Surplus Neraca Pembayaran 2021 Semakin Menguatkan Pemulihan
SP-11/BKF/2022
Surplus Neraca Pembayaran 2021 Semakin Menguatkan Pemulihan
Jakarta, 19 Februari 2022 – Secara keseluruhan di tahun 2021, Neraca Pembayaran Indonesia menunjukkan kinerja yang sangat positif dengan mencatatkan surplus sebesar USD13,5 miliar (1.13% PDB), meningkat signifikan dibandingkan surplus tahun sebelumnya sebesar USD2,6 miliar. Kinerja positif ini didorong oleh perbaikan Neraca Transaksi Berjalan yang mencatatkan surplus sebesar USD3,3 miliar (0,3% PDB), dibandingkan tahun sebelumnnya yang mengalami defisit sebesar USD4.4 miliar. Selain itu, kinerja Neraca Transaksi Modal dan Finansial juga menunjukkan peningkatan surplus menjadi sebesar USD11.7 miliar (1% PDB), dibandingkan tahun sebelumnya sebesar USD7.9 miliar. “Secara umum, selama tahun 2021, di tengah tekanan global akibat eskalasi pandemi serta gejolak pengurangan stimulus moneter yang dilakukan bank sentral (tapering off), neraca pembayaran Indonesia dalam posisi yang kuat. Hal ini menjadi capaian yang cukup krusial, mengingat neraca pembayaran merupakan salah satu pilar dari stabilitas makro nasional”, jelas Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu.
Neraca Transaksi Berjalan
Kinerja NPI tersebut didukung oleh kinerja per kuartal yang cukup baik. Transaksi berjalan berlanjut mencatatkan surplus USD1,4 miliar (0,4% PDB) pada triwulan IV 2021, utamanya ditopang oleh surplus neraca barang yang tetap tinggi seiring dengan tren positif harga komoditas dan membaiknya permintaan negara mitra dagang. Neraca barang nonmigas terus menunjukkan surplus yang meningkat ditengah masih negatifnya neraca migas. Peningkatan ekspor nonmigas di triwulan IV 2021 sangat tinggi yaitu sebesar tercatat 47,3% (yoy), didominasi oleh komoditas seperti bahan bakar mineral, lemak nabati, serta besi dan baja. Kinerja ekspor tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan masa prapandemi. Di sisi lain, kinerja impor nonmigas juga menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 42,1% (yoy), terutama impor barang modal dan bahan baku, yang menunjukan bahwa aktivitas domestik semakin membaik.
Kinerja ekspor selama tahun 2021 juga tercatat lebih tinggi dari 2020 dengan pertumbuhan sebesar 42,5% (ytd), bahkan pertumbuhan tersebut juga lebih tinggi dari masa prapandemi. Ke depannya, permintaan ekspor diperkirakan masih tumbuh, namun terbatas sejalan dengan tren harga komoditas global dan permintaan negara mitra dagang. Sementara itu, impor kumulatif sepanjang tahun 2021 tercatat 39,9% (ytd), jauh lebih tinggi dari sebelum masa pandemi, dan ke depan impor masih akan tumbuh kuat seiring pemulihan ekonomi domestik.
Neraca jasa masih mencatatkan defisit sebesar USD4,1 miliar, lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang disebabkan oleh adanya pelebaran defisit pada neraca jasa transportasi karena aktivitas perdagangan internasional. Selain itu, jasa perjalanan juga turut menyumbang pelebaran defisit dikarena adanya peningkatan pembayaran seiring dengan meningkatnya perjalanan wisatawan domestik ke luar negeri di masa natal dan tahun baru, sedangkan kedatangan wisatawan mancanegara belum pulih.
Sementara itu, neraca pendapatan primer tercatat defisit USD8,9 miliar pada triwulan IV 2021, lebih tinggi dari triwulan sebelumnya disebabkan oleh kenaikan imbal hasil atas investasi langsung dan investasi portofolio seiring dengan kinerja korporasi yang menunjukan perbaikan. Neraca pendapatan sekunder, tercatat surplus USD1,9 miliar, meningkat dari triwulan sebelumnya, didorong oleh peningkatan penerimaan khususnya berasal dari hibah kesehatan terkait pandemi Covid-19 yang diterima oleh Pemerintah. Penerimaan transfer personal juga meningkat cukup tinggi dari triwulan sebelumnya.
Neraca Transaksi Modal dan Finansial
Di tengah ketidakpastian pasar keuangan global di sepanjang tahun 2021, kinerja transaksi modal dan finansial (TMF) mampu mengalami peningkatan menjadi sebesar USD11,7 miliar. Di triwulan IV 2021 sendiri, volatilitas pasar keuangan global relatif meningkat sehingga memberikan dampak terhadap kinerja TMF sehingga mencatatkan defisit USD2,4 miliar (0,7% PDB), setelah pada tiga triwulan sebelumnya mencatatkan surplus.
Sepanjang tahun 2021 ini, surplus investasi langsung mengalami peningkatan menjadi USD16,49 Miliar, dari sebesar USD14,14 Miliar di tahun 2020. Peningkatan kinerja surplus ini tidak terlepas dari terjaganya kepercayaan investor ditopang oleh momentum pemulihan ekonomi domestik yang terus terjadi, meski sempat diwarnai peningkatan restriksi di akibat penyebaran varian delta. Selain itu, upaya reformasi struktural dan kebijakan yang terus dilakukan untuk memperbaiki iklim investasi di Indonesia mampu menjaga preferensi positif investor untuk berinvestasi jangka panjang di Indonesia, seperti dengan pengesahan peraturan mengenai harmonisasi perpajakan yang tertuang dalam Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP) pada bulan Oktober 2021 yang lalu. Di triwulan IV sendiri, terlihat peningkatan surplus investasi langsung yang mencapai USD3,4 Miliar, meningkat jika dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar USD3,2 Miliar. ”Ke depan, dampak positif dari adanya reformasi kebijakan diharapkan dapat lebih memperkuat kepercayaan investor asing untuk berinvestasi di Indonesia”, lanjut Febrio.
Sementara itu, kinerja investasi portofolio masih mampu tumbuh positif dengan mencatatkan surplus sebesar USD5,3 Miliar, lebih tinggi dibandingkan tahun 2020 yang sebesar USD3,4 Miliar di tengah tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global, terutama yang terjadi di penghujung tahun. Normalisasi kebijakan moneter negara maju (terutama Amerika Serikat) yang lebih agresif untuk menahan tekanan inflasi, tensi geopolitik antara Rusia dan Ukraina yang meningkat, serta eskalasi kasus Covid-19 global baik akibat varian delta dan omicron telah menyebabkan tingginya volatilitas di pasar keuangan di sepanjang tahun ini. Dampak ini cukup kuat dirasakan terutama di triwulan IV 2021, dimana investasi portofolio mencatatkan deficit hingga USD4,8 Miliar terutama disebabkan outflow dari pasar obligasi pemerintah sebesar Rp70,4 triliun. Di sisi lain, aliran modal asing di instrumen portofolio saham sepanjang tahun 2021 masih terjaga positif terutama ditopang oleh sentimen harga komoditas yang masih cukup tinggi sehingga hal ini mampu menjaga surplus investasi portfolio di tahun 2021 ini. Dari kinerja investasi lainnya, di sepanjang tahun 2021 ini mengalami peningkatan defisit dari yang sebesar USD9,6 Miliar menjadi USD10,5 Miliar, terutama dipengaruhi oleh pembayaran pinjaman sektor swasta sebagaimana pola pembayaran yang meningkat di akhir tahun.
Ke depan, ketidakpastian di pasar keuangan global diperkirakan masih cukup tinggi sejalan dengan perkembangan kebijakan pengetatan moneter dari negara maju yang diperkirakan akan berpengaruh terhadap keberlanjutan aliran modal ke dalam negeri. Di sisi lain, kinerja Transaksi Berjalan akan menghadapi tantangan dengan adanya penguatan impor serta tren normalisasi harga komoditas. “Oleh karena itu, Pemerintah bersama Bank Indonesia dan otoritas terkait akan terus berkoordinasi dalam menjaga stabilitas ekonomi guna mendukung peningkatan kinerja perekonomian nasional”, tutup Febrio.
Endang Larasati
Kepala Bagian Informasi dan Komunikasi Publik
Badan Kebijakan Fiskal
Kementerian Keuangan