Buka Seminar VTI Tourism, Menkeu: Pemerintah Membangun Infrastruktur Bukan Karena Hobi, Tetapi Necessity


Banyuwangi, (19/9): Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa industri pariwisata sangat penting bagi perekonomian bangsa karena bisa membuka lapangan kerja, menciptakan pendapatan, dan meningkatkan kesejahteraan yang berkeadilan. “Indonesia berada dalam pusaran ketidakpastian global, namun pertumbuhan ekonomi masih terjaga yang merupakan momentum untuk mengurangi kemiskinan. Di sisi lain, pertumbuhan impor juga akan menekan neraca pembayaran. Industri pariwisata merupakan salah satu cara untuk mengatasi defisit neraca berjalan tersebut,” kata Menkeu dalam pembukaan seminar Voyage to Indonesia (VTI) di Hotel Aston Banyuwangi pada hari Rabu (19/9).

Dalam pidato kunci seminar yang mengangkat tema “Sustainable Tourism Development, Harnessing the Contribution, Preserving the Environment” ini, Menkeu mengungkapkan bahwa peringkat ke-42 yang diperoleh Indonesia untuk daya saing pariwisata sudah cukup bagus, mengingat posisi ease of doing business Indonesia yang masih berada di peringkat 72. Menurut Menkeu, salah satu kendala untuk meningkatkan daya saing pariwisata adalah infrastruktur. Oleh karena itu, pemerintah terus menggenjot pembangunan infrastruktur. “Pemerintah membangun infrastruktur bukan karena hobi atau kesenangan. Ini adalah necessity (kebutuhan),” kata Menkeu.

Selain membangun infrastruktur, Menkeu menyampaikan bahwa pemerintah telah memberikan kemudahan regulasi masuknya turis mancanegara sejak tahun 2016, yakni berupa program bebas visa dari berbagai negara. Menkeu juga mengungkapkan bahwa pembangunan industri wisata merupakan pekerjaan bersama lintas kementerian dan juga pemerintah daerah, tidak hanya Kementerian Pariwisata. “Banyuwangi adalah salah satu contoh daerah yang punya program pengembangan pariwisata yang bagus,” ungkap Menkeu.

Lebih lanjut, Menkeu menyatakan bahwa tempat wisata harus dikembangkan secara berkelanjutan. Sehingga yang perlu diperhatikan tidak hanya keindahan tempat wisata, tetapi juga kelestarian lingkungan. Menurut Menkeu, industri pariwisata yang berkelanjutan juga memerlukan inklusivitas dari masyarakat agar memperoleh spillover effect yang dapat meningkatkan kesejahteraan.

Panel diskusi seminar VTI menghadirkan 6 narasumber: 1) Rachmat Witoelar (Utusan Khusus Presiden); 2) Dadang Rizki Ratman (Kementerian Pariwisata); 3) Yongmei Zhou (World Bank); 4) Abdulla Ghiyas (Pasific Asia Travel Association); 5) Azwar Anas (Bupati Banyuwangi), dan; 6) M. Syafaat (CEO ayojalanjalan.com).

Pada diskusi yang dipandu Valerina Daniel ini, Rachmat Witoelar menyampaikan bahwa saat ini perubahan iklim telah menjadi ancaman yang serius bagi umat manusia. Sektor pariwisata terkena dampak sekaligus menjadi penyumbang 8% emisi global. Menurut Rachmat, pariwisata bisa berperan mengurangi dampak perubahan iklim dengan mengurangi konsumsi energi dan emisi. Sementara itu, Dadang Rizky mengungkapkan agar tingkat daya saing pariwisata Indonesia dapat meningkat, pengembangan pariwisata harus melibatkan berbagai komponen, di antaranya manajemen yang berkelanjutan, ekonomi masyarakat, budaya, dan lingkungan.

Senada dengan Menkeu, Yongmei memaparkan bahwa pengembangan wisata yang efektif dan berkelanjutan memerlukan kebijakan yang terintegrasi dari berbagai instansi. Selain itu pemerintah harus mengatasi infrastructrure gap dan peran pemerintah daerah juga sangat diperlukan selain harus memberikan kemudahan bagi investor.

Dalam kesempatan ini, Ghiyas membagi pengalaman Maldives yang juga merupakan negara terdampak perubahan iklim, termasuk sektor wisata. Diungkapkan Ghiyas, terdapat beberapa usaha yang telah dilakukan untuk memitigasi dampak ini, antara lain: memperkuat kemampuan sektor pariwisata untuk mengurangi dampak economic loses, dan melibatkan institusi pariwisata.

Azwar Anas yang telah membawa Banyuwangi menyabet berbagai penghargaan pariwisata internasional mengungkapkan bahwa Banyuwangi adalah daerah destinasi utama wisata di Indonesia baik natural tourism maupun culture tourism. Kegiatan seperti promosi, perbaikan kualitas dan rute penerbangan di bandara, menyediakan mall pelayanan publik, dan hotel, merupakan hal yang telah dilakukan untuk mengembangkan pariwisata Banyuwangi.

Sebagai pembicara terakhir, Syafaat mengatakan bahwa popularitas merupakan unsur yang penting dalam mengembangkan pariwisata yang berkelanjutan. Menurut Syafaat, pemerintah harus mempopulerkan tujuan wisata agar jumlah kunjungan akan meningkat, menarik investasi, memberdayakan kerajinan masyarakat, serta mendukung kelestarian sejarah dan lingkungan. (atw/tw)

  Kurs Pajak : KMK Nomor 51/KM.10/2018,   USD : 14,447.00    AUD : 10,478.26    GBP : 18,402.33    SGD : 10,556.67    JPY : 12,809.04    EUR : 16,432.37    CNY : 2,100.35