Indonesia Efta Comprehensive Economic Partnership Agreement


Untuk meningkatkan nilai ekspor, Indonesia secara aktif melakukan promosi dan menjalin kerja sama ekonomi dengan negara-negara mitra non-tradisional. Salah satu langkah nyata yang dilakukan oleh Indonesia adalah dengan membuka perundingan pembentukan kerja sama dengan negara-negara yang tergabung dalam The European Free Trade Association (EFTA) yakni Swiss, Norwegia, Islandia, dan Liechtenstein, yang diinisiasi pada bulan Juli 2010 dengan perundingan pertama pada awal Juli 2011. Penguatan hubungan ekonomi antara Indonesia dan negara-negara EFTA melalui Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (Indonesia-EFTA Comprehensive Economic Partnership Agreement, IECEPA) akan memungkinkan peningkatan dan diversifikasi perdagangan dan investasi dua arah. Sebagai pasar besar dengan daya beli tinggi, EFTA memiliki reputasi sebagai mitra perdagangan dan investasi jangka panjang yang terpercaya. EFTA merupakan kawasan terbesar kedua belas dan penyedia jasa komersial ketujuh terbesar di dunia. Selama sepuluh tahun terakhir, perdagangan barang EFTA meningkat lebih cepat daripada perdagangan dunia, baik dari segi ekspor maupun impor. Terlepas dari potensi tersebut, data menunjukkan bahwa arus perdagangan Indonesia dengan negara-negara EFTA cenderung masih belum optimal. Pada tahun 2008, nilai Ekspor Indonesia ke negara-negara EFTA (minus Liechtenstein) hanya sebesar USD480 juta. Nilai tersebut mengalami peningkatan signifikan selama hampir 1 dekade ini yakni bertumbuh sebesar 172,57% hingga mencapai nilai USD1,3 miliar pada tahun 2017. Akan tetapi nilai tersebut dipandang masih relatif kecil yakni hanya sebesar 0,25% dari total ekspor Indonesia.

Setelah melalui 15 putaran perundingan, akhirnya kedua negara menyepakati seluruh konten kerja sama dan menandatangani perjanjian pada tanggal 16 Desember 2018 di Jakarta. Dalam perjanjian tersebut, kedua negara menyepakati kerja sama terkait perdagangan barang, perdagangan jasa, investasi, perlindungan property right, dan transparansi terkait pengadaan publik.

Perdagangan barang masih menjadi salah satu bagian utama dalam kerja sama antara Indonesia dengan EFTA. Dalam kerja sama ini, kedua negara mengeliminasi atau mengurangi lebih dari 90% tarif terutama untuk produk-produk unggulan kedua pihak seperti perikanan, produk tekstil dan alas kaki, pertanian dan perkebunan termasuk minyak kelapa sawit, furnitur, mesin, elektronika dan farmasi. Hal ini menjadi sangat penting bagi Indonesia mengingat selama ini Indonesia masih bergantung pada keringanan tarif yang didapatkan melalui skema Generalized System of Preference (GSP).

Pada perdagangan jasa, disepakati perluasan akses pasar bagi para pekerja Indonesia (Intra Corporate Trainee, Trainee, Contract Service Supplier, Independent Professional, serta Young Professional) ke EFTA akan lebih terbuka. Dengan terbukanya akses menuju EFTA, terutama bagi Trainee dan Young Professional, maka akan tersedia kesempatan bagi tenaga-tenaga kerja muda Indonesia untuk memperkaya pengalaman dan memperdalam pengetahuan melalui pembelajaran di dunia kerja EFTA. Beberapa sektor jasa yang akan memperoleh keuntungan antara lain jasa profesi, telekomunikasi, keuangan, transportasi, dan pendidikan.

Kerja sama di bidang investasi merupakan bagian yang tidak kalah penting dari perjanjian antara Indonesia dengan EFTA. Negara-negara EFTA merupakan investor penting di luar negeri. Bersama-sama, mereka menjadi sumber penanaman modal asing (Foreign Direct Investment – FDI) ketiga terbesar dunia setelah Uni Eropa dan Amerika Serikat. FDI dari negara-negara EFTA dikenal kuat, terutama di sektor keuangan dan perbankan (Liechtenstein dan Swiss); telekomunikasi (Norwegia); farmasi, kimia dan plastik (Islandia dan Swiss); ekstraksi pertambangan dan migas (Norwegia); dan manufaktur dan jasa logistik. Banyak perusahaan multinasional besar yang bertempat di negara-negara EFTA, seperti Nestlé, Roche, Novartis, Statoil, Telenor, Yara International, DNB, UBS, ABB, Lafarge-Holcim, Zurich Financial Service, dan Syngenta. Sebagai upaya untuk menarik investasi tersebut, di dalam perjanjian Indonesia EFTA disepakati perlindungan bagi investor dari kedua negara dan diberikan jaminan bahwa negara tidak akan menerapkan perlakuan yang diskriminatif bagi investor dari masing-masing pihak, tentunya dengan sejumlah batasan dan policy space yang ditetapkan dalam perjanjian.

Melalui perjanjian ini, satu pintu kembali terbuka. Namun perjalanan belum usai. Perlu dilakukan berbagai upaya perbaikan di dalam negeri untuk dapat mengoptimalkan manfaat kerja sama IE CEPA. Menjadi tugas kita semua, baik Pemerintah, sebagai regulator dan pembina sektor,  maupun pelaku usaha, untuk memanfaatkan kesempatan tersebut, sehingga peningkatan daya saing, investasi, dan nilai ekspor dapat dicapai demi mewujudkan Indonesia yang makmur.

  Kurs Pajak : KMK Nomor 51/MK.10/2019,   USD : 14,017.00    AUD : 9,649.86    GBP : 18,001.75    SGD : 10,316.78    JPY : 12,853.50    EUR : 15,513.17    CNY : 2,002.09