Daily Update : 20-09-2018 | Download File :

Berita Global

  • Indeks S&P 500 dan Dow Jones pada bursa saham AS ditutup menguat pada akhir perdagangan Rabu (19/09) setelah kenaikan yield US Treasury mengangkat harga saham-saham sektor keuangan seperti Goldman Sachs, JP Morgan, Citigroup dan Bank of America dengan kenaikan hingga diatas 2 persen. Kemarin, imbal hasil US Treasury ditutup di level tertinggi sejak Januari. Selain itu, pelaku pasar melihat bahwa perang dagang akan mereda setelah Perdana Menteri Tiongkok menyatakan bahwa Tiongkok sengaja melemahkan mata uangnya untuk mendorong ekspor. Pelaku pasar melihat kebijakan ini sebagai sinyal habisnya amunisi Tiongkok untuk menghadapi perang dagang dengan AS. Indeks Dow Jones ditutup naik 158,8 poin atau 0,61 persen menjadi 26.405,76 sementara S&P 500 naik 3,64 poin atau 0,13 persen ke level 2.907,95. (Bloomberg)
  • Harga minyak mentah dunia terus menguat setelah Energy Information Administration (EIA) melaporkan bahwa persedian minyak komersial AS diluar cadangan minyak strategis turun 2,06 juta barel pekan lalu. Stok bensin juga dilaporkan turun 1,7 juta barel sementara impor minyak AS dilaporkan naik 433 ribu barel per hari dibandingkan pekan sebelumnya. Selain itu, beredar berita bahwa ekspor minyak Iran sepanjang bulan Agustus jatuh di bawah 2 juta barel per hari. Harga minyak Brent kontrak berjangka naik 0,47 persen ke level US$79,40 per barel. (Reuters)
  • Indikator pembangunan perumahan AS menunjukkan rebound setalah pada bulan Agustus tumbuh hingga 9,2 persen dengan total 1,28 juta rumah mulai dibangun. Kenaikan ini terbilang signifikan setelah pada bulan Juni dan Juli mengalami kontraksi masing-masing 11,4 dan 0,3 persen. Di sisi lain, indikator perijinan perumahan pada bulan Agustus dilaporkan turun hingga 5,7 persen setelah kenaikan 0,9 persen pada bulan Juli. Perusahaan real estate menghadapi tantangan dari kenaikan harga kayu, tanah dan tenaga kerja. (PressHerald)

Berita Domestik

  • Presiden Joko Widodo menginstruksikan Direktur Utama BPJS Kesehatan untuk membenahi sistem keuangan lembaganya secara menyeluruh. Hal ini perlu dilakukan guna menekan defisit BPJS Kesehatan yang terus membengkak setiap tahunnya. Menurut Presiden, pembenahan sistem tersebut penting mengingat BPJS sulit untuk mengontrol dan memonitor klaim rumah sakit dan fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia. Sebelumnya, Presiden telah meneken Peraturan Presiden (Perpres) tentang pemanfaatan pajak rokok daerah untuk menutup defisit keuangan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) oleh BPJS Kesehatan. Perpres tersebut mengatur pemerintah pusat dapat menggunakan pajak rokok yang merupakan hak pemerintah daerah dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota untuk program JKN, termasuk untuk menutup defisit keuangan BPJS Kesehatan.  (CNNIndonesia)
  • Rapat Koordinasi Komite Kebijakan Pembiayaan bagi UMKM memutuskan untuk menambah plafon kredit usaha rakyat (KUR) 2018 sebesar Rp 100 miliar. Dengan demikian, total plafon KUR 2018 mencapai Rp 123,63 triliun. Hingga 31 Agustus 2018, realisasi penyaluran KUR mencapai Rp 88 triliun. Angka itu setara dengan 70,9 persen dari target penyaluran tahun ini sebesar Rp 123,53 triliun. Realisasi penyaluran KUR tersebut masih didominasi oleh skema KUR mikro sebesar 66,7 persen dan diikuti dengan skema KUR kecil 33 persen. Sedangkan 0,3 persen sisanya merupakan KUR tenaga kerja Indonesia. (Kontan)
  • Otoritas Jasa Keuangan mendorong investor lokal untuk masuk ke industri asuransi, seiring dengan ketentuan dalam PP Nomor 14/2018 tentang Kepemilikan Asing pada Perusahaan Perasuransian yang membatasi kepemilikan asing maksimal 80 persen dari modal disetor perusahaan perasuransian. Di sisi lain, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia menyambut baik batasan saham asing 80 persen tersebut dengan tujuan  adanya transfer pengetahuan dan teknologi kepada perusahaan asuransi di Indonesia. Dengan demikian, investor lokal dapat memiliki kesempatan bagus untuk belajar bagaimana mengelola perusahaan asuransi yang modern. (BisnisIndonesia)

Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Weekly Update : 10-09-2018 s.d 16-09-2018 | Download File :

Highlight  Minggu Ini

  • Wall Street ditutup menguat seiring meredanya sentimen perang dagang dan rilis data inflasi yang di bawah ekspektasi.
  • Indeks dolar AS berada pada level 94,93 pada akhir pekan (14/09) atau melemah sebesar 0,46 persen dalam sepekan.
  • IHSG menguat 1,36 persen secara mingguan ke level 5.931,28 di tengah posisi jual bersih investor non residen.
  • Imbal hasil SBN seri benchmark sebagian besar bergerak turun dengan posisi kepemilikan investor non residen mengalami penurunan.
  • Rupiah menguat 0,09 persen dalam sepekan ke level Rp14.807 per USD.
  • Sentimen Nilai Tukar Emerging Market Mereda, USD Melemah Dengan Rilis Inflasi 3Q2018 Yang Di Bawah Ekspektasi Pasar.

I. Pasar Global

Pasar Saham. Wall Street ditutup menguat dibanding penutupan pekan sebelumnya dengan indeks Dow Jones dan S&P 500 mencatatkan kenaikan masing – masing sebesar 0,92 dan 1,16 persen. Kenaikan kedua indeks tersebut mendekati level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Sentimen yang mempengaruhi pergerakan bursa saham Wall Street selama sepekan berasal dari meredanya tensi perang dagang AS – Tiongkok setelah pada tengah pekan lalu the Wall Street Journal mengabarkan bahwa Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, mengirimkan undangan kepada rekan-rekannya di Tiongkok untuk memperbaharui pembicaraan perdagangan. Pihak Tiongkok menyambut baik undangan tersebut dan menegaskan bahwa perang dagang tidak akan menguntungkan siapa pun. Dari rilis data ekonomi AS, inflasi AS untuk bulan Agustus tercatat naik 0,2 persen mom, di bawah konsensus sebesar 0,3 persen. Secara tahunan, inflasi AS pada bulan tersebut mencapai 2,7 persen, di bawah konsensus analis sebesar 2,8 persen. Sementara itu, indikator inflasi inti AS untuk bulan yang sama hanya naik 0,1 persen mom, lebih rendah dibanding konsensus analis dan juga inflasi inti bulan sebelumnya sebesar 0,2 persen mom. Tertahannya laju inflasi ini dinilai telah mengurangi tekanan the Fed untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya secara lebih agresif. Pada tahun ini, the Fed telah menaikkan suku bunga acuan dua kali dan diperkirakan akan akan menaikkan kembali pada pertemuan FOMC akhir September ini.

Dari kawasan Eropa, bursa saham utama di kawasan seperti FTSE 100 Inggris, DAX Jerman, dan CAC Prancis juga ditutup menguat secara mingguan. Selain sentimen meredanya perang dagang, pergerakan bursa saham Eropa juga dipengaruhi oleh hasil pertemuan bank sentral di Kawasan. Pada hari Kamis (13/09) Bank Sentral Inggris (BoE) memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya pada level 0,75 persen. Hal ini sesuai dengan perkiraan para analis. Di tempat lain, Bank Sentral Eropa (ECB) menahan suku bunga acuannya pada level 0 persen. Presiden ECB, Mario Draghi, masih optimis dengan kinerja perekonomian Eropa ke depan. Sebelumnya, Bank Sentral Turki menaikkan suku bunga acuannya ke level 24 persen, naik 625 bps dari level sebelumnya pada 17,75 persen. Menyusul keputusan ini, Lira Turki terapresiasi secara signifikan terhadap dolar AS. Investor di Kawasan Eropa juga terus mencermati perkembangan lanjutan pembicaraan terkait Brexit. Dari rilis data ekonomi, sejumlah indikator ekonomi di Kawasan seperti indeks rata – rata pendapatan + bonus di UK untuk bulan Juli dan indeks German ZEW Economic Sentiment untuk bulan September menunjukkan pertumbuhan positif melebihi ekspektasi para analis.

Dari kawasan Asia, sebagian besar indeks di kawasan juga ditutup menguat secara mingguan dengan Indeks Nikkei Jepang dan SET Thailand mencatatkan kenaikan mingguan paling tinggi di kawasan masing – masing sebesar 3,56 dan 1,94 persen. Dari rilis data ekonomi di Kawasan Asia, PDB Jepang Q2 2018 sesuai dengan ekspektasi tumbuh sebesar 0,7 persen qoq. Di tempat lain, produksi industri Tiongkok untuk bulan Agustus tumbuh sebesar 6,1 persen yoy, lebih tinggi dari ekspektasi sebesar 6,0 persen yoy dan juga dari bulan sebelumnya yang juga sebesar 6,0 persen yoy.

Pasar Uang.  Indeks dolar AS berada pada level 94,93 pada akhir pekan (14/09) atau melemah sebesar 0,46 persen dalam sepekan terhadap enam mata uang utama dunia dari posisi 95,37 pada penutupan akhir pekan sebelumnya (07/09). Hingga pertengahan pekan lalu indeks dollar AS terus bergerak menjauhi level 95,00 seiring dengan dengan tekanan yang berasal dari data inflasi AS yang dibawah ekspektasi pasar meskipun tetap di kisaran target the Fed. Inflasi AS untuk bulan Agustus dilaporkan mencapai 0,2 persen mom, dibawah konsensus analis yang memperkirakan kenaikan 0,3 persen. Secara tahunan, inflasi AS pada bulan Agustus mencapai 2,7 persen, namun dibawah konsensus analis sebesar 2,8 persen. Di sisi lain, indikator core CPI AS untuk bulan Agustus hanya naik 0,1 persen mom, lebih rendah dibandingkan konsensus analis dan juga core CPI bulan Juli yang naik 0,2 persen mom. Selain itu, indeks dollar AS mendapat tekanan lebih lanjut dari data retail sales yang sedikit mengecewakan. Retail sales di AS pada bulan Agustus hanya naik 0,1 persen, jauh lebih rendah dibanding bulan Juli yang tumbuh 0,7 persen mom maaupun perkiraan analis untuk kenaikan 0,4 persen. Jelang akhir pekan, dolar AS bergerak menguat meskipun tidak mampu mencapai level 95,00 setelah Bank of England (BOE) dan European Central Bank (ECB) tingkat suku bunga acuannya, sehingga dollar AS bergerak menguat terhadap Poundsterling maupun Euro.

Pasar Obligasi. Yield treasury AS tenor 10 tahun bergerak naik sekitar 6 bps dari pekan lalu setelah ditutup pada level 3,00 pada akhir pekan (14/09). Dengan demikian, yield treasury AS tenor 10 tahun tersebut kembali menyentuh level psikologis 3 persen setelah terakhir pada 2 Agustus lalu. Sepanjang tahun ini, yield treasury AS tenor 10 tahun tercatat beberapa kali mencapai level diaats 3 persen antara lain padi bulan April, Mei (mencapai 3,13 persen), Juni dan Agustus meskipun tidak bertahan dalam waktu lama. Meskipun terdapat tekanan dari data inflasi dan penjualan eceran yang di bawah perkiraan sebagaian besar analis, yield US treasury melonjak setelah data penjualan eceran untuk bulan Juli dikoreksi dari tumbuh 0,5 persen menjadi 0,7 persen mom sehingga pertumbuhan ekonomi AS untuk kuartal III diperkirakan akan berada di sekitar 4 persen mengingat consumer spending mempunyai porsi sekitar 67 persen dari keseluruhan output perekonomian AS. Kenaikan yield US treasury juga dipengaruhi oleh sinyal-sinyal yang diberikan oleh Presiden ECB Mario Draghi bahwa ECB akan segera mengakhiri program pembelian obligasi.

Pasar Komoditas. Harga komoditas minyak mentah berbalik menguat pekan lalu setelah sempat mengalami pelemahan pada pekan sebelumnya. Harga minyak Brent kontrak berjangka patokan global menguat 1,64 persen sepanjang pekan lalu dan ditutup di level US$78,09 per barel. Dinamikan pergerakan harga minyak dunia pekan lalu diwarnai dengan penguatan tajam hingga pertengahan pekan sehingga sempat ditutup pada US$79,74 pada hari Rabu (12/09) yang merupakan level tertinggi pekan lalu dan selanjutnya berbalik sedikit melemah jelang akhir pekan. Secara umum, perdagangan minyak dunia masih dibayangi sentimen kekhawatiran penurunan output dan ekspor minyak Iran seiring akan diberlakukannya sanksi AS terhadap Iran pada bulan November mendatang. Sinyal-sinyak bahwa ekspor Iran akan menurun terlihat dari ekspor minyaknya yang berada di bawah 2,1 juta barel per hari pada bulan Agustus atau level terendah sejak Maret 2016 setelah negara-negara Asia yang merupakan importer minyak Iran mengambil lebih sedikit kargo meskipun sanksi minyak AS terhadap Iran belum berlaku efektif.

Selain itu, memanasnya harga minyak pekan lalu juga didorong oleh penurunan stok minyak AS yang jauh dari perkiraan. Berdasarkan data Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA), persediaan minyak mentah AS merosot 5,3 juta barel pada pekan sebelumnya, jauh dibawah perkriaan analis yang memperkirakan penurunan hanya akan sebesar 805 ribu barel. Selain itu, belum bertambahnya aktivitas pengeboran AS untuk produksi baru yang belum bertambah juga memberikan tenaga untuk harga minyak. Perusahaan energi AS dilaporkan justru mengurangi dua rig minyak pada pekan sebelumnya sehingga jumlah total rig yang aktif berproduksi menjadi 860. Jumlah rig minyak AS mengalami stagnasi sejak Mei tahun ini, setelah mengalami pemulihan sejak tahun 2016, yang mengikuti kemerosotan tajam tahun sebelumnya di tengah jatuhnya harga minyak mentah secara global. Untuk pekan yang berakhir pada Minggu (09/09). produksi minyak AS dilaporkan turun 100 ribu barel per hari ke level 10,9 juta barel per hari seiring gangguan yang dihadapi industri terhadap kapasitas jaringan pipa.

Jelang akhir pekan, harga minyak mentah terpantau sedikit melemah meskipun masih di atas level penutupan pekan sebelumnya. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran perang dagang akan kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump menulis di akun twitter-nya bahwa AS tidak berada dalam tekanan untuk membuat kesepakatan perdagangan dengan Tiongkok. Meskipun pemerintah AS telah mengundang pejabat Tiongkok untuk perundingan perdagangan lanjutan, di sisi lain AS juga siap memberlakukan kenaikan tarif untuk barang Tiongkok senilai US$200 miliar setelah berakhirnya sesi public hearing. Organisasi Negara Pengekspor Minyak Mentah Dunia (OPEC) juga memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak pada 2019 dalam laporan bulannya. OPEC menyatakan bahwa meningkatnya tantangan di beberapa negara berkembang seiring dengan perubahan kebijakan moneter AS dan perang dagang yang semakin meluas dapat berimbas negatif pada pertumbuhan ekonomi global. OPEC memperkirakan permintaan minyak akan tumbuh sebesar 1,41 juta barel per hari pada 2019, turun sekitar 20 ribu barel per hari dari proyeksi yang dipublikasikan sebelumnya.

Dari komoditas batubara, berbalik menguat sepanjang pekan lalu setelah sempat melemah pada pekan sebelumnya. Harga batubara ICE Newcastle kontrak acuan tercatat naik sebesar 0,74 persen ke level US$115,40 per metriks ton. Data realisasi impor Tiongkok pada bulan Agustus menjadi motor utama pergerakan harga batubara. Dari data yang dikutip oleh Bloomberg, impor batubara Tiongkok pada bulan Agustus tercatat turun 1,1 persen secara bulanan ke level 925.161 metriks ton, namun capaian tersebut masih mendekati rekor tertinggi sejak Januari 2014, yakni sebesar 935.806 metriks ton yang dicapai pada bulan Juli 2018. Perkembangan ini mengindikasikan bahwa permintaan batubara Tiongkok tetap tinggi meskipun puncak musim panas telah terlewati. Kuatnya permintaan Tiongkok didukung oleh inspeksi lingkungan yang dilakukan pemerintah Tiongkok terhadap sejumlah sentra produksi batubara sehingga produksi batubara domestik menjadi terbatas sehingga impor naik untuk memenuhi tingkat konsumsi yang stabil.

Selain faktor konsumsi Tiongkok, penguatan harga batubara juga terbantu oleh ekspektasi yang terbentuk di kalangan pelaku pasar bahwa perundingan lebih lanjut antara AS dan Tiongkok akan dapat membatalkan rencana AS untuk mengenakan tariff terhadap produk Tiongkok senilai US$200 ribu. Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin diberitakan oleh Wall Street Journal telah mengirim undangan kepada sejumlah pejabat di Tiongkok, termasuk Perdana Menteri Liu He, untuk berbicara soal isu-isu perdagangan. Sumber di lingkaran Gedung Putih mengungkapkan bahwa waktu dan tempat pertemuan belum jelas namun kemungkinan terjadi dalam waktu yang tidak terlalu lama. Apabila pengenaan tarif terhadap produk Tiongkok dibatalkan, pelaku pasar melihat kemungkinan bahwa permintaan batubara Tiongkok sebagai importir terbesar di dunia akan tetap kuat.

Dari komoditas CPO, setelah dua pekan berturut-turut menguat, harga CPO terpantau melemah tipis pekan lalu.  Harga CPO di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun tipis sebesar 0,32 persen secara mingguan ke level 2.206 Ringgit/metriks ton dan secara ytd harga CPO melemah sekitar 9,74 persen. Faktor utama yang mempengaruhi melemahnya harga CPO berasal dari kenaikan stok namun penurunan ekspor CPO yang dialami oleh Malaysia. Stok minyak sawit Malaysia pada akhir Agustus sebagaimana dilaporkan oleh Malaysian Palm Oil Board (MPOB) meningkat 12,4 persen ke level 2,49 juta ton yang merupakan level tertinggi dalam enam bulan terakhir, sekaligus melampai konsensus analis yang dihimpun Reuters yang memperkirakan kenaikan 9 persen mom ke level 2,41 juta ton. Di sisi lain, MPOB melaporkan ekspor minyak kelapa sawit Malaysia pada bulan Agustus justru turun 8,11 persen mom ke level 1,1 juta ton. Penurunan ekspor Malaysia ini berbanding terbalik dengan ekspektasi pasar yang memproyeksikan kenaikan ekspor pada bulan Agustus sebesar 2,3 persen mom atau 1,23 juta ton. Produksi CPO Malaysia pada bulan Agustus tumbuh 7,9 persen ke level 1,62 juta ton atau yang tertinggi di tahun 2018, naming masih lebih rendah dari perkiraan analis yang memperkirakan pertumbuhan produksi sebesar 9,9 persen mom  di level 1,65 juta ton. Tekanan terhadap harga CPO juga berasal dari penguatan nilai Ringgit Malaysia. Sepanjang pekan lalu, Ringgit menguat hingga xx persen terhadap dolar AS sehingga membuat harga CPO menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya sehingga permintaan berkurang.

Namun demikian, harga CPO diperkirakan akan memanas pada pada bulan September hingga akhir tahun seiring dengan menguatnya permintaan seiring siklus tahunannya. Peningkatan permintaan ini bahkan sudah tercermin dari ekspor minyak kelapa sawit Malaysia yang diestimasikan meningkat sebesar 69,5 persen mom pada periode  1 hingga 10 September 2018 menurut data dari AmSpec Agri Malaysia. Selain itu, ekspor CPO Malaysia juga diperkirakan akan kembali menguat setelah  pajak ekspor CPO Malaysia yang diturunkan menjadi 0 persen pada bulan ini, turun dari 4,5 persen pada bulan Agustus 2018.

II. Pasar Keuangan Domestik

  • Pada penutupan pekan, IHSG tercatat menguat 1,36 persen secara mingguan ke level 5.931,28 di tengah posisi jual bersih investor non residen, imbal hasil SBN seri benchmark bergerak turun, kecuali untuk tenor 15 tahun, dengan posisi kepemilikan investor non residen yang mengalami penurunan mingguan baik dalam nominal maupun persentase kepemilikan, dan nilai tukar Rupiah menguat 0,09 persen ke level Rp14.807 per USD.

IHSG tercatat mengalami penguatan sebesar 1,36 persen secara mingguan ke level 5.931,28 dan diperdagangkan di kisaran 5.776,02 – 5.931,28 pekan lalu. Investor nonresiden mencatatkan jual bersih sebesar Rp747,71 miliar sepanjang pekan lalu dan tercatat jual bersih Rp53,80 triliun secara ytd. Nilai rata-rata transaksi perdagangan harian selama sepekan turun ke level Rp6,45 triliun dari pekan sebelumnya yang sebesar Rp7,16 triliun.

Dari pasar SBN, yield SUN seri benchmark bergerak turun dalam sepekan dengan penurunan antara 8 bps hingga 13 bps, kecuali tenor 15 tahun yang naik 3 bps. Berdasarkan data setelmen BI per 13 September 2018, kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp841,57 triliun, turun Rp14,22 triliun dibandingkan posisi akhir pekan sebelumnya yang sebesar Rp833,40 triliun atau turun Rp4,81 triliun dari posisi akhir pekan sebelumnya (07/09) yang sebesar Rp383,21. Secara persentase, kepemilikan non residen turun dari 36,95 persen terhadap total outstanding ke level 36,73 persen secara mingguan. Secara year to date, kepemilikan non residen turun Rp2,74 triliun (0,33 persen) sementara secara month to date, kepemilikan non residen tercatat turun sebesar Rp22,38 triliun atau 2,62 persen.

Nilai tukar Rupiah menguat sebesar 0,09 persen secara mingguan dan secara ytd mengalami depresiasi sebesar 9,13 persen, berada di level Rp14.807 per USD pada akhir perdagangan hari Jumat (14/09). Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif lebih rendah dibandingkan pekan sebelumnya, sebagaimana tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan yang bergerak dalam rentang Rp81 sampai Rp266 per USD, lebih rendah dibanding spread Rp245 sampai Rp342 per USD pada pekan sebelumnya. Pekan lalu, Rupiah diperdagangkan di kisaran 14.778 – 14.844 per USD.

III. Perekonomian Internasional

Dari kawasan AS, Inflasi AS bulan Agustus mencatatkan perlambatan seiring peningkatan harga BBM dan sewa rumah terkompensasi oleh penurunan harga biaya kesehatan dan pakaian jadi. Inflasi Agustus tercatat sebesar 2,7 persen yoy, melambat dari 2,9 persen yoy pada bulan sebelumnya.

Dari kawasan Eropa, Bank Sentral Eropa (ECB) pada hari Kamis (13/09) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga utama untuk kawasan Eropa tidak berubah. Suku bunga tetap di 0,00 persen, dengan suku bunga pinjaman dan suku bunga deposito sebesar 0,25 persen dan -0,40 persen masing-masing. Sejalan dengan hal tersebut, ECB terus berharap bahwa suku bunga akan tetap pada tingkat saat ini setidaknya hingga musim panas 2019. ECB menegaskan kembali bahwa pembelian aset bersih bulanan akan dipotong hingga 15 miliar euro (17,54 miliar dolar AS) dari Oktober hingga akhir Desember 2018 dan bahwa pembelian bersih akan berakhir.

Dari kawasan Asia Pasifik, Penjualan ritel Tiongkok tumbuh 9 persen secara yoy pada bulan Agustus 2018, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan Juli yang sebesar 8,8 persen berdasarkan data National Bureau of Statistics (NBS). Peningkatan ini didorong oleh masih kuatnya belanja konsumen secara daring dengan penjualan melonjak 28,2 persen menjadi 5,51 triliun yuan dari awal tahun.

IV. Perekonomian Domestik

Pertukaran data pajak otomatis atau Automatic Exchange of Information (AEoI) akan berlaku mulai akhir bulan September ini. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan mengatakan akan ada lima data penting yang nantinya akan dipertukarkan yaitu identitas pemilik rekening, nomor rekening, identitas lembaga keuangan, saldo rekening dan penghasilan yang diperoleh dari rekening (bunga). Pertukaran data ini juga diatur dalam Undang-Undang No. 9 tahun 2017 tentang pertukaran data nasabah.

Pemerintah akan menerapkan strategi front loading untuk penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) valuta asing. Dengan strategi menggelontorkan surat utang di awal tahun ini, kemungkinan, penerbitan SBN valas sudah dilakukan pada semester pertama 2019.  Menurut Direktur Strategi dan Portofolio Pembiayaan, DJPPR, pada tahun depan pemerintah masih akan fokus pada pembiayaan yang bersumber dari dalam negeri atau domestik. Porsi SBN valas, tak akan jauh berbeda seperti tahun ini, yaitu sekitar 20% dari total SBN. Apabila pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS masih berlanjut hingga tahun depan, pemerintah berencana mengutamakan SBN valas berdenominasi euro dan yen untuk memitigasi risiko pasar supaya lebih rendah. Dalam RAPBN 2019, defisit APBN diperkirakan di angka 1,84 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Porsi SBN neto dalam RAPBN 2019 ditargetkan sebesar Rp 386,2 triliun.

Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia mengindikasikan penjualan eceran tumbuh meningkat pada bulan Juli 2018. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) yang tercatat sebesar 2,9 persen yoy pada bulan tersebut, meningkat dibandingkan dengan 2,3 persen yoy pada bulan Juni 2018. Berdasarkan kelompok komoditas, meningkatnya penjualan eceran terutama didorong oleh kinerja penjualan kelompok komoditas Sandang dan kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor.

Tajuk Minggu Ini: Sentimen Nilai Tukar Emerging Market Mereda, USD Melemah Dengan Rilis Inflasi 3Q2018 Yang Di Bawah Ekspektasi Pasar

  • Dolar AS (USD) tercatat terdepresiasi terhadap berbagai mata uang utama dunia karena rilis IHK AS bulan Agustus 2018 terbukti lebih lemah dari yang diperkirakan pasar.
  • Bank Sentral Eropa tidak merubah pengaturan kebijakan pekan lalu.
  • Di akhir minggu lalu terpantau pemulihan berbagai mata uang negara berkembang yang dipimpin oleh lira Turki setelah bank sentral Turki mengumumkan kenaikan suku bunga
  • BI akan tetap menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah agar tidak semakin jauh dari nilai fundamentalnya.

Pada minggu yang berakhir di hari Jumat, 14 September 2018 Dolar AS (USD) tercatat terdepresiasi terhadap berbagai mata uang utama dunia karena rilis IHK AS bulan Agustus 2018 terbukti lebih lemah dari yang diperkirakan pasar - secara luas dilihat sebagai kekhawatiran bahwa pertumbuhan upah yang lebih kuat dalam laporan ketenagakerjaan bulan Agustus 2018 mungkin akan memicu lebih banyak tekanan inflasi.

IHK AS bulan Agustus 2018 menunjukkan tingkat inflasi tahunan mereda dari level tertinggi baru-baru ini dengan inflasi headline tahunan melambat menjadi 2,7% dari 2,9% di Juli tahun ini hingga dan inflasi inti tahunan (ex food and energy) kembali ke 2,2% dari semula 2,4%. Kenaikan tingkat tahunan ini selama paruh pertama tahun 2018 sebagian mencerminkan efek dasar sebagai penurunan tajam dalam harga layanan nirkabel pada awal 2017 yang keluar dari perhitungan tahunan, serta dampak dari penguatan harga minyak saat ini terhadap biaya energi (dengan energi harga naik 10,2% sepanjang tahun) dalam hal inflasi IHK headline. Ukuran inflasi yang disukai Fed adalah indikator Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) inti, yang secara bertahap naik dari posisi terendah selama tahun lalu naik 2% sepanjang tahun 2018 hingga Juli - mendekati target the Fed (PCE Agustus) yang akan dirilis pada 28 September 2018 mendatang.

Dalam IHK inti, harga barang-barang inti secara umum terus turun dalam beberapa tahun terakhir, sebaliknya inflasi jasa inti tahunan tetap mendekati 3% dan masih dekat dengan beberapa tingkat terkuat yang terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Di antara beberapa langkah-langkah inflasi alternatif yang dihasilkan oleh FBI regional, estimasi inflasi tahunan IHK tahunan Fed Fed sedikit mereda setelah mencapai 2,8% sepanjang tahun hingga Juli mencapai tertinggi sejak sepanjang tahun hingga Desember 2008.

Penjualan ritel AS tumbuh melemah pada bulan Agustus 2018 dari perkiraan pasar, khususnya, 'kelompok kontrol' penjualan ritel - penjualan tidak termasuk makanan, otomotif, gas dan bahan bangunan - yang merupakan input untuk menghitung konsumsi untuk PDB naik 0,1% dalam sebulan dibandingkan dengan ekspektasi pasar sebesar 0,4%, meskipun pertumbuhan pada bulan Juli direvisi naik menjadi 0,8% dari estimasi sebelumnya 0,5%. Ini cukup untuk melihat pertumbuhan tahunan tetap dekati rekor tertinggi baru-baru ini sebesar 5,2% ytd. Inflasi pengeluaran pribadi yang lebih luas juga naik 5,2% sepanjang tahun hingga Juli (hasil bulan Agustus akan dirilis pada 28 September).

Latar belakang dari beberapa perlambatan inflasi IHK AS pada bulan Agustus dari tertinggi baru-baru ini adalah ekspektasi konsumen untuk inflasi selama tahun depan yang sedikit turun menjadi 2,8% dari angka tertinggi baru-baru ini 3% yang terlihat pada bulan Agustus. Selain itu, ekspektasi untuk inflasi lima hingga 10 tahun ke depan turun menjadi 2,4% untuk kembali mendekati batas bawah kisaran jangka panjang yang relatif sempit. Berkenaan dengan tekanan inflasi AS, tercatat pelemahan pertumbuhan harga perdagangan luar negeri AS dari level tertinggi baru-baru ini.

Sementara itu, seperti yang telah diharapkan secara luas, Bank Sentral Eropa tidak merubah pengaturan kebijakan pekan lalu dan menegaskan rencana yang diumumkan sebelumnya untuk membagi dua pembelian aset bersih menjadi EUR15bn per bulan dari Oktober dan menghentikan pembelian di akhir tahun. Ini akan menandai tahap akhir dari ECB secara bertahap 'mengurangi' program pelonggaran kuantitatifnya. Pembelian aset diturunkan dari EUR60bn menjadi EUR30bn per bulan dari awal 2018 dengan panduan bahwa mereka akan berlanjut hingga setidaknya September - lancip seperti kedua setelah pengurangan dari EUR80bn menjadi EUR60bn per bulan pada bulan April tahun lalu. Sampai saat ini, ECB telah menghindari 'tantrum' pasar semacam itu terlihat ketika Fed AS mengisyaratkan penurunan program QE-nya pada pertengahan 2013. Draghi menegaskan kembali panduan sebelumnya bahwa tingkat kebijakan diperkirakan akan "tetap pada tingkat saat ini setidaknya melalui (Belahan Bumi Utara) musim panas 2019".

Juga telah banyak diperkirakan, Bank of England meninggalkan kebijakannya ditahan setelah memberikan kenaikan suku bunga 25 basis poin bulan lalu. Sedangkan kenaikan tingkat sebelumnya pada bulan November tahun lalu adalah untuk membalikkan penurunan suku bunga yang dilakukan pada bulan Agustus 2016 sebagai bagian dari paket langkah-langkah pelonggaran (termasuk memulai kembali pelonggaran kuantitatif) untuk mengelola risiko Brexit, kenaikan Agustus merupakan tingkat kebijakan tertinggi sejak Maret 2009 ketika BoE dan bank sentral lainnya melonggarkan suku bunga acuan secara signifikan selama GFC.

Di akhir minggu lalu terpantau pemulihan berbagai mata uang negara berkembang yang dipimpin oleh lira Turki setelah bank sentral Turki mengumumkan kenaikan suku bunga besar dalam pembangkangan nyata dari Presiden Turki. Sementara itu, seperti yang telah banyak diperkirakan, Bank Sentral Eropa mengonfirmasi rencana untuk semakin mengurangi pembelian aset bersihnya pada akhir bulan ini, sementara Bank of England meninggalkan kebijakannya ditahan. Pasar ekuitas global utama dicampur dengan S & P500 AS naik 0,5% tetapi Euro Stoxx 600 turun 0,1%.

Lira Turki jatuh di awal minggu lalu sebelum pengumuman kebijakan bank sentral Turki setelah Presiden Erdogan dilaporkan menyatakan bahwa "Turki harus memotong ini suku bunga tinggi ”. Beberapa kekhawatiran juga diciptakan oleh keputusan eksekutif bahwa kontrak antara entitas dalam harga Turki atau diindeks ke mata uang asing harus disajikan kembali dalam lira dalam 30 hari. Bank sentral Turkit akhirnya mengumumkan kenaikan enam dan seperempat persen poin dalam tingkat kebijakan utamanya, mengambilnya dari 17,75% hingga 24% - menuju ujung atas kisaran ekspektasi pasar.

Lira terapresiasi hampir 8% setelah pengumuman untuk mengurangi depresiasi sejak awal tahun menjadi hanya 38%. Langkah ini secara luas dilihat sebagai menunjukkan kemandirian bank sentral dan memperkuat kredibilitasnya setelah berjanji untuk "mengambil tindakan yang diperlukan untuk mendukung stabilitas harga ”menyusul berita pekan lalu bahwa inflasi tahunan Turki telah meningkat ke tertinggi 15 tahun 17,9% sepanjang tahun hingga Agustus.

Selain itu, seperti yang telah ditunjukkan oleh kelemahan yang sedang berlangsung di peso Argentina meskipun bank sentral telah menaikkan suku bunga menjadi 60%, prospek lira pada akhirnya akan bergantung pada perkembangan ekonomi dan kebijakan yang lebih luas. Memang, sementara sebagian besar mata uang pasar yang muncul mendapatkan kembali beberapa tanah. , Peso Argentina terus melemah semalam kembali ke rekor terendah yang terlihat akhir bulan lalu. Setelah penutupan perdagangan peso, rilis CPI Argentina Agustus pagi ini melihat inflasi tahunan meningkat menjadi 34,4% dari 31,2% sepanjang tahun hingga Juli 2018.

Kurs nilai tukar rupiah terhadap USD pada pentupan minggu lalu teracatat di level Rp 14.806,50 per USD atau menguat 0,22%* dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp 14.840,00 per USD dengan rentang transaksi di kisaran Rp 14.778 - 14.845 per USD. Secara mtd Rupiah melemah 0,52% dan secara ytd Rupiah melemah 9,13% dengan penutupan rata-rata harian di level Rp 13.999 per USD ytd. Berdasarkan kuotasi IBPA, yield_ SUN seri benchmark bergerak turun antara 13 sampai 23 bps dengan catatan tertinggi dari  FR0063 (5 th): dari 8,39 ke 8,20 (-19 bps) dan FR0075 (20 th): dari 9,08 ke 8,85 (-23 bps). Pasar uang JIBOR IDR di penutupan minggu lalu tercatat untuk overnight sebesar 5,47% (+3 bps) dan 1 minggu 6,14% (+3 bps), sementara lainnya tidak berubah.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan bahwa BI akan tetap menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah agar tidak semakin jauh dari nilai fundamentalnya. Di tengah risiko eksternal perang dagang AS – Tiongkok serta krisis Turki dan Argentina yang tampaknya belum berakhir, BI melihat bahwa dalam beberapa hari terakhir sudah ada inflow di beberapa instrumen keuangan seperti SBI dan SBN dan ini merupakan indikasi yang positif.

 

Terlepas dari fokus yang sedang berlangsung pada perkembangan berkaitan dengan ketegangan perdagangan, pasar akan melihat pengumuman kebijakan Bank of Japan pada Rabu sore dengan Jepang juga melihat rilis perdagangan luar negeri Agustus (Rabu) dan CPI (Jumat). Awal September pembacaan indikator aktivitas PMI untuk AS, Zona Euro dan Jepang pada hari Jumat akan memberikan wawasan tepat waktu ke perkembangan terakhir di negara maju utama.

>


Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Highlight  Minggu Ini

  • Wall Street ditutup menguat seiring meredanya sentimen perang dagang dan rilis data inflasi yang di bawah ekspektasi.
  • Indeks dolar AS berada pada level 94,93 pada akhir pekan (14/09) atau melemah sebesar 0,46 persen dalam sepekan.
  • IHSG menguat 1,36 persen secara mingguan ke level 5.931,28 di tengah posisi jual bersih investor non residen.
  • Imbal hasil SBN seri benchmark sebagian besar bergerak turun dengan posisi kepemilikan investor non residen mengalami penurunan.
  • Rupiah menguat 0,09 persen dalam sepekan ke level Rp14.807 per USD.
  • Sentimen Nilai Tukar Emerging Market Mereda, USD Melemah Dengan Rilis Inflasi 3Q2018 Yang Di Bawah Ekspektasi Pasar.

I. Pasar Global

Pasar Saham. Wall Street ditutup menguat dibanding penutupan pekan sebelumnya dengan indeks Dow Jones dan S&P 500 mencatatkan kenaikan masing – masing sebesar 0,92 dan 1,16 persen. Kenaikan kedua indeks tersebut mendekati level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Sentimen yang mempengaruhi pergerakan bursa saham Wall Street selama sepekan berasal dari meredanya tensi perang dagang AS – Tiongkok setelah pada tengah pekan lalu the Wall Street Journal mengabarkan bahwa Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, mengirimkan undangan kepada rekan-rekannya di Tiongkok untuk memperbaharui pembicaraan perdagangan. Pihak Tiongkok menyambut baik undangan tersebut dan menegaskan bahwa perang dagang tidak akan menguntungkan siapa pun. Dari rilis data ekonomi AS, inflasi AS untuk bulan Agustus tercatat naik 0,2 persen mom, di bawah konsensus sebesar 0,3 persen. Secara tahunan, inflasi AS pada bulan tersebut mencapai 2,7 persen, di bawah konsensus analis sebesar 2,8 persen. Sementara itu, indikator inflasi inti AS untuk bulan yang sama hanya naik 0,1 persen mom, lebih rendah dibanding konsensus analis dan juga inflasi inti bulan sebelumnya sebesar 0,2 persen mom. Tertahannya laju inflasi ini dinilai telah mengurangi tekanan the Fed untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya secara lebih agresif. Pada tahun ini, the Fed telah menaikkan suku bunga acuan dua kali dan diperkirakan akan akan menaikkan kembali pada pertemuan FOMC akhir September ini.

Dari kawasan Eropa, bursa saham utama di kawasan seperti FTSE 100 Inggris, DAX Jerman, dan CAC Prancis juga ditutup menguat secara mingguan. Selain sentimen meredanya perang dagang, pergerakan bursa saham Eropa juga dipengaruhi oleh hasil pertemuan bank sentral di Kawasan. Pada hari Kamis (13/09) Bank Sentral Inggris (BoE) memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya pada level 0,75 persen. Hal ini sesuai dengan perkiraan para analis. Di tempat lain, Bank Sentral Eropa (ECB) menahan suku bunga acuannya pada level 0 persen. Presiden ECB, Mario Draghi, masih optimis dengan kinerja perekonomian Eropa ke depan. Sebelumnya, Bank Sentral Turki menaikkan suku bunga acuannya ke level 24 persen, naik 625 bps dari level sebelumnya pada 17,75 persen. Menyusul keputusan ini, Lira Turki terapresiasi secara signifikan terhadap dolar AS. Investor di Kawasan Eropa juga terus mencermati perkembangan lanjutan pembicaraan terkait Brexit. Dari rilis data ekonomi, sejumlah indikator ekonomi di Kawasan seperti indeks rata – rata pendapatan + bonus di UK untuk bulan Juli dan indeks German ZEW Economic Sentiment untuk bulan September menunjukkan pertumbuhan positif melebihi ekspektasi para analis.

Dari kawasan Asia, sebagian besar indeks di kawasan juga ditutup menguat secara mingguan dengan Indeks Nikkei Jepang dan SET Thailand mencatatkan kenaikan mingguan paling tinggi di kawasan masing – masing sebesar 3,56 dan 1,94 persen. Dari rilis data ekonomi di Kawasan Asia, PDB Jepang Q2 2018 sesuai dengan ekspektasi tumbuh sebesar 0,7 persen qoq. Di tempat lain, produksi industri Tiongkok untuk bulan Agustus tumbuh sebesar 6,1 persen yoy, lebih tinggi dari ekspektasi sebesar 6,0 persen yoy dan juga dari bulan sebelumnya yang juga sebesar 6,0 persen yoy.

Pasar Uang.  Indeks dolar AS berada pada level 94,93 pada akhir pekan (14/09) atau melemah sebesar 0,46 persen dalam sepekan terhadap enam mata uang utama dunia dari posisi 95,37 pada penutupan akhir pekan sebelumnya (07/09). Hingga pertengahan pekan lalu indeks dollar AS terus bergerak menjauhi level 95,00 seiring dengan dengan tekanan yang berasal dari data inflasi AS yang dibawah ekspektasi pasar meskipun tetap di kisaran target the Fed. Inflasi AS untuk bulan Agustus dilaporkan mencapai 0,2 persen mom, dibawah konsensus analis yang memperkirakan kenaikan 0,3 persen. Secara tahunan, inflasi AS pada bulan Agustus mencapai 2,7 persen, namun dibawah konsensus analis sebesar 2,8 persen. Di sisi lain, indikator core CPI AS untuk bulan Agustus hanya naik 0,1 persen mom, lebih rendah dibandingkan konsensus analis dan juga core CPI bulan Juli yang naik 0,2 persen mom. Selain itu, indeks dollar AS mendapat tekanan lebih lanjut dari data retail sales yang sedikit mengecewakan. Retail sales di AS pada bulan Agustus hanya naik 0,1 persen, jauh lebih rendah dibanding bulan Juli yang tumbuh 0,7 persen mom maaupun perkiraan analis untuk kenaikan 0,4 persen. Jelang akhir pekan, dolar AS bergerak menguat meskipun tidak mampu mencapai level 95,00 setelah Bank of England (BOE) dan European Central Bank (ECB) tingkat suku bunga acuannya, sehingga dollar AS bergerak menguat terhadap Poundsterling maupun Euro.

Pasar Obligasi. Yield treasury AS tenor 10 tahun bergerak naik sekitar 6 bps dari pekan lalu setelah ditutup pada level 3,00 pada akhir pekan (14/09). Dengan demikian, yield treasury AS tenor 10 tahun tersebut kembali menyentuh level psikologis 3 persen setelah terakhir pada 2 Agustus lalu. Sepanjang tahun ini, yield treasury AS tenor 10 tahun tercatat beberapa kali mencapai level diaats 3 persen antara lain padi bulan April, Mei (mencapai 3,13 persen), Juni dan Agustus meskipun tidak bertahan dalam waktu lama. Meskipun terdapat tekanan dari data inflasi dan penjualan eceran yang di bawah perkiraan sebagaian besar analis, yield US treasury melonjak setelah data penjualan eceran untuk bulan Juli dikoreksi dari tumbuh 0,5 persen menjadi 0,7 persen mom sehingga pertumbuhan ekonomi AS untuk kuartal III diperkirakan akan berada di sekitar 4 persen mengingat consumer spending mempunyai porsi sekitar 67 persen dari keseluruhan output perekonomian AS. Kenaikan yield US treasury juga dipengaruhi oleh sinyal-sinyal yang diberikan oleh Presiden ECB Mario Draghi bahwa ECB akan segera mengakhiri program pembelian obligasi.

Pasar Komoditas. Harga komoditas minyak mentah berbalik menguat pekan lalu setelah sempat mengalami pelemahan pada pekan sebelumnya. Harga minyak Brent kontrak berjangka patokan global menguat 1,64 persen sepanjang pekan lalu dan ditutup di level US$78,09 per barel. Dinamikan pergerakan harga minyak dunia pekan lalu diwarnai dengan penguatan tajam hingga pertengahan pekan sehingga sempat ditutup pada US$79,74 pada hari Rabu (12/09) yang merupakan level tertinggi pekan lalu dan selanjutnya berbalik sedikit melemah jelang akhir pekan. Secara umum, perdagangan minyak dunia masih dibayangi sentimen kekhawatiran penurunan output dan ekspor minyak Iran seiring akan diberlakukannya sanksi AS terhadap Iran pada bulan November mendatang. Sinyal-sinyak bahwa ekspor Iran akan menurun terlihat dari ekspor minyaknya yang berada di bawah 2,1 juta barel per hari pada bulan Agustus atau level terendah sejak Maret 2016 setelah negara-negara Asia yang merupakan importer minyak Iran mengambil lebih sedikit kargo meskipun sanksi minyak AS terhadap Iran belum berlaku efektif.

Selain itu, memanasnya harga minyak pekan lalu juga didorong oleh penurunan stok minyak AS yang jauh dari perkiraan. Berdasarkan data Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA), persediaan minyak mentah AS merosot 5,3 juta barel pada pekan sebelumnya, jauh dibawah perkriaan analis yang memperkirakan penurunan hanya akan sebesar 805 ribu barel. Selain itu, belum bertambahnya aktivitas pengeboran AS untuk produksi baru yang belum bertambah juga memberikan tenaga untuk harga minyak. Perusahaan energi AS dilaporkan justru mengurangi dua rig minyak pada pekan sebelumnya sehingga jumlah total rig yang aktif berproduksi menjadi 860. Jumlah rig minyak AS mengalami stagnasi sejak Mei tahun ini, setelah mengalami pemulihan sejak tahun 2016, yang mengikuti kemerosotan tajam tahun sebelumnya di tengah jatuhnya harga minyak mentah secara global. Untuk pekan yang berakhir pada Minggu (09/09). produksi minyak AS dilaporkan turun 100 ribu barel per hari ke level 10,9 juta barel per hari seiring gangguan yang dihadapi industri terhadap kapasitas jaringan pipa.

Jelang akhir pekan, harga minyak mentah terpantau sedikit melemah meskipun masih di atas level penutupan pekan sebelumnya. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran perang dagang akan kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump menulis di akun twitter-nya bahwa AS tidak berada dalam tekanan untuk membuat kesepakatan perdagangan dengan Tiongkok. Meskipun pemerintah AS telah mengundang pejabat Tiongkok untuk perundingan perdagangan lanjutan, di sisi lain AS juga siap memberlakukan kenaikan tarif untuk barang Tiongkok senilai US$200 miliar setelah berakhirnya sesi public hearing. Organisasi Negara Pengekspor Minyak Mentah Dunia (OPEC) juga memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak pada 2019 dalam laporan bulannya. OPEC menyatakan bahwa meningkatnya tantangan di beberapa negara berkembang seiring dengan perubahan kebijakan moneter AS dan perang dagang yang semakin meluas dapat berimbas negatif pada pertumbuhan ekonomi global. OPEC memperkirakan permintaan minyak akan tumbuh sebesar 1,41 juta barel per hari pada 2019, turun sekitar 20 ribu barel per hari dari proyeksi yang dipublikasikan sebelumnya.

Dari komoditas batubara, berbalik menguat sepanjang pekan lalu setelah sempat melemah pada pekan sebelumnya. Harga batubara ICE Newcastle kontrak acuan tercatat naik sebesar 0,74 persen ke level US$115,40 per metriks ton. Data realisasi impor Tiongkok pada bulan Agustus menjadi motor utama pergerakan harga batubara. Dari data yang dikutip oleh Bloomberg, impor batubara Tiongkok pada bulan Agustus tercatat turun 1,1 persen secara bulanan ke level 925.161 metriks ton, namun capaian tersebut masih mendekati rekor tertinggi sejak Januari 2014, yakni sebesar 935.806 metriks ton yang dicapai pada bulan Juli 2018. Perkembangan ini mengindikasikan bahwa permintaan batubara Tiongkok tetap tinggi meskipun puncak musim panas telah terlewati. Kuatnya permintaan Tiongkok didukung oleh inspeksi lingkungan yang dilakukan pemerintah Tiongkok terhadap sejumlah sentra produksi batubara sehingga produksi batubara domestik menjadi terbatas sehingga impor naik untuk memenuhi tingkat konsumsi yang stabil.

Selain faktor konsumsi Tiongkok, penguatan harga batubara juga terbantu oleh ekspektasi yang terbentuk di kalangan pelaku pasar bahwa perundingan lebih lanjut antara AS dan Tiongkok akan dapat membatalkan rencana AS untuk mengenakan tariff terhadap produk Tiongkok senilai US$200 ribu. Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin diberitakan oleh Wall Street Journal telah mengirim undangan kepada sejumlah pejabat di Tiongkok, termasuk Perdana Menteri Liu He, untuk berbicara soal isu-isu perdagangan. Sumber di lingkaran Gedung Putih mengungkapkan bahwa waktu dan tempat pertemuan belum jelas namun kemungkinan terjadi dalam waktu yang tidak terlalu lama. Apabila pengenaan tarif terhadap produk Tiongkok dibatalkan, pelaku pasar melihat kemungkinan bahwa permintaan batubara Tiongkok sebagai importir terbesar di dunia akan tetap kuat.

Dari komoditas CPO, setelah dua pekan berturut-turut menguat, harga CPO terpantau melemah tipis pekan lalu.  Harga CPO di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun tipis sebesar 0,32 persen secara mingguan ke level 2.206 Ringgit/metriks ton dan secara ytd harga CPO melemah sekitar 9,74 persen. Faktor utama yang mempengaruhi melemahnya harga CPO berasal dari kenaikan stok namun penurunan ekspor CPO yang dialami oleh Malaysia. Stok minyak sawit Malaysia pada akhir Agustus sebagaimana dilaporkan oleh Malaysian Palm Oil Board (MPOB) meningkat 12,4 persen ke level 2,49 juta ton yang merupakan level tertinggi dalam enam bulan terakhir, sekaligus melampai konsensus analis yang dihimpun Reuters yang memperkirakan kenaikan 9 persen mom ke level 2,41 juta ton. Di sisi lain, MPOB melaporkan ekspor minyak kelapa sawit Malaysia pada bulan Agustus justru turun 8,11 persen mom ke level 1,1 juta ton. Penurunan ekspor Malaysia ini berbanding terbalik dengan ekspektasi pasar yang memproyeksikan kenaikan ekspor pada bulan Agustus sebesar 2,3 persen mom atau 1,23 juta ton. Produksi CPO Malaysia pada bulan Agustus tumbuh 7,9 persen ke level 1,62 juta ton atau yang tertinggi di tahun 2018, naming masih lebih rendah dari perkiraan analis yang memperkirakan pertumbuhan produksi sebesar 9,9 persen mom  di level 1,65 juta ton. Tekanan terhadap harga CPO juga berasal dari penguatan nilai Ringgit Malaysia. Sepanjang pekan lalu, Ringgit menguat hingga xx persen terhadap dolar AS sehingga membuat harga CPO menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya sehingga permintaan berkurang.

Namun demikian, harga CPO diperkirakan akan memanas pada pada bulan September hingga akhir tahun seiring dengan menguatnya permintaan seiring siklus tahunannya. Peningkatan permintaan ini bahkan sudah tercermin dari ekspor minyak kelapa sawit Malaysia yang diestimasikan meningkat sebesar 69,5 persen mom pada periode  1 hingga 10 September 2018 menurut data dari AmSpec Agri Malaysia. Selain itu, ekspor CPO Malaysia juga diperkirakan akan kembali menguat setelah  pajak ekspor CPO Malaysia yang diturunkan menjadi 0 persen pada bulan ini, turun dari 4,5 persen pada bulan Agustus 2018.

II. Pasar Keuangan Domestik

  • Pada penutupan pekan, IHSG tercatat menguat 1,36 persen secara mingguan ke level 5.931,28 di tengah posisi jual bersih investor non residen, imbal hasil SBN seri benchmark bergerak turun, kecuali untuk tenor 15 tahun, dengan posisi kepemilikan investor non residen yang mengalami penurunan mingguan baik dalam nominal maupun persentase kepemilikan, dan nilai tukar Rupiah menguat 0,09 persen ke level Rp14.807 per USD.

IHSG tercatat mengalami penguatan sebesar 1,36 persen secara mingguan ke level 5.931,28 dan diperdagangkan di kisaran 5.776,02 – 5.931,28 pekan lalu. Investor nonresiden mencatatkan jual bersih sebesar Rp747,71 miliar sepanjang pekan lalu dan tercatat jual bersih Rp53,80 triliun secara ytd. Nilai rata-rata transaksi perdagangan harian selama sepekan turun ke level Rp6,45 triliun dari pekan sebelumnya yang sebesar Rp7,16 triliun.

Dari pasar SBN, yield SUN seri benchmark bergerak turun dalam sepekan dengan penurunan antara 8 bps hingga 13 bps, kecuali tenor 15 tahun yang naik 3 bps. Berdasarkan data setelmen BI per 13 September 2018, kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp841,57 triliun, turun Rp14,22 triliun dibandingkan posisi akhir pekan sebelumnya yang sebesar Rp833,40 triliun atau turun Rp4,81 triliun dari posisi akhir pekan sebelumnya (07/09) yang sebesar Rp383,21. Secara persentase, kepemilikan non residen turun dari 36,95 persen terhadap total outstanding ke level 36,73 persen secara mingguan. Secara year to date, kepemilikan non residen turun Rp2,74 triliun (0,33 persen) sementara secara month to date, kepemilikan non residen tercatat turun sebesar Rp22,38 triliun atau 2,62 persen.

Nilai tukar Rupiah menguat sebesar 0,09 persen secara mingguan dan secara ytd mengalami depresiasi sebesar 9,13 persen, berada di level Rp14.807 per USD pada akhir perdagangan hari Jumat (14/09). Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif lebih rendah dibandingkan pekan sebelumnya, sebagaimana tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan yang bergerak dalam rentang Rp81 sampai Rp266 per USD, lebih rendah dibanding spread Rp245 sampai Rp342 per USD pada pekan sebelumnya. Pekan lalu, Rupiah diperdagangkan di kisaran 14.778 – 14.844 per USD.

III. Perekonomian Internasional

Dari kawasan AS, Inflasi AS bulan Agustus mencatatkan perlambatan seiring peningkatan harga BBM dan sewa rumah terkompensasi oleh penurunan harga biaya kesehatan dan pakaian jadi. Inflasi Agustus tercatat sebesar 2,7 persen yoy, melambat dari 2,9 persen yoy pada bulan sebelumnya.

Dari kawasan Eropa, Bank Sentral Eropa (ECB) pada hari Kamis (13/09) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga utama untuk kawasan Eropa tidak berubah. Suku bunga tetap di 0,00 persen, dengan suku bunga pinjaman dan suku bunga deposito sebesar 0,25 persen dan -0,40 persen masing-masing. Sejalan dengan hal tersebut, ECB terus berharap bahwa suku bunga akan tetap pada tingkat saat ini setidaknya hingga musim panas 2019. ECB menegaskan kembali bahwa pembelian aset bersih bulanan akan dipotong hingga 15 miliar euro (17,54 miliar dolar AS) dari Oktober hingga akhir Desember 2018 dan bahwa pembelian bersih akan berakhir.

Dari kawasan Asia Pasifik, Penjualan ritel Tiongkok tumbuh 9 persen secara yoy pada bulan Agustus 2018, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan Juli yang sebesar 8,8 persen berdasarkan data National Bureau of Statistics (NBS). Peningkatan ini didorong oleh masih kuatnya belanja konsumen secara daring dengan penjualan melonjak 28,2 persen menjadi 5,51 triliun yuan dari awal tahun.

IV. Perekonomian Domestik

Pertukaran data pajak otomatis atau Automatic Exchange of Information (AEoI) akan berlaku mulai akhir bulan September ini. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan mengatakan akan ada lima data penting yang nantinya akan dipertukarkan yaitu identitas pemilik rekening, nomor rekening, identitas lembaga keuangan, saldo rekening dan penghasilan yang diperoleh dari rekening (bunga). Pertukaran data ini juga diatur dalam Undang-Undang No. 9 tahun 2017 tentang pertukaran data nasabah.

Pemerintah akan menerapkan strategi front loading untuk penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) valuta asing. Dengan strategi menggelontorkan surat utang di awal tahun ini, kemungkinan, penerbitan SBN valas sudah dilakukan pada semester pertama 2019.  Menurut Direktur Strategi dan Portofolio Pembiayaan, DJPPR, pada tahun depan pemerintah masih akan fokus pada pembiayaan yang bersumber dari dalam negeri atau domestik. Porsi SBN valas, tak akan jauh berbeda seperti tahun ini, yaitu sekitar 20% dari total SBN. Apabila pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS masih berlanjut hingga tahun depan, pemerintah berencana mengutamakan SBN valas berdenominasi euro dan yen untuk memitigasi risiko pasar supaya lebih rendah. Dalam RAPBN 2019, defisit APBN diperkirakan di angka 1,84 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Porsi SBN neto dalam RAPBN 2019 ditargetkan sebesar Rp 386,2 triliun.

Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia mengindikasikan penjualan eceran tumbuh meningkat pada bulan Juli 2018. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) yang tercatat sebesar 2,9 persen yoy pada bulan tersebut, meningkat dibandingkan dengan 2,3 persen yoy pada bulan Juni 2018. Berdasarkan kelompok komoditas, meningkatnya penjualan eceran terutama didorong oleh kinerja penjualan kelompok komoditas Sandang dan kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor.

Tajuk Minggu Ini: Sentimen Nilai Tukar Emerging Market Mereda, USD Melemah Dengan Rilis Inflasi 3Q2018 Yang Di Bawah Ekspektasi Pasar

  • Dolar AS (USD) tercatat terdepresiasi terhadap berbagai mata uang utama dunia karena rilis IHK AS bulan Agustus 2018 terbukti lebih lemah dari yang diperkirakan pasar.
  • Bank Sentral Eropa tidak merubah pengaturan kebijakan pekan lalu.
  • Di akhir minggu lalu terpantau pemulihan berbagai mata uang negara berkembang yang dipimpin oleh lira Turki setelah bank sentral Turki mengumumkan kenaikan suku bunga
  • BI akan tetap menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah agar tidak semakin jauh dari nilai fundamentalnya.

Pada minggu yang berakhir di hari Jumat, 14 September 2018 Dolar AS (USD) tercatat terdepresiasi terhadap berbagai mata uang utama dunia karena rilis IHK AS bulan Agustus 2018 terbukti lebih lemah dari yang diperkirakan pasar - secara luas dilihat sebagai kekhawatiran bahwa pertumbuhan upah yang lebih kuat dalam laporan ketenagakerjaan bulan Agustus 2018 mungkin akan memicu lebih banyak tekanan inflasi.

IHK AS bulan Agustus 2018 menunjukkan tingkat inflasi tahunan mereda dari level tertinggi baru-baru ini dengan inflasi headline tahunan melambat menjadi 2,7% dari 2,9% di Juli tahun ini hingga dan inflasi inti tahunan (ex food and energy) kembali ke 2,2% dari semula 2,4%. Kenaikan tingkat tahunan ini selama paruh pertama tahun 2018 sebagian mencerminkan efek dasar sebagai penurunan tajam dalam harga layanan nirkabel pada awal 2017 yang keluar dari perhitungan tahunan, serta dampak dari penguatan harga minyak saat ini terhadap biaya energi (dengan energi harga naik 10,2% sepanjang tahun) dalam hal inflasi IHK headline. Ukuran inflasi yang disukai Fed adalah indikator Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) inti, yang secara bertahap naik dari posisi terendah selama tahun lalu naik 2% sepanjang tahun 2018 hingga Juli - mendekati target the Fed (PCE Agustus) yang akan dirilis pada 28 September 2018 mendatang.

Dalam IHK inti, harga barang-barang inti secara umum terus turun dalam beberapa tahun terakhir, sebaliknya inflasi jasa inti tahunan tetap mendekati 3% dan masih dekat dengan beberapa tingkat terkuat yang terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Di antara beberapa langkah-langkah inflasi alternatif yang dihasilkan oleh FBI regional, estimasi inflasi tahunan IHK tahunan Fed Fed sedikit mereda setelah mencapai 2,8% sepanjang tahun hingga Juli mencapai tertinggi sejak sepanjang tahun hingga Desember 2008.

Penjualan ritel AS tumbuh melemah pada bulan Agustus 2018 dari perkiraan pasar, khususnya, 'kelompok kontrol' penjualan ritel - penjualan tidak termasuk makanan, otomotif, gas dan bahan bangunan - yang merupakan input untuk menghitung konsumsi untuk PDB naik 0,1% dalam sebulan dibandingkan dengan ekspektasi pasar sebesar 0,4%, meskipun pertumbuhan pada bulan Juli direvisi naik menjadi 0,8% dari estimasi sebelumnya 0,5%. Ini cukup untuk melihat pertumbuhan tahunan tetap dekati rekor tertinggi baru-baru ini sebesar 5,2% ytd. Inflasi pengeluaran pribadi yang lebih luas juga naik 5,2% sepanjang tahun hingga Juli (hasil bulan Agustus akan dirilis pada 28 September).

Latar belakang dari beberapa perlambatan inflasi IHK AS pada bulan Agustus dari tertinggi baru-baru ini adalah ekspektasi konsumen untuk inflasi selama tahun depan yang sedikit turun menjadi 2,8% dari angka tertinggi baru-baru ini 3% yang terlihat pada bulan Agustus. Selain itu, ekspektasi untuk inflasi lima hingga 10 tahun ke depan turun menjadi 2,4% untuk kembali mendekati batas bawah kisaran jangka panjang yang relatif sempit. Berkenaan dengan tekanan inflasi AS, tercatat pelemahan pertumbuhan harga perdagangan luar negeri AS dari level tertinggi baru-baru ini.

Sementara itu, seperti yang telah diharapkan secara luas, Bank Sentral Eropa tidak merubah pengaturan kebijakan pekan lalu dan menegaskan rencana yang diumumkan sebelumnya untuk membagi dua pembelian aset bersih menjadi EUR15bn per bulan dari Oktober dan menghentikan pembelian di akhir tahun. Ini akan menandai tahap akhir dari ECB secara bertahap 'mengurangi' program pelonggaran kuantitatifnya. Pembelian aset diturunkan dari EUR60bn menjadi EUR30bn per bulan dari awal 2018 dengan panduan bahwa mereka akan berlanjut hingga setidaknya September - lancip seperti kedua setelah pengurangan dari EUR80bn menjadi EUR60bn per bulan pada bulan April tahun lalu. Sampai saat ini, ECB telah menghindari 'tantrum' pasar semacam itu terlihat ketika Fed AS mengisyaratkan penurunan program QE-nya pada pertengahan 2013. Draghi menegaskan kembali panduan sebelumnya bahwa tingkat kebijakan diperkirakan akan "tetap pada tingkat saat ini setidaknya melalui (Belahan Bumi Utara) musim panas 2019".

Juga telah banyak diperkirakan, Bank of England meninggalkan kebijakannya ditahan setelah memberikan kenaikan suku bunga 25 basis poin bulan lalu. Sedangkan kenaikan tingkat sebelumnya pada bulan November tahun lalu adalah untuk membalikkan penurunan suku bunga yang dilakukan pada bulan Agustus 2016 sebagai bagian dari paket langkah-langkah pelonggaran (termasuk memulai kembali pelonggaran kuantitatif) untuk mengelola risiko Brexit, kenaikan Agustus merupakan tingkat kebijakan tertinggi sejak Maret 2009 ketika BoE dan bank sentral lainnya melonggarkan suku bunga acuan secara signifikan selama GFC.

Di akhir minggu lalu terpantau pemulihan berbagai mata uang negara berkembang yang dipimpin oleh lira Turki setelah bank sentral Turki mengumumkan kenaikan suku bunga besar dalam pembangkangan nyata dari Presiden Turki. Sementara itu, seperti yang telah banyak diperkirakan, Bank Sentral Eropa mengonfirmasi rencana untuk semakin mengurangi pembelian aset bersihnya pada akhir bulan ini, sementara Bank of England meninggalkan kebijakannya ditahan. Pasar ekuitas global utama dicampur dengan S & P500 AS naik 0,5% tetapi Euro Stoxx 600 turun 0,1%.

Lira Turki jatuh di awal minggu lalu sebelum pengumuman kebijakan bank sentral Turki setelah Presiden Erdogan dilaporkan menyatakan bahwa "Turki harus memotong ini suku bunga tinggi ”. Beberapa kekhawatiran juga diciptakan oleh keputusan eksekutif bahwa kontrak antara entitas dalam harga Turki atau diindeks ke mata uang asing harus disajikan kembali dalam lira dalam 30 hari. Bank sentral Turkit akhirnya mengumumkan kenaikan enam dan seperempat persen poin dalam tingkat kebijakan utamanya, mengambilnya dari 17,75% hingga 24% - menuju ujung atas kisaran ekspektasi pasar.

Lira terapresiasi hampir 8% setelah pengumuman untuk mengurangi depresiasi sejak awal tahun menjadi hanya 38%. Langkah ini secara luas dilihat sebagai menunjukkan kemandirian bank sentral dan memperkuat kredibilitasnya setelah berjanji untuk "mengambil tindakan yang diperlukan untuk mendukung stabilitas harga ”menyusul berita pekan lalu bahwa inflasi tahunan Turki telah meningkat ke tertinggi 15 tahun 17,9% sepanjang tahun hingga Agustus.

Selain itu, seperti yang telah ditunjukkan oleh kelemahan yang sedang berlangsung di peso Argentina meskipun bank sentral telah menaikkan suku bunga menjadi 60%, prospek lira pada akhirnya akan bergantung pada perkembangan ekonomi dan kebijakan yang lebih luas. Memang, sementara sebagian besar mata uang pasar yang muncul mendapatkan kembali beberapa tanah. , Peso Argentina terus melemah semalam kembali ke rekor terendah yang terlihat akhir bulan lalu. Setelah penutupan perdagangan peso, rilis CPI Argentina Agustus pagi ini melihat inflasi tahunan meningkat menjadi 34,4% dari 31,2% sepanjang tahun hingga Juli 2018.

Kurs nilai tukar rupiah terhadap USD pada pentupan minggu lalu teracatat di level Rp 14.806,50 per USD atau menguat 0,22%* dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp 14.840,00 per USD dengan rentang transaksi di kisaran Rp 14.778 - 14.845 per USD. Secara mtd Rupiah melemah 0,52% dan secara ytd Rupiah melemah 9,13% dengan penutupan rata-rata harian di level Rp 13.999 per USD ytd. Berdasarkan kuotasi IBPA, yield_ SUN seri benchmark bergerak turun antara 13 sampai 23 bps dengan catatan tertinggi dari  FR0063 (5 th): dari 8,39 ke 8,20 (-19 bps) dan FR0075 (20 th): dari 9,08 ke 8,85 (-23 bps). Pasar uang JIBOR IDR di penutupan minggu lalu tercatat untuk overnight sebesar 5,47% (+3 bps) dan 1 minggu 6,14% (+3 bps), sementara lainnya tidak berubah.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan bahwa BI akan tetap menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah agar tidak semakin jauh dari nilai fundamentalnya. Di tengah risiko eksternal perang dagang AS – Tiongkok serta krisis Turki dan Argentina yang tampaknya belum berakhir, BI melihat bahwa dalam beberapa hari terakhir sudah ada inflow di beberapa instrumen keuangan seperti SBI dan SBN dan ini merupakan indikasi yang positif.

 

Terlepas dari fokus yang sedang berlangsung pada perkembangan berkaitan dengan ketegangan perdagangan, pasar akan melihat pengumuman kebijakan Bank of Japan pada Rabu sore dengan Jepang juga melihat rilis perdagangan luar negeri Agustus (Rabu) dan CPI (Jumat). Awal September pembacaan indikator aktivitas PMI untuk AS, Zona Euro dan Jepang pada hari Jumat akan memberikan wawasan tepat waktu ke perkembangan terakhir di negara maju utama.

>

Download Publication
Data Source: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Briefing Notes Update

Alternative text - include a link to the PDF!


ESELON I KEMENTERIAN KEUANGAN


KONTAK: Jl. Dr. Wahidin No. 1 Gd. R. M. Notohamiprodjo, Jakarta Pusat 10710
email: ikp@fiskal.depkeu.go.id

  Kurs Pajak : KMK Nomor 39/KM.10/2018,   USD : 14,856.00    AUD : 10,657.85    GBP : 19,469.42    SGD : 10,825.63    JPY : 13,288.31    EUR : 17,323.94    CNY : 2,165.30