Bedah Buku Subprime Mortgage Crisis dan Pelantikan Peng. Himpenindo Cab. Kemenkeu


Jakarta (28/05): Bertempat di Ruang Rapat Fiskal dan Analis Lt. 3 Gedung RM Notohamiprodjo, diadakan diskusi intern yang terdiri dari dua agenda besar yaitu yang pertama “Bedah Buku yang berjudul Subprime Mortgage Crisis Mengguncang Ekonomi Dunia: Cara Indonesia Bertahan” dan yang kedua “Pengukuhan dan Pelantikan Pengurus Himpenindo (Himpunan Peneliti Indonesia) Cabang Kementerian Keuangan”. Acara yang diadakan pada tanggal 28 Mei 2014 ini antara lain dihadiri oleh Sekretaris Badan Kebijakan Fiskal, Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI, Kapusbindiklat LIPI, Profesor-Profesor Riset dari beberapa Kementerian dan Lembaga, beberapa Pejabat BKF, Para Peneliti BKF dan  para pegawai BKF.

Acara dimulai dengan pembukaan oleh Sekretaris Badan Kebijakan Fiskal, Irfa Ampri yang mengatakan antara lain bahwa diskusi intern merupakan acara rutin yang diselenggarakan oleh BKF untuk memberikan kesempatan kepada para pegawai menyampaikan hasil-hasil penelitian/kajian mengenai isu-isu penting yang terkait dengan kebijakan fiskal agar mendapatkan pandangan atau masukan dalam meningkatkan kualitas kajiannya. Irfa juga menyampaikan apresiasi kepada Syahrir Ika yang sudah berhasil menyusun buku “Subprime Mortgage Crisis Mengguncang Ekonomi Dunia : Cara Indonesia Untuk Bertahan” dan mengharapkan agar prestasi ini diikuti oleh peneliti lainnya. Selain itu Sekretaris Badan juga mengharapkan agar Himpenindo dapat mendorong para peneliti atau anggota Himpenindo, untuk memberikan kontribusi yang signifikan dalam mendukung tugas dan fungsi Kementerian Keuangan, khususnya BKF, karena ada banyak sekali rancangan kebijakan yang harus dirumuskan dan membutuhkan dukungan kajian akademis yang merupakan areanya para peneliti. Beliau juga meminta kepada Pengurus Himpenindo, khususnya Cabang Kemenkeu, agar menjaga profesionalisme dalam melakukan kajian-kajian ilmiah, termasuk etika atau code of conduct yang merupakan jantung dari seorang professional, dapat membina kerja sama antara sesama peneliti, baik di lingkungan BKF maupun dengan peneliti-peneliti di Kementerian/Lembaga lain dan tentunya kerja sama antara Pengurus Cabang dan Pengurus Pusat Himpenindo dalam menjalankan misi Himpenindo.

Acara dilanjutkan dengan presentasi oleh Syahrir Ika yang mempresentasikan materi dalam bukunya yang antara lain berisi pengertian dari subprime motgage itu sendiri yang merupakan suatu jenis pembiayaan perumahan berbasis bunga rendah yang diberikan kepada kelompok masyarakat berpenghasilan rendah (subprime) dengan syarat yang sangat lunak. Syahrir juga menjelaskan mengapa program yang luhur ini menjadi gagal dan menyebabkan terjadinya krisis di Amerika Serikat bahkan sampai menjadi krisis dunia terutama terhadap negara-negara yang memiliki keterkaitan atau ketergantungan ekonomi dengan  perekonomi AS. Kegagalan ini terjadi karena kekurang hati-hatian dari para banker di Amerika Serikat dalam memberikan kredit di sektor properti. Selain itu, kegagalan ini juga didorong oleh “keserakahan” para banker tersebut untuk mendapatkan laba yang sebesar-besarnya dengan memanfaatkan suku bunga yang rendah dari the Fed. Ditambah lagi banyaknya investment banking yang memperjualbelikan derivative instrument yang juga jauh dari prinsip kehati-hatian. Akibatnya, pada akhir tahun 2006, sekitar 1,7 juta orang Amerika mengalami kehilangan rumah dan pada akhir 2008 meningkat menjadi 3,6 juta orang (terbanyak selama 37 tahun terakhir). Bubble di industri properti ini kemudian memicu krisis finansial di AS yang mengalami puncaknya pada tahun 2008. Krisis ini tidak hanya mengguncang Amerika, tetapi sampai ke Eropa, Asia termasuk Indonesia. Di Indonesia, efek yang dirasakan adalah IHSG di BEJ terkoreksi sampai dengan 50 persen dan nilai tukar rupiah melemah, banyak perusahaan melakukan PHK akibat kesulitan likuiditas (Pemerintah melaporkan sampai dengan akhir tahun 2009, ada sekitar 32 ribu pegawai yang di PHK), dan dari sisi fiskal, pertumbuhan ekonomi turun menjadi 4,2 persen, bea masuk turun sekitar Rp59 trilliun, PNBP turun sekitar Rp73 triliun, serta belanja negara turun 1,3 persen dari PDB karena turunnya subsidi energi.

Syahrir juga menjelaskan bagaimana cara Indonesia bertahan dari krisis tersebut dan pelajaran penting yang didapat dari krisis Subprime Mortgage, yaitu: i) kepemimpinan (strong leadership), ii) strategi dan koordinasi kebijakan fiskal-moneter, iii) bagi perbankan harus meningkatkan unsur kehati-hatian dalam memberikan pembiayaan kepada masyarakat, dan iv) menerapkan prinsip-prinsip GCG dan manajemen risiko secara konsisten dan berkesinambungan bagi dunia usaha.

Materi yang disampaikan oleh Syahrir kemudian di bahas oleh Mohammad Nasir, Peneliti PPRF sekaligus Kasubbid PISET Bidang Analisis Risiko BUMN, PPRF, BKF yang menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia patut mewaspadai perkembangan situasi keuangan saat ini terutama di sektor properti dan kendaraan bermotor (mobil dan sepeda motor) serta kondisi utang luar negeri terutama yang menyangkut utang luar negeri swasta. Data dari BI menyebutkan bahwa sangat banyak jumlah debitur KPR di Indonesia yang memiliki 3-5 KPR, kemudian sangat mudah nya memperoleh kredit kendaraan bermotor saat ini patut di waspadai oleh Pemerintah dan BI. Oleh karena harus ada aturan-aturan yang menjaga agar tidak terjadi bubble di sektor keuangan terutama properti dan kendaraan bermotor.

Selanjutnya Almizan Ulfa juga mempresentasikan artikelnya yang berjudul “Euforia Survei Politik dan Agenda Fiskal Kabinet 2014”. Dalam paparannya Almizan menjelaskan tentang keterkaitan antara keuangan negara, demokrasi, keterwakilan dan politik. Beliau juga menyampaikan hasil riset/pooling yang dilakukannya kepada sebagian peneliti BKF dan pegawai BKF terkait dengan agenda fiskal kabinet 2014 yang diinginkan oleh responden.

Acara kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab dari peserta yang umumnya memberikan apresiasi kepada Penulis yang telah berhasil menerbitkan buku yang sangat bagus serta pertanyaan mengapa Penulis meninggalkan (tidak membahas) tentang Bank Century dalam buku ini. Hal tersebut dijawab oleh penulis dengan mengatakan bahwa buku ini sengaja tidak membahas tentang Bank Century karena kondisi saat ini yang masih belum memungkinkan (sidang Century masih berjalan dan belum ada keputusan yang bersifat tetap) serta memberikan kesempatan kepada Peneliti lain untuk dapat menulis hal tersebut.

Agenda kedua acara dilanjutkan dengan pengukuhan dan pelantikan pengurus Himpenindo Cabang Kementerian Keuangan dan Kementerian Dalam Negeri yang dilakukan oleh Ketua Umum Himpenindo Prof. Dr. Ir. Bambang Subiyanto M.Sc. Acara didahului dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan dilanjutkan dengan pembacaan naskah pengukuhan oleh Sekjen Himpenindo Prof. Dr. Enny Sudarmonowati dan pembacaan sumpah sekaligus pengukuhan oleh Ketua Umum Himpenindo.

Adapun pengurus Himpenindo Cabang Kementerian Keuangan yang dilantik adalah Almizan Ulfa selaku Ketua, Hadi Setiawan selaku Sekretaris, Rita Helbra Tenrini selaku Bendahara, dan Purwoko, Agunan P. Samosir, Firdaus Rumbia, dan Sigit Setiawan selaku para Kepala Bidang. Acara kemudian ditutup dengan penutupan sekaligus pengarahan oleh Ketua Umum Himpenindo. (hs/rht)

  Kurs Pajak : KMK Nomor 24/MK.10/2019,   USD : 14,467.00    AUD : 9,986.60    GBP : 18,464.66    SGD : 10,527.61    JPY : 13,157.31    EUR : 16,163.37    CNY : 2,087.00