Pemerintah Jaga Stabilitas Ekonomi melalui Dukungan bagi Sektor Manufaktur dan Pengendalian Inflasi di Tengah Tantangan Global

SP – 6 /BKF/2025    


Jakarta, 3 Maret 2025 – Indeks PMI Manufaktur Indonesia terus menunjukkan tren positif. Pada Februari 2025, PMI Manufaktur Indonesia meningkat ke level 53,6 (Januari:51,9), tertinggi dalam 11 bulan terakhir. Secara global, PMI Manufaktur Indonesia menjadi yang tertinggi setelah India. Peningkatan ini didorong oleh lonjakan pesanan baru, serta peningkatan produksi dan aktivitas pembelian yang lebih baik. “Meskipun perekonomian global dan situasi geopolitik saat ini membawa tantangan besar dan sulit diprediksi, capaian ini memberikan harapan bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah tetap antisipatif terhadap perubahan kondisi global dan terus memperkuat kebijakan untuk mendukung sektor manufaktur serta mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Febrio Kacaribu, Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan.

Selain manufaktur, indikator konsumsi domestik juga masih menunjukkan ketahanan di tengah berbagai tantangan global. Indeks Kepuasan Konsumen (IKK) tercatat di level 127,2 pada Januari, dan diharapkan masih akan ekspansif di tengah tantangan yang ada. Sementara itu, Indeks Penjualan Ritel (IPR) tetap tumbuh 0,4% pada periode yang sama, mencerminkan aktivitas daya beli masyarakat yang masih terjaga. Perkembangan ini memberikah harapan bahwa konsumsi domestik masih dapat menjadi pilar dalam mendukung stabilitas harga dan menjaga kepercayaan konsumen untuk pertumbuhan ekonomi lebih tinggi.

Sejalan dengan tren global, sebagian besar negara juga mengalami perbaikan PMI meskipun masih dalam zona kontraksi. Sementara, negara mitra dagang utama Indonesia mencatatkan ekspansi, seperti di Amerika Serikat (51,6); China (50,8); dan India (57,1), menunjukkan permintaan global yang tetap solid. Namun, ketidakpastian ekonomi global serta dinamika geopolitik tetap menjadi faktor yang perlu di waspadai.

Pada Februari 2025 terjadi deflasi 0,09% (yoy), sebagian besar dipengaruhi oleh program diskon tarif listrik 50% pada Januari dan Febuari 2025. “Diskon tarif listrik yang diberikan akan menyebabkan angka inflasi yang rendah dalam beberapa bulan ke depan. Program ini merupakan bagian dari serangkaian paket kebijakan stimulus ekonomi yang diberikan untuk menjaga daya beli masyarakat,” lanjut Febrio.

Kebijakan program diskon tarif listrik berdampak pada tren deflasi komponen Administered Price. Pada Februari, komponen ini mengalami deflasi 9,02% (yoy). Di sisi lain, inflasi masih tercatat pada tarif air minum PAM dan rokok. Untuk komponen inflasi inti, tren penguatan masih berlanjut mencapai 2,48% (yoy) yang didorong oleh kelompok perawatan pribadi dan rekreasi. Perkembangan inflasi inti diekspektasikan menjadi sinyal daya beli yang terjaga. Sementara, pada komponen inflasi pangan bergejolak mulai melandai yang dipengaruhi oleh harga pangan yang terus terkendali, mencapai 0,56% (yoy). Inflasi pangan diperkirakan terus stabil seiring mulai masuknya panen raya padi dan peningkatan produksi hortikultura.

Pemerintah terus berkomitmen mengimplementasikan berbagai kebijakan untuk menjamin keterjangkauan harga pangan di masa Ramadan, seperti operasi pasar, gerakan pasar murah, serta fasilitasi dan pengawasan distribusi. Selain itu, seiring dengan masuknya masa panen raya padi, Pemerintah juga akan terus menjaga level harga gabah untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Untuk menopang daya beli masyarakat atas kebutuhan transportasi, insentif seperti diskon tarif tol dan PPN DTP tiket pesawat diberikan pada momentum Ramadan dan IdulFitri tahun ini. Kebijakan ini diharapkan turut memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk dapat berkumpul dengan keluarga merayakan Idulfitri, di samping memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi.



Narahubung Media:
Endang Larasati
Kepala Bagian Informasi dan Komunikasi Publik
Badan Kebijakan Fiskal
Kementerian Keuangan 
ikp.bkf@kemenkeu.go.id

Baca