Fundamental Ekonomi Terus Dijaga di Tengah Tekanan Global
SP-6/DJSEF/2026
Jakarta, 4 Mei 2026 – Di tengah tantangan eskalasi geopolitik, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan resiliensinya dengan neraca perdagangan yang konsisten surplus dan inflasi yang terkendali. PMI manufaktur pada April 2026 termoderasi yang disebabkan oleh dinamika musiman pasca lebaran dan pengaruh tekanan harga bahan baku akibat konflik di Timur Tengah. Namun demikian, optimisme industri tetap solid karena kekuatan pasar domestik terus menjadi penopang krusial bagi aktivitas produksi di saat permintaan ekspor tertahan. Di tengah tantangan eksternal yang terus berkembang, stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga. Pemerintah terus waspada dan antisipatif dengan respons kebijakan yang terukur untuk menghadapi tantangan global.
Kinerja perdagangan luar negeri Maret 2026 kembali mencatatkan surplus yang mencerminkan ketahanan sektor eksternal di tengah penguatan aktivitas ekonomi domestik. Neraca perdagangan tercatat surplus sebesar USD3,32 miliar, melanjutkan tren surplus selama 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Surplus tersebut ditopang oleh kinerja neraca perdagangan nonmigas yang mencatatkan surplus USD5,21 miliar. Dari sisi kinerja perdagangan, ekspor tercatat sebesar USD22,53 miliar ditopang tiga komoditas utama yaitu CPO, besi dan baja, serta batu bara. Sementara itu, impor tercatat sebesar USD19,21 miliar yang didorong oleh peningkatan impor bahan baku/penolong dan barang modal. Pemerintah terus mencermati perkembangan ketegangan perdagangan global dan menyiapkan langkah antisipasi. Hilirisasi sumber daya alam terus diimplementasikan, daya saing produk ekspor nasional ditingkatkan, dan diversifikasi mitra dagang utama dilakukan melalui berbagai perjanjian perdagangan internasional.
Inflasi April 2026 tercatat sebesar 2,42% (yoy), menurun dari Maret 2026, dipengaruhi oleh penurunan inflasi komponen administered price dan volatile food. Hilangnya base effect kebijakan diskon listrik pada 2025 menyebabkan inflasi administered price menurun secara signifikan menjadi 1,53% (yoy). Namun, peningkatan harga avtur dan beberapa jenis BBM nonsubsidi mendorong kenaikan inflasi kelompok transportasi sebesar 0,99% (mtm). Harga pangan tetap terkendali yang tercermin dari terjaganya inflasi volatile food sebesar 3,37% (yoy). Beberapa harga pangan mulai menurun, antara lain daging dan telur ayam ras serta aneka cabai seiring dengan mulai melimpahnya pasokan. Sementara itu, inflasi inti tercatat sebesar 2,44% (yoy) yang mencerminkan pertumbuhan permintaan meskipun melambat karena dampak penurunan harga emas. Pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas harga guna menjaga daya beli masyarakat melalui berbagai kebijakan, seperti memastikan harga BBM subsidi tidak naik hingga akhir tahun dan melanjutkan program pengendalian inflasi pusat dan daerah melalui operasi pasar, intervensi harga, dan pengawasan distribusi.
Kinerja manufaktur Indonesia pada awal Triwulan II 2026 mengalami penyesuaian yang tercermin dari indeks PMI manufaktur yang berada pada level 49,1 pada April 2026 (Maret; 50,1). Menurunnya aktivitas produksi ini dipengaruhi oleh eskalasi ketegagangan di Timur Tengah yang menyebabkan terhambatnya rantai pasokan dan memicu lonjakan harga bahan baku ke level tertinggi. Di tengah tantangan tersebut, permintaan dalam negeri masih menunjukkan peningkatan dan menjadi penopang tekanan pada sektor manufaktur. Ke depan, para produsen optimis bahwa volume produksi akan meningkat dalam 12 bulan mendatang.
Di tengah berbagai dinamika perekonomian terkini, prospek ekonomi nasional tetap terjaga. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Maret 2026 yang tumbuh 2,4% (yoy) yang didorong oleh peningkatan konsumsi pada kelompok suku cadang, makanan dan minuman, serta budaya dan rekreasi. Aktivitas ekonomi masyarakat juga tercermin dari peningkatan konsumsi BBM, baik pada sektor ritel transportasi yang tumbuh 11,9%, maupun sektor industri sebesar 17,9%, seiring meningkatnya mobilitas masyarakat dan aktivitas logistik selama periode libur Idulfitri. Selain itu, penjualan listrik turut mencatatkan pertumbuhan 3,7% dengan pertumbuhan sektor bisnis sebesar 3,7% dan sektor industri 6,6%. Di sisi persepsi, optimisme masyarakat tetap kuat. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Maret 2026 yang berada pada level optimis sebesar 122,9 yang didukung Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) di level 115,4 dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) di level 130,4.
Pemerintah terus memperkuat kewaspadaan terhadap berbagai risiko global sekaligus memastikan respons kebijakan yang adaptif dan koordinatif. Upaya menjaga kesinambungan pertumbuhan dilakukan dengan menguatkan sektor riil, menjaga daya beli masyarakat, dan memastikan fiskal dikelola dengan disiplin. Pemerintah juga mendorong percepatan realisasi investasi melalui penyederhanaan proses dan penyelesaian hambatan secara terintegrasi seperti optimalisasi Kanal Debottlenecking Satuan Tugas Percepatan Program Pemerintah untuk Mendukung Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi (Satgas P3-MPPE). Dengan langkah tersebut, perekonomian nasional tetap terjaga dan mampu bertahan di tengah ketidakpastian global yang berlanjut.
*
Narahubung Media
Endang Larasati
Kepala Bagian Komunikasi, Layanan Informasi, dan Manajemen Pengetahuan
Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal