BKF Kulik Rahasia Sukses Menulis Artikel Populer dari Berbagai Pakar


Yogyakarta, (25/01): Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati pernah mengatakan bahwa sebagai teknokrat, pegawai Kementerian Keuangan perlu menjadi story teller yang baik agar seluruh kebijakan yang telah dibuat dapat dipahami dengan mudah oleh publik. Menurut Mohammad Al-Arief, Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Komunikasi Strategis dalam Workshop Penulisan Kajian dan Artikel di Yogyakarta, salah satu cara yang dapat ditempuh oleh Badan Kebijakan Fiskal untuk berkomunikasi dengan publik atau telling the story ialah melalui tulisan di media massa. Al-Arief, begitu ia biasa disapa, mengungkapkan agar pembaca dapat mengerti informasi yang hendak disampaikan, tulisan perlu dibuat singkat dan padat. Kuncinya ada pada penyederhanaan pesan.

Lebih lanjut, dari berbagai konten yang ada di media massa terutama cetak, opinion-editorial (op-ed) piece merupakan konten yang paling tepat digunakan sebagia media story telling. Ia pun memberikan beberapa tips untuk membuat tulisan pada op-ed piece, antara lain be timely, keep it short and sweet, be very opinionated, don’t share the obvious, develop an expertise on the subject matter, convey a strong link to your subject, add unknown facts, dan don’t comment on another commentary.

Sependapat dengan Al-Arief, Joko Tri Haryanto, Peneliti di Pusat Kebijakan Pembiayaan Perubahan Iklim dan Multilateral, BKF yang telah menelurkan 200 tulisan di berbagai media massa dalam kurun waktu 4 tahun, mengungkapkan bahwa timing atau isu yang sesuai dengan kondisi terkini dan narasi tajam dengan bahasa yang sederhana menjadi poin penting dalam membuat artikel di media massa. Tidak ketinggalan, pemilihan judul yang “bombastis” juga harus dipertimbangkan dengan seksama untuk menarik minat pembaca.

Yustinus Prastowo, Direktur Center of Indonesian Taxation Analysis (CITA) menambahkan bahwa dalam menulis artikel penulis perlu memahami karakteristik media dan pembacanya. Artikel yang ditulis harus memiliki daya pikat dan value di dalam narasinya.

Namun demikian, untuk menulis ada beberapa faktor penghambat yang perlu diperhatikan, seperti minimnya perbendaharaan kata, tidak ada motivasi, keengganan dalam mencari literatur, tidak percaya diri, dan kurang mengeksplorasi kemampuan diri.

Oleh karena itu, berlatih terus – menerus merupakan kunci. “Menulis merupakan suatu kegiatan yang bersifat learning by doing. Semakin intensif seseorang berlatih untuk menulis, maka kemampuan menulisnya juga akan semakin meningkat” terang Joko Tri menekankan. Selain itu, seseorang juga dituntut untuk membaca banyak tulisan atau artikel untuk memperoleh dan meningkatkan pemahaman terkait dengan cara mengutarakan ide dan gagasan dengan berbagai gaya bahasa. (is/pkppim)

  Kurs Pajak : KMK Nomor 24/MK.10/2019,   USD : 14,467.00    AUD : 9,986.60    GBP : 18,464.66    SGD : 10,527.61    JPY : 13,157.31    EUR : 16,163.37    CNY : 2,087.00