Indonesia Siap Capai Urbanisasi Inklusif di tengah Perubahan Global


Nusa Dua-Bali (13/10), “Sejak tahun 2000, populasi urban telah tumbuh sebesar 1,35 milyar orang, dan angka tersebut hampir sama dengan jumlah populasi di Cina pada tahun 2018”, ungkap Laura Tuck, Wakil Presiden Pembangunan Berkelanjutan, Bank Dunia saat membuka diskusi tentang Urbanisasi Inklusif dalam rangkaian kegiatan Annual Meeting WB-IMF 2018 di Bali. 

Sebagai gambaran perkembangan urbanisasi di Indonesia, Laura menyebutkan bahwa hingga tahun ini penduduk Indonesia yang tinggal di perkotaan telah bertambah sebanyak 59 juta orang, angka ini setara dengan jumlah populasi di Australia dan Malaysia. Dan kelak pada tahun 2050, populasi Indonesia di perkotaan akan bertambah sebanyak 80 juta orang yang setara dengan total populasi Turki.

Saat ini sekitar 50% populasi Indonesia tinggal di daerah perkotaan. Pencapaian tujuan dari Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development) bergantung pada manajemen urbanisasi di setiap negara. 

Kemudahan akses, penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan kota dengan ilmu pengetahuan, media digital, dan mitigasi perubahan iklim merupakan faktor penting yang diungkap para panelis untuk membangun perkotaan dan mencapai urbanisasi inklusif.

“Tahun 2045, Indonesia akan memiliki pertumbuhan yang pesat dengan 67% masyarakatnya tinggal di perkotaan. Hal ini akan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi, namun pemerintah harus selalu memperhatikan akses kesehatan dan pendidikan, akes air bersih, dan tempat tinggal yang mementingkan inklusivitas”, ungkap Bambang Brodjonegoro, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional RI.

Seluruh sarana dan prasarana yang telah dan sedang dibangun di berbagai kota yang tersebar di Indonesia adalah upaya terbesar untuk mencapai urbanisasi inklusif. Contohnya, pembangunan Mass Rapid Transportation (MRT), fasilitas publik yang ramah untuk para difabel, jaminan kesehatan, dan rumah susun untuk masyarakat dengan pendapatan rendah.

Jonathan Woetzel, Senior Partner and Director of McKinsey Global Institute menekankan bahwa ‘aksesibilitas’ adalah faktor terpenting untuk mencapai urbanisasi inklusif. Masyarakat dapat menggali potensi diri melalui akses ke berbagai bidang dan sektor yang ada di perkotaan. 

“Sebuah kota seharusnya dikembangkan melalui ide-ide dan ilmu pengetahuan, tidak hanya dari kepentingan politik dan ekonomi. Seluruh kota di Indonesia sebaiknya dikembangkan melalui kolaborasi dari para akademis dan komunitas”, jelas Bima Arya Walikota Bogor. 

Panelis lainnya, Ridzki Kramadibrata, Managing Director Grab Indonesia menambahkan pentingnya peran digital saat ini dapat membuka kesempatan bagi kota-kota kecil bahkan daerah-daerah terpencil untuk dapat menunjukkan eksistensinya. Sebagaimana contoh Kota Tual (Maluku), yang kini dapat dikenal publik akan keindahan alam yang dimilikinya melalui konten-konten yang diunggah pengunjung melalui media sosial.

Di sisi lain, “Jika kita secara kolektif dapat menemukan solusi dalam menghadapi perubahan iklim, seluruh kota dapat terus berdaya tahan baik”, tutup Stephanie von Friedeburg, Chief Operating Officer, International Finance Corporation. (fm/IS)

  Kurs Pajak : KMK Nomor 15/MK.10/2019,   USD : 14,260.00    AUD : 10,111.63    GBP : 18,933.63    SGD : 10,541.59    JPY : 12,798.57    EUR : 16,151.05    CNY : 2,123.53