Neraca Perdagangan Indonesia Tetap Surplus, di Tengah Berbagai Tantangan Global

SP – 22 /BKF/2024   

Jakarta, 16 Desember 2024 – Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus sebesar USD4,42 miliar pada November 2024, lebih tinggi USD2,01 miliar dibandingkan November 2023. Nilai tersebut memperpanjang capaian surplus neraca perdangan Indonesia menjadi 55 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan Indonesia pada periode Januari s.d. November 2024 mencapai USD28,86 miliar. “Konsitensi surplus ini merupakan kabar yang baik, terlebih kalau kita perhatikan lebih dalam. Program hirilisasi atau penciptaan nilai tambah yang diupayakan Pemerintah telah memperlihatkan hasil yang positif, kita bisa melihat dari sektor seperti industri pengolahan, pertanian, dan perkebunan menyumbang surplus pada neraca perdagangan. Ke depan, Pemerintah akan terus mendorong penciptaan nilai tambah dalam rangka memperkuat daya tahan eksternal,” ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu.

Ekspor Indonesia pada November 2024 tercatat sebesar USD24,01 miliar, meningkat sebesar 9,14% (yoy) yang didorong oleh kenaikan ekspor nonmigas maupun ekspor migas. Secara sektoral, ekspor sektor pertanian dan sektor industri pengolahan tercatat tumbuh, namun sektor pertambangan dan lainnya sedikit terkontraksi. Secara kumulatif, total ekspor pada periode Januari s.d. November 2024 tercatat mencapai USD241,25 miliar, atau naik 2,06% (yoy). Dari sisi negara tujuan, Tiongkok menjadi pasar ekspor nonmigas utama Indonesia dengan share sebesar 27,52%, disusul Amerika Serikat (10,33%), dan India (6,97%).

Pada bulan yang sama, beberapa komoditas unggulan ekspor Indonesia berhasil mencuri perhatian di pasar global. Ekspor kakao misalnya, pada November 2024, meningkat signifikan didorong oleh kenaikan signifikan harga kakao di pasar internasional. Rata-rata harga kakao global tercatat USD7,06 per kg, meningkat 115,13% (yoy). Selain itu, tembaga dan barang daripadanya juga menunjukkan kinerja positif dengan peningkatan nilai ekspor sebesar USD1,17 miliar. Kondisi ini mencerminkan bahwa peluang peningkatan ekspor komoditas unggulan Indonesia di sektor pertanian dan pertambangan di tengah dinamika pasar global masih cukup besar.

Sementara itu, impor Indonesia pada November 2024 mencatatkan nilai sebesar USD19,59 miliar, naik 0,01% (yoy). Kenaikan tipis ini didorong oleh pertumbuhan impor nonmigas di tengah penurunan impor migas. Dari sisi penggunaan, impor bahan baku penolong dan impor barang konsumsi meningkat masing-masing sebesar 0,68% (yoy) dan 0,62% (yoy), sedangkan impor barang modal terkontraksi sebesar 2,90% (yoy). Secara kumulatif, total impor Indonesia pada periode Januari s.d. November 2024 tercatat mencapai USD212,39 miliar, naik sebesar 4,74% (yoy). Kenaikan tersebut didorong baik oleh kenaikan impor migas dan nonmigas. Dari sisi negara asal impor, Tiongkok, Jepang, dan Amerika Serikat mendominasi dengan kontribusi masingmasing sebesar 38,35%, 8,76%, dan 4,47%.

“Pemerintah akan terus memantau dampak perlambatan global terhadap ekspor nasional, serta menyiapkan langkah antisipasi melalui dorongan terhadap keberlanjutan hilirisasi sumber daya alam, peningkatan daya saing produk ekspor nasional, serta diversifikasi produk dan mitra dagang utama,” tutup Febrio.


Narahubung Media:

Endang Larasati
Kepala Bagian Informasi dan Komunikasi Publik
Badan Kebijakan Fiskal
Kementerian Keuangan
ikp.bkf@kemenkeu.go.id

Baca