Pengendalian Pandemi Berdampak Positif pada Perekonomian dan Kesejahteraan Masyarakat
SP – 36 /BKF/2021
Jakarta, 1 November 2021 – Indikator aktivitas manufaktur Purchasing Managers Index (PMI) bulan Oktober 2021 mencapai rekor tertinggi sejak survei dimulai pada April 2011. PMI Manufaktur konsisten menuju arah pemulihan ekonomi yang terus menguat pada angka 57,2 setelah sebelumnya berada pada 52,2 di bulan September dan di 43,7 pada bulan Agustus. “Angka tersebut menggambarkan kondisi usaha yang terus membaik di seluruh sektor manufaktur Indonesia. Penurunan kasus Covid-19 yang berakibat pada pelonggaran pembatasan aktivitas disinyalir telah menyebabkan peningkatan aktivitas sektor manufaktur bulan Oktober”, ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu.
Per 31 Oktober 2021, kasus harian rata-rata sudah kembali ke tiga digit di angka 523 kasus harian dengan total 12.318 kasus aktif. Angka rata-rata vaksinasi harian juga sangat menggembirakan yaitu mencapai 2 juta suntikan per hari. Saat ini, sudah 73.806.588 orang yang mendapatkan vaksinasi lengkap atau setara dengan 35,44% dari total target 208.265.720 orang untuk mendapatkan kekebalan kelompok. Peningkatan situasi penanganan pandemi ini merupakan hasil kerja keras semua pihak dalam penanganan pandemi. Program Pemulihan Ekonomi Nasional menunjukkan kenerja yang cukup baik dengan tercatat mencapai Rp433,91 T atau sebesar 58,3% dari alokasi Rp744,77 T hingga 22 Oktober 2021. Anggaran PEN digunakan untuk klaster kesehatan sebesar Rp214,96 triliun, klaster perlindungan sosial Rp186,64 triliun, klaster UMKM dan korporasi sebesar Rp162,4 triliun, klaster insentif usaha sebesar Rp62,83T, serta klaster program prioritas sebesar Rp117,94 triliun.
Output dan Permintaan Baru mencatatkan rekor di bulan Oktober seiring dengan membaiknya situasi Covid-19. Namun demikian, Permintaan Ekspor Baru masih mengalami kontraksi karena adanya gangguan pandemi dan hambatan pengiriman (shipping) yang terus mempengaruhi permintaan ekspor. Permintaan yang menguat membuat perusahaan manufaktur memperluas kapasitas operasi dengan meningkatkan jumlah tenaga kerja untuk pertama kali dalam empat bulan. Namun demikian, akumulasi penumpukan pekerjaan masih sedikit meningkat karena kenaikan tenaga kerja belum dapat menutupi tingginya kenaikan
permintaan.
Baik kuantitas maupun stok pembelian mencatatkan kenaikan yang mencetak rekor. Sementara itu, stok barang jadi menurun karena tingginya permintaan belum dapat diikuti dengan kenaikan input. Kurangnya pasokan menyebabkan terjadinya inflasi input dalam delapan tahun terakhir, dengan banyak perusahaan menyebutkan kenaikan biaya bahan baku. Kenaikan inflasi input ini membuat perusahaan meneruskan sebagian beban biaya kepada klien sehingga biaya output juga tercatat meningkat, meski lebih lambat dibandingkan September.
Secara umum, sentimen bisnis secara keseluruhan membaik didorong harapan atas terus memulihnya situasi Covid-19. “Untuk itu, Pemerintah harus terus mempertahankan kerja kerasnya terkait penanganan Covid-19 dan vaksinasi agar kasus terus terkendali, terutama dengan adanya libur Natal di depan. Kerja sama masyarakat untuk tetap menjalankan protokol kesehatan juga harus terus didorong untuk mendukung pemulihan sektor manufaktur lebih lanjut”, sambung Febrio.
Laju inflasi Oktober tercatat 1,66% (yoy), meningkat dari angka September 1,60% (yoy), dipengaruhi oleh naiknya inflasi administered price seiring mobilitas masyarakat yang meningkat di tengah masih tumbuh terbatasnya inflasi inti dan melambatnya inflasi volatile food. Secara bulan ke bulan, terjadi inflasi sebesar 0,12% (mtm) sehingga kumulatif mencapai 0,93% (ytd). Secara spasial, 68 kota mengalami inflasi dan 22 kota mengalami deflasi.
Inflasi inti mulai meningkat meski masih terbatas, yaitu mencapai kisaran 1,33% (yoy)(September: 1,30%). Kebijakan pelonggaran PPKM secara bertahap mendorong peningkatan mobilitas masyarakat, baik di dalam daerah maupun antardaerah. Hal ini berdampak pada peningkatan permintaan masyarakat secara umum. Beberapa kelompok pengeluaran mengalami tren kenaikan inflasi, seperti pada kebutuhan sandang, jasa perumahan, perlengkapan rumah tangga, dan transportasi. Di sisi lain, juga terdapat perlambatan terbataspada kesehatan, pendidikan, dan penyediaan makanan dan minuman atau restoran.
Inflasi volatile food mengalami penurunan, mencapai 3,16% (yoy), turun dari angka September 3,51% (yoy) dipengaruhi penurunan harga pangan, seperti telur ayam ras dan sayur-sayuran. Anjloknya harga telur disebabkan oleh pasokan telur secara nasional masih surplus karena penyerapan yang belum maksimal akibat berbagai pembatasan kegiatan. Harga sayuran pun menurun karena melimpahnya stok akibat faktor panen. Di sisi lain, peningkatan harga terjadi juga pada komoditas cabai merah, daging ayam ras, serta minyak goreng. Hargaminyak goreng meningkat tajam akibat harga Crude Palm Oil (CPO) global yang masih dalam tren meningkat. Pemerintah berkomitmen untuk menjaga akses pangan masyarakat miskin dan rentan dengan melakukan penyaluran bantuan sosial pangan serta melakukan stabilisasi harga pangan pokok, terutama beras. Pemerintah Pusat dan Daerah juga terus memantau potensi kenaikan harga pangan di akhir tahun mengingat faktor masuknya musim penghujan dan momen perayaan Natal dan liburan akhir tahun.
Inflasi administered price (AP) melanjutkan tren peningkatan mencapai 1,47% (yoy), naik dari September 0,99% (yoy). Naiknya inflasi komponen ini didorong oleh dampak peningkatan tarif angkutan udara seiring mobilitas masyarakat antardaerah yang mulai meningkat. Selain itu, komponen AP dipengaruhi oleh dampak kenaikan harga rokok kretek filter dan bensin nonsubsidi (Pertamax Turbo dan Dex) meskipun relatif kecil. Dalam masa pemulihan ekonomi, Pemerintah tetap konsisten untuk mendukung terjaganya harga energi domestik untuk menjaga momentum pemulihan konsumsi dan menjaga daya beli masyarakat.
Melihat perkembangan hingga Oktober, inflasi berpotensi menguat secara bertahap seiring dengan perkembangan positif mobilitas masyarakat pasca pelonggaran PPKM. Natal dan Tahun Baru serta liburan akhir tahun menjadi momen peningkatan konsumsi sehingga dapat mendorong kenaikan inflasi. Selain itu, risiko kenaikan harga pangan akan mendorong tekanan inflasi. Outlook inflasi 2021 diperkirakan dapat mencapai 1,8% (yoy). “Seiring dengan peningkatan mobilitas, Pemerintah mengantisipasi terjadinya ledakan mobilitas yang dapat berisiko penularan wabah Covid-19 dengan menghapus cuti bersama akhir tahun dan memperketat syarat perjalanan antardaerah”, tutup Febrio.
Narahubung Media:
Endang Larasati
Kepala Bagian Informasi dan Komunikasi Publik
Badan Kebijakan Fiskal
Kementerian Keuangan
ikp.bkf@kemenkeu.go.id