Tekanan Global Masih Berlanjut, Pemerintah Optimis Pertumbuhan 2019 Tetap Meningkat


Jakarta, (2/7): “Ekonomi kita sangat dipengaruhi oleh kondisi global”, hal ini diungkapkan Suahasil Nazara, Kepala Badan Kebijakan Fiskal dalam rapat dengan Badan Anggaran DPR RI di Senayan. Untuk itu, Pemerintah dan Komisi XI DPR RI sepakat untuk menetapkan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2019 berada pada 5,2% - 5,6% lebih rendah dibandingkan dengan angka yang ada dalam KEM PPKF 2019 yaitu sebesar 5,4% - 5,8%. Menurut Suahasil, naiknya suku bunga Amerika Serikat saat ini, menjadi salah satu faktor utama yang mengakibatkan aliran dana investasi dari investor luar negeri yang ada di di Indonesia keluar dan kembali ke Amerika Serikat. Hal ini tentu menurut Suahasil akan memiliki dampak pada pertumbuhan Indonesia. Dengan memperhatikan kondisi global saat ini, maka Pemerintah memutuskan untuk menempuh kebijakan stabilisasi ekonomi untuk meminimalisasi dampak dari kondisi tersebut. Namun demikian, Suahasil mengungkapkan jika Pemerintah masih tetap optimis bila pertumbuhan di tahun 2019 akan naik dibandingkan tahun sebelumnya.

Lebih lanjut Suahasil menjelaskan berbagai upaya akan ditempuh Pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui reform yang hingga saat ini terus dilakukan oleh Pemerintah seperti kemudahan berusaha, meningkatkan investasi, ekspor dan juga konsumsi.

Selain itu, Pemerintah juga akan menyusun kebijakan perpajakan tidak hanya untuk peningkatan penerimaan negara tetapi juga untuk peningkatan daya saing. Adapun strategi yang telah dirancang oleh Pemerintah untuk mewujudkan hal tersebut seperti optimalisasi penerimaan, pemberian insentif pajak, transparansi informasi dan peningkatan kepatuhan dan pengawasan.

Selain itu, Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan saat ini telah melakukan beberapa terobosan untuk meningkatkan penerimaan dengan bekerja sama untuk mempermudah perijinan, pemberian insentif, memberikan kenyamanan kepada kegiatan ekonomi dengan simplifikasi perijinan, perluasan fasilitas kepabeanan yang sifatnya mendorong integrasi IT terutama dengan SKK Migas, serta perbaikan integrasi IT pada kedua unit.

Sementara untuk pembiayaan, di tahun 2019 defisit akan diupayakan semakin menurun pada angka 1,6% - 1,9% dari PDB sehingga debt ratio akan tetap berada pada angka 28% – 29% dimana  level tersebut masih dapat dikatakan aman. (is/cs)

  Kurs Pajak : KMK Nomor 39/KM.10/2018,   USD : 14,856.00    AUD : 10,657.85    GBP : 19,469.42    SGD : 10,825.63    JPY : 13,288.31    EUR : 17,323.94    CNY : 2,165.30