Green Climate Fund saat ini merupakan penyalur dana penanggulangan dampak perubahan iklim terbesar di dunia. Dana yang terhimpun sampai akhir 2019 sudah mencapai USD 10,3 miliar. Meski demikian, seperti halnya berbagai sumber pembiayaan hijau, GCF seharusnya dipandang bukan sebagai sumber pembiayaan konvensional, melainkan peluang untuk membuat sebuah program atau proyek aksi iklim yang inovatif.
GCF akan membiayai proyek yang memiliki potensi dampak positif yang besar terhadap iklim, perubahan paradigma, dan pembangunan berkelanjutan, sesuai dengan kebutuhan negara yang bersangkutan, ada kepemilikan yang kuat dari negara yang bersangkutan, juga efektif dan efisien. Untuk bisa memenuhi aspek perubahan paradigma ini membutuhkan program yang inovatif, yaitu yang mampu menunjukkan potensi maksimal dari pergeseran pandangan menuju pembangunan berkelanjutan yang tahan terhadap perubahan iklim serta rendah karbon.
Karena itu, apabila sebuah proyek iklim sudah layak untuk dibiayai melalui skema pembiayaan konvensional, pemilik proyek biasanya akan memanfaatkan peluang pembiayaan yang sudah tersedia di perbankan dibandingkan mengakses pendanaan GCF, terutama mengingat proses yang akan ditempuh akan membutuhkan pembelajaran.
Secara umum, perbankan sering kali kurang tertarik membiayai proyek hijau atau proyek aksi perubahan iklim. Beberapa alasannya karena pertama, ketidaksiapan bank dalam membiayai proyek yang dinilai baru dan berisiko tinggi serta tidak memiliki jaminan pinjaman. Kedua, nilai proyek yang dianggap terlalu kecil bagi standar lembaga keuangan atau dikenal dengan istilah ‘unbankable’. Nilai proyek yang terlalu kecil (di bawah USD 100 juta misalnya) juga membuat proyek dinilai kurang layak secara komersial. Hal ini dikarenakan lembaga keuangan lokal maupun internasional menilai biaya uji tuntas (due diligence) yang tinggi dan tidak sebanding dengan nilai proyek yang diusulkan.
Selain itu, lembaga keuangan tertarik membiayai bila sudah ada kepastian kebijakan pemerintah yang memberi insentif, misalnya di sektor energi terbarukan melalui skema tarif khusus untuk pembelian listriknya. Di dalam kondisi di mana pemilik proyek tidak dapat mengakses pembiayaan perbankan dikarenakan faktor risiko dan ketidakpastian kebijakan, GCF dapat dijadikan sumber solusi pembiayaan inovatif.
Tantangan utama untuk program aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim adalah ketiadaan sumber dana berjangka panjang (lebih dari 5 tahun), rendahnya imbal hasil (rate of return), kurangnya kapasitas pelaksanaan dan pengetahuan para pemain di sektor ini, serta berbagai risiko lain. Sejumlah literatur ilmiah dan kajian oleh berbagai pusat riset di dunia, lembaga keuangan, serta survei menunjukkan bahwa secara umum tidak ada instrumen pembiayaan universal yang sesuai untuk semua proyek-proyek tersebut. Sedangkan, pilihan pembiayaan untuk proyek iklim secara umum ditentukan oleh banyak faktor seperti ukuran proyek, tipe investasi yang dipilih, ketersediaan instrumen pembiayaan, peran negara, dan dukungan lembaga keuangan.
Untuk menurunkan risiko yang tinggi dari proyek perubahan iklim agar sebuah proyek menjadi layak dibiayai oleh perbankan, atau dikenal dengan istilah de-risking, terdapat beberapa perangkat yang dapat digunakan oleh pemohon proyek untuk mengakses pendanaan perbankan antara lain:
Perangkat de-risking di atas beserta metode penurunan risiko lainnya bisa dilakukan dengan memanfaatkan dana GCF. Misalnya dalam proyek eksplorasi energi terbarukan panas bumi yang memiliki peluang keberhasilan kecil, maka GCF bisa membantu pemerintah dalam mengambil alih risiko tersebut. Salah satu contohnya adalah proyek Geothermal Resource Risk Mitigation Project (GREM) yang dibiayai oleh Pemerintah Indonesia, GCF, dan Bank Dunia, yang dikelola oleh PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) untuk melakukan eksplorasi potensi panas bumi di wilayah potensial Indonesia. Eksplorasi sumber energi panas bumi selain membutuhkan biaya besar juga memiliki risiko kegagalan yang cukup tinggi. Namun, bila proyek GREM ini nantinya mampu menemukan sumber panas bumi yang potensial, maka tahap eksploitasi dapat dibiayai oleh perbankan secara komersial karena memiliki tingkat kepastian yang lebih tinggi.
Dengan tersedianya berbagai perangkat de-risking ini, maka perbankan komersial akan bersedia terlibat dalam membiayai berbagai proyek iklim karena risiko yang akan mereka hadapi menjadi lebih kecil. Kredit komersial dari perbankan inilah yang perlu tetap dimanfaatkan sebagai sumber pembiayaan proyek setelah fase yang berisiko dari sebuah proyek didanai oleh instrumen de-risking GCF.
Kombinasi pembiayaan GCF dan perbankan dapat digunakan di dalam beberapa fase proyek tergantung dari profil risiko fase proyek. Apabila fase awal proyek dapat berjalan lancar dengan pembiayaan GCF, maka selanjutnya perbankan akan lebih terbuka atau berani terlibat memberikan pinjaman ke proyek iklim, atau setidaknya memperkenalkan proyek-proyek iklim ini ke lembaga keuangan yang sesuai. Bagi pemilik proyek iklim yang sebelumnya sudah menerima fasilitas de-risking GCF, NDA GCF menyarankan pemilik proyek untuk memanfaatkan pembiayaan komersial dari perbankan untuk pengembangan proyek iklim dan mereplikasi proyek tersebut.