Daily Update : 18-10-2017 | Download File :

BERITA GLOBAL

  • Bursa AS ditutup menguat didorong laporan keuangan perusahaan UnitedHealth dan Johnson & Johnson yang positif.  Secara keseluruhan, 82 persen perusahaan di Wall Street telah merilis kinerja keuangan dengan 76 persen diantaranya berhasil melampaui perkiraan. Indeks Dow Jones dan S&P 500 masing masing menguat sebesar 0,18 persen dan 0,07 persen. (Reuters)
  • Inflasi Selandia baru tercatat sebesar 0,5 persen pada Q3-2017, lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi pada kuartal sebelumnya yang sebesar 0,0 persen didorong oleh biaya bangunan yang terus meningkat. Angka tersebut lebih tinggi dari estimasi sebelumnya sebesar 0,4 persen dan juga lebih tinggi dibandingkan dengan estimasi yang dibuat oleh Reserve Bank of New Zealand sebesar 0,2 persen. (New Zealand Herald)
  • Inflasi inggris pada bulan September 2017 meningkat menjadi 3,0 persen dari 2,9 persen pada bulan sebelumnya. Kondisi ini menguatkan spekulasi bahwa Bank of England akan  menaikkan tingkat suku bunga acuan dalam waktu dekat. (The Guardian)

BERITA DOMESTIK

  • Pemerintah tengah mengkaji skema pembiayaan dana filantropi dari dermawan maupun lembaga multilateral dunia sebagai opsi pembiayaan proyek infrastruktur. Dana tersebut bisa menjadi alternatif penggunaan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Secara global, skema pembiayaan ini dikenal dengan istilah pembiayaan campuran atau blended finance. Saat ini, terdapat beberapa proyek yang potensial untuk bisa dibiayai oleh dana filantropi, salah satunya proyek kereta api ringan atau Light Rail Transit. (CNNIndonesia)
  • Bank Indonesia (BI) menerbitkan peraturan penyelesaian transaksi perdagangan bilateral menggunakan mata uang lokal (local currency settlement). Penerbitan peraturan ditujukan untuk mendukung kestabilan nilai tukar rupiah dengan mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan dolar AS. Peraturan yang tertuang dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 19/11/PBI/2017 ini ingin menjaga kestabilan rupiah dengan cara mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan dolar AS dalam penyelesaian transaksi perdagangan bilateral antara Indonesia dengan negara mitra. Melalui peraturan ini juga diharapkan dapat mengurangi biaya transaksi valas terhadap rupiah dengan terjadinya kuotasi harga secara langsung (direct quotation) antara rupiah dengan beberapa mata uang Negara mitra. Sehingga, ini dapat mengembangkan pasar mata uang regional dan memperluas akses pelaku usaha untuk membayar kewajibannya dalam mata uang lokal. Penerbitan PBI ini merupakan tindak lanjut penandatanganan memorandum of understanding (MoU) antara Bank Indonesia dengan Bank of Thailand dan Bank Negara Malaysia pada 23 Desember 2016 lalu. MoU itu menyepakati kerja sama LCS antara Indonesia, Malaysia, dan Thailand dalam penyelesaian perdagangan internasional antara ketiga Negara tersebut dengan menggunakan mata uang lokal (rupiah, ringgit, dan baht). (Investor Daily)
  • Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyampaikan isi peraturan menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait harga gas industri. Dalam aturan tersebut, dijelaskan bahwa harga gas akan turun sebesar USD0,5-USD1 per MMBTU. Penurunan harga gas untuk industri tersebut bisa menjadi tindak lanjut atau respon atas permintaan industri. Aturan baru tersebut juga akan mengatur harga jalan tol gas yang ada. Hal inindibuat agar tidak ada pihak-pihak tertentu yang mengambil keuntungan di luar batas. (CNNIndonesia)

Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Weekly Update : 09-10-2017 s.d 15-10-2017 | Download File :

 

 

Highlight Minggu Ini

  • IMF menaikkan outlook pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2017 dan 2018, termasuk Indonesia.
  • Wall Street kembali mencatatkan rekor tertinggi

I. Pasar Global

  • Wall St capai rekor tertinggi karena penguatan ekonomi AS
  • Dollar AS kembali menguat
  • Imbal hasil obligasi Treasury AS turun karena sentimen inflasi
  • Harga minyak mentah dunia menguat karena permintaan China dan ketegangan Timur Tengah

I.1. Pasar Saham

Sektor saham A.S. yang sangat siklikal terhadap prospek pertumbuhan ekonomi sedang mengalami reli pasar dan bersiap untuk bertahan setelah tanda ekspansi global muncul dari IMF.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik 30,71 poin atau 0,13 persen untuk berakhir pada 22.871,72, sementara indeks S&P 500 naik 2,24 poin atau 0,09 persen menjadi 2.553,17 dan indeks Nasdaq Composite menambahkan 14,29 poin atau 0,22 persen dan ditutup pada 6.605,80.

Sektor-sektor energi, industri dan keuangan, mengalahkan kenaikan 1,9 persen S&P 500 pada bulan September 2017 setelah sebelumnya tertinggal dari benchmark Indeks SPX yang juga telah naik 14 persen tahun ini dan mencatatkan rekor tertingginya.

Pertanyaan bagi investor ekuitas global sekarang adalah apakah bulan September lalu hanya merupakan periode catch-up ketertinggalan gain sektor siklis, atau dapatkah menjadi sebuah dorongan ekonomi yang berkelanjutan?

Badan Kebijakan Fiskal (BKF) menilai Jika hal itu hanya perdagangan ganti rugi, maka mungkin hal ini hanya akan berlangsung beberapa minggu lagi. Namun jika hal itu sesuatu yang lebih mendasar, seharusnya lebih tahan lama dari itu dan mungkin ada dampak flight to quality bagi pasar berkembang.

I.2. Pasar Uang

Dolar AS sedikit berubah terhadap basket mata uang utama pada di akhir pekan lalu, setelah data menunjukkan kenaikan harga konsumen AS kurang dari yang diperkirakan pada bulan September. 

Indeks dolar AS, yang mengukur nilai mata uang terhadap enam mata uang utama, naik 0,02 persen pada 93,072 setelah jatuh ke level terendah lebih dari dua minggu di 92,749. Indeks ini turun sekitar 0,75 persen untuk minggu ini dan menjadi kinerja mingguan terburuknya dalam lima bulan. Penguatan dolar AS naik tipis setelah Donald Trump memilih keluar dari kesepakatan nuklir Iran 2015.

Euro turun 0,07 menjadi $ 1,1821 setelah Presiden Bank Sentral Eropa Mario Draghi mengatakan pada sidang tahunan IMF bahwa zona Euro terus membutuhkan stimulus moneter yang substansial karena ECB belum berhasil meningkatkan inflasi secara cukup.

I.3. Pasar Obligasi

Investor global memposisikan untuk mengakhiri kinerja bullish di pasar obligasi karena Federal Reserve AS mempersiapkan kenaikan suku bunga pada awal Desember.

Beberapa manajer pendapatan tetap terbesar di dunia membeli opsi atau mengurangi risiko untuk imunisasi portofolio mereka dengan aman, sebagai antisipasi  kenaikan suku bunga AS yang mungkin lebih cepat dari perkiraan.

BKF menilai risiko tingkat suku bunga yang lebih tinggi di zona Euro bisa memicu sell-off secara global di pasar pendapatan tetap Eropa. Imbal hasil obligasi 10 tahun Jerman meningkat tajam sejak bulan lalu, dan investor menunggu tanda-tanda bahwa Bank Sentral Eropa akan mulai taper stimulus pembelian obligasi pada pertemuan kebijakan berikutnya pada 26 Oktober 2017.

I.4. Pasar Komoditas

Dolar yang lebih tinggi membuat harga komoditas terhadap greenback lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Emas naik ke level tertinggi dalam 3 minggu pada hari Jumat pekan lalu setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa akan mengakhiri kesepakatan nuklir 2015 dengan Iran dan setelah data inflasi AS yang lemah mengurangi peluang kenaikan suku bunga acuan the Fed.

BKF menilai motif ambil keuntungan mendorong harga emas menembus resistance Fibonacci dan moving average 50 hari di sekitar US $1.298 yang selama ini menjadi level psikologis, dan dapat mendorong efek pembelian yang agresif. Sikap Trump yang lebih konfrontatif terhadap Iran dan Korea Utara juga akan menambah kekhawatiran pasar dan meningkatkan permintaan emas sebagai tempat safe haven.

Harga minyak mentah global pekan ini mengalami penguatan mingguan dipicu adanya berita mengenai kenaikan impor Tiongkok dan juga keputusan Presiden AS Donald Trump soal Iran. Sementara harga nikel mengalami penguatan didorong oleh reformasi tambang di Tiongkok.

II. Pasar Keuangan Domestik

IHSG tercatat mengalami penguatan mingguan sebesar 0,32 persen dan ditutup pada level 5.924,12. Di tengah perkembangan positif tersebut, investor nonresiden kembali mencatatkan net sell sebesar Rp1,34 triliun dalam sepekan dan secara ytd investor nonresiden mencatatkan net sell  sebesar Rp15,84 triliun.

Nilai tukar Rupiah mengalami penguatan mingguan, berada di level Rp13.498 per USD atau menguat sebesar 0,16 persen. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif terjaga sebagaimana tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan selama sepekan.

Dari pasar SBN, pergerakan yield SUN seri benchmark rata-rata mengalami kenaikan sebesar 2 s.d. 4 bps selama sepekan. Sejalan dengan kenaikan yield, berdasarkan data setelmen BI per 12 Oktober 2017 minat beli investor nonresiden masih tinggi. Kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp807.34 T (39.12 persen). Kepemilikan Non Residen naik Rp141.54 T (21.26 persen) secara year to date (ytd) dan turun Rp12.03 T (1.47 persen) secara month to date (mtd).?

III. Perekonomian Internasional

Dana Moneter Internasional (IMF) menaikkan outlook pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2017 dan 2018 masing-masing menjadi 3,6 persen dan 3,7 persen dalam rilis terbaru World Economic Outlook (WEO). Proyeksi ini naik 0,1 percentage point dibanding WEO April lalu. Peningkatan outlook terjadi pada sebagian besar negara di dunia seperti Jepang, Rusia, negara-negara berkembang di Eropa, Asia, termasuk Indonesia. Sementara AS dan UK mengalami penurunan outlook (Gambar 1).

Setelah tahun lalu mengalami pertumbuhan ekonomi paling lambat sejak krisis keuangan global tahun 2007-2009, perekonomian global tahun ini tumbuh lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Meski demikian, IMF memperingatkan bahwa risiko untuk jangka menengah masih bergerak ke sisi negatif sehubungan dengan makin ketatnya kondisi pasar keuangan global, peningkatan gejolak keuangan di negara berkembang, dan potensi peningkatan kebijakan-kebijakan proteksionis. 

Sejak hasil referendum pada Juni 2016 lalu memutuskan UK meninggalkan Uni Eropa, pound Inggris telah kehilangan sekitar 13 persen nilainya terhadap dollar. Hal ini menaikkan biaya impor dan menyebabkan inflasi yang meningkat dan cukup baik di atas 2 persen (Gambar 2). Menyikapi situasi ini, Bank Sentral Inggris (BoE) diperkirakan akan menaikkan suku bunga di bulan November mendatang.

Kenaikan suku bunga ini akan jadi kenaikan pertama kalinya dalam satu dekade. Pada Agustus 2016, tidak lama setelah referendum, BoE memotong suku bunga acuan ke rekor terendah menjadi 0,25 persen dengan harapan dapat mencegah potensi terjadinya krisis ekonomi di negara itu akibat referendum.

Risalah rapat kebijakan the Fed (FOMC minutes) pada akhir September 2017 menunjukkan terjadinya perdebatan mengenai prospek kenaikan inflasi. Beberapa pejabat the Fed memberikan catatan bahwa interpretasi dalam mengartikan inflasi akan dipersulit oleh kenaikan sementara harga energi dan harga barang-barang lainnya akibat badai yang terjadi baru-baru ini di AS.

Perdebatan mengenai inflasi ini sempat membuat nilai tukar dolar AS melemah sesaat setelah risalah FOMC tersebut dirilis. Terkait perdebatan ini, ketua the Fed Jannet Yellen masih meyakini bahwa the Fed akan menaikkan suku bunga acuan secara gradual mengingat membaiknya pasar tenaga kerja dan data perekonomian AS lainnya.

IV. Perekonomian Nasional

Posisi cadangan devisa Indonesia akhir September 2017 tercatat USD129,4 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan posisi akhir Agustus 2017 yang sebesar USD128,8 miliar (Gambar 4). Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa yang berasal dari penerimaan pajak dan devisa hasil ekspor migas bagian pemerintah, penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, serta hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas. Penerimaan devisa tersebut melampaui kebutuhan devisa terutama untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan SBBI valas jatuh tempo.

Penjualan eceran pada Agustus 2017 tumbuh sebesar 2,2 persen (yoy), setelah pada bulan sebelumnya  terjadi kontraksi 3,3 persen (yoy). Peningkatan penjualan terutama terjadi pada kelompok makanan yang tumbuh 7,9 persen (yoy), meningkat dibandingkan -0,3 persen (yoy) pada Juli 2017. Sementara itu, penjualan kelompok non makanan menunjukkan perbaikan meskipun masih terbatas.

Pemerintah merilis Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 91 Tahun 2017 tentang Percepatan Pelaksanaan Berusaha. Aturan tersebut akan memperlancar perizinan untuk pengusaha, termasuk bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) setelah mendapat persetujuan penanaman modal. Dalam aturan baru itu, akan dibentuk Satuan Tugas (Satgas) yang bertanggungjawab langsung ke Presiden. Satgas tersebut terdiri dari perwakilan Pemerintah Pusat dari banyak Kementerian/Lembaga (K/L) hingga Pemerintah Daerah, termasuk Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Provinsi dan Kabupaten/Kota.


Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

 

 

Highlight Minggu Ini

  • IMF menaikkan outlook pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2017 dan 2018, termasuk Indonesia.
  • Wall Street kembali mencatatkan rekor tertinggi

I. Pasar Global

  • Wall St capai rekor tertinggi karena penguatan ekonomi AS
  • Dollar AS kembali menguat
  • Imbal hasil obligasi Treasury AS turun karena sentimen inflasi
  • Harga minyak mentah dunia menguat karena permintaan China dan ketegangan Timur Tengah

I.1. Pasar Saham

Sektor saham A.S. yang sangat siklikal terhadap prospek pertumbuhan ekonomi sedang mengalami reli pasar dan bersiap untuk bertahan setelah tanda ekspansi global muncul dari IMF.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik 30,71 poin atau 0,13 persen untuk berakhir pada 22.871,72, sementara indeks S&P 500 naik 2,24 poin atau 0,09 persen menjadi 2.553,17 dan indeks Nasdaq Composite menambahkan 14,29 poin atau 0,22 persen dan ditutup pada 6.605,80.

Sektor-sektor energi, industri dan keuangan, mengalahkan kenaikan 1,9 persen S&P 500 pada bulan September 2017 setelah sebelumnya tertinggal dari benchmark Indeks SPX yang juga telah naik 14 persen tahun ini dan mencatatkan rekor tertingginya.

Pertanyaan bagi investor ekuitas global sekarang adalah apakah bulan September lalu hanya merupakan periode catch-up ketertinggalan gain sektor siklis, atau dapatkah menjadi sebuah dorongan ekonomi yang berkelanjutan?

Badan Kebijakan Fiskal (BKF) menilai Jika hal itu hanya perdagangan ganti rugi, maka mungkin hal ini hanya akan berlangsung beberapa minggu lagi. Namun jika hal itu sesuatu yang lebih mendasar, seharusnya lebih tahan lama dari itu dan mungkin ada dampak flight to quality bagi pasar berkembang.

I.2. Pasar Uang

Dolar AS sedikit berubah terhadap basket mata uang utama pada di akhir pekan lalu, setelah data menunjukkan kenaikan harga konsumen AS kurang dari yang diperkirakan pada bulan September. 

Indeks dolar AS, yang mengukur nilai mata uang terhadap enam mata uang utama, naik 0,02 persen pada 93,072 setelah jatuh ke level terendah lebih dari dua minggu di 92,749. Indeks ini turun sekitar 0,75 persen untuk minggu ini dan menjadi kinerja mingguan terburuknya dalam lima bulan. Penguatan dolar AS naik tipis setelah Donald Trump memilih keluar dari kesepakatan nuklir Iran 2015.

Euro turun 0,07 menjadi $ 1,1821 setelah Presiden Bank Sentral Eropa Mario Draghi mengatakan pada sidang tahunan IMF bahwa zona Euro terus membutuhkan stimulus moneter yang substansial karena ECB belum berhasil meningkatkan inflasi secara cukup.

I.3. Pasar Obligasi

Investor global memposisikan untuk mengakhiri kinerja bullish di pasar obligasi karena Federal Reserve AS mempersiapkan kenaikan suku bunga pada awal Desember.

Beberapa manajer pendapatan tetap terbesar di dunia membeli opsi atau mengurangi risiko untuk imunisasi portofolio mereka dengan aman, sebagai antisipasi  kenaikan suku bunga AS yang mungkin lebih cepat dari perkiraan.

BKF menilai risiko tingkat suku bunga yang lebih tinggi di zona Euro bisa memicu sell-off secara global di pasar pendapatan tetap Eropa. Imbal hasil obligasi 10 tahun Jerman meningkat tajam sejak bulan lalu, dan investor menunggu tanda-tanda bahwa Bank Sentral Eropa akan mulai taper stimulus pembelian obligasi pada pertemuan kebijakan berikutnya pada 26 Oktober 2017.

I.4. Pasar Komoditas

Dolar yang lebih tinggi membuat harga komoditas terhadap greenback lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Emas naik ke level tertinggi dalam 3 minggu pada hari Jumat pekan lalu setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa akan mengakhiri kesepakatan nuklir 2015 dengan Iran dan setelah data inflasi AS yang lemah mengurangi peluang kenaikan suku bunga acuan the Fed.

BKF menilai motif ambil keuntungan mendorong harga emas menembus resistance Fibonacci dan moving average 50 hari di sekitar US $1.298 yang selama ini menjadi level psikologis, dan dapat mendorong efek pembelian yang agresif. Sikap Trump yang lebih konfrontatif terhadap Iran dan Korea Utara juga akan menambah kekhawatiran pasar dan meningkatkan permintaan emas sebagai tempat safe haven.

Harga minyak mentah global pekan ini mengalami penguatan mingguan dipicu adanya berita mengenai kenaikan impor Tiongkok dan juga keputusan Presiden AS Donald Trump soal Iran. Sementara harga nikel mengalami penguatan didorong oleh reformasi tambang di Tiongkok.

II. Pasar Keuangan Domestik

IHSG tercatat mengalami penguatan mingguan sebesar 0,32 persen dan ditutup pada level 5.924,12. Di tengah perkembangan positif tersebut, investor nonresiden kembali mencatatkan net sell sebesar Rp1,34 triliun dalam sepekan dan secara ytd investor nonresiden mencatatkan net sell  sebesar Rp15,84 triliun.

Nilai tukar Rupiah mengalami penguatan mingguan, berada di level Rp13.498 per USD atau menguat sebesar 0,16 persen. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif terjaga sebagaimana tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan selama sepekan.

Dari pasar SBN, pergerakan yield SUN seri benchmark rata-rata mengalami kenaikan sebesar 2 s.d. 4 bps selama sepekan. Sejalan dengan kenaikan yield, berdasarkan data setelmen BI per 12 Oktober 2017 minat beli investor nonresiden masih tinggi. Kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp807.34 T (39.12 persen). Kepemilikan Non Residen naik Rp141.54 T (21.26 persen) secara year to date (ytd) dan turun Rp12.03 T (1.47 persen) secara month to date (mtd).?

III. Perekonomian Internasional

Dana Moneter Internasional (IMF) menaikkan outlook pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2017 dan 2018 masing-masing menjadi 3,6 persen dan 3,7 persen dalam rilis terbaru World Economic Outlook (WEO). Proyeksi ini naik 0,1 percentage point dibanding WEO April lalu. Peningkatan outlook terjadi pada sebagian besar negara di dunia seperti Jepang, Rusia, negara-negara berkembang di Eropa, Asia, termasuk Indonesia. Sementara AS dan UK mengalami penurunan outlook (Gambar 1).

Setelah tahun lalu mengalami pertumbuhan ekonomi paling lambat sejak krisis keuangan global tahun 2007-2009, perekonomian global tahun ini tumbuh lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Meski demikian, IMF memperingatkan bahwa risiko untuk jangka menengah masih bergerak ke sisi negatif sehubungan dengan makin ketatnya kondisi pasar keuangan global, peningkatan gejolak keuangan di negara berkembang, dan potensi peningkatan kebijakan-kebijakan proteksionis. 

Sejak hasil referendum pada Juni 2016 lalu memutuskan UK meninggalkan Uni Eropa, pound Inggris telah kehilangan sekitar 13 persen nilainya terhadap dollar. Hal ini menaikkan biaya impor dan menyebabkan inflasi yang meningkat dan cukup baik di atas 2 persen (Gambar 2). Menyikapi situasi ini, Bank Sentral Inggris (BoE) diperkirakan akan menaikkan suku bunga di bulan November mendatang.

Kenaikan suku bunga ini akan jadi kenaikan pertama kalinya dalam satu dekade. Pada Agustus 2016, tidak lama setelah referendum, BoE memotong suku bunga acuan ke rekor terendah menjadi 0,25 persen dengan harapan dapat mencegah potensi terjadinya krisis ekonomi di negara itu akibat referendum.

Risalah rapat kebijakan the Fed (FOMC minutes) pada akhir September 2017 menunjukkan terjadinya perdebatan mengenai prospek kenaikan inflasi. Beberapa pejabat the Fed memberikan catatan bahwa interpretasi dalam mengartikan inflasi akan dipersulit oleh kenaikan sementara harga energi dan harga barang-barang lainnya akibat badai yang terjadi baru-baru ini di AS.

Perdebatan mengenai inflasi ini sempat membuat nilai tukar dolar AS melemah sesaat setelah risalah FOMC tersebut dirilis. Terkait perdebatan ini, ketua the Fed Jannet Yellen masih meyakini bahwa the Fed akan menaikkan suku bunga acuan secara gradual mengingat membaiknya pasar tenaga kerja dan data perekonomian AS lainnya.

IV. Perekonomian Nasional

Posisi cadangan devisa Indonesia akhir September 2017 tercatat USD129,4 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan posisi akhir Agustus 2017 yang sebesar USD128,8 miliar (Gambar 4). Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa yang berasal dari penerimaan pajak dan devisa hasil ekspor migas bagian pemerintah, penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, serta hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas. Penerimaan devisa tersebut melampaui kebutuhan devisa terutama untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan SBBI valas jatuh tempo.

Penjualan eceran pada Agustus 2017 tumbuh sebesar 2,2 persen (yoy), setelah pada bulan sebelumnya  terjadi kontraksi 3,3 persen (yoy). Peningkatan penjualan terutama terjadi pada kelompok makanan yang tumbuh 7,9 persen (yoy), meningkat dibandingkan -0,3 persen (yoy) pada Juli 2017. Sementara itu, penjualan kelompok non makanan menunjukkan perbaikan meskipun masih terbatas.

Pemerintah merilis Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 91 Tahun 2017 tentang Percepatan Pelaksanaan Berusaha. Aturan tersebut akan memperlancar perizinan untuk pengusaha, termasuk bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) setelah mendapat persetujuan penanaman modal. Dalam aturan baru itu, akan dibentuk Satuan Tugas (Satgas) yang bertanggungjawab langsung ke Presiden. Satgas tersebut terdiri dari perwakilan Pemerintah Pusat dari banyak Kementerian/Lembaga (K/L) hingga Pemerintah Daerah, termasuk Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Provinsi dan Kabupaten/Kota.

Download Publication
Data Source: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Briefing Notes Update

Alternative text - include a link to the PDF!


ESELON I KEMENTERIAN KEUANGAN


KONTAK: Jl. Dr. Wahidin No. 1 Gd. R. M. Notohamiprodjo, Jakarta Pusat 10710
email: ikp@fiskal.depkeu.go.id

  Kurs Pajak : KMK Nomor 41/KM.10/2017,   USD : 13,505.00    AUD : 10,571.94    GBP : 17,895.76    SGD : 9,984.47    JPY : 12,034.47    EUR : 15,968.92    CNY : 2,054.84