Executive Training


Jakarta, (10/5) : Kementerian Keuangan melalui Badan Kebijakan Fiskal bekerja sama dengan AIPEG (Australia Indonesia Partnership for Economic Government), pada hari Rabu, tanggal 10 Mei 2017 menyelenggarakan Executive Training “Macroeconomics for Practitioners”. Acara yang diselenggarakan di Aula Mezzanine Gedung Djuanda I, Komplek Kementerian Keuangan ini menghadirkan Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati sebagai Lecturer. Hadir sebagai peserta Executive Training, para pejabat perwakilan dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Keuangan, dan Para Praktisi Ekonomi.

Acara dibuka dengan welcome remarks oleh Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Suahasil Nazara. Dalam sambutannya Suahasil menyampaikan bahwa kebijakan fiskal yang dituangkan dalam APBN bertujuan untuk menciptakan lapangan kerja, menurunkan kemiskinan, dan mengurangi ketimpangan. Suahasil menganggap asumsi makro menjadi hal penting dalam penyusunan APBN. Pada setiap tahun, Kementerian/Lembaga terkait bekerja dengan 3 level, yaitu mempertanggungjawabkan APBN tahun sebelumnya, menjalankan APBN tahun berjalan, dan menyiapkan RAPBN tahun berikutnya. Suahasil mengungkapkan bahwa setiap kali menjaga ketiga level tersebut, perspektif mengenai ekonomi makro menjadi perspektif yang penting untuk diketahui, oleh karena itu kunci strategis dari ekonomi makro perlu didapatkan jika ingin menjalankan APBN dengan sangat baik.

Sesi pembukaan dilanjutkan dengan Introduction oleh Lukita Tuwo selaku Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Dalam sambutannya Lukita menyampaikan bahwa training kali ini adalah training kedua setelah training sebelumnya yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia. Lukita berharap pada training-training selanjutnya yang akan diselenggarakan, partisipan bukan hanya dari Kemenkeu, OJK, BI, Bappenas, dan Kemenko Perkonomian saja, tetapi dapat turut serta mengundang Kementerian/Lembaga lain dengan tujuan  terbentuknya kapasitas serta koordinasi untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus lebih baik.

Selepas acara pembukaan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memaparkan mengenai perekonomian Indonesia dalam menghadapi tantangan global. Menurutnya, dalam ekonomi tidak pernah ada kondisi stabil, melainkan selalu dihadapkan pada potensi guncangan. Guncangan tersebut ada yang bersifat Macroeconomic, Natural Disaster, Financial Sector, Subnational, Legal Claims, dll. Guncangan makroekonomi secara rata-rata dialami setiap 12 tahun sekali dan berdampak sekitar 9% dari GDP, sedangkan guncangan sektor keuangan secara rata-rata terjadi setiap 24 tahun dan berdampak sekitar 10% dari GDP. Sri Mulyani juga menyampaikan beberapa tantangan eksternal dan ketidakpastian yang dihadapi Indonesia, diantaranya perlambatan ekonomi pada sebagian besar negara di dunia. Menurut Sri, ada tiga faktor yang memengaruhi perlambatan pertumbuhan ekonomi sebagian besar negara di dunia, yaitu kondisi demografi, rendahnya investasi, dan lemahnya pertumbuhan produktivitas. Selain itu terdapat pula risiko dari China dan harga komoditas. Namun demikian, Sri mengungkapkan bahwa kemampuan ekonomi Indonesia untuk tumbuh masih cukup besar, salah satu faktornya karena Indonesia masih memiliki young demographic.

Mengakhiri paparannya, Sri Mulyani menyampaikan tantangan-tantangan ekonomi yang perlu dijawab bersama, diantaranya bagaimana mengembalikan pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali ke 6+ % dalam 1-2 tahun mendatang dan bagaimana mendesain kebijakan fiskal dan moneter untuk dapat mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menurunkan kemiskinan dan memperbaiki distribusi pendapatan. (lnf/atw)

Paparan Menteri Keuangan Selengkapnya

  Kurs Pajak : KMK Nomor 37/KM.10/2017,   USD : 13,226.00    AUD : 10,591.85    GBP : 17,745.58    SGD : 9,819.87    JPY : 11,959.78    EUR : 15,782.37    CNY : 2,020.92