : 12,011.46    EUR : 15,945.16    CNY : 2,040.14