Momentum Pemulihan Terus Dijaga, Langkah Pengendalian Pandemi Terus Diperkuat

SP – 20 /BKF/2021  


Jakarta, 5 Agustus 2021 – Kinerja ekonomi Triwulan II-2021 tumbuh positif tinggi sebesar
7,07% (yoy). “Pertumbuhan ini sesuai dengan prediksi sebelumnya oleh Kementerian
Keuangan. Hal ini membuktikan bahwa arah dan strategi pemulihan telah berjalan dan terjadi
secara nyata”, ungkap Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan, Febrio
Kacaribu.

Pemulihan ekonomi telah terjadi secara merata. Konsumsi, Investasi, Ekspor dan Impor
semuanya mengalami pertumbuhan yang tinggi. Keyakinan masyarakat untuk melakukan
aktivitas terus meningkat dan mendorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Aktivitas
investasi dan produksi juga mampu bergerak selaras dalam memperkuat tren pertumbuhan
ekonomi. Ekspor dan impor tumbuh sangat tinggi dan merupakan respon pelaku usaha dalam
memanfaatkan pemulihan ekonomi global. Dari sisi produksi, sektor-sektor unggulan nasional
seperti manufaktur, perdagangan, konstruksi dan transportasi mampu mencatat pertumbuhan
yang cukup kuat.

Peran pemerintah juga turut mendukung berlanjutnya pemulihan ekonomi dan
perbaikan indikator kesejahteraan masyarakat. Dukungan kebijakan fiskal melalui instrumen
APBN telah bekerja sangat keras mendukung upaya penanganan pandemi dan penguatan
pemulihan ekonomi. Kebijakan belanja countercyclical pemerintah, khususnya melalui
Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), telah on-track dalam melindungi masyarakat
miskin dan rentan terdampak, serta menstimulasi sektor usaha untuk kembali tumbuh positif
pada Triwulan II-2021.

Tren peningkatan kasus Covid-19 akibat dari munculnya varian Delta direspons dengan
cepat dan terukur agar potensi dampaknya dapat dimitigasi baik dalam melindungi masyarakat
maupun dalam menjaga momentum pemulihan ekonomi yang semakin menguat. Kebijakan
rem darurat dengan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Level 4 adalah
langkah perlu agar penularan Covid-19 tidak eskalatif dan kurva pandemi dapat kembali
menurun. Kebijakan restriksi mobilitas ini sifatnya sementara dan terus dievaluasi secara
periodik untuk disesuaikan level restriksinya sesuai perkembangan parameter pengendalian
pandemi.

Kinerja Ekonomi Sisi Pengeluaran
Tingkat penyebaran pandemi Covid-19 yang relatif terkendali hingga Mei 2021
merupakan aspek penting dalam pemulihan permintaan masyarakat. Indeks Keyakinan
Konsumen (IKK) untuk pertama kalinya sejak pandemi mampu kembali ke atas 100 pada April
(101,5), Mei (104,4), dan Juni (107,4). Selain itu, Indeks Penjualan Ritel (IPR) juga
menunjukkan keberlanjutan pemulihan konsumsi masyarakat sejak April dengan tumbuh positif
selama tiga bulan berturut-turut hingga Juni 2021. Sementara kebijakan fasilitas PPnBM
Ditanggung Pemerintah (DTP) untuk pembelian mobil juga cukup efektif dalam mendorong
aktivitas konsumsi kelas menengah.
Konsumsi Rumah Tangga pada Triwulan II mampu tumbuh 5,93% (yoy). Aktivitas
konsumsi masyarakat pada periode ini juga lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya atau
tumbuh 1,27% (qtq). Tingkat keyakinan masyarakat yang terus pulih serta momentum Bulan
Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri menjadi faktor utama pemulihan aktivitas konsumsi rumah
tangga. Selain itu, base effect atas pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang terdampak
cukup dalam pada Triwulan II-2020 juga berperan penting dalam tingkat pertumbuhan
komponen ini pada Triwulan II-2021.
Komponen Investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga mengalami
perbaikan pertumbuhan signifikan dari -0,23% di Triwulan I menjadi 7,54% (yoy) di Triwulan II2021. Perbaikan ini didukung oleh pertumbuhan bangunan sebagai kontributor utama

pertumbuhan investasi. Peningkatan aktivitas investasi ini sejalan dengan tren positif
pertumbuhan konsumsi semen, impor besi dan baja, serta impor barang modal yang masingmasing tumbuh 13,3%, 44,0%, dan 29,1% pada Triwulan II-2021 (yoy).
Peran APBN sebagai stimulus perekomian di masa pemulihan efektif dalam mendorong
pertumbuhan ekonomi di Triwulan II. Hingga Semester I-2021, realisasi belanja negara telah
mencapai Rp1.170,1 triliun atau meningkat 9,38% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Program PEN, termasuk program vaksinasi gratis, terus diakselerasi dalam menjaga
momentum pengendalian pandemi dan pemulihan ekonomi. Hal ini tercermin dalam
pertumbuhan konsumsi pemerintah yang mencapai 8,06% (yoy) di Triwulan II.
Kinerja perdagangan internasional Indonesia melonjak tajam, di mana ekspor dan impor
mampu tumbuh masing-masing 31,78% dan 31,22% (yoy). Perbaikan performa ekspor
didukung oleh tren peningkatan permintaan dari negara mitra dagang utama atas produk ekspor
nasional, seperti produk pertanian, pertambangan, maupun manufaktur seperti alas kaki,
pakaian, dan kendaraan bermotor.

Sementara itu, pertumbuhan impor yang tinggi menunjukkan adanya geliat aktivitas
produksi dalam negeri. Hal ini tercermin dari pertumbuhan impor bahan baku serta barang
modal yang secara nominal tumbuh masing-masing sebesar 57,8% dan 29,1% pada Triwulan
II-2021.

Kinerja Ekonomi Sisi Produksi
Seluruh sektor produksi mampu melanjutkan akselerasi pemulihan kuat dengan tumbuh
positif pada Triwulan II 2021. Sektor industri pengolahan yang memberikan kontribusi sebesar
20% terhadap PDB nasional mampu berperan sebagai mesin pertumbuhan dengan tumbuh
6,58% (yoy). Kinerja ini sejalan dengan tren PMI Manufaktur Indonesia yang selalu dalam zona
ekspansi (>50) di sepanjang Triwulan II, bahkan mencatatkan rekor tertinggi secara berturutturut pada April (54,6) dan Mei 2021 (55,3).
Sektor perdagangan juga mencatat pertumbuhan tinggi sebesar 9,44% (yoy), terutama
ditopang oleh pemulihan perdagangan global yang tercermin dari kinerja pertumbuhan tinggi
ekspor dan impor nasional. Peran pemerintah dalam memberikan stimulan dan insentif
terhadap dunia usaha, khususnya UMKM, turut mendorong perbaikan kinerja sektor ini.
Sektor konstruksi yang berperan penting dalam mendukung kinerja investasi bangunan
mampu tumbuh sebesar 4,42% (yoy). Kinerja konstruksi terutama didorong oleh keberlanjutan
pembangunan proyek infrastruktur strategis nasional, serta pemberian insentif pemerintah
terhadap sektor perumahan.

Sektor-sektor penunjang aktivitas pariwisata yang terdampak sangat dalam akibat
pandemi, juga menunjukkan peningkatan kinerja signifikan bahkan menjadi sektor dengan
akselerasi pertumbuhan tertinggi pada triwulan ini. Kombinasi arah pemulihan dan basis
perhitungan yang rendah mendorong kinerja Sektor transportasi dan pergudangan tumbuh
mencapai 25,10%, meningkat tajam setelah mengalami pertumbuhan -30,80% di Triwulan II
2020. Sementara itu, Sektor penyediaan akomodasi makan minum juga tumbuh sebesar
21,58%, menunjukkan perbaikan dari pertumbuhan -21,97% di Triwulan II 2020. 

Sektor lainnya yang mencatat peningkatan kinerja secara signifikan adalah sektor
pertambangan yang tumbuh 5,22% (yoy). Kinerja sektor ini didukung oleh pulihnya permintaan
global terhadap komoditas tambang utama nasional khususnya komoditas batubara dan
mineral logam. Tren peningkatan harga komoditas global juga turut mendukung geliat aktivitas
produksi pada sektor ini.

Arah Pemulihan Ekonomi Ke Depan
Arah pemulihan ekonomi nasional sangat berkaitan erat dengan progres penanganan
dan pengendalian pandemi Covid-19. Sejak pertengahan Juni 2021, perkembangan kasus
Covid-19 di Indonesia mengalami peningkatan akibat munculnya varian Delta yang menyebar
sangat cepat. Pemerintah merespon cepat dengan pemberlakuan pembatasan kegiatan
masyarakat (PPKM) Level 4 sejak tanggal 3 Juli 2021 dan baru saja diperpanjang hingga 9
Agustus 2021. Kebijakan tersebut merupakan upaya nyata pemerintah dalam memprioritaskan
penanganan pandemi demi menyelamatkan masyarakat Indonesia.
Implementasi PPKM bertujuan untuk mengurangi mobilitas masyarakat agar
penyebaran penularan kasus Covid-19 dapat dicegah dan jumlah kasus aktif Covid-19 dapat
segera diturunkan kembali. Hal ini memang di satu sisi berimplikasi tertahannya konsumsi
masyarakat yang sensitif terhadap mobilitas. Namun ini adalah langkah yang dibutuhkan untuk
mengendalikan pandemi agar pemulihan ekonomi dapat segera kembali berjalan.
Dengan implementasi PPKM yang efektif, momentum pertumbuhan konsumsi,
investasi, dan ekspor dapat terus terjaga dan membantu peran APBN dan Program PEN yang
masih tetap berjalan namun dorongannya akan terbatas jika sumber pertumbuhan lainnya
terganggu. Pemerintah melalui instrumen APBN terus melindungi masyarakat yang terdampak
oleh eskalasi kasus pandemi dengan melakukan realokasi belanja non-prioritas dan
meningkatkan alokasi anggaran kesehatan yang difokuskan pada penguatan sistem kesehatan
untuk penanganan pandemi dan vaksinasi. Selain itu, belanja perlindungan sosial juga
diperluas dan diperpanjang untuk menjangkau masyarakat yang paling rentan terdampak guna
tetap mampu memenuhi kebutuhan pokoknya.

Arah pemulihan sektor usaha strategis seperti sektor industri pengolahan, sektor
transportasi pergudangan, serta sektor penyediaan akomodasi dan makan-minum juga sangat
bergantung pada sisi pengendalian Covid-19. Oleh karena itu, peran serta masyarakat sangat
penting dalam mendorong kedisplinan 5M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak,
menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas) guna mengurangi risiko penyebaran virus
Covid-19. Pemerintah akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkelanjutan
terhadap efektivitas pelaksanaan PPKM dalam mengendalikan penularan Covid-19 dan secara
bertahap kembali melonggarkan restriksi sesuai capaian parameter tingkat pengendalian
pandemi.

“Ke depan, pemerintah akan tetap fokus pada langkah-langkah antisipatif dan responsif
dalam menekan penyebaran pandemi Covid-19, terutama dengan mengakselerasi
pelaksanaan vaksinasi dan memperkuat 3T (testing, tracing, treatment). Sinergi kebijakan baik
fiskal, sektor keuangan dan moneter juga terus diperkuat untuk mewaspadai dampak negatif
yang mungkin terjadi dari eskalasi kasus Covid-19 yang disebabkan oleh munculnya varian
baru di berbagai belahan dunia”, tutup Febrio. 

Narahubung Media:

Endang Larasati
Kepala Bagian Informasi dan Komunikasi Publik
Badan Kebijakan Fiskal
Kementerian Keuangan
ikp.bkf@kemenkeu.go.id

Baca