Preheating AIFED Ambil Tema Transformasi Struktural di Indonesia


Palembang (26/9): Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan bekerja sama dengan Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya menyelenggarakan seminar pendahuluan (preheating seminar) 8th Annual International Forum on Economic Development and Public Policy (AIFED) di Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan. Seminar ini merupakan bagian dari kajian pendahuluan dan rangkaian diseminasi dari penyelenggaraan 8th AIFED yang mengusung tema “Building for the Future: Strengthening Economic Transformation in Facing Forward Global Evolution”. Gelaran 8th AIFED sendiri akan diselenggarakan di Bali pada tanggal 6 – 7 Desember 2018.

Seminar kali ini mengangkat topik pembahasan “Transformasi Struktural Indonesia: Isu, Tantangan, dan Strategi”. Acara ini menghadirkan tiga narasumber: (1) Asep Nurwanda dari Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan; (2) Regina Ariyanti dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Sumatera Selatan, dan; (3) M. Subardin, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya. Seminar juga dihadiri oleh pejabat Pemerintah Daerah, para akademisi, mahasiswa, ekonom daerah, serta perwakilan pelaku usaha di Provinsi Sumatera Selatan.

Mengawali preheating seminar, Prof. Taufik Marwah selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya berpendapat bahwa topik yang diangkat pada seminar merupakan topik yang penting dan sangat relevan dengan kondisi saat ini. Ia berharap para peserta seminar dapat berkontribusi aktif memberikan masukan yang konstruktif, baik perbaikan kebijakan maupun usulan kebijakan baru yang akan berguna di masa yang akan datang.

Dalam sesi pertama seminar, Asep Nurwanda menjelaskan tentang kondisi transformasi ekonomi Indonesia. Transformasi struktural merupakan kondisi perubahan struktur ekonomi jangka panjang dari yang bersifat tradisional (pertanian) menjadi lebih modern (manufaktur dan jasa). Transformasi ekonomi juga dialami oleh Indonesia yang ditandai dengan kejayaan sektor manufaktur pada dekade 1980-an hingga 1990-an, dikenal sebagai fase industrialisasi. Namun, proses industrialisasi tersebut menghadapi tekanan dan relatif melambat sejak krisis ekonomi yang melanda Asia pada tahun 1997-1998. Beberapa indikator transformasi ekonomi seperti kondisi infrastruktur, kualitas sumber daya manusia, dan kemajuan teknologi di sektor manufaktur mengindikasikan bahwa perjalanan transformasi ekonomi Indonesia masih jauh dari ideal untuk mencapai visi negara maju. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya upaya untuk terus mendorong industrialisasi dengan melibatkan seluruh pihak, termasuk meningkatkan sinergi antarinstansi pemerintah.

Pada sesi berikutnya, Regina Ariyanti memaparkan Potensi dan Visi Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Sumatera Selatan. Perekonomian Sumatera Selatan mengalami perkembangan yang cukup dinamis. Pertumbuhan ekonomi tertinggi terjadi di tahun 2011 didorong oleh peningkatan konsumsi dan investasi sejalan dengan pelaksanaan SEA Games serta tingginya harga komoditas. Dari sisi lapangan usaha, sektor pertanian dan pertambangan menjadi kontributor utama perekonomian Sumatera Selatan. Namun demikian terjadi pergeseran struktural di tahun 2017, dimana sektor industri pengolahan menjadi penyumbang tertinggi perekonomian. Pada triwulan II 2018, perekonomian Sumatera Selatan tumbuh sebesaar 6,07% (di atas pertumbuhan ekonomi nasional 5,27%). Secara keseluruhan outlook tahun 2018 diperkirakan sebesar 5,6-5,9% terutama ditopang oleh perhelatan Asian Games, progress pembangunan proyek strategis nasional, serta perbaikan iklim investasi. Di tahun 2019, kinerja perekonomian Sumatera Selatan diperkirakan didorong oleh keberlanjutan pembangunan infrastruktur serta pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif sejalan dengan pemanfaatan momentum pasca Asian Games dan pengembangan destinasi wisata baru.

M. Subardin menyampaikan aspek lain dari transformasi ekonomi di Provinsi Sumatera Selatan. Peranan manufaktutur tidak secara spesifik dapat mempercepat laju pertumbuhan ekonomi dikarenakan laju pertumbuhan sektor industri lebih rendah dibandingkan dengan sektor pertanian dan pertambangan. Sektor jasa seperti real estate justru mulai tumbuh tinggi seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Perubahan struktur ekonomi dari pertanian ke industri tidak ditopang oleh perkembangan sektor pertanian yang kokoh. Pergeseran struktur justru terjadi dari sektor pertanian ke sektor pertambangan. Oleh karena itu, proses transformasi struktural perlu diperkuat melalui peningkatan produktivitas dan inovasi pertanian dengan mendorong kebijakan industrialisasi atau hilirisasi. Selain itu, pengembangan industri energi yang menghasilkan energi final juga diperlukan dalam rangka diversifikasi ekspor komoditas energi primer. (aah/rr)

  Kurs Pajak : KMK Nomor 51/KM.10/2018,   USD : 14,447.00    AUD : 10,478.26    GBP : 18,402.33    SGD : 10,556.67    JPY : 12,809.04    EUR : 16,432.37    CNY : 2,100.35