Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I Tahun 2021 Kian Menguat

Jakarta, 5 Mei 2021 – Pada Triwulan I 2021, perekonomian nasional menunjukkan pemulihan yang solid dengan tumbuh -0,74% (YoY). Peningkatan pertumbuhan ekonomi terjadi secara konsisten sejak perekonomian menghadapi guncangan akibat pandemi Covid-19 dan mengalami kontraksi pada Triwulan II 2020. Ini sejalan dengan langkah penanganan pandemi yang semakin baik. Sejak Januari, tambahan kasus Covid-19 harian terus mengalami penurunan seiring progres program vaksinasi dan berbagai program pemulihan yang dijalankan dengan konsisten.

Pemulihan ekonomi menghasilkan penciptaan lapangan pekerjaan. Sampai dengan Februari 2021, tingkat pengangguran berhasil ditekan menjadi 6,26% dari 7,07% di bulan Agustus 2020. Penciptaan lapangan kerja ini didukung oleh berbagai program termasuk Kartu PraKerja yang telah diberikan kepada 5,5 juta orang di 514 kabupaten/kota di sepanjang 2020, jauh melebihi target sebelumnya sebesar 2 juta orang.

APBN terus bekerja keras sebagai instrumen kebijakan mendukung pemulihan ekonomi. Upaya penanganan Covid-19 dan vaksinasi gratis, serta program Pemulihan Ekonomi Nasional makin diintensifkan. Tingkat penyerapan belanja negara di Triwulan I tumbuh sebesar 15,6% (YoY), termasuk realisasi Program PEN yang mencapai Rp134,1 triliun, atau 19,2% pagu (hingga 16 April 2021), yang mencakup belanja penanganan kesehatan, perlindungan sosial, dan dukungan bagi UMKM dan korporasi.

Pemulihan ekonomi juga terjadi secara global dan berdampak pada kinerja ekspor nasional. Aktivitas manufaktur global terus mengalami penguatan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur global April 2021 sebesar 55,8 tertinggi sejak April 2010. Harga komoditas global kembali meningkat bahkan secara umum lebih tinggi dari level sebelum pandemi.

Dari sisi pengeluaran, Konsumsi Pemerintah, Ekspor, dan Impor terus menguat dan tumbuh positif, Konsumsi Rumah Tangga dan Investasi juga menguat walaupun masih kontraktif. Konsumsi Pemerintah tumbuh positif 2,96% (YoY) didorong oleh pelaksanaan APBN yang ekspansif dan akseleratif. Realisasi belanja APBN difokuskan untuk pelaksanaan Program PEN yang mampu menahan laju pemburukan sekaligus menstimulasi aktivitas ekonomi.

Konsumsi Rumah Tangga tumbuh -2,23% (YoY), meningkat dibanding Triwulan IV-2020 yang sebesar -3,61% (YoY). Arah pemulihan kinerja konsumsi akan terus meningkat sejalan progres penanganan Covid-19 dan pelaksanaan vaksinasi. Optimisme dan kepercayaan masyarakat untuk kembali melakukan aktivitas, tercermin dari tren perbaikan Indeks Penjualan Ritel (IPR) dan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) bulan Maret 2021. Belanja perlindungan sosial turut menjaga stabilitas daya beli masyarakat miskin dan rentan. Sementara itu, konsumsi masyarakat kelas menengah atas menunjukkan peningkatan ditunjukkan oleh pertumbuhan positif konsumsi perumahan dan perlengkapan rumah tangga, perbaikan konsumsi pakaian serta konsumsi transportasi. Kebijakan relaksasi PPnBM kendaraan secara nyata menstimulasi peningkatan konsumsi transportasi dan komunikasi menjadi -4,24% (YoY) dari -9,45% di triwulan IV 2020, yang terkonfirmasi dari peningkatan penjualan kendaraan di bulan Maret 2021.

Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menunjukkan pemulihan yang kuat dengan tumbuh -0,23% (YoY), triwulan sebelumnya -6,15% (YoY). Arah pemulihan ekonomi secara global serta pelaksanaan vaksinasi yang masif memberikan optimisme dunia usaha untuk kembali melakukan ekspansi usaha. Hal ini terlihat dari peningkatan komponen mesin dan perlengkapan serta kendaraan yang telah mencatat pertumbuhan positif masing-masing sebesar 3,38% dan 2,08% (YoY). Penjualan kendaraan niaga, merupakan komponen investasi, meningkat pesat didorong kebijakan diskon pajak dan keringanan uang muka untuk kendaraan bermotor. Berbagai proyek pembangunan fisik juga kembali dilanjutkan setelah sempat tertunda di tahun 2020. Dukungan APBN turut mendorong perbaikan komponen investasi ini melalui belanja modal pemerintah di Triwulan I yang tumbuh signifikan sebesar 186,2% (YoY), utamanya untuk pembangunan proyek infrastruktur dasar dan konektivitas.

Tren peningkatan kinerja perdagangan internasional Indonesia juga terus berlanjut. Komponen ekspor tumbuh kuat sebesar 6,74% (YoY) seiring pemulihan ekonomi mitra dagang utama yang mendorong kenaikan permintaan ekspor produk-produk unggulan domestik. Perbaikan harga komoditas global juga menjadi faktor pendukung peningkatan kinerja ekspor komoditas utama, seperti CPO dan batubara. Sementara itu, kinerja Impor juga kembali tumbuh positif 5,27% (YoY) setelah mengalami kontraksi delapan triwulan berturut-turut. Kinerja positif impor ini menunjukkan pulihnya aktivitas produksi dan peningkatan permintaan domestik, seiring kenaikan impor bahan baku dan impor barang modal.

Dari sisi produksi, berbagai sektor ekonomi terus menunjukkan pemulihan yang menggembirakan. Sektor pertanian mampu mempertahankan kinerja positif dengan tumbuh sebesar 2,95%, lebih tinggi dibanding pertumbuhan empat triwulan sebelumnya. Kondisi cuaca yang lebih kondusif berdampak pada peningkatan hasil panen, khususnya pada kelompok tanaman pangan. Sektor informasi dan komunikasi juga masih terus mencatatkan pertumbuhan yang tinggi, yaitu sebesar 8,72%. Aktivitas sekolah dan bekerja dari rumah serta aktivitas konsumsi tetap dapat berjalan ditopang oleh sektor informasi dan komunikasi ini.

Sektor manufaktur sebagai kontributor paling dominan di perekonomian nasional melanjutkan tren pemulihan. Sektor manufaktur tumbuh -1,38% (YoY), lebih tinggi dibandingkan pada Triwulan IV 2020 sebesar -3,1%. Tren positif ini sejalan dengan indikator PMI Manufaktur Indonesia yang terus membaik dalam lima bulan terakhir. Perbaikan kinerja manufaktur terutama didorong oleh peningkatan kinerja industri yang permintaannya sangat tinggi di tengah pandemi, seperti industri kimia dan farmasi serta industri makanan minuman yang tren pertumbuhannya terjaga di masa pandemi.

Sejalan dengan aktivitas manufaktur, sektor perdagangan juga menunjukkan tren yang senada, yakni tumbuh -1,23%, jauh membaik dari Triwulan IV-2020 yang sebesar -3,64%. Tren pemulihan konsumsi masyarakat serta dukungan pemerintah terhadap dunia usaha dan UMKM semakin menstimulasi perbaikan sektor ini. Hal ini juga menunjukkan pemulihan sektor ritel yang sudah mendekati level sebelum pandemi.

Perbaikan yang signifikan dialami oleh sektor konstruksi, yang mulai mendekati teritori positif sejalan dengan kinerja PMTB. Sektor ini mampu tumbuh sebesar -0,79% atau meningkat signifikan dibandingkan Triwulan IV-2020 yang sebesar -5,67%. Perbaikan kinerja sektor konstruksi terkonfirmasi dari perbaikan indikator utama investasi bangunan seperti konsumsi semen dan importasi besi dan baja yang sudah tumbuh positif. Kinerja sektor ini juga didukung oleh keberlanjutan penyelesaian Proyek Strategis Nasional (PSN) yang sempat tertunda.

Sektor-sektor yang terkait dengan mobilitas masyarakat dan aktivitas pariwisata mengalami peningkatan terbatas. Sektor Transportasi dan Pergudangan tumbuh -13,12%, sedikit membaik dibanding Triwulan IV-2020 sebesar -13,42%. Sektor Penyediaan Akomodasi Makan Minum mencatat perbaikan dengan tumbuh -7,3% dibanding triwulan sebelumnya yang Hal 3/3 -8,88%. Arah kinerja sektor ini relatif tertahan sejalan dengan tingkat mobilitas masyarakat yang melambat di awal tahun namun sudah kembali membaik sejak bulan Maret 2021.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu mengungkapkan “Kinerja ekonomi pada Triwulan I 2021 mengindikasikan tren pemulihan yang solid dan optimisme ekonomi pasca pandemi. Angka penambahan kasus positif Covid-19 harus dijaga terus menurun dan pelaksanaan program PEN terus diperkuat dan semakin terarah untuk mendukung dunia usaha dalam menciptakan lapangan pekerjaan”. Kewaspadaan dan langkah antisipatif harus dijaga mengingat pandemi belum sepenuhnya usai. Kasus yang terjadi di India yang mencatat rekor tertinggi hingga mencapai 400 ribu kasus per hari harus menjadi pelajaran berharga buat kita semua. Upaya pembukaan aktivitas ekonomi perlu dilaksanakan secara lebih hati-hati dan memperhatikan disiplin terhadap protokol kesehatan.

“Sejalan dengan itu, Pemerintah secara konsisten terus memperkuat langkah pemulihan ekonomi melalui faktor yang menjadi game changer melalui penanganan pandemi, dukungan kepada sektor riil, dan kebijakan reformasi struktural. Langkah penanganan di bidang kesehatan tetap menjadi prioritas utama untuk mengatasi sumber guncangan”, tambah Febrio. Hal ini mencakup program vaksinasi gratis bagi sekitar 181,5 juta orang yang diharapkan mampu mencapai herd immunity pada awal 2022. Selain itu, upaya penguatan dan penegakan disiplin protokol kesehatan juga terus dilakukan baik dengan 3M (mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak), maupun upaya TLI (Tes, Lacak, dan Isolasi) yang komprehensif.

Pemerintah juga terus memberikan survival and recovery kit melalui Program PEN yang secara konsisten mengakselerasi pemulihan ekonomi. Hingga 30 April 2021, program PEN sudah terealisasi sebesar Rp155,63 T atau 22,3% dari pagu anggaran PEN 2021, mencakup program perlindungan sosial sebesar Rp49,07 T atau sekitar 32,7% dari pagu. Sementara itu, dukungan kepada UMKM dan korporasi serta insentif usaha masing-masing telah terealisasi sebesar Rp40,23 T (20,8% dari pagu) dan Rp26,20 T (46,2% dari pagu). Ke depan, penyaluran PEN akan terus dipercepat guna mendorong kinerja perekonomian kembali ke zona positif.

Kebijakan reformasi struktural yang telah dimulai dengan implementasi Undang-undang Cipta Kerja dan pembentukan Indonesia Investment Authority (INA) terus dioptimalkan. Hal ini bertujuan untuk mempercepat pembukaan lapangan kerja berkualitas, pemberdayaan UMKM, serta reformasi birokrasi untuk kemudahan berusaha. Momentum reformasi justru terus diperkuat dalam fase pemulihan ekonomi sehingga diharapkan proses pemulihan ekonomi yang diikuti dengan peningkatan kapasitas produksi nasional dalam jangka menengah-panjang.

Dengan berbagai langkah kebijakan yang responsif dan antisipatif, serta konsistensi pelaksanaan reformasi struktural, Pemerintah meyakini bahwa kinerja pertumbuhan ekonomi diprediksi akan kembali pada zona pertumbuhan positif sejak triwulan II 2021. Hal ini terutama dipengaruhi oleh dua faktor, yakni proses pemulihan dan normalisasi ekonomi yang terus berlangsung serta faktor technical rebound akibat baseline yang relatif rendah saat awal masa pandemi (mulai triwulan II 2020). Hal ini akan mendukung pencapaian kinerja ekonomi Indonesia di tahun 2021 yang diprediksi berada pada rentang 4,5 – 5,3%.

 

Narahubung Media:

Endang Larasati
Kepala Bagian Informasi dan Komunikasi Publik
Badan Kebijakan Fiskal
Kementerian Keuangan
ikp.bkf@kemenkeu.go.id

Baca