The 2nd Annual Islamic Finance Conference (AIFC) Hari ke-2


Yogyakarta (24/8): Melanjutkan rangkaian acara The 2nd Annual Islamic Finance Conference (AIFC), pada seminar hari ke-2 digelar dua sesi panel. Sesi panel pertama dimoderatori oleh Rahmatina Kasri, Kepala Program Studi S1 Ilmu Ekonomi Islam FEB-UI membahas mengenai “Anggaran Pemerintah, Kemiskinan dan Ketimpangan Pendapatan”. Sedangkan sesi panel kedua yang dimoderatori oleh Irfan Syauqi Beik, Director of Center of Islamic Business and Economic Studies IPB  mengangkat tema “Financing for Development: The Role of Islamic Social Finance”.

Mengawali acara seminar, Bambang Brodjonegoro, Kepala Bappenas menyampaikan dalam keynote speech-nya bahwa sebagai penduduk muslim terbesar, Indonesia memiliki beberapa potensi tersembunyi. Potensi tersebut berasal dari dana sosial Islam, yang terdiri dari zakat & wakaf. Dana zakat dapat diarahkan untuk mendukung berbagai program pengentasan kemiskinan guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Wakaf juga harus dikelola sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan manfaat jangka panjang terutama bagi masyarakat yang paling membutuhkan. Tentu saja perlu kerja sama dari berbagai pihak untuk memfasilitasi masyarakat dalam membayar zakat, agar pengelolaanya lebih optimal.

Selanjutnya, Dr. Usha Kanagaratnam, Senior Researcher, Oxford Poverty and Human Development Initiatives, University of Oxford memberikan morning lecture dengan topik “Multidimentional Poverty Assessment: What Else to be Done”. Pada kesempatannya Dr. Usha menyampaikan berdasarkan Atkinson Commission Report, kemiskinan terbagi menjadi tiga dimensi. Dimensi yang pertama adalah kesehatan yang terbagi lagi menjadi dua kategori yaitu nutrisi dan kelahiran bayi. Dimensi kedua adalah pendidikan yang terbagi lagi menjadi masa pendidikan dan tingkat partisipasi pendidikan serta dimensi ketiga yaitu standar hidup yang terbagi lagi menjadi enam kategori. Seseorang yang kekurangan sepertiga dari seluruh indikator tersebut, maka ia disebut masuk ke dalam garis kemiskinan menurut Multidimensional Poverty Index (MPI). Diharapkan pada tahun 2030 setengah dari proporsi laki-laki, wanita dan anak-anak di semua umur yang berada dalam garis kemiskinan akan berkurang.

Sesi panel pertama menghadirkan Anggito Abimanyu, Anggota Badan Pelaksana Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), Mucahit Duman, Undersecretary of Treasury, Republic of Turkey dan Dr. Elan Satriawan, Head of Policy Working Group, the National Team for the Acceleration of Poverty Reduction (TNP2K). Pada kesempatan ini, Dr. Elan menyampaikan dua cara untuk membuat anggaran pemerintah efektif, antara lain dengan meningkatkan efektivitas dana desa dan melakukan reformasi subsidi energi.

Kemudian sesi panel kedua menghadirkan Prof. Murat Cizakca, Professor of Islamic Finance, KTO Karatay University, Turkey, Prof. Bambang Sudibyo, Ketua Badan Amil Zakat Nasional, serta Dr. Muhammad Nadratuzzaman Hosen, Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia.

Sebagai rangkaian acara yang terakhir, tiga ekonom muda pemenang Call for Paper, Young Islamic Economist Forum (YIEF) mempresentasikan paper-nya. Mereka adalah Mohammad Soleh Nurzaman, Novat Pugo Sambodo, dan Permata Wulandari. Terakhir, acara ditutup dengan closing remark oleh Staf Ahli Menteri Keuangan bidang Kebijakan dan Regulasi Jasa Keuangan dan Pasar Modal, Arif Baharudin. (cs/ps/atw)

  Kurs Pajak : KMK Nomor 41/KM.10/2017,   USD : 13,505.00    AUD : 10,571.94    GBP : 17,895.76    SGD : 9,984.47    JPY : 12,034.47    EUR : 15,968.92    CNY : 2,054.84