Stabilitas Ekonomi Ditopang Inflasi Terkendali, PMI Manufaktur Membaik, dan Neraca Perdagangan Tetap Surplus
SP – 07 /DJSEF/2026
Jakarta, 2 Juni 2026 – Di tengah tantangan eskalasi geopolitik dan tekanan harga komoditas global, perekonomian Indonesia pada Mei 2026 tetap resilien. Resiliensi ekonomi nasional tercermin dari inflasi yang tetap terkendali, PMI manufaktur yang kembali ke zona ekspansi, serta tren surplus neraca perdagangan yang berlanjut. Capaian ini menjadi sinyal positif bahwa momentum pertumbuhan tetap terjaga di tengah berbagai tantangan ekonomi. Pemerintah optimis stabilitas ekonomi akan terus dapat dipertahankan, termasuk dengan berbagai upaya melalui bauran kebijakan yang responsif, antisipatif, dan terukur.
Aktivitas manufaktur kembali memasuki zona ekspansi pada Mei 2026, dengan PMI Manufaktur Indonesia meningkat ke level 50,0 dari 49,1 pada bulan sebelumnya. Meningkatnya permintaan domestik menjadi faktor utama pendorong kenaikan permintaan baru dan perbaikan aktivitas manufaktur. Sementara itu, aktivitas manufaktur sebagian besar negara mitra dagang utama menunjukkan kinerja yang resilien. Di kawasan ASEAN, PMI Manufaktur regional tercatat 51,5. India masih menjadi salah satu negara dengan ekspansi manufaktur terkuat di level 55,0; disusul Taiwan (56,1); Amerika Serikat (55,1); Jepang (54,5); dan Korea Selatan (54,8). Beberapa negara lain masih kontraktif, antara lain Malaysia (49,9); Myanmar (49,3); dan Prancis (49,7). Masih terjaganya ekspansi manufaktur di sebagian besar mitra dagang utama Indonesia menjadi sinyal positif bagi prospek permintaan eksternal ke depan, meskipun risiko dari tingginya biaya produksi dan ketidakpastian geopolitik global tetap perlu diperhatikan.
Dari sisi eksternal, neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 tetap positif dengan surplus USD0,09 miliar didukung surplus perdagangan nonmigas sebesar USD3,53 miliar yang mampu menutup defisit neraca perdagangan migas sebesar USD3,44 miliar. Capaian ini menopang surplus neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif pada Januari-April 2026 yang mencapai USD5,64 miliar. Kinerja ekspor pada April 2026 mencapai USD25,30 miliar, ditopang ekspor nonmigas yang tumbuh 23,36% secara tahunan (yoy) dengan ekspor industri pengolahan tetap menjadi kontributor utama dalam struktur ekspor nasional. Ekspor terutama didukung sejumlah komoditas utama, seperti lemak dan minyak hewani/nabati, nikel dan barang daripadanya, kendaraan dan bagiannya, serta berbagai produk kimia. Kinerja ini menunjukkan bahwa penguatan hilirisasi dan peningkatan nilai tambah berperan sangat penting dalam menjaga keberlanjutan ekspor Indonesia. Di sisi lain, impor tumbuh 22,49% (yoy), terutama pada kelompok bahan baku/penolong dan barang modal, yang mengindikasikan berlanjutnya aktivitas produksi di dalam negeri.
Dari perkembangan harga dalam negeri, inflasi Mei 2026 tetap terkendali pada 3,08% (yoy), meningkat dibandingkan April 2026 yang sebesar 2,42% (yoy). Peningkatan ini dipengaruhi oleh kenaikan pada seluruh komponen inflasi, terutama volatile food. Inflasi volatile food tercatat 6,24% (yoy), dipengaruhi kenaikan harga cabai merah dan bawang merah seiring dengan penurunan produksi akibat dampak cuaca ekstrem. Meskipun demikian, secara bulan ke bulan beberapa komoditas mengalami penurunan harga, antara lain daging ayam dan telur ayam serta bawang putih seiring dengan melimpahnya pasokan. Inflasi administered price meningkat menjadi 2,07% (yoy) disebabkan oleh penyesuaian tarif angkutan udara akibat kenaikan harga avtur dan kenaikan harga BBM nonsubsidi di tengah masih tingginya harga minyak mentah dunia. Inflasi inti tercatat sebesar 2,59% (yoy) dipengaruhi oleh tekanan harga komoditas global yang mendorong kenaikan harga beberapa produk elektronik. Di sisi lain, harga emas perhiasan mengalami penurunan sehingga menyumbang deflasi secara bulan ke bulan. Pertumbuhan inflasi inti nonemas mencatat kenaikan dari 1,71% (yoy) pada April 2026 menjadi 1,91% (yoy).
Berbagai indikator juga mencerminkan prospek ekonomi nasional yang tetap terjaga. Dari sisi persepsi, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada April 2026 berada pada level optimis sebesar 123,0; meningkat dibandingkan bulan sebelumnya 122,9. Optimisme tersebut didukung oleh naiknya Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) menjadi 116,5 dari 115,4 pada bulan sebelumnya, sementara Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) tetap kuat di level 129,6. Dari sisi aktivitas ekonomi, sejumlah indikator menunjukkan peningkatan seiring normalisasi kegiatan pasca-Lebaran. Penjualan mobil dan sepeda motor masing-masing tumbuh 55,0% dan 28,1% (yoy), konsumsi semen domestik meningkat 35,6%, dan penjualan listrik tumbuh 19,0% dengan peningkatan konsumsi listrik sektor bisnis sebesar 11,9% dan sektor industri sebesar 17,1%. Perkembangan tersebut mengindikasikan bahwa konsumsi masyarakat dan aktivitas produksi domestik tetap terjaga.
Pemerintah terus berkomitmen mengendalikan inflasi bersama K/L terkait, terutama dengan menjaga akses pangan masyarakat serta mengantisipasi dampak rambatan dari gejolak ekonomi global dengan masih tingginya harga minyak mentah dunia. Daya beli masyarakat terus didukung melalui berbagai kebijakan, seperti operasi pasar, intervensi harga, serta pengawasan distribusi untuk mencegah peningkatan volatilitas harga pangan. Selain itu, untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya dalam mengoptimalkan momentum liburan sekolah, Pemerintah juga menyiapkan berbagai program stimulus ekonomi berupa diskon transportasi, termasuk diskon tiket pesawat pada masa libur sekolah, di samping terus memastikan harga BBM subsidi tetap terjangkau.
***
Narahubung Media
Endang Larasati
Kepala Bagian Komunikasi, Layanan Informasi, dan Manajemen Pengetahuan
Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal
Kementerian Keuangan