Daily Update : 20-08-2018 | Download File :

BERITA GLOBAL

  • Bursa saham AS ditutup menguat pada perdagangan Jumat (16/08)seiring dengan optimisme pelaku pasar mengenai pembicaraan AS dan Tiongkok yang akan dilaksanakan minggu ini. Menurut pernyataan Kementerian Perdagangan Tiongkok, delegasi mereka yang dipimpin oleh Wakil Menteri Perdagangan Wang Shouwen akan bertemu dengan perwakilan AS di Washington pada 21 dan 22 Agustus 2018. Indeks Dow Jones ditutup menguat 0,43 persen ke level 25.669,32 dan indeks S&P 500 menguat 0,33 persen ke level 2.850,13. (Bisnis Indonesia)
  • Penjualan ritel Inggris untuk bulan Juli tercatat sebesar 0,7 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang berkontraksi sebesar 0,5 persen. peningkatan penjualan ini didorong oleh pelaksanaan World Cup serta pengaruh musim panas yang membuat konsumsi makanan dan minuman meningkat. (The Guardian)
  • Inflasi Eropa untuk bulan Juli tercatat sebesar -0,3 persen atau lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,1 persen. Secara tahunan inflasi kawasan tersebut tercatat sebesar 2,1 persen atau sama dengan bulan sebelumnya. Kenaikan inflasi ini dipengaruhi oleh kenaikan harga energi, jasa dan bahan makanan. Estonia, Latvia dan Belgia menjadi negara di kawasan Eropa yang menyumbang inflasi terbesar. (Market Insider)
  • Harga minyak dunia melemah sepanjang pekan lalu, dipicu oleh kekhawatiran terhadap kelebihan pasokan di pasar AS, sengketa dagang dan perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Harga minyak mentah berjangka Brent menurun 1,4 persen secara mingguan menjadi US$ 71,83 per barel dam harga minyak mentah AS berjangka West Texas Intermediate (WTI) juga menurun sebesar 2,6 persen menjadi USD65,91 per barel. (CNN Indonesia)
  • Standard & Poor's (S&P) memutuskan untuk memangkas peringkat utang Turki menjadi 'junk' atau sampah akibat gejolak mata uang dan ekonomi yang melanda negara tersebut. Selain itu, pemangkasan peringkat utang juga dilakukan dengan memperkirakan gejolak mata uang Turki masih berlangsung hingga tahun depan. S&P memperkirakan bahwa dalam beberapa waktu ke depan, ekonomi Turki masih akan mendapat tekanan nilai tukar dan inflasi. (CNN)

BERITA DOMESTIK

  • Pemerintah berkomitmen terus mendorong usaha rakyat melalui pemberian subsidi Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan dana bergulir bagi usaha mikro. Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2019, Pemerintah menargetkan subsidi KUR sebesar Rp12,2 triliun dan dana bergulir bagi usaha mikro senilai Rp3 triliun. Hingga Q2-2018, pemerintah telah menurunkan pajak final UMKM menjadi 0,5 persen dari sebelumnya 1 persen. Selain itu, pemerintah juga telah menyalurkan KUR sebesar Rp299,9 triliun, dengan nilai realisasi subsidi bunga mencapai Rp32,1 triliun kepada 12,3 juta pelaku UMKM sejak 2015 hingga pertengahan tahun ini. (Bisnis Indonesia)
  • Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyelesaikan pembangunan tahap I tujuh Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di Entikong, Kalimantan Barat. Saat ini, pembangunan tahap kedua dilakukan yaitu berupa pengembangan Zona Sub Inti dan Pendukung Pos Lintas Batas Negara (PLBN) disertai pembangunan jalan paralel perbatasan, jalan akses menuju pos lintas batas, dan pengembangan infrastruktur permukiman di kawasan perbatasan, seperti pembangunan jalan lingkungan, drainase, pengelolaan sampah, dan air minum. (CNN Indonesia)

Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Weekly Update : 06-08-2018 s.d 12-08-2018 | Download File :

Highlight  Minggu Ini

  • Wall Street ditutup melemah dipengaruhi oleh aksi saling balas tarif bea masuk AS – Tiongkok dan krisis Turki.
  • Indeks dolar AS berada pada level 96,36 pada akhir pekan (10/08) atau menguat sebesar 1,26 persen dalam sepekan.
  • IHSG tercatat mengalami penguatan 1,16 persen secara mingguan ke level 6.077,17 di tengah posisi jual bersih investor non residen.
  • Rupiah menguat sebesar sebesar 0,14 persen secara mingguan.
  • Menyusul krisis Turki, rambatan sentimen pasar atas Turki ke EM, termasuk Indonesia di tengarai lebih dimungkinkan dari transmisi (1) neraca transasksi berjalan dan (2) likuiditas valas.

I. Pasar Global

Pasar Saham. Wall Street ditutup melemah dibanding penutupan pekan sebelumnya dengan indeks Dow Jones dan S&P 500 mencatatkan penurunan masing – masing sebesar 0,59 dan 0,25 persen. Sentimen yang mempengaruhi pergerakan bursa saham Wall Street selama sepekan berasal dari aksi saling balas tarif bea masuk atas barang impor AS – Tiongkok dan yang terbaru adalah krisis Turki, yang seperti pada krisis Yunani silam, pelaku pasar khawatir akan penjalaran dampaknya ke ekonomi dan pasar keuangan global. Mata uang Lira Turki melemah lebih dari 20 persen terhadap dollar AS dalam beberapa hari terakhir pada akhir pekan lalu (08/08 – 12/08). Hal ini disebabkan oleh beberapa hal. Presiden AS Donald Trump menerapkan tarif impor dua kali lipat terhadap produk logam asal Turki, menyusul pernyataan Presiden Turki, Erdogan, yang meminta agar warga negara Turki menukar dolar AS, Euro, dan emas yang dimiliki dengan mata uang Lira. Sebelumnya, negosiasi delegasi Turki dengan AS terkait pastor AS yang ditahan oleh Turki, Andrew Brunson, akibat tuduhan percobaan kudeta pada 2016 silam, berakhir dengan kegagalan. Bulan lalu, Donald Trump mengancam bahwa AS akan memberikan sanksi lebih luas kepada Turki apabila Brunson tidak dibebaskan. Dari dalam negeri Turki, secara fundamental Turki juga memiliki sejumlah kerentanan seperti tingginya utang swasta, defisit neraca berjalan, dan juga geopolitik dalam negeri yang tidak kondusif.

Dari kawasan Eropa, bursa saham utama di kawasan seperti FTSE 100 Inggris, DAX Jerman, dan CAC Prancis ditutup bervariasi secara mingguan, tetapi tercatat mengalami koreksi cukup dalam pada akhir perdagangan akhir pekan. Pelemahan ini terutama dipengaruhi oleh krisis Turki. Investor khawatir atas eksposur bank – bank besar Eropa di Turki. Investor juga mengkhawatirkan ketegangan antara Turki – AS akan berkepanjangan. Selain itu, kekhawatiran juga muncul dari sanksi AS terhadap Rusia yang diperkirakan juga akan berdampak pada ekonomi Jerman. Dari Inggris, menurut survei yang dilakukan oleh YouGov, sebagian besar public Inggris mengharapkan akan ada referendum yang kedua terkait Brexit.

Dari kawasan Asia, indeks di kawasan ditutup bervariasi secara mingguan dengan indeks Hangseng mencatatkan kenaikan mingguan tertinggi sebesar 2,49 persen, sementara indeks Nikkei Jepang mencatatkan pelemahan terdalam secara mingguan sebesar -1,01 persen. Selama sepekan kemarin, investor masih mencermati perkembangan perang dagang AS – Tiongkok. Dampak krisis Turki akan dirasakan selama sepekan ini, mengingat perbedaan waktu antarkawasan. Dari rilis data ekonomi, PDB Jepang pada Q2 2018 tumbuh melebihi ekspektasi didukung oleh konsumsi Rumah Tangga yang kuat.

Pasar Uang. Indeks dolar AS berada pada level 96,36 pada akhir pekan (10/08) atau menguat sebesar 1,26 persen dalam sepekan terhadap enam mata uang utama dunia dari posisi 95,16 pada penutupan akhir pekan sebelumnya (03/08). Indeks AS mendekatati rekor tertingginya dalam 14 bulan seiring semakin memanasnnya tensi perang dagang yang dilakukan oleh AS terhadap mitra dagang utamanya. Terakhir,dolar AS menguat di hadapan Lira Turki dan Euro setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menggandakan tarif impor baja dan aluminium masing-masing menjadi 50% dan 20%. Dengan tarif yang tinggi untuk industri utamanya yakni baja, Turki bakal merugi karena kehilangan pelanggan asal AS. Terhadap total impor AS, Turki berkontribusi hingga 62% dari produk bar yang digunakan untuk memperkuat struktur beton dan bata. Selain itu, Turki juga berkontribusi untuk 37% impor pipa untuk dijadikan tiang, yang digunakan untuk menopang pondasi dan konstruksi, serta 14% lempengan gulungan dingin (cold-rolled sheet). Posisi Lira Turki yang terus melemah terhadap dolar AS memicu pelemahan Euro hingga menyentuh level terendah sejak Juli 2017 setelah ECB menyatakan kekhawatiran atas efek Turki terhadap bank-bank besar di Zona Euro seperti BBVA, BNP Paribas dan UniCredit.

Pasar Obligasi. Yield treasury AS tenor 10 tahun bergerak turun sekitar 8 bps pekan lalu setelah ditutup pada level 2,87 pada akhir pekan (10/08), lebih rendah dibandingkan 2,95 pada penutupan akhir pekan sebelumnya (03/08). Turunnya imbal hasil obligasi US Treasury terutama dipicu oleh kekhawatiran krisis yang akan menimpa Turki setelah mata uang negara tersebut menyentuh titik terendah sepanjang sejarah terhadap dolar AS. Seiring kekhawatiran akan terjadinya efek contagion dari Turki, investor pun mengalihkan asetnya dari Turki dan Zona Euro ke aset safe havens seperti dolar AS dan US Treasury.

Pasar Komoditas. Melanjutkan pelemahan pada pekan sebelumnya. harga komoditas minyak mentah kembali melemah pekan lalu. Harga minyak mentah Brent terpantau melemah sebesar 0,55 persen secara mingguan ke level US$72,81 per barel. Harga minyak sempat menguat di awal pekan setelah beredar kabar bahwa produksi minyak mentah Arab Saudi jatuh secara tak terduga pada bulan Juli 2018. Arab Saudi memompa sekitar 10,29 juta barel per hari pada bulan Juli 2018 atau turun sekitar 200 ribu bph dari rata-rata produksi bulan Juni 2018 yang mencapai 10,49 juta barel per hari. Selain itu, kenaikan harga minyak pada awal pekan juga dipengaruhi oleh diberlakukannya sanksi-sanksi AS terhadap barang-barang Iran. Kondisi itu meningkatkan kekhawatiran bahwa sanksi terhadap minyak Iran yang diperkirakan pada November dapat menyebabkan kekurangan pasokan global. Analis memperkirakan sanksi AS berpotensi menurunkan sekitar 500 ribu hingga 1,3 juta barel per hari dari ekspor minyak mentah Iran yang sekitar 2,5 juta barel per hari.

Pada pertengahan pekan, harga minyak berbalik melemah tajam di tengah kembali memanasnya isu perang dagang AS – Tiongkok. Tiongkok menerapkan tarif tambahan sebesar 25 persen pada impor senilai US$16 miliar atas barang-barang AS. Tarif tersebut berlaku untuk barang mulai dari bahan bakar dan produk baja hingga mobil dan peralatan medis. Perkembangan ini memicu kekhawatiran investor terhadap potensi turunnya permintaan komiditas, termasuk minyak. Sejauh ini, data impor Tiongkok menunjukkan melambatnya permintaan energi. Impor minyak mentah Tiongkok sedikit pulih pada Juli setelah mencatat dua penurunan bulanan berturut-turut. Meksipun demikian, permintaannya tetap rendah karena berasal dari kilang-kilang independen yang lebih kecil. Pada bulan Juli, impor minyak mentah Tiongkok naik menjadi 8,48 juta barel per hari dari 8,18 juta barel per hari pada Juni 2018, namun turun dari 8,6 juta barel per hari pada Juni.

Turunnya harga minyak pada pertengahan pekan lalu juga dipengaruhi oleh data stok minyak AS yang turun lebih sedikit dibandingkan perkiraan pelaku pasar. Data yang dirilis Energy Information Administration menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun 1,35 juta barel pekan lalu, jauh dari penurunan 2,8 juta barel yang merupakan konsensus pelaku pasar. Selain itu, EIA juga mengumumkan kenaikan pasokan bensin hingga 2,9 juta barel pada pekan sebelumnya. Angka ini jauh lebih besar daripada prediksi polling Reuters yang meramalkan penurunan 1,7 juta barel bensin.

Dari komoditas batubara, rally harga batubara terhenti setelah harga batubara ICE Newcastle kontrak berjangka tercatat melemah 0,68 persen dalam sepekan ke level US$116,65 per metriks ton. Menurunnya harga batubara terutama dipengaruhi oleh telah terlewatinya musim panas di Tiongkok. Sebelumnya, permintaan batubara mengalami rally sejak bulan Mei 2018 setelah gelombang panas yang menyapu Bumi Belahan Utara mendorong naiknya permintaan energi listrik yang digunakan menyalakan pendingin ruangan sehingga memicu meroketnya permintaan batu bara untuk pembangkit listrik. Harga batubara ICE Newcastle terus menanjak dan sempat menyentuh titik tertingginya dalam 6 tahun terakhir di level US$119,9/metrik ton di akhir Juli 2018. Impor batu bara Tiongkok bulan Juli 2018 naik 14 persen mom ke 29,01 juta, tertinggi dalam 4,5 tahun. Di sisi lain, produksi batu bara Tiongkok bulan Juni 2018 jatuh 1,4 persen secara mom atau level terendahnya dalam 8 bulan terakhir. Dengan berlalunya musim panas, maka permintaan Tiongkok ke depan diperkirakan akan menurun sehingga menekan harga batubara.

Selain itu, terlihat indikasi bahwa pasokan batubara Tiongkok sudah membaik. Hal ini dipicu oleh sebagian besar pertambangan batubara di Tiongkok yang sudah mulai beroperasi dengan normal pasca berakhirnya inspeksi lingkungan yang dilakukan oleh pemerintah. Sejak tahun lalu, pemerintah Tiongkok memang gencar melakukan inspeksi keselamatan pertambangan serta pemeriksaan dampak lingkungan pertambangan terhadap alam sekitar. Seiring pulihnya pasokan batubara di Tiongkok, kelangkaan pasokan yang timbul seiring kuatnya konsumsi batubara untuk pembangkit listrik mulai mereda. Data terbaru menunjukkan cadangan batu bara di pelabuhan Tiongkok tercatat meningkat 5,2 persen pada pekan lalu, ke titik tertingginya sejak November 2015.

Dari komoditas CPO, harga CPO terus melanjutkan penguatan sepanjang pekan lalu. Harga CPO di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik sebesar 1,66 persen secara mingguan ke level 2.206 Ringgit/metriks ton. Salah satu sentimen yang mengangkat harga CPO berasal dari rencana penerapan kebijakan penggunaan B20 di Indonesia. Volume ekspor CPO dari Indonesia, sebagai negara produsen minyak sawit terbesar, diperkirakan akan mengalami penurunan hingga 5 persen sampai akhir tahun, akibat rencana penggunaan B20. Hal ini akan mempengaruhi pasokan CPO di pasar, sehingga diperkirakan mengerek harga CPO global. Di sisi lain, Malaysian Palm Oil Board juga menurunkan target produksinya hingga akhir tahun sebesar 2,9 persen menjadi 19,9 juta ton.

Selain itu, sentimen positif juga datang dari potensi bertambahnya permintaan CPO di India pada Q3 2018 seiring kondisi produksi CPO dalam negeri India belum mencukupi seiring musim hujan yang lebih kering dari biasanya. Selain itu, beredar kabar pemerintah India akan menurunkan bea impornya sehingga keran impor CPO India diperkirakan akan kembali naik. Di sisi lain, permintaan CPO dari Tiongkok tampaknya masih solid. Hal itu tercermin dari permintaan tambahan pengiriman CPO Indonesia ke Tiongkok sebanyak 500 ribu ton dari Perdana Menteri Tiongkok dalam kunjungannya ke Indonesia beberapa bulan lalu.

Harga CPO juga dipanaskan oleh rebound harga minyak kedelai setelah beberapa waktu terakhir tertekan hebat oleh isu perang dagang. Minyak kedelai memang menjadi salah satu komoditas yang paling terdampak dari memburuknya hubungan perdagangan antara dua raksasa ekonomi dunia tersebut. Minyak kedelai adalah produk utama dari petani di Arkansas, dengan volume produksi mencapai 178 juta bushel pada 2018. Sekitar 40 persen dari hasil panen tersebut diekspor ke Tiongkok. Dengan bertambah mahalnya biaya impor kedelai akibat bea masuk, Tiongkok diperkirakan akan menurunkan permintaannya. Seperti diketahui, harga CPO bergerak searah dengan harga minyak nabati lainnya seperti minyak kedelai karena bersaing memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.

II. Pasar Keuangan Domestik

  • Pada penutupan pekan, IHSG tercatat menguat 1,16 persen secara mingguan ke level 6.077,17 di tengah posisi jual bersih investor non residen, imbal hasil SBN seri benchmark bergerak turun dengan posisi kepemilikan investor non residen yang mengalami penurunan mingguan secara mingguan namun secara persentase kepemilikan mengalami kenaikan, dan nilai tukar Rupiah menguat 0,14 persen ke level Rp14.475 per USD.

IHSG tercatat mengalami penguatan 1,16 persen secara mingguan ke level 6.077,17 dan diperdagangkan di kisaran 6.025,43 – 6.177,29 pekan lalu. Investor nonresiden mencatatkan jual bersih sebesar Rp731,48 miliar sepanjang pekan lalu dan tercatat jual bersih Rp48,76 triliun secara ytd. Nilai rata-rata transaksi perdagangan harian selama sepekan turun ke level Rp8,15 triliun dari pekan sebelumnya yang sebesar Rp11,73 triliun. Tingginya rata-rata transaksi harian pada pekan sebelumnya terjadi seiring dengan adanya transaksi pembelian saham PT Bank Danamon Tbk (BDMN) senilai Rp 16,33 triliun oleh PT Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Ltd (MUFG) pada hari Jumat (03/08).

Dari pasar SBN, yield SUN seri benchmark bergerak turun dalam sepekan dengan penurunan antara 8 bps hingga 16 bps. Berdasarkan data setelmen BI per 9 Agustus 2018, kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp844,76 T, turun Rp1,38 T dibandingkan posisi akhir pekan sebelumnya yang sebesar Rp847,14 T. Secara persentase, kepemilikan non residen naik dari 37,72 persen terhadap total outstanding ke level 37,78 persen secara mingguan. Secara year to date, kepemilikan non residen naik Rp9,61 T (1,15 persen) sementara secara month to date, kepemilikan non residen tercatat naik sebesar Rp6,50 T atau 0,77 persen.

Nilai tukar Rupiah menguat sebesar 0,14 persen secara mingguan dan secara ytd mengalami depresiasi sebesar 6,27 persen, berada di level Rp14.475 per USD pada akhir perdagangan hari Jumat (10/08). Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif lebih lemah dibandingkan pekan sebelumnya, sebagaimana tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan yang bergerak dalam rentang Rp27 sampai Rp87 per USD, jauh lebih tinggi dibanding spread Rp30 sampai Rp102 per USD. Pekan lalu Rupiah diperdagangkan di kisaran 14.430 – 14.498 per USD.

III. Perekonomian Internasional

Dari kawasan AS, Inflasi AS pada bulan Juli 2018 tercatat sebesar 0,2 persen mtm, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 0,1 persen mtm. Inflasi pada bulan tersebut didorong oleh peningkatan biaya bahan baku mentah di sektor manufaktur terutama pada logam akibat kebijakan tarif. Peningkatan inflasi ini diyakini membuat the Fed semakin yakin untuk menaikkan suku bunga acuannya.

Dari kawasan Eropa, Ekonomi Inggris pada Q2 2018 tumbuh sebesar 0,4 persen secara kuartalan. Angka tersebut lebih besar dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang sebesar 0,2 persen. Peningkatan ini dipicu oleh penguatan di sektor retail serta cuaca yang mendukung, sehingga membuat industri sektor konstruksi kembali pulih setelah kinerjanya turun di musim dingin tahun lalu.

Dari kawasan Asia Pasifik, Perekonomian Jepang tumbuh 0,5 persen pada Q2 2018 setelah mengalami kontraksi 0,2 persen pada kuartal sebelumnya. Konsumsi rumah tangga yang berkontribusi sekitar 60 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Jepang tumbuh 0,7 persen atau berhasil pulih dari penurunan 0,2% yang dicatatkan di kuartal pertama. Presiden Iran Hassan Rouhani menolak ajakan perundingan dari AS menjelang penerapan sanksi baru terhadap negara Timur Tengah tersebut oleh AS. AS akan kembali menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran dengan tujuan melemahkan ekonomi negara tersebut. Hal ini dilakukan menyusul keluarnya AS dari komitmen nuklir damai, meninggalkan sekutu Eropanya dalam pembicaraan yang sudah berlangsung sejak 2015.

Australia memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuannya pada level 1,5 persen. Hal ini disambut positif oleh beberapa analis yang menyatakan bahwa kabar tersebut merupakan hal yang baik karena kenaikan suku bunga hanya menambah tekanan pada ekonomi negara bagian.

IV. Perekonomian Domestik

PDB Indonesia kuartal II 2018 tumbuh sebesar 5,27 persen yoy atau merupakan pertumbuhan tertinggi sejak 2013. Capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II ini didukung oleh kenaikan permintaan domestik dari konsumsi baik swasta maupun pemerintah. Sementara itu, di tengah hari kerja yang lebih sedikit pada bulan Juni 2018, investasi tetap tumbuh cukup tinggi. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang merupakan kontributor terbesar PDB dari sisi pengeluaran, tercatat mencapai 5,14 persen yoy atau merupakan yang tertinggi sejak 2014. Di sisi lain, meskipun melambat dari kuartal sebelumnya, investasi Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh cukup tinggi sebesar 5,87 persen yoy.

Cadangan devisa Indonesia pada akhir bulan Juli mencapai USD118,3, atau turun sekitar USD1,5 miliar dari USD119,8 miliar pada bulan sebelumnya. Menurut BI, penurunan cadangan devisa digunakan bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Namun demikian, jumlah cadangan devisa tersebut masih cukup untuk kebutuhan pembiayaan sekitar 6,9 bulan impor atau 6,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah serta masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Lembaga pemeringkat Moody's Investors Service telah mengubah outlook sistem perbankan Indonesia dari stabil menjadi positif seiring dengan peningkatan peringkat bank di Indonesia pada periode April hingga Juni 2018. Pemberian peringkat stail terhadap sistem perbankan didasarkan atas 6 hal, yaitu lingkungan operasi (stabil), risiko aset (stabil), modal (stabil), pendanaan dan likuiditas (stabil), profitabilitas dan efisiensi (stabil), dan dukungan pemerintahan (stabil). Dalam pernyataannya, Moody’s menyatakan outlook yang stabil menunjukkan pada 12 hingga 18 bulan ke depan, bank-bank di Indonesia memiliki kualitas aset yang stabil dalam lingkungan makroekonomi yang kuat.

Ketegangan Perdagangan AS Meluas dan Dorong Krisis Nilai Tukar Turki

  • Setelah berada di bawah tekanan selama seminggu terakhir, lira Turki (TRY) jatuh ke rekor terendah baru
  • Pelemahan tercatat di seluruh Pasar Berkembang (EM) minggu lalu
  • Telah terjadi peningkatan tajam volatilitas yang berasal dari opsi mata uang EM
  • Rambatan sentimen pasar atas Turki ke EM, termasuk Indonesia di tengarai lebih dimungkinkan dari transmisi (1) neraca transasksi berjalan dan (2) likuiditas valas

Pekan lalu berakhir dengan pelemahan pasar global terkait krisis di pasar keuangan Turki meningkat. Penurunan besar dalam saham bahan baku dan keuangan menyebabkan pasar saham global utama lebih rendah dengan AS S & P500 turun 0,7% dan Euro Stoxx 600 merosot 1,1% di tengah fokus khusus pada bank-bank utama Eropa yang diyakini memiliki eksposur signifikan ke Turki - terutama BBVA Spanyol , UniCredit Italia dan BNP Paribas dari Prancis.

Indeks dolar AS terhadap mata uang utama naik ke rekor tertinggi di 96,5 sejak Juli tahun lalu karena euro secara bersamaan jatuh ke 13 bulan terendah, sementara permintaan safe haven menghasilkan keuntungan mata uang yen Jepang. Permintaan safe haven juga terkait penurunan imbal hasil obligasi pemerintah di negara-negara ekonomi utama - kecuali Italia dan Spanyol yang naik. Perkembangan ini membayangi isu inflasi inti CPO (ex makanan dan energi) AS yang naik menjadi 2,4% sepanjang tahun hingga Juli 2018, atau lebih kuat dari harapan pasar dan menjadi tingkat tertinggi sejak sepanjang tahun hingga September 2008.

Setelah berada di bawah tekanan selama seminggu terakhir, lira Turki (TRY) jatuh ke rekor terendah baru. Lira Turki terjun bebas karena kurangnya tindakan efektif dari authories Turki untuk membendung pelemahan. Lira Turki melemah hampir 17% terhadap dolar AS dalam satu malam di akhir pekan lalu setelah Presiden AS Trump meningkatkan tekanan dengan mengumumkan tarif impor besi baja dan metal dari Turki akan berlipat ganda.

Sebagai ilustrasi tekanan sektor keuangan saat ini di Turki, imbal hasil lima tahun obligasi pemerintah Turki dalam denominasi lira Turki naik hampir dua persen poin semalam menjadi sekitar 23% atau naik 10 % sejak akhir April 2018. Imbal hasil obligasi lima tahun pemerintah Turki dalam mata uang dolar AS kini mendekati 8%. Pasar ekuitas utama Turki turun 2,3% walau emiten yang terdaftar di bursa AS diperdagangkan turun hampir 15% di akhir pekan lalu.

Pelebaran celah antara obligasi pemerintah Turki dalam denominasi lira Turki (TRY) dan USD memberikan indikasi penentuan harga pasar terhadap risiko mata uang,sementara kenaikannya mencerminkan kecendrungan tren nilai tukar TRY itu sendiri. Tetapi sejauh ini penyebaran celah imbal hasil antara obligasi pemerintah Turki dalam denominasi TRY terhadap US Treasury memberikan indikasi risiko kredit (non-mata uang) telah naik dan catatkan rekor tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Untuk menempatkan hal ini dalam perspektif yang lebih luas, gerakan dramatis di lira Turki masih tergolong moderate dalam konteks 20 tahun terakhir di mana lira telah kehilangan lebih dari dari 90% nilainya selama akhir 1990-an dan awal 2000-an.

Pasar pekan lalu telah mulai melihat ketegangan perdagangan muncul di PMI ekonomi AS, penjualan mobil, dan investasi perumahan. Survei bisnis menunjukkan ketidakpastian prospek dan kecenderungan proyeksi pendapatan untuk revisi ke bawah (dimulai dengan produsen mobil).

Tetapi ada dinamika yang lebih luas dan masih mendukung aktivitas ekonomi. Pemotongan pajak tahun lalu bertindak sebagai peredam kejut terhadap potensi kerugian dari perang tarif, belanja konsumen sehat, pasar tenaga kerja ketat, posisi fiskal mendukung pertumbuhan, dan perdagangan, terlepas dari isu negative. Dengan latar belakang ini, kami telah mendorong perkiraan pertumbuhan dan inflasi 2018 untuk AS dengan harapan GDP riil tahunan tumbuh sebesar 3%, sementara inflasi (yang diukur oleh US Urban Consumers CPI) rata-rata sekitar 2,5%.

Tren data ekonomi AS di minggu lalu bagi pasar tidak hanya memastikan bahwa suku bunga acuan Federal Reserve AS mungkin masih dapat naik dua kali lagi tahun ini, tetapi kelanjutan dari kenaikan suku bunga kuartalan dapat diharapkan di tahun depan juga. Walau demikian, juga muncul prosek bahwa inflasi kemungkinan melemah (terutama jika perang dagang terus berlanjut dan konflik AS-Iran terjadi) dan tidak menyebabkan meningkatnya tekanan penaikan suku bunga kebijakan the Fed.

Pelemahan tercatat di seluruh Pasar Berkembang (EM) minggu lalu, mata uang EM lainnya sebagian besar masih akan terus melemah. Khususnya, peso Argentina telah jatuh kembali ke dekat tetapi tidak melalui posisi terendah bersejarah yang terlihat pada akhir Juni 2018. Demikian pula, mata uang utama emerging market Asia - termasuk rupiah Indonesia dan rupee India – masih tetap berada di atas rekor terendah. Perdagangan yuan Cina di pasar luar negeri juga melemah tetapi tetap di atas posisi terendah yang terlihat dalam seminggu terakhir.

Untuk blok EM secara keseluruhan, telah terjadi peningkatan tajam volatilitas yang berasal dari opsi mata uang EM - baik secara absolut dan relatif terhadap volatilitas yang tersirat dari mata uang ekonomi maju. Dengan pengecualian Turki, aksi jual pasar yang muncul telah mereda untuk sementara waktu. Ke depan, manifestasi utama risiko makro global akan bersumber dari valas. Kami melihat USD mulai stabil terhadap mata uang DM dan terus menguat terhadap mata uang EM dalam beberapa bulan mendatang. Ini bisa saja menyerupai ketenangan sebelum badai di 1998 dan 2008.

Eskalasi lebih lanjut ketegangan perdagangan dan risiko geopolitik masih dapat mendorong volatilitas. Demikian pula, volatilitas tersirat dari opsi indeks ekuitas EM telah meningkat tetapi tetap di bawah level tertinggi yang terlihat selama beberapa peristiwa mendekati krisis beberapa tahun terakhir. Di pasar kredit, imbal hasil obligasi perusahaan dan pemerintah EM dalam dolar AS telah meningkat selama beberapa bulan terakhir.

Realisasi defisit neraca berjalan Indonesia dalam neraca pembayarannya (BOP) melebar menjadi USD8 miliar, atau 3% dari PDB pada 2Q18, jauh di atas defisit USD5.7bn, atau -2.2% dari PDB di 1Q18. Defisit ini adalah yang tertinggi sejak 3Q14. Ke depan, pasar berharap CAB dapat mencatat defisit 2,0% dari PDB pada 2019 bilai perkiraan defisit 2,3% dari PDB pada tahu 2018 dapat terealisasi.

Selama kuartal kedua 2018, neraca perdagangan barang membukukan surplus bersih yang lebih kecil sebesar USD0.3bn, dari USD2.3bn di 1Q18, sementara akun layanan sedikit memburuk menjadi defisit USD1.8bn, dari USD1.5bn di 1Q18. Penurunan surplus neraca barang dan jasa dikaitkan dengan tingginya impor, yang melampaui ekspor - terutama impor barang modal dan barang mentah sejalan dengan pertumbuhan investasi yang kuat. Sementara itu, penurunan defisit pendapatan primer juga dicatat, terutama dipengaruhi oleh pembayaran dividen perusahaan yang lebih tinggi. Pada saat yang sama, pendapatan sekunder meningkat, di tengah kenaikan remitansi.

Neraca keuangan mencatat inflow bersih yang lebih tinggi sebesar USD4 miliar di 2018, dari USD2.4 miliar di periode 1Q18 berkat pengembalian investasi portofolio yang mencatat sedikit surplus serta peningkatan penarikan simpanan sektor swasta di bank-bank luar negeri. Akibatnya, neraca pembayaran mencatat defisit USD4.3bn, naik dari defisit USD3.9bn di 1Q18. Defisit dalam BOP akan berkontribusi pada penurunan cadangan devisa negara bersama dengan upaya menjaga stabilitas IDR. Diperkirakan cadangan Indonesia kemungkinan turun menjadi USD112 milyar di tahun 2018, dari USD130,2 miliar di tahun 2017.

Dibandingkan kesenjangan neraca transaksi berjalan yang harus ditutup Turki bernilai hampir US$ 60 miliar dibandingkan dengan US$ 76 miliar total cadangan valas di luar emas bulan Juni (data IMF), jelas Indonesia terlihat jauh lebih baik. Karena CBRT tidak dapat memainkan peran sebagai lender of last resort untuk periode waktu yang lama, stabilitas sumber keuangan lainnya menjadi sangat penting. Dengan neraca arus keuangan mencatatkan deficit seiring arus keluar portofolio - terutama aliran utang - selama beberapa bulan berturut-turut, kini pasar mencemaskan deplesi cadangan valas bank sentral Republik Turki (CBRT).

Cadangan devisa Turki (ex-gold) bertahan di angka 9,2% dari PDB – jauh di bawah cadangan hampir semua EM utama. Pada saat yang sama, cadangan valas hanya setara dengan 70% utang valas jangka pendek (jatuh tempo dalam 12m). Dengan demikian potensi risiko gagal bayar akan naik dan dorong peningkatan default utang atau obligasi perusahaan. Jika NPL meningkat dengan cepat sementara stabilitas tidak lekas pulih di pasar modal dan keuangan, situasi ini dapat menyebabkan konsekuensi rambatan dari pasar Turki ke EM. Adapun rambatan sentimen pasar atas Turki ke EM, termasuk Indonesia di tengarai lebih dimungkinkan dari transmisi (1) neraca transasksi berjalan dan (2) likuiditas valas. Dengan demikian dapat diperkirakan minggu-minggi ke depan di 3Q2018 akan dipenuhi dengan keprihatinan potensi risiko pemburukan krisis BOP Turki dan potensi rambatannya ke EM.


Sumber Data: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Highlight  Minggu Ini

  • Wall Street ditutup melemah dipengaruhi oleh aksi saling balas tarif bea masuk AS – Tiongkok dan krisis Turki.
  • Indeks dolar AS berada pada level 96,36 pada akhir pekan (10/08) atau menguat sebesar 1,26 persen dalam sepekan.
  • IHSG tercatat mengalami penguatan 1,16 persen secara mingguan ke level 6.077,17 di tengah posisi jual bersih investor non residen.
  • Rupiah menguat sebesar sebesar 0,14 persen secara mingguan.
  • Menyusul krisis Turki, rambatan sentimen pasar atas Turki ke EM, termasuk Indonesia di tengarai lebih dimungkinkan dari transmisi (1) neraca transasksi berjalan dan (2) likuiditas valas.

I. Pasar Global

Pasar Saham. Wall Street ditutup melemah dibanding penutupan pekan sebelumnya dengan indeks Dow Jones dan S&P 500 mencatatkan penurunan masing – masing sebesar 0,59 dan 0,25 persen. Sentimen yang mempengaruhi pergerakan bursa saham Wall Street selama sepekan berasal dari aksi saling balas tarif bea masuk atas barang impor AS – Tiongkok dan yang terbaru adalah krisis Turki, yang seperti pada krisis Yunani silam, pelaku pasar khawatir akan penjalaran dampaknya ke ekonomi dan pasar keuangan global. Mata uang Lira Turki melemah lebih dari 20 persen terhadap dollar AS dalam beberapa hari terakhir pada akhir pekan lalu (08/08 – 12/08). Hal ini disebabkan oleh beberapa hal. Presiden AS Donald Trump menerapkan tarif impor dua kali lipat terhadap produk logam asal Turki, menyusul pernyataan Presiden Turki, Erdogan, yang meminta agar warga negara Turki menukar dolar AS, Euro, dan emas yang dimiliki dengan mata uang Lira. Sebelumnya, negosiasi delegasi Turki dengan AS terkait pastor AS yang ditahan oleh Turki, Andrew Brunson, akibat tuduhan percobaan kudeta pada 2016 silam, berakhir dengan kegagalan. Bulan lalu, Donald Trump mengancam bahwa AS akan memberikan sanksi lebih luas kepada Turki apabila Brunson tidak dibebaskan. Dari dalam negeri Turki, secara fundamental Turki juga memiliki sejumlah kerentanan seperti tingginya utang swasta, defisit neraca berjalan, dan juga geopolitik dalam negeri yang tidak kondusif.

Dari kawasan Eropa, bursa saham utama di kawasan seperti FTSE 100 Inggris, DAX Jerman, dan CAC Prancis ditutup bervariasi secara mingguan, tetapi tercatat mengalami koreksi cukup dalam pada akhir perdagangan akhir pekan. Pelemahan ini terutama dipengaruhi oleh krisis Turki. Investor khawatir atas eksposur bank – bank besar Eropa di Turki. Investor juga mengkhawatirkan ketegangan antara Turki – AS akan berkepanjangan. Selain itu, kekhawatiran juga muncul dari sanksi AS terhadap Rusia yang diperkirakan juga akan berdampak pada ekonomi Jerman. Dari Inggris, menurut survei yang dilakukan oleh YouGov, sebagian besar public Inggris mengharapkan akan ada referendum yang kedua terkait Brexit.

Dari kawasan Asia, indeks di kawasan ditutup bervariasi secara mingguan dengan indeks Hangseng mencatatkan kenaikan mingguan tertinggi sebesar 2,49 persen, sementara indeks Nikkei Jepang mencatatkan pelemahan terdalam secara mingguan sebesar -1,01 persen. Selama sepekan kemarin, investor masih mencermati perkembangan perang dagang AS – Tiongkok. Dampak krisis Turki akan dirasakan selama sepekan ini, mengingat perbedaan waktu antarkawasan. Dari rilis data ekonomi, PDB Jepang pada Q2 2018 tumbuh melebihi ekspektasi didukung oleh konsumsi Rumah Tangga yang kuat.

Pasar Uang. Indeks dolar AS berada pada level 96,36 pada akhir pekan (10/08) atau menguat sebesar 1,26 persen dalam sepekan terhadap enam mata uang utama dunia dari posisi 95,16 pada penutupan akhir pekan sebelumnya (03/08). Indeks AS mendekatati rekor tertingginya dalam 14 bulan seiring semakin memanasnnya tensi perang dagang yang dilakukan oleh AS terhadap mitra dagang utamanya. Terakhir,dolar AS menguat di hadapan Lira Turki dan Euro setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menggandakan tarif impor baja dan aluminium masing-masing menjadi 50% dan 20%. Dengan tarif yang tinggi untuk industri utamanya yakni baja, Turki bakal merugi karena kehilangan pelanggan asal AS. Terhadap total impor AS, Turki berkontribusi hingga 62% dari produk bar yang digunakan untuk memperkuat struktur beton dan bata. Selain itu, Turki juga berkontribusi untuk 37% impor pipa untuk dijadikan tiang, yang digunakan untuk menopang pondasi dan konstruksi, serta 14% lempengan gulungan dingin (cold-rolled sheet). Posisi Lira Turki yang terus melemah terhadap dolar AS memicu pelemahan Euro hingga menyentuh level terendah sejak Juli 2017 setelah ECB menyatakan kekhawatiran atas efek Turki terhadap bank-bank besar di Zona Euro seperti BBVA, BNP Paribas dan UniCredit.

Pasar Obligasi. Yield treasury AS tenor 10 tahun bergerak turun sekitar 8 bps pekan lalu setelah ditutup pada level 2,87 pada akhir pekan (10/08), lebih rendah dibandingkan 2,95 pada penutupan akhir pekan sebelumnya (03/08). Turunnya imbal hasil obligasi US Treasury terutama dipicu oleh kekhawatiran krisis yang akan menimpa Turki setelah mata uang negara tersebut menyentuh titik terendah sepanjang sejarah terhadap dolar AS. Seiring kekhawatiran akan terjadinya efek contagion dari Turki, investor pun mengalihkan asetnya dari Turki dan Zona Euro ke aset safe havens seperti dolar AS dan US Treasury.

Pasar Komoditas. Melanjutkan pelemahan pada pekan sebelumnya. harga komoditas minyak mentah kembali melemah pekan lalu. Harga minyak mentah Brent terpantau melemah sebesar 0,55 persen secara mingguan ke level US$72,81 per barel. Harga minyak sempat menguat di awal pekan setelah beredar kabar bahwa produksi minyak mentah Arab Saudi jatuh secara tak terduga pada bulan Juli 2018. Arab Saudi memompa sekitar 10,29 juta barel per hari pada bulan Juli 2018 atau turun sekitar 200 ribu bph dari rata-rata produksi bulan Juni 2018 yang mencapai 10,49 juta barel per hari. Selain itu, kenaikan harga minyak pada awal pekan juga dipengaruhi oleh diberlakukannya sanksi-sanksi AS terhadap barang-barang Iran. Kondisi itu meningkatkan kekhawatiran bahwa sanksi terhadap minyak Iran yang diperkirakan pada November dapat menyebabkan kekurangan pasokan global. Analis memperkirakan sanksi AS berpotensi menurunkan sekitar 500 ribu hingga 1,3 juta barel per hari dari ekspor minyak mentah Iran yang sekitar 2,5 juta barel per hari.

Pada pertengahan pekan, harga minyak berbalik melemah tajam di tengah kembali memanasnya isu perang dagang AS – Tiongkok. Tiongkok menerapkan tarif tambahan sebesar 25 persen pada impor senilai US$16 miliar atas barang-barang AS. Tarif tersebut berlaku untuk barang mulai dari bahan bakar dan produk baja hingga mobil dan peralatan medis. Perkembangan ini memicu kekhawatiran investor terhadap potensi turunnya permintaan komiditas, termasuk minyak. Sejauh ini, data impor Tiongkok menunjukkan melambatnya permintaan energi. Impor minyak mentah Tiongkok sedikit pulih pada Juli setelah mencatat dua penurunan bulanan berturut-turut. Meksipun demikian, permintaannya tetap rendah karena berasal dari kilang-kilang independen yang lebih kecil. Pada bulan Juli, impor minyak mentah Tiongkok naik menjadi 8,48 juta barel per hari dari 8,18 juta barel per hari pada Juni 2018, namun turun dari 8,6 juta barel per hari pada Juni.

Turunnya harga minyak pada pertengahan pekan lalu juga dipengaruhi oleh data stok minyak AS yang turun lebih sedikit dibandingkan perkiraan pelaku pasar. Data yang dirilis Energy Information Administration menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun 1,35 juta barel pekan lalu, jauh dari penurunan 2,8 juta barel yang merupakan konsensus pelaku pasar. Selain itu, EIA juga mengumumkan kenaikan pasokan bensin hingga 2,9 juta barel pada pekan sebelumnya. Angka ini jauh lebih besar daripada prediksi polling Reuters yang meramalkan penurunan 1,7 juta barel bensin.

Dari komoditas batubara, rally harga batubara terhenti setelah harga batubara ICE Newcastle kontrak berjangka tercatat melemah 0,68 persen dalam sepekan ke level US$116,65 per metriks ton. Menurunnya harga batubara terutama dipengaruhi oleh telah terlewatinya musim panas di Tiongkok. Sebelumnya, permintaan batubara mengalami rally sejak bulan Mei 2018 setelah gelombang panas yang menyapu Bumi Belahan Utara mendorong naiknya permintaan energi listrik yang digunakan menyalakan pendingin ruangan sehingga memicu meroketnya permintaan batu bara untuk pembangkit listrik. Harga batubara ICE Newcastle terus menanjak dan sempat menyentuh titik tertingginya dalam 6 tahun terakhir di level US$119,9/metrik ton di akhir Juli 2018. Impor batu bara Tiongkok bulan Juli 2018 naik 14 persen mom ke 29,01 juta, tertinggi dalam 4,5 tahun. Di sisi lain, produksi batu bara Tiongkok bulan Juni 2018 jatuh 1,4 persen secara mom atau level terendahnya dalam 8 bulan terakhir. Dengan berlalunya musim panas, maka permintaan Tiongkok ke depan diperkirakan akan menurun sehingga menekan harga batubara.

Selain itu, terlihat indikasi bahwa pasokan batubara Tiongkok sudah membaik. Hal ini dipicu oleh sebagian besar pertambangan batubara di Tiongkok yang sudah mulai beroperasi dengan normal pasca berakhirnya inspeksi lingkungan yang dilakukan oleh pemerintah. Sejak tahun lalu, pemerintah Tiongkok memang gencar melakukan inspeksi keselamatan pertambangan serta pemeriksaan dampak lingkungan pertambangan terhadap alam sekitar. Seiring pulihnya pasokan batubara di Tiongkok, kelangkaan pasokan yang timbul seiring kuatnya konsumsi batubara untuk pembangkit listrik mulai mereda. Data terbaru menunjukkan cadangan batu bara di pelabuhan Tiongkok tercatat meningkat 5,2 persen pada pekan lalu, ke titik tertingginya sejak November 2015.

Dari komoditas CPO, harga CPO terus melanjutkan penguatan sepanjang pekan lalu. Harga CPO di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik sebesar 1,66 persen secara mingguan ke level 2.206 Ringgit/metriks ton. Salah satu sentimen yang mengangkat harga CPO berasal dari rencana penerapan kebijakan penggunaan B20 di Indonesia. Volume ekspor CPO dari Indonesia, sebagai negara produsen minyak sawit terbesar, diperkirakan akan mengalami penurunan hingga 5 persen sampai akhir tahun, akibat rencana penggunaan B20. Hal ini akan mempengaruhi pasokan CPO di pasar, sehingga diperkirakan mengerek harga CPO global. Di sisi lain, Malaysian Palm Oil Board juga menurunkan target produksinya hingga akhir tahun sebesar 2,9 persen menjadi 19,9 juta ton.

Selain itu, sentimen positif juga datang dari potensi bertambahnya permintaan CPO di India pada Q3 2018 seiring kondisi produksi CPO dalam negeri India belum mencukupi seiring musim hujan yang lebih kering dari biasanya. Selain itu, beredar kabar pemerintah India akan menurunkan bea impornya sehingga keran impor CPO India diperkirakan akan kembali naik. Di sisi lain, permintaan CPO dari Tiongkok tampaknya masih solid. Hal itu tercermin dari permintaan tambahan pengiriman CPO Indonesia ke Tiongkok sebanyak 500 ribu ton dari Perdana Menteri Tiongkok dalam kunjungannya ke Indonesia beberapa bulan lalu.

Harga CPO juga dipanaskan oleh rebound harga minyak kedelai setelah beberapa waktu terakhir tertekan hebat oleh isu perang dagang. Minyak kedelai memang menjadi salah satu komoditas yang paling terdampak dari memburuknya hubungan perdagangan antara dua raksasa ekonomi dunia tersebut. Minyak kedelai adalah produk utama dari petani di Arkansas, dengan volume produksi mencapai 178 juta bushel pada 2018. Sekitar 40 persen dari hasil panen tersebut diekspor ke Tiongkok. Dengan bertambah mahalnya biaya impor kedelai akibat bea masuk, Tiongkok diperkirakan akan menurunkan permintaannya. Seperti diketahui, harga CPO bergerak searah dengan harga minyak nabati lainnya seperti minyak kedelai karena bersaing memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.

II. Pasar Keuangan Domestik

  • Pada penutupan pekan, IHSG tercatat menguat 1,16 persen secara mingguan ke level 6.077,17 di tengah posisi jual bersih investor non residen, imbal hasil SBN seri benchmark bergerak turun dengan posisi kepemilikan investor non residen yang mengalami penurunan mingguan secara mingguan namun secara persentase kepemilikan mengalami kenaikan, dan nilai tukar Rupiah menguat 0,14 persen ke level Rp14.475 per USD.

IHSG tercatat mengalami penguatan 1,16 persen secara mingguan ke level 6.077,17 dan diperdagangkan di kisaran 6.025,43 – 6.177,29 pekan lalu. Investor nonresiden mencatatkan jual bersih sebesar Rp731,48 miliar sepanjang pekan lalu dan tercatat jual bersih Rp48,76 triliun secara ytd. Nilai rata-rata transaksi perdagangan harian selama sepekan turun ke level Rp8,15 triliun dari pekan sebelumnya yang sebesar Rp11,73 triliun. Tingginya rata-rata transaksi harian pada pekan sebelumnya terjadi seiring dengan adanya transaksi pembelian saham PT Bank Danamon Tbk (BDMN) senilai Rp 16,33 triliun oleh PT Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Ltd (MUFG) pada hari Jumat (03/08).

Dari pasar SBN, yield SUN seri benchmark bergerak turun dalam sepekan dengan penurunan antara 8 bps hingga 16 bps. Berdasarkan data setelmen BI per 9 Agustus 2018, kepemilikan nonresiden atas SBN tercatat sebesar Rp844,76 T, turun Rp1,38 T dibandingkan posisi akhir pekan sebelumnya yang sebesar Rp847,14 T. Secara persentase, kepemilikan non residen naik dari 37,72 persen terhadap total outstanding ke level 37,78 persen secara mingguan. Secara year to date, kepemilikan non residen naik Rp9,61 T (1,15 persen) sementara secara month to date, kepemilikan non residen tercatat naik sebesar Rp6,50 T atau 0,77 persen.

Nilai tukar Rupiah menguat sebesar 0,14 persen secara mingguan dan secara ytd mengalami depresiasi sebesar 6,27 persen, berada di level Rp14.475 per USD pada akhir perdagangan hari Jumat (10/08). Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah relatif lebih lemah dibandingkan pekan sebelumnya, sebagaimana tercermin dari perkembangan spread harian antara nilai spot dan non deliverable forward 1 bulan yang bergerak dalam rentang Rp27 sampai Rp87 per USD, jauh lebih tinggi dibanding spread Rp30 sampai Rp102 per USD. Pekan lalu Rupiah diperdagangkan di kisaran 14.430 – 14.498 per USD.

III. Perekonomian Internasional

Dari kawasan AS, Inflasi AS pada bulan Juli 2018 tercatat sebesar 0,2 persen mtm, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 0,1 persen mtm. Inflasi pada bulan tersebut didorong oleh peningkatan biaya bahan baku mentah di sektor manufaktur terutama pada logam akibat kebijakan tarif. Peningkatan inflasi ini diyakini membuat the Fed semakin yakin untuk menaikkan suku bunga acuannya.

Dari kawasan Eropa, Ekonomi Inggris pada Q2 2018 tumbuh sebesar 0,4 persen secara kuartalan. Angka tersebut lebih besar dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang sebesar 0,2 persen. Peningkatan ini dipicu oleh penguatan di sektor retail serta cuaca yang mendukung, sehingga membuat industri sektor konstruksi kembali pulih setelah kinerjanya turun di musim dingin tahun lalu.

Dari kawasan Asia Pasifik, Perekonomian Jepang tumbuh 0,5 persen pada Q2 2018 setelah mengalami kontraksi 0,2 persen pada kuartal sebelumnya. Konsumsi rumah tangga yang berkontribusi sekitar 60 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Jepang tumbuh 0,7 persen atau berhasil pulih dari penurunan 0,2% yang dicatatkan di kuartal pertama. Presiden Iran Hassan Rouhani menolak ajakan perundingan dari AS menjelang penerapan sanksi baru terhadap negara Timur Tengah tersebut oleh AS. AS akan kembali menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran dengan tujuan melemahkan ekonomi negara tersebut. Hal ini dilakukan menyusul keluarnya AS dari komitmen nuklir damai, meninggalkan sekutu Eropanya dalam pembicaraan yang sudah berlangsung sejak 2015.

Australia memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuannya pada level 1,5 persen. Hal ini disambut positif oleh beberapa analis yang menyatakan bahwa kabar tersebut merupakan hal yang baik karena kenaikan suku bunga hanya menambah tekanan pada ekonomi negara bagian.

IV. Perekonomian Domestik

PDB Indonesia kuartal II 2018 tumbuh sebesar 5,27 persen yoy atau merupakan pertumbuhan tertinggi sejak 2013. Capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II ini didukung oleh kenaikan permintaan domestik dari konsumsi baik swasta maupun pemerintah. Sementara itu, di tengah hari kerja yang lebih sedikit pada bulan Juni 2018, investasi tetap tumbuh cukup tinggi. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang merupakan kontributor terbesar PDB dari sisi pengeluaran, tercatat mencapai 5,14 persen yoy atau merupakan yang tertinggi sejak 2014. Di sisi lain, meskipun melambat dari kuartal sebelumnya, investasi Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh cukup tinggi sebesar 5,87 persen yoy.

Cadangan devisa Indonesia pada akhir bulan Juli mencapai USD118,3, atau turun sekitar USD1,5 miliar dari USD119,8 miliar pada bulan sebelumnya. Menurut BI, penurunan cadangan devisa digunakan bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Namun demikian, jumlah cadangan devisa tersebut masih cukup untuk kebutuhan pembiayaan sekitar 6,9 bulan impor atau 6,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah serta masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Lembaga pemeringkat Moody's Investors Service telah mengubah outlook sistem perbankan Indonesia dari stabil menjadi positif seiring dengan peningkatan peringkat bank di Indonesia pada periode April hingga Juni 2018. Pemberian peringkat stail terhadap sistem perbankan didasarkan atas 6 hal, yaitu lingkungan operasi (stabil), risiko aset (stabil), modal (stabil), pendanaan dan likuiditas (stabil), profitabilitas dan efisiensi (stabil), dan dukungan pemerintahan (stabil). Dalam pernyataannya, Moody’s menyatakan outlook yang stabil menunjukkan pada 12 hingga 18 bulan ke depan, bank-bank di Indonesia memiliki kualitas aset yang stabil dalam lingkungan makroekonomi yang kuat.

Ketegangan Perdagangan AS Meluas dan Dorong Krisis Nilai Tukar Turki

  • Setelah berada di bawah tekanan selama seminggu terakhir, lira Turki (TRY) jatuh ke rekor terendah baru
  • Pelemahan tercatat di seluruh Pasar Berkembang (EM) minggu lalu
  • Telah terjadi peningkatan tajam volatilitas yang berasal dari opsi mata uang EM
  • Rambatan sentimen pasar atas Turki ke EM, termasuk Indonesia di tengarai lebih dimungkinkan dari transmisi (1) neraca transasksi berjalan dan (2) likuiditas valas

Pekan lalu berakhir dengan pelemahan pasar global terkait krisis di pasar keuangan Turki meningkat. Penurunan besar dalam saham bahan baku dan keuangan menyebabkan pasar saham global utama lebih rendah dengan AS S & P500 turun 0,7% dan Euro Stoxx 600 merosot 1,1% di tengah fokus khusus pada bank-bank utama Eropa yang diyakini memiliki eksposur signifikan ke Turki - terutama BBVA Spanyol , UniCredit Italia dan BNP Paribas dari Prancis.

Indeks dolar AS terhadap mata uang utama naik ke rekor tertinggi di 96,5 sejak Juli tahun lalu karena euro secara bersamaan jatuh ke 13 bulan terendah, sementara permintaan safe haven menghasilkan keuntungan mata uang yen Jepang. Permintaan safe haven juga terkait penurunan imbal hasil obligasi pemerintah di negara-negara ekonomi utama - kecuali Italia dan Spanyol yang naik. Perkembangan ini membayangi isu inflasi inti CPO (ex makanan dan energi) AS yang naik menjadi 2,4% sepanjang tahun hingga Juli 2018, atau lebih kuat dari harapan pasar dan menjadi tingkat tertinggi sejak sepanjang tahun hingga September 2008.

Setelah berada di bawah tekanan selama seminggu terakhir, lira Turki (TRY) jatuh ke rekor terendah baru. Lira Turki terjun bebas karena kurangnya tindakan efektif dari authories Turki untuk membendung pelemahan. Lira Turki melemah hampir 17% terhadap dolar AS dalam satu malam di akhir pekan lalu setelah Presiden AS Trump meningkatkan tekanan dengan mengumumkan tarif impor besi baja dan metal dari Turki akan berlipat ganda.

Sebagai ilustrasi tekanan sektor keuangan saat ini di Turki, imbal hasil lima tahun obligasi pemerintah Turki dalam denominasi lira Turki naik hampir dua persen poin semalam menjadi sekitar 23% atau naik 10 % sejak akhir April 2018. Imbal hasil obligasi lima tahun pemerintah Turki dalam mata uang dolar AS kini mendekati 8%. Pasar ekuitas utama Turki turun 2,3% walau emiten yang terdaftar di bursa AS diperdagangkan turun hampir 15% di akhir pekan lalu.

Pelebaran celah antara obligasi pemerintah Turki dalam denominasi lira Turki (TRY) dan USD memberikan indikasi penentuan harga pasar terhadap risiko mata uang,sementara kenaikannya mencerminkan kecendrungan tren nilai tukar TRY itu sendiri. Tetapi sejauh ini penyebaran celah imbal hasil antara obligasi pemerintah Turki dalam denominasi TRY terhadap US Treasury memberikan indikasi risiko kredit (non-mata uang) telah naik dan catatkan rekor tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Untuk menempatkan hal ini dalam perspektif yang lebih luas, gerakan dramatis di lira Turki masih tergolong moderate dalam konteks 20 tahun terakhir di mana lira telah kehilangan lebih dari dari 90% nilainya selama akhir 1990-an dan awal 2000-an.

Pasar pekan lalu telah mulai melihat ketegangan perdagangan muncul di PMI ekonomi AS, penjualan mobil, dan investasi perumahan. Survei bisnis menunjukkan ketidakpastian prospek dan kecenderungan proyeksi pendapatan untuk revisi ke bawah (dimulai dengan produsen mobil).

Tetapi ada dinamika yang lebih luas dan masih mendukung aktivitas ekonomi. Pemotongan pajak tahun lalu bertindak sebagai peredam kejut terhadap potensi kerugian dari perang tarif, belanja konsumen sehat, pasar tenaga kerja ketat, posisi fiskal mendukung pertumbuhan, dan perdagangan, terlepas dari isu negative. Dengan latar belakang ini, kami telah mendorong perkiraan pertumbuhan dan inflasi 2018 untuk AS dengan harapan GDP riil tahunan tumbuh sebesar 3%, sementara inflasi (yang diukur oleh US Urban Consumers CPI) rata-rata sekitar 2,5%.

Tren data ekonomi AS di minggu lalu bagi pasar tidak hanya memastikan bahwa suku bunga acuan Federal Reserve AS mungkin masih dapat naik dua kali lagi tahun ini, tetapi kelanjutan dari kenaikan suku bunga kuartalan dapat diharapkan di tahun depan juga. Walau demikian, juga muncul prosek bahwa inflasi kemungkinan melemah (terutama jika perang dagang terus berlanjut dan konflik AS-Iran terjadi) dan tidak menyebabkan meningkatnya tekanan penaikan suku bunga kebijakan the Fed.

Pelemahan tercatat di seluruh Pasar Berkembang (EM) minggu lalu, mata uang EM lainnya sebagian besar masih akan terus melemah. Khususnya, peso Argentina telah jatuh kembali ke dekat tetapi tidak melalui posisi terendah bersejarah yang terlihat pada akhir Juni 2018. Demikian pula, mata uang utama emerging market Asia - termasuk rupiah Indonesia dan rupee India – masih tetap berada di atas rekor terendah. Perdagangan yuan Cina di pasar luar negeri juga melemah tetapi tetap di atas posisi terendah yang terlihat dalam seminggu terakhir.

Untuk blok EM secara keseluruhan, telah terjadi peningkatan tajam volatilitas yang berasal dari opsi mata uang EM - baik secara absolut dan relatif terhadap volatilitas yang tersirat dari mata uang ekonomi maju. Dengan pengecualian Turki, aksi jual pasar yang muncul telah mereda untuk sementara waktu. Ke depan, manifestasi utama risiko makro global akan bersumber dari valas. Kami melihat USD mulai stabil terhadap mata uang DM dan terus menguat terhadap mata uang EM dalam beberapa bulan mendatang. Ini bisa saja menyerupai ketenangan sebelum badai di 1998 dan 2008.

Eskalasi lebih lanjut ketegangan perdagangan dan risiko geopolitik masih dapat mendorong volatilitas. Demikian pula, volatilitas tersirat dari opsi indeks ekuitas EM telah meningkat tetapi tetap di bawah level tertinggi yang terlihat selama beberapa peristiwa mendekati krisis beberapa tahun terakhir. Di pasar kredit, imbal hasil obligasi perusahaan dan pemerintah EM dalam dolar AS telah meningkat selama beberapa bulan terakhir.

Realisasi defisit neraca berjalan Indonesia dalam neraca pembayarannya (BOP) melebar menjadi USD8 miliar, atau 3% dari PDB pada 2Q18, jauh di atas defisit USD5.7bn, atau -2.2% dari PDB di 1Q18. Defisit ini adalah yang tertinggi sejak 3Q14. Ke depan, pasar berharap CAB dapat mencatat defisit 2,0% dari PDB pada 2019 bilai perkiraan defisit 2,3% dari PDB pada tahu 2018 dapat terealisasi.

Selama kuartal kedua 2018, neraca perdagangan barang membukukan surplus bersih yang lebih kecil sebesar USD0.3bn, dari USD2.3bn di 1Q18, sementara akun layanan sedikit memburuk menjadi defisit USD1.8bn, dari USD1.5bn di 1Q18. Penurunan surplus neraca barang dan jasa dikaitkan dengan tingginya impor, yang melampaui ekspor - terutama impor barang modal dan barang mentah sejalan dengan pertumbuhan investasi yang kuat. Sementara itu, penurunan defisit pendapatan primer juga dicatat, terutama dipengaruhi oleh pembayaran dividen perusahaan yang lebih tinggi. Pada saat yang sama, pendapatan sekunder meningkat, di tengah kenaikan remitansi.

Neraca keuangan mencatat inflow bersih yang lebih tinggi sebesar USD4 miliar di 2018, dari USD2.4 miliar di periode 1Q18 berkat pengembalian investasi portofolio yang mencatat sedikit surplus serta peningkatan penarikan simpanan sektor swasta di bank-bank luar negeri. Akibatnya, neraca pembayaran mencatat defisit USD4.3bn, naik dari defisit USD3.9bn di 1Q18. Defisit dalam BOP akan berkontribusi pada penurunan cadangan devisa negara bersama dengan upaya menjaga stabilitas IDR. Diperkirakan cadangan Indonesia kemungkinan turun menjadi USD112 milyar di tahun 2018, dari USD130,2 miliar di tahun 2017.

Dibandingkan kesenjangan neraca transaksi berjalan yang harus ditutup Turki bernilai hampir US$ 60 miliar dibandingkan dengan US$ 76 miliar total cadangan valas di luar emas bulan Juni (data IMF), jelas Indonesia terlihat jauh lebih baik. Karena CBRT tidak dapat memainkan peran sebagai lender of last resort untuk periode waktu yang lama, stabilitas sumber keuangan lainnya menjadi sangat penting. Dengan neraca arus keuangan mencatatkan deficit seiring arus keluar portofolio - terutama aliran utang - selama beberapa bulan berturut-turut, kini pasar mencemaskan deplesi cadangan valas bank sentral Republik Turki (CBRT).

Cadangan devisa Turki (ex-gold) bertahan di angka 9,2% dari PDB – jauh di bawah cadangan hampir semua EM utama. Pada saat yang sama, cadangan valas hanya setara dengan 70% utang valas jangka pendek (jatuh tempo dalam 12m). Dengan demikian potensi risiko gagal bayar akan naik dan dorong peningkatan default utang atau obligasi perusahaan. Jika NPL meningkat dengan cepat sementara stabilitas tidak lekas pulih di pasar modal dan keuangan, situasi ini dapat menyebabkan konsekuensi rambatan dari pasar Turki ke EM. Adapun rambatan sentimen pasar atas Turki ke EM, termasuk Indonesia di tengarai lebih dimungkinkan dari transmisi (1) neraca transasksi berjalan dan (2) likuiditas valas. Dengan demikian dapat diperkirakan minggu-minggi ke depan di 3Q2018 akan dipenuhi dengan keprihatinan potensi risiko pemburukan krisis BOP Turki dan potensi rambatannya ke EM.

Download Publication
Data Source: Bloomberg, WEC, Bank Indonesia, Bisnis Indonesia, Reuters, FT, CNN Indonesia, CNBC, Investor Daily, Ipot News, BBC, Kompas, Antara News, Kontan.

Briefing Notes Update

Alternative text - include a link to the PDF!


ESELON I KEMENTERIAN KEUANGAN


KONTAK: Jl. Dr. Wahidin No. 1 Gd. R. M. Notohamiprodjo, Jakarta Pusat 10710
email: ikp@fiskal.depkeu.go.id

  Kurs Pajak : KMK Nomor 34/KM.10/2018,   USD : 14,478.00    AUD : 10,657.97    GBP : 18,575.08    SGD : 10,577.48    JPY : 13,053.76    EUR : 16,661.17    CNY : 2,113.87