Neraca Perdagangan Indonesia Tetap Surplus di Tengah Berbagai Tantangan Global

SP – 16 /BKF/2024    


Jakarta, 15 Agustus 2024 – Di tengah aktivitas global yang masih tertekan, neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2024 kembali mencatatkan surplus sebesar USD0,47 miliar, ditopang terutama oleh surplus sektor nonmigas sebesar USD2,60 miliar. Surplus ini menambah panjang tren surplus neraca perdagangan yang telah berlangsung selama 51 bulan berturut-turut. Secara kumulatif neraca perdagangan Indonesia Januari s.d. Juli 2024 tercatat mencapai USD15.92 miliar. “Di tengah berbagai tantangan global dan fluktuasi harga komoditas, neraca perdagangan Indonesia tetap mencatatkan nilai surplus, yang mencerminkan resiliensi perekonomian nasional. Peningkatan ekspor dan dominasi impor barang modal dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi. Ke depan, Pemerintah akan terus mengantisipasi dan memitigasi dinamika perekonomian global,” ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu.

Ekspor Indonesia pada Juli 2024 tercatat sebesar USD22,21 miliar, atau tumbuh sebesar 6,46% (yoy), didorong oleh peningkatan ekspor sebagian besar komoditas nonmigas, antara lain, logam mulia dan perhiasan, bijih logam, terak dan abu, serta nikel dan barang daripadanya. Pada sektor migas, peningkatan harga komoditas energi berpengaruh pada peningkatan nilai ekspor migas sebesar 15,99% (yoy). Tiongkok masih menjadi negara tujuanutama ekspor Indonesia, yang memberikan kontribusi sebesar 23,19%, dengan komoditasekspor utama berupa besi dan baja, dan nikel dan barang daripadanya. Selain itu, Amerika Serikat dan Jepang juga berkontribusi cukup besar masing-masing sebesar 10,34% dan 8,57%. Secara kumulatif dari Januari s.d. Juli 2024 nilai ekspor Indonesia tercatat sebesar USD147,30miliar.

Impor Indonesia pada Juli 2024 tercatat sebesar USD21,74 miliar, atau tumbuh 11,07%(yoy), didorong baik oleh peningkatan impor pada sektor migas maupun non migas. Pada sektor nonmigas, peningkatan impor terutama terlihat pada komoditas mesin/peralatan mekanis dan bagiannya serta mesin/perlengkapan elektrik dan bagiannya, yang tumbuh masing-masing sebesar 8,66% (yoy) dan 2,13% (yoy). Sementara itu, berdasarkan golongan penggunaan barang, impor bahan baku penolong dan barang modal meningkat di tengah moderasi impor barang konsumsi. Peningkatan impor bahan baku penolong dan barang modal mengindikasikan aktivitas industri yang relatif membaik dan diharapkan mampu mendorong produktivitas serta menopang pertumbuhan ekonomi domestik. Secara kumulatif dari Januari s.d. Juli 2024 nilai impor Indonesia tercatat mencapai USD131.38 miliar.

“Mencermati kondisi perekonomian global saat ini, Pemerintah akan terus memantau dan menyiapkan langkah-langkah antisipasi. Transformasi akan terus dilanjutkan, melalui dorongan terhadap keberlanjutan hilirisasi sumber daya alam, peningkatan daya saing produk tujuan ekspor, serta diversifikasi mitra dagang utama,” tutup Febrio.


Narahubung Media:

Endang Larasati
Kepala Bagian Informasi dan Komunikasi Publik
Badan Kebijakan Fiskal
Kementerian Keuangan
ikp.bkf@kemenkeu.go.id

Baca