BKF Beri Wawasan Fiskal untuk Generasi Muda


Jakarta, (17/10) – Tak hanya menyasar para mahasiswa, Badan Kebijakan Fiskal (BKF) juga melakukan diseminasi kepada murid Sekolah Menengah Atas (SMA). Sejumlah perwakilan dari BKF mengunjungi Binus School Simprug untuk memberikan wawasan seputar kebijakan fiskal dan sektor keuangan di Indonesia yang menjadi tanggung jawab Kementerian Keuangan, khususnya BKF. Fokus kebijakan yang dibahas pada acara tersebut adalah ‘Subsidi dan Strategi Menghindari Middle Income Trap (MIT)’.

 “Subsidi dibentuk oleh pemerintah untuk rakyat demi menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan”, ungkap Khaled Tuanida Parlaungan, Kepala Subbidang Subsidi Pertanian dan Lainnya, Pusat Kebijakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), pada saat menjelaskan konsep subsidi.

Khaled menekankan bahwa pemerintah terus berupaya agar setiap realisasi kebijakan subsidi dapat tersampaikan kepada masyarakat yang berpenghasilan rendah. Kebijakan subsidi juga diharapkan dapat membawa efisiensi dan kapabilitas keuangan negara yang lebih baik.

Pemerintah telah melakukan reformasi subsidi energi. Subsidi tersebut, terutama BBM, yang selama ini lebih banyak dinikmati oleh masyarakat dengan berpenghasilan menengah ke atas secara berangsur dikurangi mulai tahun 2015. Belanja subsidi tersebut dialihkan ke belanja yang lebih produktif, seperti pembiayaan infrastruktur.

Selanjutnya, narasumber kedua Indra Budi Sucahyo, Kepala Subbidang Analisis Permintaan Agregat, Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, berbicara tentang kondisi perkembangan ekonomi terkini dan bagaimana strategi menghindari MIT. Sebagai pembuka, Indra menyatakan saat ini risiko ekonomi global tengah meningkat akibat adanya ketegangan perdagangan dan likuiditas yang semakin menguat.

“Di tengah ketegangan perekonomian global, investasi yang kuat dan pertumbuhan konsumsi yang stabil menjadi faktor pendukung utama untuk perekonomian Indonesia”, jelas Indra.

Di sisi lain, Rancangan APBN (RAPBN) 2019 dirancang agar menjadi anggaran yang lebih sehat, lebih adil, dan mandiri untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih baik di tahun mendatang.

Indonesia sebagai negara dengan tingkat pendapatan menengah menghadapi sejumlah tantangan demografis yakni meningkatnya jumlah populasi usia lanjut usia, semakin banyaknya jumlah populasi masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah perkotaan, bertumbuhnya masyarakat kelas menengah mengubah pola permintaan barang dan jasa, serta munculnya sektor-sektor baru yang mengubah struktur pertumbuhan ekonomi.

“Untuk menghadapi MIT, pemerintah berkomitmen untuk menciptakan perkembangan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan dengan meningkatkan daya saing dan produktivitas serta mempertahankan stabilitas”, tambah Indra.

Komitmen tersebut dapat terealisasi dengan sejumlah strategi seperti mempertahankan stabilitas di tengah gejolak global, meningkatkan daya saing dan produktivitas, serta memfasilitasi investasi dan ekspor.  (fm/cs)

  Kurs Pajak : KMK Nomor 48/KM.10/2018,   USD : 14,688.00    AUD : 10,686.55    GBP : 18,921.19    SGD : 10,673.83    JPY : 12,962.14    EUR : 16,671.67    CNY : 2,118.02