Daily Update : 22-08-2017 | Download File :

BERITA GLOBAL

  • Bursa saham AS ditutup menguat meskipun masih dibayangi berlanjutnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Korea Utara serta penurunan harga minyak yang menekan saham sektor energi. Indeks Dow Jones dan S&P 500 ditutup menguat masing-masing 0,13 persen dan 0,12 persen. (Reuters)

BERITA DOMESTIK

  • Pemerintah memutuskan untuk menunda penerbitan paket kebijakan ekonomi XVI karena masih menunggu momentum yang tepat. Sebelumnya, paket kebijakan tersebut diprediksi  akan dirilis pada 17 Agustus lalu. Paket Kebijakan XVI ini akan mencakup deregulasi untuk memudahkan investasi. (Bisnis Indonesia)
  • Pemerintah membuka peluang untuk penerbitan surat berharga negara (SPN) bertenor satu bulan sebagai upaya untuk manajemen kas. Penerbitan SPN satu bulan tersebut akan memudahkan pemenuhan likuiditas jangka pendek. Saat ini, rencana tersebut masih dalam tahap diskusi dengan berbagai pihak. Pembahasan juga terkait mengenai apakah penerbitannya dilakukan secara lelang rutin/reguler atau sesuai kebutuhan atau permintaan. (Ipotnews)
  • Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengkaji kriteria baru Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) penerima manfaat subsidi perumahan, baik dalam bentuk Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) maupun Subsidi Selisih Bunga (SSB). Kementerian PUPR akan mengelompokkan MBR dalam beberapa regional dengan tingkatan batas minimal penghasilan tertentu yang berbeda-beda tiap regional. Hal tersebut nantinya akan menentukan besaran subsidi yang diberikan dengan harapan untuk pemerataan dan keadilan. Saat ini, besaran pemberian fasilitas FLPP lebih kepada batasan maksimal harga rumah. (Ipotnews)
  • Pemerintah akan mengatur kebijakan pengenaan pajak bagi pelaku perdagangan elektronik alias e-commerce. Namun, hingga saat ini, Pemerintah masih melakukan kajian pengenaan pajak e-commerce. Pemerintah berencana mengenakan setiap transaksi dengan memanfaatkan data pembayaran transaksi melalui gerbang pembayaran nasional (National Payment Gateway/NPG) yang akan dipantau oleh Bank Indonesia (BI). Pungutan pajak e-commerce, bertujuan untuk menciptakan kesempatan dan keadilan (level of playing field) yang sama bagi para pelaku industri, baik yang melakukan perdagangan langsung maupun melalui e-commerce. (CNNINdonesia).
  • Bank Indonesia mencatat instrumen utang sertifikat deposito atau negotiable certificate of deposit (NCD) yang sudah diterbitkan perbankan sejak Januari hingga pertengahan Agustus 2017 mencapai Rp21 triliun. Sejumlah bank juga telah mengajukan ke BI untuk memperoleh izin NCD yang bisa diterbitkan dan ditransaksikan di pasar uang. Selain itu, beberapa perusahaan efek sebagai perantara, pialang pasar uang, dan bank kustodian juga sudah mengajukan izin untuk mendukung transaksi dan penerbitan NCD tersebut. Dengan fasilitas NCD tersebut, bank yang memiliki kekurangan likuiditas dapat mencari dana melalui pasar uang. (CNNIndonesia)

Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Weekly Update : 14-08-2017 s.d 20-08-2017 | Download File :

 

 

“Tekanan geopolitik global mereda di tengah rilis data inflasi AS yang mengalami sedikit peningkatan dan data perekonomian global yang sebagian besar positif”

Perekonomian Negara Maju

Rilis data Departemen Tenaga Kerja AS menujukkan pada bulan Juli 2017 inflasi AS mengalami sedikit peningkatan menjadi 0,1 persen mom atau 1,7 persen yoy dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 0,0 persen mom atau 1,6 persen yoy. Perkembangan tersebut mendorong ekspektasi pasar bahwa the Fed akan mempertahankan tingkat suku bunga yang lebih rendah lebih lama pada tahun ini. Sementara itu, data lainnya menunjukkan penjualan ritel AS tercatat 0,6 persen pada bulan Juli didorong oleh kenaikan jumlah pembelian kendaraan bermotor.

Ekonomi Eropa pada Q2-2017 tumbuh 2,2 persen yoy, sedikit lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 2,1 persen. Peningkatan ini menunjukkan adanya penguatan ekonomi di kawasan tersebut. Hal ini diperkuat oleh rilis data ekonomi Jerman untuk Q2-2017 yang tumbuh 0,6 persen terutama didorong oleh kuatnya konsumsi rumah tangga dan meningkatnya pengeluaran pemerintah.

Penjualan ritel Inggris untuk bulan Juli secara bulanan tetap berada pada angka 0,3 persen. Secara tahunan, penjualan ritel Inggris tercatat sebesar 1,3 persen yoy, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 2,8 persen. Penurunan tersebut  tertekan oleh rendahnya jumlah penjualan barang rumah tangga.

Tingkat pengangguran Australia untuk bulan Juli sedikit menurun dibandingkan bulan sebelumnya dengan pertumbuhan sebesar 5,6 persen. Angka partisipasi tenaga kerja meningkat, mencapai 65,1 persen yang menandakan lebih banyak orang yang bekerja dan mencari pekerjaan. Namun, lapangan kerja yang tersedia sebagian besar adalah pekerjaan paruh waktu.

Dari kawasan Asia, neraca perdagangan Jepang kembali mencatatkan surplus sebesar USD419 miliar, ditopang oleh keuntungan dari investasi luar negeri. Ekonomi Jepang pada Q2-2017 mengalami pertumbuhan sebesar 4,0 persen yoy atau 1,0 persen qoq, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kuartal sebelumnya didorong oleh peningkatan permintaan domestik, pengeluaran konsumen, dan capital expenditure.

Perekonomian Singapura pada Q2-2017 tercatat tumbuh sebesar 2,9 persen yoy dipicu oleh pertumbuhan sektor manufaktur yang sejalan dengan kuatnya permintaan barang semikonduktor serta sektor jasa yang juga mengalami penguatan.

Perekonomian Negara Berkembang

Produksi sektor industri Tiongkok pada bulan Juli 2017 mengalami penurunan menjadi 6,4 persen dari 7,6 persen yang tercatat pada bulan sebelumnya. Angka tersebut jauh di bawah perkiraan analis yang memprediksi  produksi sektor industri Tiongkok berada pada angka 7,2 persen didukung oleh peningkatan produksi outputdari industri barang bernilai tambah. Neraca perdangan Korea Selatan tercatat surplus sebesar USD10,30 miliar. Surplus tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan ekspor yang kuat.

Inflasi India bulan Juli tercatat sebesar 2,36 persen, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang sebesar 1,54 persen. Kenaikan inflasi tersebut dipicu oleh kenaikan sebagian besar harga pangan terutama harga sayuran dan gula. Kondisi ini mempersempit kemungkinan India untuk melakukan kebijakan moneter dalam hal ini monetary easing.

Kantor Statistik Nasional Brazil melaporkan penjualan retail Brazil untuk bulan Juni mencatkan pertumbuhan sebesar 1,2 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,2 persen. Segmen furniture dan peralatan rumah tangga mengalami pertumbuhan paling tinggi disusul oleh pertumbuhan penjualan segmen tekstil, pakaian dan alas kaki.

Perekonomian Nasional

Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Q2-2017 membukukan surplus sebesar USD0,7 miliar didorong oleh surplus transaksi modal dan finansial yang lebih besar dari defisit transaksi berjalan. Surplus tersebut meningkatkan cadangan devisa dari USD121,8 miliar pada Q1-2017 menjadi USD123,1 miliar pada Q2-2017. Transaksi modal dan finansial pada Q2-2017 mencatat surplus USD5,9 miliar didukung oleh meningkatnya surplus investasi langsung dan investasi portofolio. Sementara itu, defisit transaksi berjalan tercatat lebih besar seiring menurunnya surplus neraca perdagangan nonmigas disertai meningkatnya defisit neraca jasa dan pendapatan primer. Defisit transaksi berjalan pada Q2-2017 tercatat sebesar USD5,0.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada bulan Juli 2017 mengalami defisit sebesar USD270 juta, berbeda dengan bulan sebelumnya yang masih mencatatkan surplus sebesar USD1,63 miliar. Ekspor Indonesia tercatat mencapai USD13,25 miliar atau naik 16,83 persen mom sementara impor mencapai USD13,89 miliar, naik 39 persen. Secara ytd (Januari-Juli), neraca perdagangan masih mencatatkan surplus USD7,93 miliar dengan total ekspor mencapai USD93,6 miliar dan impor Indonesia mencapai USD86,2 miliar.

Pemerintah melalui Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional menargetkan untuk menerbitkan tujuh juta sertifikasi lahan pada 2018. Pemerintah akan memprioritaskan akses pada masyarakat terutama yang berpenghasilan rendah serta yang masih bermasalah mengenai legalitas asetnya. Hingga saat ini, aset masyarakat yang memiliki sertifikat baru mencapai 46 juta sementara seharusnya terdapat 126 juta aset yang harus disertifikasi. Mayoritas aset yang belum disertifikasi tersebut berupa lahan.

Pemerintah berencana mengenakan cukai atas kemasan plastik mulai tahun 2018 dengan target penerimaan negara dari perluasan cakupan pengenaan cukai mencapai Rp500 miliar. Tujuan utama dari penambahan barang kena cukai tersebut adalah untuk mengurangi konsumsi plastik yang berkontribusi terhadap pencemaran lingkungan. Rencananya, pengenaan tarif cukai akan dikelompokkan berdasarkan jenisnya sesuai dengan tingkat kesulitan penguraiannya. Nantinya pungutan cukai tersebut akan dilakukan di tingkat hulu atau industri. Selain itu, Pemerintah juga akan memberikan insentif fiskal kepada pabrik pengolahan plastik berupa bebas bea masuk dari barang dan modalnya.

Perkembangan Komoditas Global

Perkembangan harga minyak mentah global pekan ini dipengaruhi oleh pelemahan Dolar AS dan juga penurunan jumlah kilang minyak yang beroperasi di Amerika Serikat (AS). Perusahaan energi di AS memotong jumlah sumur minyak yang beroperasi untuk minggu kedua Agustus ini. Di tengah penguatan harga minyak, harga batu bara mengalami penurunan tipis. Harga emas mengalami pelemahan tipis seiring meredanya tekanan geopolitik global. Harga nikel melanjutkan penguatan mingguan, masih dipicu oleh spekulasi terbatasnya suplai pasca keputusan Pemerintah Filipina yang akan membatasi produksi nikel dan akan menutup tambang-tambang yang tidak memenuhi aturan lingkungan. Dari komoditas perkebunan, harga CPO mengalami pelemahan di tengah prediksi turunnya pembelian minyak sawit oleh India.

Perkembangan Sektor Keuangan

Indeks global pada perdagangan akhir pekan ditutup bervariasi dipengaruhi oleh rilis data dan laporan ekonomi dan keuangan di berbagai kawasan. Nilai tukar global juga bergerak bervariasi terhadap Dolar AS. Dari pasar keuangan domestik, IHSG tercatat mengalami pelemahan mingguan sebesar 0,20 persen dan ditutup pada level 5.766,138. Di tengah indeks yang mengalami penguatan mingguan sebesar 2,21 persen dari 5.766, 14 ke 5.893,84, investor asing kembali mencatatkan net sell sebesar Rp763,07 miliar dalam sepekan walaupun secara ytd investor nonresiden masih mencatatkan net buy sebesar Rp3,65 triliun. Nilai tukar Rupiah relatif tidak mengalami perubahan mingguan, berada di level Rp13.362 per USD. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif terjaga sebagaimana tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan selama sepekan.

Dari pasar SBN, pergerakan yield SUN seri benchmark mengalami penurunan sebesar 2 s.d. 8 bps selama sepekan. Di tengah penurunan yield, berdasarkan data setelmen BI per 16 Agustus 2017, kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp779,57 T (39,21%), atau secara nominal turun Rp4,04 triliun dibandingkan posisi pada (11/8) yang sebesar  Rp783.61 T (39.31%). Kepemilikan Asing naik Rp113,77 T (17,09%) secara ytd dan naik Rp4,04 T 0,52%) secara mtd?.

ISU UTAMA: Keseimbangan Eksternal Perekonomian Indonesia Relatif Terjaga

  • Pertumbuhan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia per Q2 2017 tercatat melambat.
  • Perlambatan pertumbuhan ULN pada Q2 2017 tersebut dipengaruhi oleh melambatnya pertumbuhan ULN sektor publik dan kontraksi ULN sektor swasta.
  • Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada Q2 2017 mencatatkan surplus.
  • Surplus NPI pada Q2 2017 didukung oleh surplus transaksi modal dan finansial yang melebihi defisit transaksi berjalan
  • Neraca perdagangan Indonesia pada bulan Juli 2017 mengalami defisit seiring penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas dan peningkatan defisit neraca perdagangan migas.

Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia Q2 2017

ULN Indonesia pada Q2 2017 tercatat tumbuh sebesar 2,9 persen (yoy), sehingga menjadi USD335,3 miliar. Pertumbuhan sebesar 2,9 persen tersebut lebih rendah dibanding Q1 2017 dan Q2 2016 yang masing-masing mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,2 persen (yoy) dan 6,8 persen (yoy). Terhadap PDB, ULN Indonesia pada Q2 2017 tersebut tercatat sebesar 34,2 persen PDB, lebih rendah dibanding posisi per Q2 2016 yang sebesar 37,2 persen PDB. Berdasarkan kelompok peminjamnya, perlambatan tersebut dipengaruhi oleh perlambatan pertumbuhan ULN sektor publik dan kontraksi ULN sektor swasta. Menurut jangka waktunya, ULN Indonesia didominasi oleh ULN jangka panjang yang tercatat sebesar 86,5 persen dari total ULN Indonesia dan sisanya merupakan ULN jangka pendek. Secara proporsi, ULN sektor publik mencapai 50,8 persen dari total ULN Indonesia, sementara ULN sektor swasta tercatat sebesar 49,2 persen dari keseluruhan ULN Indonesia. Berdasarkan sektor ekonominya, ULN sektor swasta tersebut terkonsentrasi di sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, serta listrik, gas dan air bersih dengan porsi mencapai 76,6 persen dari total ULN swasta.

Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Q2 2017

Rilis data sebelumnya menunjukkan bahwa NPI pada Q2 2017 mencatatkan surplus sebesar USD0,7 miliar dengan surplus transaksi modal dan finansial sebesar USD5,9 miliar dan defisit transaksi berjalan sebesar USD5,0 miliar. Surplus pada transaksi modal dan finansial didorong oleh meningkatnya surplus investasi langsung dan investasi portofolio. Sementara itu, defisit transaksi berjalan dipicu oleh penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas di tengah peningkatan defisit neraca jasa yang salah satunya akibat peningkatan pembayaran dividen mengikuti pola musimannya. Terhadap PDB, defisit transaksi berjalan tercatat sebesar 1,96 persen PDB, masih lebih rendah dibanding Q2 2016 yang mencapai 2,25 persen PDB.

Neraca perdagangan Indonesia Juli 2017

Neraca perdagangan Indonesia pada bulan Juli 2017 mencatatkan defisit sebesar USD0,27 miliar seiring menurunnya surplus neraca perdagangan nonmigas dan meningkatnya defisit neraca perdagangan migas. Meskipun demikian, secara ytd (Januari – Juli 2017), neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus sebesar USD7,39 miliar, lebih besar dibandingkan dengan surplus pada periode yang sama tahun lalu sebesar USD4,76 miliar. Penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas pada bulan Juli 2017 tersebut disebabkan oleh kenaikan impor nonmigas yang lebih tinggi dibanding kenaikan ekspor nonmigas. Kenaikan impor nonmigas terjadi pada impor mesin dan peralatan mekanik, mesin dan peralatan listrik, plastik dan barang dari plastik, kendaraan dan bagiannya, serta perhiasan dan permata. Sementara kenaikan ekspor nonmigas terutama terjadi pada ekspor lemak dan minyak hewan nabati, karet dan barang dari karet, kendaraan dan bagiannya, serta mesin-mesin/pesawat mekanik.

Peningkatan yang terjadi pada baik ekspor maupun impor nonmigas tidak terlepas dari membaiknya prospek pertumbuhan perekonomian dunia dan juga perkembangan harga komoditas global. Selain itu, kenaikan impor nonmigas yang terjadi pada sejumlah barang modal juga menunjukkan peningkatan kegiatan investasi di domestik. Semakin membaiknya prospek perekonomian dunia ke depan tentunya akan memberikan dampak positif ke sektor eksternal Indonesia melalui peningkatan neraca perdagangan dan neraca pembayaran serta peningkatan cadangan devisa. Beberapa risiko utama yang masih perlu diwaspadai adalah dinamika kepemimpinan Presiden AS Donald Trump dan risiko geopolitik Korea Utara – AS.


Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

 

 

“Tekanan geopolitik global mereda di tengah rilis data inflasi AS yang mengalami sedikit peningkatan dan data perekonomian global yang sebagian besar positif”

Perekonomian Negara Maju

Rilis data Departemen Tenaga Kerja AS menujukkan pada bulan Juli 2017 inflasi AS mengalami sedikit peningkatan menjadi 0,1 persen mom atau 1,7 persen yoy dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 0,0 persen mom atau 1,6 persen yoy. Perkembangan tersebut mendorong ekspektasi pasar bahwa the Fed akan mempertahankan tingkat suku bunga yang lebih rendah lebih lama pada tahun ini. Sementara itu, data lainnya menunjukkan penjualan ritel AS tercatat 0,6 persen pada bulan Juli didorong oleh kenaikan jumlah pembelian kendaraan bermotor.

Ekonomi Eropa pada Q2-2017 tumbuh 2,2 persen yoy, sedikit lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 2,1 persen. Peningkatan ini menunjukkan adanya penguatan ekonomi di kawasan tersebut. Hal ini diperkuat oleh rilis data ekonomi Jerman untuk Q2-2017 yang tumbuh 0,6 persen terutama didorong oleh kuatnya konsumsi rumah tangga dan meningkatnya pengeluaran pemerintah.

Penjualan ritel Inggris untuk bulan Juli secara bulanan tetap berada pada angka 0,3 persen. Secara tahunan, penjualan ritel Inggris tercatat sebesar 1,3 persen yoy, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 2,8 persen. Penurunan tersebut  tertekan oleh rendahnya jumlah penjualan barang rumah tangga.

Tingkat pengangguran Australia untuk bulan Juli sedikit menurun dibandingkan bulan sebelumnya dengan pertumbuhan sebesar 5,6 persen. Angka partisipasi tenaga kerja meningkat, mencapai 65,1 persen yang menandakan lebih banyak orang yang bekerja dan mencari pekerjaan. Namun, lapangan kerja yang tersedia sebagian besar adalah pekerjaan paruh waktu.

Dari kawasan Asia, neraca perdagangan Jepang kembali mencatatkan surplus sebesar USD419 miliar, ditopang oleh keuntungan dari investasi luar negeri. Ekonomi Jepang pada Q2-2017 mengalami pertumbuhan sebesar 4,0 persen yoy atau 1,0 persen qoq, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kuartal sebelumnya didorong oleh peningkatan permintaan domestik, pengeluaran konsumen, dan capital expenditure.

Perekonomian Singapura pada Q2-2017 tercatat tumbuh sebesar 2,9 persen yoy dipicu oleh pertumbuhan sektor manufaktur yang sejalan dengan kuatnya permintaan barang semikonduktor serta sektor jasa yang juga mengalami penguatan.

Perekonomian Negara Berkembang

Produksi sektor industri Tiongkok pada bulan Juli 2017 mengalami penurunan menjadi 6,4 persen dari 7,6 persen yang tercatat pada bulan sebelumnya. Angka tersebut jauh di bawah perkiraan analis yang memprediksi  produksi sektor industri Tiongkok berada pada angka 7,2 persen didukung oleh peningkatan produksi outputdari industri barang bernilai tambah. Neraca perdangan Korea Selatan tercatat surplus sebesar USD10,30 miliar. Surplus tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan ekspor yang kuat.

Inflasi India bulan Juli tercatat sebesar 2,36 persen, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang sebesar 1,54 persen. Kenaikan inflasi tersebut dipicu oleh kenaikan sebagian besar harga pangan terutama harga sayuran dan gula. Kondisi ini mempersempit kemungkinan India untuk melakukan kebijakan moneter dalam hal ini monetary easing.

Kantor Statistik Nasional Brazil melaporkan penjualan retail Brazil untuk bulan Juni mencatkan pertumbuhan sebesar 1,2 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,2 persen. Segmen furniture dan peralatan rumah tangga mengalami pertumbuhan paling tinggi disusul oleh pertumbuhan penjualan segmen tekstil, pakaian dan alas kaki.

Perekonomian Nasional

Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Q2-2017 membukukan surplus sebesar USD0,7 miliar didorong oleh surplus transaksi modal dan finansial yang lebih besar dari defisit transaksi berjalan. Surplus tersebut meningkatkan cadangan devisa dari USD121,8 miliar pada Q1-2017 menjadi USD123,1 miliar pada Q2-2017. Transaksi modal dan finansial pada Q2-2017 mencatat surplus USD5,9 miliar didukung oleh meningkatnya surplus investasi langsung dan investasi portofolio. Sementara itu, defisit transaksi berjalan tercatat lebih besar seiring menurunnya surplus neraca perdagangan nonmigas disertai meningkatnya defisit neraca jasa dan pendapatan primer. Defisit transaksi berjalan pada Q2-2017 tercatat sebesar USD5,0.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada bulan Juli 2017 mengalami defisit sebesar USD270 juta, berbeda dengan bulan sebelumnya yang masih mencatatkan surplus sebesar USD1,63 miliar. Ekspor Indonesia tercatat mencapai USD13,25 miliar atau naik 16,83 persen mom sementara impor mencapai USD13,89 miliar, naik 39 persen. Secara ytd (Januari-Juli), neraca perdagangan masih mencatatkan surplus USD7,93 miliar dengan total ekspor mencapai USD93,6 miliar dan impor Indonesia mencapai USD86,2 miliar.

Pemerintah melalui Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional menargetkan untuk menerbitkan tujuh juta sertifikasi lahan pada 2018. Pemerintah akan memprioritaskan akses pada masyarakat terutama yang berpenghasilan rendah serta yang masih bermasalah mengenai legalitas asetnya. Hingga saat ini, aset masyarakat yang memiliki sertifikat baru mencapai 46 juta sementara seharusnya terdapat 126 juta aset yang harus disertifikasi. Mayoritas aset yang belum disertifikasi tersebut berupa lahan.

Pemerintah berencana mengenakan cukai atas kemasan plastik mulai tahun 2018 dengan target penerimaan negara dari perluasan cakupan pengenaan cukai mencapai Rp500 miliar. Tujuan utama dari penambahan barang kena cukai tersebut adalah untuk mengurangi konsumsi plastik yang berkontribusi terhadap pencemaran lingkungan. Rencananya, pengenaan tarif cukai akan dikelompokkan berdasarkan jenisnya sesuai dengan tingkat kesulitan penguraiannya. Nantinya pungutan cukai tersebut akan dilakukan di tingkat hulu atau industri. Selain itu, Pemerintah juga akan memberikan insentif fiskal kepada pabrik pengolahan plastik berupa bebas bea masuk dari barang dan modalnya.

Perkembangan Komoditas Global

Perkembangan harga minyak mentah global pekan ini dipengaruhi oleh pelemahan Dolar AS dan juga penurunan jumlah kilang minyak yang beroperasi di Amerika Serikat (AS). Perusahaan energi di AS memotong jumlah sumur minyak yang beroperasi untuk minggu kedua Agustus ini. Di tengah penguatan harga minyak, harga batu bara mengalami penurunan tipis. Harga emas mengalami pelemahan tipis seiring meredanya tekanan geopolitik global. Harga nikel melanjutkan penguatan mingguan, masih dipicu oleh spekulasi terbatasnya suplai pasca keputusan Pemerintah Filipina yang akan membatasi produksi nikel dan akan menutup tambang-tambang yang tidak memenuhi aturan lingkungan. Dari komoditas perkebunan, harga CPO mengalami pelemahan di tengah prediksi turunnya pembelian minyak sawit oleh India.

Perkembangan Sektor Keuangan

Indeks global pada perdagangan akhir pekan ditutup bervariasi dipengaruhi oleh rilis data dan laporan ekonomi dan keuangan di berbagai kawasan. Nilai tukar global juga bergerak bervariasi terhadap Dolar AS. Dari pasar keuangan domestik, IHSG tercatat mengalami pelemahan mingguan sebesar 0,20 persen dan ditutup pada level 5.766,138. Di tengah indeks yang mengalami penguatan mingguan sebesar 2,21 persen dari 5.766, 14 ke 5.893,84, investor asing kembali mencatatkan net sell sebesar Rp763,07 miliar dalam sepekan walaupun secara ytd investor nonresiden masih mencatatkan net buy sebesar Rp3,65 triliun. Nilai tukar Rupiah relatif tidak mengalami perubahan mingguan, berada di level Rp13.362 per USD. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif terjaga sebagaimana tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan selama sepekan.

Dari pasar SBN, pergerakan yield SUN seri benchmark mengalami penurunan sebesar 2 s.d. 8 bps selama sepekan. Di tengah penurunan yield, berdasarkan data setelmen BI per 16 Agustus 2017, kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp779,57 T (39,21%), atau secara nominal turun Rp4,04 triliun dibandingkan posisi pada (11/8) yang sebesar  Rp783.61 T (39.31%). Kepemilikan Asing naik Rp113,77 T (17,09%) secara ytd dan naik Rp4,04 T 0,52%) secara mtd?.

ISU UTAMA: Keseimbangan Eksternal Perekonomian Indonesia Relatif Terjaga

  • Pertumbuhan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia per Q2 2017 tercatat melambat.
  • Perlambatan pertumbuhan ULN pada Q2 2017 tersebut dipengaruhi oleh melambatnya pertumbuhan ULN sektor publik dan kontraksi ULN sektor swasta.
  • Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada Q2 2017 mencatatkan surplus.
  • Surplus NPI pada Q2 2017 didukung oleh surplus transaksi modal dan finansial yang melebihi defisit transaksi berjalan
  • Neraca perdagangan Indonesia pada bulan Juli 2017 mengalami defisit seiring penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas dan peningkatan defisit neraca perdagangan migas.

Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia Q2 2017

ULN Indonesia pada Q2 2017 tercatat tumbuh sebesar 2,9 persen (yoy), sehingga menjadi USD335,3 miliar. Pertumbuhan sebesar 2,9 persen tersebut lebih rendah dibanding Q1 2017 dan Q2 2016 yang masing-masing mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,2 persen (yoy) dan 6,8 persen (yoy). Terhadap PDB, ULN Indonesia pada Q2 2017 tersebut tercatat sebesar 34,2 persen PDB, lebih rendah dibanding posisi per Q2 2016 yang sebesar 37,2 persen PDB. Berdasarkan kelompok peminjamnya, perlambatan tersebut dipengaruhi oleh perlambatan pertumbuhan ULN sektor publik dan kontraksi ULN sektor swasta. Menurut jangka waktunya, ULN Indonesia didominasi oleh ULN jangka panjang yang tercatat sebesar 86,5 persen dari total ULN Indonesia dan sisanya merupakan ULN jangka pendek. Secara proporsi, ULN sektor publik mencapai 50,8 persen dari total ULN Indonesia, sementara ULN sektor swasta tercatat sebesar 49,2 persen dari keseluruhan ULN Indonesia. Berdasarkan sektor ekonominya, ULN sektor swasta tersebut terkonsentrasi di sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, serta listrik, gas dan air bersih dengan porsi mencapai 76,6 persen dari total ULN swasta.

Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Q2 2017

Rilis data sebelumnya menunjukkan bahwa NPI pada Q2 2017 mencatatkan surplus sebesar USD0,7 miliar dengan surplus transaksi modal dan finansial sebesar USD5,9 miliar dan defisit transaksi berjalan sebesar USD5,0 miliar. Surplus pada transaksi modal dan finansial didorong oleh meningkatnya surplus investasi langsung dan investasi portofolio. Sementara itu, defisit transaksi berjalan dipicu oleh penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas di tengah peningkatan defisit neraca jasa yang salah satunya akibat peningkatan pembayaran dividen mengikuti pola musimannya. Terhadap PDB, defisit transaksi berjalan tercatat sebesar 1,96 persen PDB, masih lebih rendah dibanding Q2 2016 yang mencapai 2,25 persen PDB.

Neraca perdagangan Indonesia Juli 2017

Neraca perdagangan Indonesia pada bulan Juli 2017 mencatatkan defisit sebesar USD0,27 miliar seiring menurunnya surplus neraca perdagangan nonmigas dan meningkatnya defisit neraca perdagangan migas. Meskipun demikian, secara ytd (Januari – Juli 2017), neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus sebesar USD7,39 miliar, lebih besar dibandingkan dengan surplus pada periode yang sama tahun lalu sebesar USD4,76 miliar. Penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas pada bulan Juli 2017 tersebut disebabkan oleh kenaikan impor nonmigas yang lebih tinggi dibanding kenaikan ekspor nonmigas. Kenaikan impor nonmigas terjadi pada impor mesin dan peralatan mekanik, mesin dan peralatan listrik, plastik dan barang dari plastik, kendaraan dan bagiannya, serta perhiasan dan permata. Sementara kenaikan ekspor nonmigas terutama terjadi pada ekspor lemak dan minyak hewan nabati, karet dan barang dari karet, kendaraan dan bagiannya, serta mesin-mesin/pesawat mekanik.

Peningkatan yang terjadi pada baik ekspor maupun impor nonmigas tidak terlepas dari membaiknya prospek pertumbuhan perekonomian dunia dan juga perkembangan harga komoditas global. Selain itu, kenaikan impor nonmigas yang terjadi pada sejumlah barang modal juga menunjukkan peningkatan kegiatan investasi di domestik. Semakin membaiknya prospek perekonomian dunia ke depan tentunya akan memberikan dampak positif ke sektor eksternal Indonesia melalui peningkatan neraca perdagangan dan neraca pembayaran serta peningkatan cadangan devisa. Beberapa risiko utama yang masih perlu diwaspadai adalah dinamika kepemimpinan Presiden AS Donald Trump dan risiko geopolitik Korea Utara – AS.

Download Publication
Data Source: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Briefing Notes Update

Alternative text - include a link to the PDF!


ESELON I KEMENTERIAN KEUANGAN


KONTAK: Jl. Dr. Wahidin No. 1 Gd. R. M. Notohamiprodjo, Jakarta Pusat 10710
email: ikp@fiskal.depkeu.go.id

  Kurs Pajak : KMK Nomor 33/KM.10/2017,   USD : 13,362.00    AUD : 10,588.85    GBP : 17,218.01    SGD : 9,805.39    JPY : 12,212.55    EUR : 15,735.09    CNY : 2,000.46