BKF Gali Potensi dan Tantangan Transformasi Ekonomi di Sulawesi Selatan


Makassar, (18/10): Ekonomi global saat ini mengalami tren transformasi struktural, dimana terjadi perubahan struktur ekonomi dari sektor yang sifatnya dasar seperti pertanian menuju ke sektor industri 4.0 atau internet of things. Andriansyah, Kepala Bidang Analisis Neraca Pendapatan Nasional, Badan Kebijakan Fiskal dalam seminar pre-heating AIFED 8th  di Makassar mengatakan, salah satu negara berkembang yang berhasil melakukan transformasi struktural ialah Korea Selatan. Share sektor industri dan jasa Negeri Ginseng tersebut terus meningkat seiring dengan menurunnya share sektor pertanian.

Di Indonesia sendiri, transformasi struktur ekonomi cenderung melambat, terutama pasca krisis keuangan di tahun 1997/1998. Lebih lanjut Andriansyah mengungkapkan, ada beberapa faktor yang menjadi tantangan Indonesia untuk melakukan transformasi struktural. Salah satunya ialah diversifikasi produk manufaktur yang terjadi tidak didukung dengan hubungan antarsektor dan antardaerah yang kuat.  Tercatat, industri manufaktur yang memiliki share terbesar dalam ekonomi nasional masih terpusat di Pulau Jawa. Ini mengakibatkan gap industrialisasi yang cukup tinggi di daerah yang berada di luar Pulau Jawa. Menurutnya, industrialisasi menjadi sangat penting bagi seluruh wilayah Indonesia, karena industrialisasi menjadi satu dari berbagai faktor pendorong bagi Indonesia untuk menjadi negara maju.

Salah satu wilayah non-Jawa yang memiliki gap cukup besar dalam struktur ekonomi ialah Sulawesi Selatan. Anas Iswanto Anwar, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hassanudin, pada seminar pre-heating AIFED tersebut mengatakan bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan menempati peringkat 3 nasional dengan angka 7,41%, namun pertumbuhan ini masih sangat didominasi oleh sektor pertanian. Anas menjelaskan, dibutuhkan berbagai strategi untuk mendorong transformasi ekonomi di Sulawesi Selatan, seperti upaya meningkatkan daya saing produk, mendorong investasi serta meningkatkan kualitas SDM dan infrastruktur di daerah.

Sementara itu, Andi Yaksan Hamzah, Tenaga Ahli Bappeda Provinsi Sulawesi Selatan, berpendapat bahwa struktur ekonomi Sulawesi Selatan yang berbasis pertanian tidak bisa serta merta diubah menjadi industri manufaktur. Meskipun transformasi ekonomi merupakan suatu keniscayaan, namun sektor pertanian tetap harus diperhatikan. Ia menambahkan pemerintah harus berupaya mengolaborasi penggunaan teknologi yang ada saat ini untuk mendukung peningkatan potensi – potensi yang ada di Sulawesi Selatan.

Untuk mendorong industri pertanian tetap berdaya saing, Abdul Haris Hody Wakil Ketua Umum Kadin Provinsi Sulawesi Selatan menyampaikan bahwa hasil industri pertanian Sulawesi Selatan harus memiliki nilai tambah. Diperlukan bahan baku dengan kualitas yang baik dan persediaan yang mampu bertahan untuk jangka panjang. Dengan demikian, lanjutnya, Sulawesi Selatan akan memiliki produk pertanian yang bagus dan murah serta berjumlah banyak. Sehingga ketika daerah ingin membangun suatu industri, supply bahan baku dengan kualitas baik akan tercukupi.

Seminar pre-heating ini merupakan bagian dari kajian pendahuluan dan rangkaian diseminasi dari penyelenggaraan 8th AIFED yang mengusung tema “Building for the Future: Strengthening Economic Transformation in Facing Forward Global Evolution”. Gelaran 8th AIFED sendiri akan diselenggarakan di Bali pada tanggal 6 – 7 Desember 2018. (apa/ak)

  Kurs Pajak : KMK Nomor 48/KM.10/2018,   USD : 14,688.00    AUD : 10,686.55    GBP : 18,921.19    SGD : 10,673.83    JPY : 12,962.14    EUR : 16,671.67    CNY : 2,118.02