APBN Untuk Mengatasi Kesenjangan Ekonomi


Surabaya (25/4): Badan Kebijakan Fiskal berkesempatan mengunjungi Universitas Airlangga di Surabaya untuk menyampaikan kuliah umum bertajuk “Perkembangan Ekonomi Terkini dan APBN 2018”. Kuliah umum ini bertujuan untuk mengedukasi generasi muda khususnya mahasiswa mengenai perkembangan ekonomi terkini serta kebijakan pemerintah dalam APBN 2018. Peserta yang datang berjumlah kurang lebih 320 orang terdiri dari mahasiswa dari berbagai strata serta para dosen. Pembicara dalam kuliah umum ini adalah Widiyanto, Kepala Bidang  Pengembangan Model dan Pengolahan Data Makro dari Badan Kebijakan Fiskal dan dimoderatori oleh Miguel Angel Exquivias Padilla dari Universitas Airlangga.

Acara dibuka oleh Wakil Dekan III Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Akhmad Rizki Sridadi. Dalam pembukaannya, beliau menyampaikan bahwa topik yang diangkat dalam kuliah umum kali ini sangat penting agar mahasiswa maupun civitas Universitas Airlangga mengetahui kondisi perekonomian terkini saat ini, serta dapat melihat prospek di masa depan. Dengan selalu mendapat update atas perekonomian di masa kini, mahasiswa dapat mengetahui peran mereka di masa depan.

Kemudian acara dilanjutkan ke sesi utama yaitu kuliah umum oleh Widiyanto. Kuliah umum diawali dengan materi mengenai APBN. Disebutkan bahwa APBN secara garis besar adalah rencana keuangan pemerintah yang terdiri dari pendapatan dan pengeluaran Negara. Mekanisme penyusunan APBN disusun pemerintah dan dilakukan pembahasan bersama dengan DPR. APBN memiliki 3 fungsi yaitu fungsi distribusi, alokasi, dan stabilisasi.

Setelah materi APBN, kuliah umum dilanjutkan dengan materi mengenai perkembangan perekonomian terkini. Dari sisi perekonomian global, kinerja ekonomi global sejak tahun 2010 masih lemah. Pada tahun 2010 – 2012, penyebab pelemahan ini adalah kinerja ekonomi negara maju, diantaranya yaitu (i) krisis utang publik di negara – negara Eropa seperti Yunani; (ii) permintaan negara – negara maju yang menurun sehingga terjadi penurunan impor negara maju dari negara berkembang; serta (iii) dampak krisis Subprime Mortgage. Kemudian, sejak tahun 2013, penyebab pelemahan kinerja ekonomi global bergeser ke negara berkembang, yaitu dengan (i) penurunan kinerja ekspor negara berkembang; (ii) perubahan model ekonomi Tiongkok dari Investment led menjadi Consumption led; serta (iii) harga minyak yang turun.

Saat ini, kinerja perekonomian global membaik, namun masih menghadapi risiko-risiko yaitu (i) kebijakan Amerika Serikat dengan Trumpnomics dan kebijakan proteksi; (ii) proses Brexit yang dikhawatirkan akan mengubah struktur ekonomi di kawasan EU; (iii) peningkatan suku bunga the fed yang dapat mengakibatkan capital flight dari emerging market; (iv) secular stagnation atau perlambatan pertumbuhan ekonomi yang berkepanjangan; (v) rebalancing Tiongkok yang berpotensi mengubah pola permintaan dan penawaran global; (vi) risiko Geopolitik seperti konflik timur tengah, Korea Utara, ISIS, dll.

Pada awal 2018, terjadi tekanan di sektor keuangan karena dampak sentimen kebijakan di Amerika Serikat. Pada awal Februari 2018 penegasan rencana kenaikan suku bunga oleh the fed sebanyak 4 kali pada tahun 2018 mengakibatkan meningkatnya indeks volatilitas (indeks VIX). Sentimen tersebut juga mengakibatkan secara agregat menurunkan indeks saham negara maju dan berkembang masing – masing sebesar 4.3% dan 4.7%.

Setelah pemaparan mengenai ekonomi global, topik selanjutnya adalah mengenai ekonomi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia secara tahunan terus membaik dengan mencatat angka 5.07% pada tahun 2017 dengan konsumsi rumah tangga sebagai kontribusi terbesar. Investasi mencatat pertumbuhan tertinggi dalam 5 tahun terakhir, dan ekspor impor juga tumbuh cukup tinggi setelah mengalami kontraksi pada beberapa tahun terakhir. Namun, pertumbuhan ekonomi tersebut masih belum merata di seluruh Indonesia. Jawa masih mendominasi dengan memberikan kontribusi sebesar 58.49% pada PDB Indonesia.

Materi mengenai pengelolaan kebijakan fiskal menjadi penutup kuliah umum kali ini. Untuk mencapai kesejahteraan, strategi kebijakan fiskal yang dilakukan pemerintah ada 3, yaitu (i) APBN sehat dan berkelanjutan; (ii) penguatan fungsi pokok kebijakan fiskal; dan (iii) pembangunan yang berkelanjutan. Saat ini, keberlangsungan fiskal masih terjaga, terbukti denga beberapa indikator yaitu (i) debt to GDP masih dibawah 3%; (ii) tren rasio utang terus menurun dalam 10 tahun terakhir; (iii) defisit keseimbangan primer menurun dalam 3 tahun terakhir; dan (iv) defisit dan rasio utang masih relatif rendah. (muf/ald)

  Kurs Pajak : KMK Nomor 30/KM.10/2018,   USD : 14,388.00    AUD : 10,656.46    GBP : 19,022.16    SGD : 10,553.52    JPY : 12,808.61    EUR : 16,819.73    CNY : 2,145.80