Pemerintah Terus Upayakan Iklim Investasi Indonesia yang Berkualitas


Jakarta (18/2) - Perekonomian Indonesia terus melanjutkan momentum pertumbuhan yang baik. Tahun 2018, ekonomi Indonesia memberikan prestasi yang cukup membanggakan. Kondisi ini memberi fondasi di tahun 2019, namun harus tetap waspada akan adanya potensi penurunan denga terus memastikan stabilitas pertumbuhan ekonomi ke depannya. Demikian disampaikan Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Suahasil Nazara, saat membuka sesinya di CIMB Niaga Client Gathering dengan tema Policy Updates and Asset Market Dynamics in 2019 di sebuah hotel bilangan Jakarta (18/2).

“Pertumbuhan yang baik ini juga didukung dari inflasi yang stabil selama empat tahun terakhir, yang berada di range 3,0% -3,5%. Ini merupakan modal utama iklim investasi Indonesia”, ungkap Suahasil Nazara.

Pemerintah terus memperkuat kualitas belanja dengan merealokasikan ke pengeluaran yang lebih produktif untuk pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. 

“Pertumbuhan ekonomi tidak bisa berdiri sendiri tanpa melihat tiga indikator kesejahteraan lain. Indikator ini juga harus semakin membaik. Kemiskinan dalam 10 tahun terakhir terus menurun, pengangguran menurun, ketimpangan juga menurun. Ini semua pemerintah upayakan melalui instrumen APBN”, lanjut Suahasil.

“Satu tantangan besar indonesia adalah external balance. Overheating terlihat di neraca pembayaran yang mencerminkan hubungan perekonomian kita dengan luar negeri. Current Account Deficit (CAD) melebar hingga 3%. Itu masih wajar. Karena bangun infrastruktur kalau kita tidak impor mau bagaimana? Contoh, kita mau buat pembangkit listrik, turbinnya harus impor karena dalam negeri kita belum bisa produksi sendiri”, tambah Suahasil ketika beralih topik pembahasan ke sektor keuangan.

Pendapatan masyarakat yang naik biasanya diikuti oleh impor yang turut serta naik. Hal ini merupakan penyakit struktural Indonesia. Solusinya, pemerintah akan lebih mendorong ekspor dan pariwisata untuk membantu neraca pembayaran dan berusaha menurunkan CAD. Meskipun demikian, Suahasil yakin bahwa Indonesia cukup solid di sektor keuangan.

Sedangkan dari ranah fiskal, defisit anggaran terhadap GDP  di tahun 2018 sebesar 1,76% lebih rendah dari target awal APBN sebesar 2,19%. Ini artinya kebutuhan pembiayaan anggaran lebih rendah atau dengan kata lain pemerintah berhutang lebih sedikit sehingga bondholder Indonesia seharusnya mendapatkan benefit.

“Melalui sejumlah kebijakan, pemerintah memberikan benefit kepada bondholder. Oleh karenanya sekarang adalah momen yang tepat untuk membeli bond. Jangan sampai menunggu terlalu lama dan terlewat momennya”, ujar Suahasil.

Capaian ini juga dibantu dengan prestasi penerimaan pajak tahun 2018 yang tumbuh sebesar 13%. Upaya ekstra dikerahkan internal Kementerian Keuangan khususnya Direktorat Jenderal Pajak disertai dengan tingkat kepatuhan para Wajib Pajak (WP) yang semakin membaik. Di samping itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak bahkan meningkat lebih tinggi yang disebabkan harga komoditas internasional yang meningkat.

“Pemerintah terus berupaya melakukan penyederhanaan izin dan peraturan untuk memperbaiki iklim investasi Indonesia”, tutup Suahasil. (fm/is)

  Kurs Pajak : KMK Nomor 24/MK.10/2019,   USD : 14,467.00    AUD : 9,986.60    GBP : 18,464.66    SGD : 10,527.61    JPY : 13,157.31    EUR : 16,163.37    CNY : 2,087.00