Manufaktur Kembali Ekspansif, Inflasi Melandai, Pemerintah Cermati Defisit Perdagangan
SP – 8/DJSEF/2026
Jakarta, 3 Agustus 2026 - Di tengah dinamika perekonomian global yang masih penuh tantangan, sejumlah indikator perekonomian nasional menunjukkan perkembangan yang terjaga. Aktivitas manufaktur kembali ekspansif dan inflasi tahunan melandai. Sementara itu, defisit neraca perdagangan menjadi sinyal untuk terus mencermati dinamika permintaan global dan perkembangan impor, terutama harga minyak dan gas dunia. Pemerintah akan terus mencermati kondisi ekonomi nasional dan terus berusaha menjaga stabilitas makroekonomi dengan kebijakan yang responsif dan terukur.
Pada Juli 2026, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia meningkat ke level 50,2 dari 46,9 pada bulan sebelumnya. Perbaikan tersebut didorong oleh kembali meningkatnya produksi dan penambahan tenaga kerja merespons kebutuhan operasional perusahaan. Namun demikian, pemulihan permintaan masih berlangsung secara bertahap, sehingga penguatan aktivitas manufaktur perlu terus didukung oleh terjaganya daya beli masyarakat, peningkatan daya saing industri, dan keberlanjutan permintaan ekspor. PMI Manufaktur di sejumlah mitra dagang utama dan negara kawasan turut menunjukkan penguatan pada Juli 2026, memberikan sinyal positif terhadap pemulihan aktivitas manufaktur global dan regional. PMI manufaktur Thailand ekspansif di 54,2; bersama dengan Vietnam (52,9), Malaysia (50,7), Jepang (54,5), dan Amerika Serikat (53,8).
Dari kinerja ekspor, pada bulan Juni 2026 tumbuh 8,84% (yoy) sehingga mencatatkan nilai
USD25,46 miliar terutama didorong peningkatan ekspor nonmigas. Komoditas unggulan nonmigas seperti batu bara serta minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya mengalami peningkatan di tengah penurunan ekspor besi dan baja. Dari sisi impor, terjadi peningkatan 34,27% (yoy) mencapai USD25,91 miliar, terutama didorong impor nonmigas. Lebih lanjut, berdasarkan penggunaan, peningkatan impor terutama terjadi pada kelompok bahan baku/penolong dan barang modal. Dari kinerja ekspor dan impor tersebut, neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026 mencatatkan defisit tipis sebesar USD0,45 miliar dan secara kumulatif Januari-Juni 2026, neraca perdagangan Indonesia tetap mencatatkan surplus sebesar USD3,58 miliar.
Dari perkembangan harga dalam negeri, inflasi Juli 2026 tercatat terkendali pada 2,88% (yoy), menurun dari 3,34% pada Juni 2026. Melandainya inflasi Juli terutama disebabkan oleh penurunan inflasi komponen harga bergejolak di tengah tetap stabilnya komponen inti. Melimpahnya pasokan seiring panen hortikultura mendorong inflasi harga bergejolak (Volatile Food/VF) turun secara signifikan menjadi 2,52% (yoy) dari 5,58% pada Juni 2026. Sementara itu, inflasi komponen harga diatur Pemerintah (Administered Price/AP) sedikit meningkat mencapai 3,58% (yoy) (dari 3,42% pada Juni 2026), didorong transmisi kenaikan harga BBM nonsubsidi dan tarif angkutan udara.
Inflasi inti tercatat stabil pada 2,76% (yoy) dibandingkan bulan sebelumnya. Tren ini dipengaruhi tetap tumbuhnya permintaan domestik di tengah tekanan dinamika harga komoditas global dan imported inflation yang masih mendorong kenaikan harga beberapa produk, seperti telepon seluler dan pelumas yang dipicu oleh peningkatan harga bahan baku. Bertepatan dengan masuknya tahun ajaran baru, terdapat kenaikan pada kelompok pendidikan, seperti pada biaya taman kanak-kanak, sekolah dasar, serta bimbingan belajar. Di sisi lain, perkembangan harga emas perhiasan yang terus melambat menyumbang deflasi secara bulan ke bulan.
Berbagai indikator mengindikasikan prospek ekonomi nasional yang tetap terjaga, didukung permintaan domestik dan aktivitas produksi yang solid. Penjualan mobil tumbuh tinggi 32,9% dan penjualan sepeda motor meningkat 1,1%; mencerminkan permintaan kendaraan di pasar domestik masih tetap baik. Konsumsi BBM tumbuh positif 6,5%; dengan konsumsi BBM ritel dan industri masing-masing meningkat 8,0% dan 8,3%, sejalan dengan mobilitas masyarakat dan aktivitas sektor industri. Di sisi produksi, penjualan semen domestik tumbuh 13,5%, didukung peningkatan penjualan baik dalam bentuk curah maupun kantong. Sementara itu, penjualan listrik tumbuh tinggi 10,8%; mendukung aktivitas di berbagai segmen, termasuk rumah tangga, bisnis, dan industri. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) bertahan di zona optimis 117,8; didukung oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) sebesar 109,2 dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) sebesar 126,4.
Pemerintah terus berkomitmen menjaga stabilitas makroekonomi dan momentum pertumbuhan melalui kebijakan yang responsif dan terukur. Pengendalian inflasi dilakukan dengan menjaga pasokan, kelancaran distribusi, dan keterjangkauan harga pangan, sekaligus mengantisipasi dampak gejolak harga energi global dan El Nino untuk mendukung ketersediaan pasokan. Pada saat yang sama, daya beli masyarakat, penguatan sektor manufaktur, dan kinerja perdagangan terus didukung melalui perbaikan iklim usaha, keberlanjutan hilirisasi sumber daya alam, peningkatan daya saing produk ekspor nasional, diversifikasi mitra dagang utama melalui berbagai perjanjian perdagangan internasional, serta pemantauan perkembangan impor agar tetap produktif bagi kegiatan produksi dan investasi.
***
Narahubung Media
Endang Larasati
Kepala Bagian Komunikasi, Layanan Informasi, dan Manajemen Pengetahuan
Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan