Analisis Investasi China ke Indonesia Sebelum dan Sesudah ACFTA

Penulis: Pusat Kebijakan Ekonomi Makro (2014)

Hubungan Indonesia-China sudah dimulai berabad-abad. Hubungan di antara kedua negara mengalami pasang surut akibat perbedaan sosial dan politik kedua negara. Khusus mengenai hubungan ekonomi perdagangan antara Indonesia dan China, sebelumnya dijalankan melalui beberapa saluran/negara perantara seperti Singapura dan Hongkong. Setelah China membuka diri dalam perdagangan internasional  kemudian berubah dan  berangsur-angsur terjadi perdagangan terbuka dan langsung. Kedudukan China sekarang berubah menjadi negara industri, yang mendekati kemajuan seperti halnya Jepang dan Korea Selatan. Indonesia harus dapat memanfaatkan kemajuan ekonomi dan industrialisasi China, yang membutuhkan banyak bahan industri, seperti minyak sawit (CPO) , karet, kayu, dan bahan mentah lainnya.  Sektor-sektor lain yang banyak dibutuhkan negara ini antara lain adalah sektor energi, pangan, tambang dan produk-produk  pertanian lainnya.

Pertumbuhan ekonomi negara China dekade terakhir yang sangat cepat, memberikan peluang sekaligus menjadi tantangan bagi negara kita.  Demikian pula jumlah penduduk yang sangat besar mengakibatkan konsumsi dalam negeri cukup tinggi. Hal inilah yang merupakan peluang  dan tantangan serta strategi ekonomi Indonesia ke depan.

File Terkait

DISCLAIMER

Kajian/tulisan yang ditampilkan dalam halaman ini merupakan pendapat akademis penyusun dan tidak mewakili kebijakan/pendapat dari Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal, Kementerian Keuangan, Republik Indonesia.

The studies / writings displayed on this page are the compilers' academic opinions and do not represent the policies / opinions of the Directorate General of Economic and Fiscal Strategy, Ministry of Finance, Republic of Indonesia.