Daily Update : 23-04-2018 | Download File :

Berita Global

  • Bursa saham AS ditutup melemah pada akhir perdagangan Jumat (23/04). Pelemahan saham teknologi dan saham konsumsi  menjadi pemicu pelemahan tersebut. Investor juga khawatir atas lonjakan imbal hasil obligasi AS seiring ekspektasi peningkatan inflasi. Indeks Dow Jones ditutup melemah 0,82 persen ke level 24.462,94 dan indeks S&P 500 melemah 0,85 persen ke level 2.670,14. (Market Watch)
  • Rilis awal Indeks keyakinan konsumen Kawasan Eropa bulan April 2018 menunjukkan level 0,4, lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 0,1. Peningkatan ini mengejutkan para analis di tengah kekawatiran perang dagang dan kenaikan harga minyak yang akan mempengaruhi ekonomi global. Peningkatan ini juga di atas ekspektasi analis yang memperkirakan indeks keyakinan konsumen Eropa justru berkontraksi sebesar 0,2. (WEC)
  • Harga minyak mentah jenis Brent dan WTI melanjutkan penguatan pada pekan lalu. Hal ini didorong oleh risiko geopolitik dan penurunan stok minyak mentah AS. Minyak mentah jenis Brent mengalami kenaikan 2,04 persen secara mingguan menjadi 74,06, sementara minyak mentah jenis WTI mengalami kenaikan sebesar 1,47 persen ke level 68,38. (Kompas, Bisnis Indonesia)

Berita Domestik

  • Satuan Tugas (Satgas) Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menghentikan 19 bisnis mata uang kripto atau cryptocurrency. OJK tidak memberikan izin terhadap bisnis cryptocurrency karena tidak ada sistem regulasi dalam investasi tersebut. Hal tersebut juga disebabkan perdagangan mata uang virtual bersifat spekulatif, sehingga memiliki risiko yang lebih tinggi. Selain itu, beberapa entitas yang menawarkan mata uang digital bukan bertindak sebagai market place, tetapi memberikan janji imbal hasil tinggi apabila membeli produk mereka. (CNN Indonesia)
  • Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak tengah mempersiapkan penerbitan aturan turunan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.15/PMK.03/2018 tentang Cara Lain Menghitung Peredaran Bruto. Aturan dalam bentuk peraturan Direktur Jenderal Pajak (Perdirjen) Pajak ini diharapkan bisa mengakhiri polemik mengenai implementasi PMK tersebut. Dalam aturan turun tersebut akan dijelaskan secara mendetail mengenai mekanisme pelaksanaan metode 'cara lain' menghitung peredaran bruto. di dalam PMK 15/2018 yang memuat delapan cara untuk menghitung peredaran bruto dan belum diatur tahapan pelaksanaan delapan metode tersebut. Sementara itu, dalam aturan teknis ini, otoritas pajak telah menetapkan mekanisme pelaksanaannya yang akan dilakukan secara urut dari metode pertama hingga ke delapan. Adapun delapan metode penghitungan alternatif yang bisa menjadi rujukan pemeriksa pajak sesuai PMK itu meliputi penelusuran transaksi tunai dan nontunai; sumber dan penggunaan dana; satuan atau volume; penghitungan biaya hidup; pertambahan kekayaan bersih; berdasarkan Surat Pemberitahuan (SPT) atau hasil pemeriksaan tahun pajak sebelumnya; proyeksi nilai ekonomi; atau penghitungan rasio. Cara lain penghitungan peredaran bruto diterapkan untuk memberikan pegangan kepada pemeriksa pajak saat melakukan pemeriksaan terhadap wajib pajak yang tak melakukan pembukuan atau pencatatan. (Bisnis Indonesia)

Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Weekly Update : 09-04-2018 s.d 15-04-2018 | Download File :

Highlight  Minggu Ini

  • Wall Street mengalami penguatan mingguan.
  • Indeks dolar AS berada pada level 89,77 pada akhir pekan (13/04) atau melemah sebesar 0,38 persen dalam sepekan.
  • IHSG tercatat menguat 1,54 persen secara mingguan ke level 6.270,33 dan diperdagangkan di kisaran 6.243,00 – 6.380,35.
  • Nilai tukar Rupiah terpantau menguat 0,17 persen secara mingguan dan berada di level Rp13.755 per USD.
  • Lembaga pemeringkat Moody’s menaikkan rating utang domestik dan luar negeri Indonesia menjadi Baa2 dengan outlook stabil.

I.    Pasar Global

Pasar Saham. Wall Street mengalami penguatan pada pekan lalu, setelah pada pekan sebelumnya mencatatkan pelemahan. Secara mingguan, indeks Dow Jones naik sebesar 1,79 persen, sementara indeks S&P 500 menguat 1,99 persen. Sentimen yang mempengaruhi pergerakan Wall Street sepanjang pekan lalu antara lain isu geopolitik serangan rudal AS terhadap Suriah dan rilis kinerja sejumlah emiten periode kuartal I 2018. Pada hari Rabu (11/04), Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman akan melakukan serangan rudal terhadap Suriah sebagai tanggapan atas dugaan serangan senjata kimia Suriah. Namun, keesokan harinya, melalui aplikasi twitter, Donald Trump memberikan klarifikasi bahwa AS masih berhati – berhati atas hal terkait Suriah. Pada perkembangannya, serangan rudal AS kemudian benar terjadi pada hari  Sabtu (14/04). Selain isu ini, isu lain yang juga mempengaruhi pergerakan bursa saham Wall Street adalah rilis kinerja sejumlah emiten untuk kuartal I 2018. Di sektor keuangan, misalnya, saham – saham perbankan papan atas seperti Citigroup, Wells Fargo dan JP Morgan membukukan laba dan pendapatan kuartal I 2018 melebihi estimasi para analis. Selain itu, isu lanjutan perang dagang AS – Tiongkok sedikit banyak juga masih menjadi perhatian investor.

Dari kawasan Eropa, indeks utama Eropa seperti indeks FTSE 100 (Inggris), DAX (Jerman), CAC (Prancis), dan EuroStoxx 50 secara mingguan kembali mencatatkan penguatan. Selain faktor geopolitik global, pergerakan bursa saham Eropa selama sepekan dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas (hard commodities) dan rilis laba emiten kuartal I 2018 yang di atas ekspektasi analis. Hampir semua sektor bisnis berada di wilayah positif, dengan sektor teknologi menjadi sektor yang memiliki kinerja terbaik selama kuartal I 2018. Sementara itu, mayoritas bursa saham Asia juga ditutup menguat secara mingguan, mengekor bursa saham global.

Pasar Uang.  Indeks dolar AS berada pada level 89,77 pada akhir pekan (13/04) atau melemah sebesar 0,38 persen dalam sepekan terhadap enam mata uang utama dunia dari posisi 90,108 pada penutupan akhir pekan sebelumnya. Level itu mendekati level terendah indeks dolar AS dalam dua pekan. Sentimen utama yang mempengaruhi pelemahan dolar AS dalam sepekan berasal dari serangan militer AS dan sekutunya terhadap Suriah. Sebelumnya, tekanan terhadap dolar AS mereda pasca pidato Xi Jinping yang berupaya meredakan tensi perselisihan dagang AS – Tiongkok. Rilis FOMC meeting yang hawkish pada hari Rabu (11/04) juga turut mempengaruhi pergerakan indeks dolar AS dalam sepekan.

Pasar Obligasi. Yield treasury AS tenor 10 tahun kembali bergerak naik ke level 2.834 persen pada akhir pekan lalu (13/04), setelah ditutup pada level 2,773 persen pada pekan sebelumnya (6/4). Level yield treasury AS pada pekan lalu tersebut merupakan level tertinggi sejak akhir Maret 2018. Di tengah tensi geopolitik serangan militer AS terhadap Suriah, pergerakan yield treasury AS dipengaruhi oleh rilis FOMC meeting pada hari Rabu (11/04) yang hawkish. Selama beberapa periode terakhir, pergerakan yield treasury AS tidak menunjukkan korelasi yang kuat dengan indeks dolar AS. Namun, belakangan korelasi keduanya terlihat kembali searah selama kuartal I 2018. Hal – hal yang mempengaruhi bursa saham Wall Street terlihat juga mempengaruhi pergerakan pasar obligasi AS.

Pasar Komoditas. Harga minyak mentah global kembali melanjutkan tren penguatan setelah pada pekan sebelumnya mengalami pelemahan mingguan. Menguatnya harga acuan minyak mentah global didorong oleh perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang kembali memanas seiring pernyataan agresif Trump atas Suriah merespon serangan senjata kimia yang dilakukan Pemerintah Suriah. Di sisi lain, Pemerintah Saudi Arabia juga menyampaikan bahwa angkatan udaranya berhasil melumpuhkan misil Suriah yang diluncurkan untuk menyerang Riyadh. Potensi konflik diperkirakan semakin meningkat mengingat perseteruan ini tidak hanya melibatkan AS, Arab Saudi, dan Syiria namun juga Rusia dan Iran yang juga merupakan negara produsen minyak mentah terbesar. Di tengah penguatan harga minyak mentah, harga acuan batubara mengalami penurunan mingguan akibat perkiraan terhadap menurunnya produksi industri logam seiring masih belum solidnya permintaan global. Hal ini mengingat batubara merupakan salah satu bahan bakar utama untuk industri baja dan aluminium. Dari sisi komoditas perkebunan, ekspektasi terhadap penurunan stok CPO global yang sempat mendorong kenaikan harga CPO pekan lalu hanya bersifat sementara, pekan ini harga acuan CPO global kembali melemah secara mingguan. Sentimen negatif yang sebelumnya sempat mengemuka terkait rencana pembatasan konsumsi CPO oleh negara-negara di kawasan Eropa masih menjadi faktor utama yang mempengaruhi tren harga CPO. Dari sisi komoditas bahan logam, meningkatnya tekanan geopolitik yang pekan ini diperparah oleh kembali meningkatnya potensi konflik Timur Tengah mendorong minat beli investor atas safe haven terutama emas. Hal ini berdampak positif pada kenaikan harga mingguan emas global.

II. Pasar Keuangan Domestik

  • Pada penutupan pekan, IHSG menguat 1,54 persen secara mingguan ke level 6.270,33 dengan posisi jual bersih investor non residen, imbal hasil SBN seri benchmark bergerak bervariasi antara -5 hingga 2 bps dengan posisi kepemilikan investor non residen yang membukukan kenaikan mingguan, dan nilai tukar Rupiah menguat 0,17 persen ke level Rp13.755 per USD.

IHSG tercatat menguat 1,54 persen secara mingguan ke level 6.270,33 dan diperdagangkan di kisaran 6.243,00 – 6.380,35 pada pekan ini. Investor nonresiden membukukan jual bersih sebesar Rp1,48 triliun pada pekan ini dan tercatat jual bersih Rp26,38 triliun secara ytd. Nilai rata-rata transaksi perdagangan harian selama sepekan naik ke level Rp6,91 triliun dari pekan sebelumnya yang sebesar Rp5,92 triliun.

Dari pasar SBN, yield SUN seri benchmark bergerak bervariasi antara -5 s.d. 2 bps dalam sepekan. Berdasarkan data setelmen BI per 12 April 2018, kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp871,65 T (39,68 persen terhadap total outstanding), naik Rp0,22 T secara mingguan.

Nilai tukar Rupiah terpantau menguat 0,17 persen secara mingguan dan secara ytd melemah 1,48 persen, berada di level Rp13.755 per USD. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif terjaga, sebagaimana tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan yang stabil. Pekan ini Rupiah diperdagangkan di kisaran 13.721 – 13.797 per Dolar AS.

III. Perekonomian Internasional

Dari AS, Consumer price indeks (CPI) AS untuk bulan Maret 2018 tercatat turun menjadi -0,1 persen dari bulan sebelumnya yang sebesar 0,2 persen. Kondisi ini dipengaruhi oleh penurunan harga BBM. Penurunan ini merupakan yang terendah dan terbesar dalam sepuluh bulan terakhir. Dari kawasan Amerika Tengah, penjualan ritel Brazil mengalami kontraksi pada bulan Februari 2018 akibat pemulihan yang tidak merata dari sektor jasa yang dominan di negara itu, menyusul resesi terdalam dalam beberapa dasawarsa. Sementara itu. penjualan ritel negara tersebut pada bulan Februari 2018 turun 0,2 persen dari bulan sebelumnya, lebih rendah dari perkiraan ekonom Reuters yang memperkirakan kenaikan sebesar 0,8 persen.

Dari kawasan Eropa, pertumbuhan produksi manufaktur Inggris tercatat negatif 0,2 persen pada bulan Maret 2018, lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang tumbuh 0,1 persen dan lebih rendah dibandingkan dengan proyeksi analis sebesar 0,2 persen. Hal ini terjadi seiring dengan menurunnya produksi alat elektronik dan refinasi minyak.

Dari kawasan Asia Pasifik, People’s Bank of Tiongkok (PBOC) berencana untuk mengalihkan investasi dana dari US Treasury ke aset lain. Salah satu anggota Komite Kebijakan Moneter PBOC, Fan Gang, menyatakan bahwa obligasi Pemerintah AS dinilai  sudah tak layak beli, sehingga menginvestasikan cadangan modal pada aset riil menjadi opsi yang lebih baik. Sebagai informasi, Tiongkok memutar dana sebesar USD1,17 triliun di US Treasury per akhir Januari 2018. Ini menjadikan Tiongkok sebagai kreditor asing terbesar AS, sekaligus pemilik obligasi pemerintah kedua terbesar di AS, setelah the Fed. Data PBOC menunjukkan cadangan devisa Tiongkok mencapai USD3,14 triliun per Maret 2018. Sementara itu, Inflasi Tiongkok tumbuh melambat pada bulan Maret. Inflasi tercatat tumbuh 2,1 persen yoy atau -1,1 persen mom. Pada bulan sebelumnya, inflasi Tiongkok mencapai 2,9 persen  yoy atau 1,2 persen mom. Perlambatan ini dipicu oleh penurunan harga bahan makanan serta penurunan harga bahan bakar.

 IV. Perekonomian Domestik

Menteri BUMN menandatangani akta pengalihan saham seri B milik Negara sebesar 56,96 persen di PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk atau PGAS kepada PT Pertamina (Persero). Pengalihan tersebut sekaligus meresmikan terbentuknya holding BUMN migas. Setelah penandatanganan tersebut, proses selanjutnya adalah integrasi PT Pertamina Gas (Pertagas) yang merupakan anak usaha Pertamina ke PGAS. Dengan demikian, PGAS akan menjadi sub-holding gas di bawah Pertamina. Integrasi tersebut dilakukan untuk mencapai konsolidasi keuangan yang sehat dan tax planning yang optimal.

Otoritas Jasa Keuangan akan mengeluarkan aturan terkait equity-crowd-funding usai melakukan uji coba terhadap perusahaan fintech di sektor tersebut dalam ruang uji coba terbatas (regulatory sandbox).  Uji coba dilakukan untuk menunjukkan aturan apa saja yang harus dibuat oleh regulator keuangan dan mitigasi seperti apa yang harus dilakukan.

Bank Indonesia (BI) tengah mengkaji pelonggaran loan to value (LTV). Hal itu dilakukan selain untuk mendorong intermediasi perbankan, juga untuk mengurangi risiko sistemik. Menurut BI, kajian LTV ini juga sejalan dengan rencana BI untuk mendukung pertumbuhan ekonomi (pro growth) dimana saat ini lingkup tugas BI hanya pada stabilisasi inflasi dan nilai tukar.

Produksi sektor industri di zona Euro secara tidak terduga turun 0,8 persen di bulan Februari 2018 dibandingkan bulan sebelumnya atau mencatatkan penurunan dalam tiga bulan berturut-turut. Hal ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi kawasan Eropa yang mungkin sedikit melambat pada Q1 2018.

Lembaga pemeringkat Moody’s menaikkan rating utang domestik dan luar negeri Indonesia menjadi Baa2 dengan outlook stabil dari sebelumnya Baa3 dengan outlook positif. Peningkatan rating ini didukung oleh kerangka kebijakan yang semakin kredibel, efektif dan kondusif bagi stabilitas makroekonomi. Kedepan, Moody’s mengharapkan bahwa Indonesia tetap fokus pada kebijakan fiskal dan moneter Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan membangun penyangga keuangan. Selain itu, lembaga pemeringkat Moody's Investor Service juga menaikkan peringkat lima korporasi BUMN, yaitu PT PLN, Pertamina, PGAS, Jasa Marga dan Pelindo. Moody’s meningkatkan rating baik korporasi maupun surat utangnya menjadi Baa2 dengan prospek stabil untuk kelima korporasi BUMN tersebut.

Neraca Perdagangan bulan Maret 2018 dan Prospek Perdagangan Global ke Depan

  • Pertumbuhan perdagangan dunia mencapai 4,7 persen pada tahun 2017 dan diperkirakan mencapai 4,4 persen pada 2018
  • REER Rupiah undervalued berpotensi menekan neraca arus dana dengan ekspektasi imbal hasil yang lebih besar.
  • Neraca perdagangan Indonesia pada bulan Maret 2018 mencatatkan surplus sebesar US$1,09 miliar.

Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada hari Kamis, 12 April 2018 merilis forecast perdagangan global 2018 dengan perdagangan barang diperkirakan tumbuh 4,4 persen yoy tahun ini dan kenaikan lebih lanjut 4,0 persen yoy diperkirakan pada 2019. Setelah satu dekade paska krisis keuangan mencetak rata-rata 3,0 persen, volume perdagangan global di akhir 2017 tumbuh 4,7 persen yoy.

Selama tiga bulan terakhir, Amerika Serikat telah mengenakan tarif global untuk impor baja, aluminium, mesin cuci, dan produk solar. AS mengancam akan memperluas tarif atas produk Tiongkok hingga US$ 150 miliar sebagai respon atas pencurian kekayaan intelektual dan teknologi AS. Tiongkok kemudian mengklaim tariff 25% dan 10% atas impor produk baja dan aluminium melanggar aturan WTO dan Tiongkok membalas dengan memberlakukan tarifnya sendiri hingga $ 50 miliar untuk ekspor AS, seperti kedelai, mobil, dan pesawat terbang.

Walau forecast terbaru WTO tahun 2018 berada di atas ekspektasi sebelumnya pada September 2017, WTO mengingatkan risiko ketegangan perdagangan berdampak buruk. Perkiraan terbaru Kamis lalu menaikkan perkiraan dimaksud menjadi 3,1 hingga 5,5 persen yoy berdasarkan perkiraan PDB berlaku dibandingkan antara 1,4 hingga 4,4 persen yoy.

Data CPB World Trade Monitor menunjukkan bahwa penggerak utama perdagangan global adalah negara-negara emerging market di Asia, termasuk Indonesia, dengan pertumbuhan mencapai 7,9 persen mom pada bulan Januari 2018, sementara advanced economies justru mencatatkan kontraksi sebesar 0,1 persen mom dengan perlambatan tertinggi dicatatkan oleh Jepang dengan pertumbuhan -3,1 persen mom.

Perkiraan pertumbuhan perdagangan global yang lebih tinggi menjadi peluang bagi Indonesia. Secara empiris, rasio pertumbuhan perdagangan terhadap pertumbuhan ekonomi secara tradisional berjalan di rasio 2 : 1. Namun demikian, rasio ini telah berubah menjadi sekitar 1: 1 dalam dekade sejak krisis keuangan dan diperkirakan meningkat tahun ini dengan perdagangan tumbuh 1,3 kali lebih cepat daripada ekonomi secara global. Seiring dengan ekspektasi aktivitas perdagangan dunia yang meningkat, pada bulan Januari 2018 IMF merevisi naik perkiraan pertumbuhan global menjadi 3,9 persen pada 2018 atau meningkat 0,2 persen dari update terakhir pada Oktober 2017.

Dari sisi perdagangan luar negeri, Indonesia berpotensi menikmati peningkatan ekspor seiring naiknya demand global. Merujuk data PCB World Trade Monitor bulan Januari 2018, elastisitas volume ekspor dan impor Indonesia terhadap global masing-masing mencapai 2,3 dan 2, lebih tinggi dibanding rata-rata emerging Asia yang sebesar 1,7 dan 1,5. Hal ini mengindikasikan bahwa bahwa dengan perkiraan pertumbuhan perdagangan global yang mencapai 4,4 persen pada tahun 2018, volume ekspor dan impor Indonesia masing-masing berpotensi tumbuh di kisaran 8,8 persen dan 10,1 persen.

Nilai Tukar Efektif Indonesia (REER) dengan basis data FRED untuk indeks 2010 = 100 adalah 88,85 pada Februari 2018, dibandingkan 91,31 pada bulan sebelumnya. Data FRED diperbarui bulanan dan rata-rata 93,89 dari Januari 2010 hingga Februari 2018 untuk Indonesia, sementara itu untuk mitra dagang utama Tiongkok, Amerika Serikat dan Jepang, masing-masing mencatatkan 127.63; 110.62; dan 74.27. Dengan demikian terlihat Nilai Tukar Efektif Indonesia sudah cukup kompetitif, walaupun perlu dicermati lagi pada tingkat perdagangan bilateral.

Data terkini Reuters, suku bunga jangka pendek Indonesia atau suku bunga Pasar Uang Antar Bank 3 Bulan dilaporkan sebesar 5,4% per tahun pada Maret 2018. Suku bunga jangka panjang Indonesia atau yield Obligasi Pemerintah 10 Tahun dilaporkan pada 6.9% per tahun di Maret 2018. Tingkat suku bunga acuan atau BI 7-Days Reverse Repo Rate  ditetapkan sebesar 4,25% per tahun pada Maret 2018. Nilai Tukar Indonesia terhadap Dolar AS rata-rata 13.758,3 (IDR/USD) di Maret 2018.

Mengingat peningkatan Nilai Tukar Efektif Riil (REER) menunjukkan berkurangnya daya saing reporting country, maka kiranya Tiongkok dan Jepang terlihat meningkatkan daya saingnya dengan tajam secara REER (di luar faktor mikro) relatif terhadap Indonesia di 2016. Observasi ini dapat menjelaskan koreksi dan potensi koreksi Rupiah di 2018, mengingat Nilai Tukar Efektif Riil untuk keseimbangan terms-of-trade berdasarkan data FRED berada di kisaran 84,61 s.d. 91.04 untuk data tingkat suku bunga dan kurs di atas, serta terpenuhinya kondisi Marshal Lerner – kecuali untuk data AS (FEM-IPB, 2015).

Data neraca perdagangan bulan Maret 2018 yang dirilis oleh BPS pada Senin (16/04) mencatat surplus sebesar USD 1,09 miliar. Volume ekspor tumbuh sedikit melambat menjadi 8,1 persen sementara volume impor turun 3,3 persen yoy. Secara nilai, ekspor tumbuh 6,14 persen yoy sementara nilai impor masih tumbuh 9,07 persen yoy. Impuls TOT terhada REER pada gambar-10 menjelaskan penurunan volume impor di tengah menguatnya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah dorong penurunan nilai impor, untuk data Indonesia.

Namun demikian, REER Rupiah yang undervalued berpotensi memberikan tekanan terhadap neraca arus dana seiring ekspektasi pertumbuhan earnings korporasi yang lebih tinggi di tengah rasio P/E yang sudah cukup tinggi dibandingkan peers.


Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Highlight  Minggu Ini

  • Wall Street mengalami penguatan mingguan.
  • Indeks dolar AS berada pada level 89,77 pada akhir pekan (13/04) atau melemah sebesar 0,38 persen dalam sepekan.
  • IHSG tercatat menguat 1,54 persen secara mingguan ke level 6.270,33 dan diperdagangkan di kisaran 6.243,00 – 6.380,35.
  • Nilai tukar Rupiah terpantau menguat 0,17 persen secara mingguan dan berada di level Rp13.755 per USD.
  • Lembaga pemeringkat Moody’s menaikkan rating utang domestik dan luar negeri Indonesia menjadi Baa2 dengan outlook stabil.

I.    Pasar Global

Pasar Saham. Wall Street mengalami penguatan pada pekan lalu, setelah pada pekan sebelumnya mencatatkan pelemahan. Secara mingguan, indeks Dow Jones naik sebesar 1,79 persen, sementara indeks S&P 500 menguat 1,99 persen. Sentimen yang mempengaruhi pergerakan Wall Street sepanjang pekan lalu antara lain isu geopolitik serangan rudal AS terhadap Suriah dan rilis kinerja sejumlah emiten periode kuartal I 2018. Pada hari Rabu (11/04), Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman akan melakukan serangan rudal terhadap Suriah sebagai tanggapan atas dugaan serangan senjata kimia Suriah. Namun, keesokan harinya, melalui aplikasi twitter, Donald Trump memberikan klarifikasi bahwa AS masih berhati – berhati atas hal terkait Suriah. Pada perkembangannya, serangan rudal AS kemudian benar terjadi pada hari  Sabtu (14/04). Selain isu ini, isu lain yang juga mempengaruhi pergerakan bursa saham Wall Street adalah rilis kinerja sejumlah emiten untuk kuartal I 2018. Di sektor keuangan, misalnya, saham – saham perbankan papan atas seperti Citigroup, Wells Fargo dan JP Morgan membukukan laba dan pendapatan kuartal I 2018 melebihi estimasi para analis. Selain itu, isu lanjutan perang dagang AS – Tiongkok sedikit banyak juga masih menjadi perhatian investor.

Dari kawasan Eropa, indeks utama Eropa seperti indeks FTSE 100 (Inggris), DAX (Jerman), CAC (Prancis), dan EuroStoxx 50 secara mingguan kembali mencatatkan penguatan. Selain faktor geopolitik global, pergerakan bursa saham Eropa selama sepekan dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas (hard commodities) dan rilis laba emiten kuartal I 2018 yang di atas ekspektasi analis. Hampir semua sektor bisnis berada di wilayah positif, dengan sektor teknologi menjadi sektor yang memiliki kinerja terbaik selama kuartal I 2018. Sementara itu, mayoritas bursa saham Asia juga ditutup menguat secara mingguan, mengekor bursa saham global.

Pasar Uang.  Indeks dolar AS berada pada level 89,77 pada akhir pekan (13/04) atau melemah sebesar 0,38 persen dalam sepekan terhadap enam mata uang utama dunia dari posisi 90,108 pada penutupan akhir pekan sebelumnya. Level itu mendekati level terendah indeks dolar AS dalam dua pekan. Sentimen utama yang mempengaruhi pelemahan dolar AS dalam sepekan berasal dari serangan militer AS dan sekutunya terhadap Suriah. Sebelumnya, tekanan terhadap dolar AS mereda pasca pidato Xi Jinping yang berupaya meredakan tensi perselisihan dagang AS – Tiongkok. Rilis FOMC meeting yang hawkish pada hari Rabu (11/04) juga turut mempengaruhi pergerakan indeks dolar AS dalam sepekan.

Pasar Obligasi. Yield treasury AS tenor 10 tahun kembali bergerak naik ke level 2.834 persen pada akhir pekan lalu (13/04), setelah ditutup pada level 2,773 persen pada pekan sebelumnya (6/4). Level yield treasury AS pada pekan lalu tersebut merupakan level tertinggi sejak akhir Maret 2018. Di tengah tensi geopolitik serangan militer AS terhadap Suriah, pergerakan yield treasury AS dipengaruhi oleh rilis FOMC meeting pada hari Rabu (11/04) yang hawkish. Selama beberapa periode terakhir, pergerakan yield treasury AS tidak menunjukkan korelasi yang kuat dengan indeks dolar AS. Namun, belakangan korelasi keduanya terlihat kembali searah selama kuartal I 2018. Hal – hal yang mempengaruhi bursa saham Wall Street terlihat juga mempengaruhi pergerakan pasar obligasi AS.

Pasar Komoditas. Harga minyak mentah global kembali melanjutkan tren penguatan setelah pada pekan sebelumnya mengalami pelemahan mingguan. Menguatnya harga acuan minyak mentah global didorong oleh perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang kembali memanas seiring pernyataan agresif Trump atas Suriah merespon serangan senjata kimia yang dilakukan Pemerintah Suriah. Di sisi lain, Pemerintah Saudi Arabia juga menyampaikan bahwa angkatan udaranya berhasil melumpuhkan misil Suriah yang diluncurkan untuk menyerang Riyadh. Potensi konflik diperkirakan semakin meningkat mengingat perseteruan ini tidak hanya melibatkan AS, Arab Saudi, dan Syiria namun juga Rusia dan Iran yang juga merupakan negara produsen minyak mentah terbesar. Di tengah penguatan harga minyak mentah, harga acuan batubara mengalami penurunan mingguan akibat perkiraan terhadap menurunnya produksi industri logam seiring masih belum solidnya permintaan global. Hal ini mengingat batubara merupakan salah satu bahan bakar utama untuk industri baja dan aluminium. Dari sisi komoditas perkebunan, ekspektasi terhadap penurunan stok CPO global yang sempat mendorong kenaikan harga CPO pekan lalu hanya bersifat sementara, pekan ini harga acuan CPO global kembali melemah secara mingguan. Sentimen negatif yang sebelumnya sempat mengemuka terkait rencana pembatasan konsumsi CPO oleh negara-negara di kawasan Eropa masih menjadi faktor utama yang mempengaruhi tren harga CPO. Dari sisi komoditas bahan logam, meningkatnya tekanan geopolitik yang pekan ini diperparah oleh kembali meningkatnya potensi konflik Timur Tengah mendorong minat beli investor atas safe haven terutama emas. Hal ini berdampak positif pada kenaikan harga mingguan emas global.

II. Pasar Keuangan Domestik

  • Pada penutupan pekan, IHSG menguat 1,54 persen secara mingguan ke level 6.270,33 dengan posisi jual bersih investor non residen, imbal hasil SBN seri benchmark bergerak bervariasi antara -5 hingga 2 bps dengan posisi kepemilikan investor non residen yang membukukan kenaikan mingguan, dan nilai tukar Rupiah menguat 0,17 persen ke level Rp13.755 per USD.

IHSG tercatat menguat 1,54 persen secara mingguan ke level 6.270,33 dan diperdagangkan di kisaran 6.243,00 – 6.380,35 pada pekan ini. Investor nonresiden membukukan jual bersih sebesar Rp1,48 triliun pada pekan ini dan tercatat jual bersih Rp26,38 triliun secara ytd. Nilai rata-rata transaksi perdagangan harian selama sepekan naik ke level Rp6,91 triliun dari pekan sebelumnya yang sebesar Rp5,92 triliun.

Dari pasar SBN, yield SUN seri benchmark bergerak bervariasi antara -5 s.d. 2 bps dalam sepekan. Berdasarkan data setelmen BI per 12 April 2018, kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp871,65 T (39,68 persen terhadap total outstanding), naik Rp0,22 T secara mingguan.

Nilai tukar Rupiah terpantau menguat 0,17 persen secara mingguan dan secara ytd melemah 1,48 persen, berada di level Rp13.755 per USD. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif terjaga, sebagaimana tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan yang stabil. Pekan ini Rupiah diperdagangkan di kisaran 13.721 – 13.797 per Dolar AS.

III. Perekonomian Internasional

Dari AS, Consumer price indeks (CPI) AS untuk bulan Maret 2018 tercatat turun menjadi -0,1 persen dari bulan sebelumnya yang sebesar 0,2 persen. Kondisi ini dipengaruhi oleh penurunan harga BBM. Penurunan ini merupakan yang terendah dan terbesar dalam sepuluh bulan terakhir. Dari kawasan Amerika Tengah, penjualan ritel Brazil mengalami kontraksi pada bulan Februari 2018 akibat pemulihan yang tidak merata dari sektor jasa yang dominan di negara itu, menyusul resesi terdalam dalam beberapa dasawarsa. Sementara itu. penjualan ritel negara tersebut pada bulan Februari 2018 turun 0,2 persen dari bulan sebelumnya, lebih rendah dari perkiraan ekonom Reuters yang memperkirakan kenaikan sebesar 0,8 persen.

Dari kawasan Eropa, pertumbuhan produksi manufaktur Inggris tercatat negatif 0,2 persen pada bulan Maret 2018, lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang tumbuh 0,1 persen dan lebih rendah dibandingkan dengan proyeksi analis sebesar 0,2 persen. Hal ini terjadi seiring dengan menurunnya produksi alat elektronik dan refinasi minyak.

Dari kawasan Asia Pasifik, People’s Bank of Tiongkok (PBOC) berencana untuk mengalihkan investasi dana dari US Treasury ke aset lain. Salah satu anggota Komite Kebijakan Moneter PBOC, Fan Gang, menyatakan bahwa obligasi Pemerintah AS dinilai  sudah tak layak beli, sehingga menginvestasikan cadangan modal pada aset riil menjadi opsi yang lebih baik. Sebagai informasi, Tiongkok memutar dana sebesar USD1,17 triliun di US Treasury per akhir Januari 2018. Ini menjadikan Tiongkok sebagai kreditor asing terbesar AS, sekaligus pemilik obligasi pemerintah kedua terbesar di AS, setelah the Fed. Data PBOC menunjukkan cadangan devisa Tiongkok mencapai USD3,14 triliun per Maret 2018. Sementara itu, Inflasi Tiongkok tumbuh melambat pada bulan Maret. Inflasi tercatat tumbuh 2,1 persen yoy atau -1,1 persen mom. Pada bulan sebelumnya, inflasi Tiongkok mencapai 2,9 persen  yoy atau 1,2 persen mom. Perlambatan ini dipicu oleh penurunan harga bahan makanan serta penurunan harga bahan bakar.

 IV. Perekonomian Domestik

Menteri BUMN menandatangani akta pengalihan saham seri B milik Negara sebesar 56,96 persen di PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk atau PGAS kepada PT Pertamina (Persero). Pengalihan tersebut sekaligus meresmikan terbentuknya holding BUMN migas. Setelah penandatanganan tersebut, proses selanjutnya adalah integrasi PT Pertamina Gas (Pertagas) yang merupakan anak usaha Pertamina ke PGAS. Dengan demikian, PGAS akan menjadi sub-holding gas di bawah Pertamina. Integrasi tersebut dilakukan untuk mencapai konsolidasi keuangan yang sehat dan tax planning yang optimal.

Otoritas Jasa Keuangan akan mengeluarkan aturan terkait equity-crowd-funding usai melakukan uji coba terhadap perusahaan fintech di sektor tersebut dalam ruang uji coba terbatas (regulatory sandbox).  Uji coba dilakukan untuk menunjukkan aturan apa saja yang harus dibuat oleh regulator keuangan dan mitigasi seperti apa yang harus dilakukan.

Bank Indonesia (BI) tengah mengkaji pelonggaran loan to value (LTV). Hal itu dilakukan selain untuk mendorong intermediasi perbankan, juga untuk mengurangi risiko sistemik. Menurut BI, kajian LTV ini juga sejalan dengan rencana BI untuk mendukung pertumbuhan ekonomi (pro growth) dimana saat ini lingkup tugas BI hanya pada stabilisasi inflasi dan nilai tukar.

Produksi sektor industri di zona Euro secara tidak terduga turun 0,8 persen di bulan Februari 2018 dibandingkan bulan sebelumnya atau mencatatkan penurunan dalam tiga bulan berturut-turut. Hal ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi kawasan Eropa yang mungkin sedikit melambat pada Q1 2018.

Lembaga pemeringkat Moody’s menaikkan rating utang domestik dan luar negeri Indonesia menjadi Baa2 dengan outlook stabil dari sebelumnya Baa3 dengan outlook positif. Peningkatan rating ini didukung oleh kerangka kebijakan yang semakin kredibel, efektif dan kondusif bagi stabilitas makroekonomi. Kedepan, Moody’s mengharapkan bahwa Indonesia tetap fokus pada kebijakan fiskal dan moneter Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan membangun penyangga keuangan. Selain itu, lembaga pemeringkat Moody's Investor Service juga menaikkan peringkat lima korporasi BUMN, yaitu PT PLN, Pertamina, PGAS, Jasa Marga dan Pelindo. Moody’s meningkatkan rating baik korporasi maupun surat utangnya menjadi Baa2 dengan prospek stabil untuk kelima korporasi BUMN tersebut.

Neraca Perdagangan bulan Maret 2018 dan Prospek Perdagangan Global ke Depan

  • Pertumbuhan perdagangan dunia mencapai 4,7 persen pada tahun 2017 dan diperkirakan mencapai 4,4 persen pada 2018
  • REER Rupiah undervalued berpotensi menekan neraca arus dana dengan ekspektasi imbal hasil yang lebih besar.
  • Neraca perdagangan Indonesia pada bulan Maret 2018 mencatatkan surplus sebesar US$1,09 miliar.

Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada hari Kamis, 12 April 2018 merilis forecast perdagangan global 2018 dengan perdagangan barang diperkirakan tumbuh 4,4 persen yoy tahun ini dan kenaikan lebih lanjut 4,0 persen yoy diperkirakan pada 2019. Setelah satu dekade paska krisis keuangan mencetak rata-rata 3,0 persen, volume perdagangan global di akhir 2017 tumbuh 4,7 persen yoy.

Selama tiga bulan terakhir, Amerika Serikat telah mengenakan tarif global untuk impor baja, aluminium, mesin cuci, dan produk solar. AS mengancam akan memperluas tarif atas produk Tiongkok hingga US$ 150 miliar sebagai respon atas pencurian kekayaan intelektual dan teknologi AS. Tiongkok kemudian mengklaim tariff 25% dan 10% atas impor produk baja dan aluminium melanggar aturan WTO dan Tiongkok membalas dengan memberlakukan tarifnya sendiri hingga $ 50 miliar untuk ekspor AS, seperti kedelai, mobil, dan pesawat terbang.

Walau forecast terbaru WTO tahun 2018 berada di atas ekspektasi sebelumnya pada September 2017, WTO mengingatkan risiko ketegangan perdagangan berdampak buruk. Perkiraan terbaru Kamis lalu menaikkan perkiraan dimaksud menjadi 3,1 hingga 5,5 persen yoy berdasarkan perkiraan PDB berlaku dibandingkan antara 1,4 hingga 4,4 persen yoy.

Data CPB World Trade Monitor menunjukkan bahwa penggerak utama perdagangan global adalah negara-negara emerging market di Asia, termasuk Indonesia, dengan pertumbuhan mencapai 7,9 persen mom pada bulan Januari 2018, sementara advanced economies justru mencatatkan kontraksi sebesar 0,1 persen mom dengan perlambatan tertinggi dicatatkan oleh Jepang dengan pertumbuhan -3,1 persen mom.

Perkiraan pertumbuhan perdagangan global yang lebih tinggi menjadi peluang bagi Indonesia. Secara empiris, rasio pertumbuhan perdagangan terhadap pertumbuhan ekonomi secara tradisional berjalan di rasio 2 : 1. Namun demikian, rasio ini telah berubah menjadi sekitar 1: 1 dalam dekade sejak krisis keuangan dan diperkirakan meningkat tahun ini dengan perdagangan tumbuh 1,3 kali lebih cepat daripada ekonomi secara global. Seiring dengan ekspektasi aktivitas perdagangan dunia yang meningkat, pada bulan Januari 2018 IMF merevisi naik perkiraan pertumbuhan global menjadi 3,9 persen pada 2018 atau meningkat 0,2 persen dari update terakhir pada Oktober 2017.

Dari sisi perdagangan luar negeri, Indonesia berpotensi menikmati peningkatan ekspor seiring naiknya demand global. Merujuk data PCB World Trade Monitor bulan Januari 2018, elastisitas volume ekspor dan impor Indonesia terhadap global masing-masing mencapai 2,3 dan 2, lebih tinggi dibanding rata-rata emerging Asia yang sebesar 1,7 dan 1,5. Hal ini mengindikasikan bahwa bahwa dengan perkiraan pertumbuhan perdagangan global yang mencapai 4,4 persen pada tahun 2018, volume ekspor dan impor Indonesia masing-masing berpotensi tumbuh di kisaran 8,8 persen dan 10,1 persen.

Nilai Tukar Efektif Indonesia (REER) dengan basis data FRED untuk indeks 2010 = 100 adalah 88,85 pada Februari 2018, dibandingkan 91,31 pada bulan sebelumnya. Data FRED diperbarui bulanan dan rata-rata 93,89 dari Januari 2010 hingga Februari 2018 untuk Indonesia, sementara itu untuk mitra dagang utama Tiongkok, Amerika Serikat dan Jepang, masing-masing mencatatkan 127.63; 110.62; dan 74.27. Dengan demikian terlihat Nilai Tukar Efektif Indonesia sudah cukup kompetitif, walaupun perlu dicermati lagi pada tingkat perdagangan bilateral.

Data terkini Reuters, suku bunga jangka pendek Indonesia atau suku bunga Pasar Uang Antar Bank 3 Bulan dilaporkan sebesar 5,4% per tahun pada Maret 2018. Suku bunga jangka panjang Indonesia atau yield Obligasi Pemerintah 10 Tahun dilaporkan pada 6.9% per tahun di Maret 2018. Tingkat suku bunga acuan atau BI 7-Days Reverse Repo Rate  ditetapkan sebesar 4,25% per tahun pada Maret 2018. Nilai Tukar Indonesia terhadap Dolar AS rata-rata 13.758,3 (IDR/USD) di Maret 2018.

Mengingat peningkatan Nilai Tukar Efektif Riil (REER) menunjukkan berkurangnya daya saing reporting country, maka kiranya Tiongkok dan Jepang terlihat meningkatkan daya saingnya dengan tajam secara REER (di luar faktor mikro) relatif terhadap Indonesia di 2016. Observasi ini dapat menjelaskan koreksi dan potensi koreksi Rupiah di 2018, mengingat Nilai Tukar Efektif Riil untuk keseimbangan terms-of-trade berdasarkan data FRED berada di kisaran 84,61 s.d. 91.04 untuk data tingkat suku bunga dan kurs di atas, serta terpenuhinya kondisi Marshal Lerner – kecuali untuk data AS (FEM-IPB, 2015).

Data neraca perdagangan bulan Maret 2018 yang dirilis oleh BPS pada Senin (16/04) mencatat surplus sebesar USD 1,09 miliar. Volume ekspor tumbuh sedikit melambat menjadi 8,1 persen sementara volume impor turun 3,3 persen yoy. Secara nilai, ekspor tumbuh 6,14 persen yoy sementara nilai impor masih tumbuh 9,07 persen yoy. Impuls TOT terhada REER pada gambar-10 menjelaskan penurunan volume impor di tengah menguatnya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah dorong penurunan nilai impor, untuk data Indonesia.

Namun demikian, REER Rupiah yang undervalued berpotensi memberikan tekanan terhadap neraca arus dana seiring ekspektasi pertumbuhan earnings korporasi yang lebih tinggi di tengah rasio P/E yang sudah cukup tinggi dibandingkan peers.

Download Publication
Data Source: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Briefing Notes Update

Alternative text - include a link to the PDF!


ESELON I KEMENTERIAN KEUANGAN


KONTAK: Jl. Dr. Wahidin No. 1 Gd. R. M. Notohamiprodjo, Jakarta Pusat 10710
email: ikp@fiskal.depkeu.go.id

  Kurs Pajak : KMK Nomor 17/KM.10/2018,   USD : 13,770.00    AUD : 10,690.29    GBP : 19,640.12    SGD : 10,505.06    JPY : 12,852.50    EUR : 17,014.85    CNY : 2,195.01