Perekonomian Indonesia Tetap Terjaga, Didukung Penguatan Aktivitas Ekonomi dan Stabilitas Eksternal

SP – 9 /DJSEF/2026

Jakarta, 1 Oktober 2026 – PMI Manufaktur Indonesia ekspansif ke level 52,4 pada September 2026 dari kontraksi di level 49,8 pada Agustus 2026 dan mencatat perbaikan kondisi bisnis terkuat sejak Februari 2026. Penguatan berlangsung secara menyeluruh, tercermin dari membaiknya permintaan, termasuk ekspor yang tumbuh dengan laju terkuat sejak Mei 2022 diikuti meningkatnya produksi, tenaga kerja, aktivitas pembelian, dan persediaan input. Pelaku usaha tetap optimistis terhadap prospek produksi 12 bulan ke depan, didukung ekspektasi peningkatan permintaan, proyek baru, perluasan usaha, dan harga bahan baku yang lebih stabil. Sementara itu, aktivitas manufaktur di sejumlah mitra dagang Indonesia turut ekspansif, antara lain Thailand (54,3), China (52,1), dan AS (57,0). Perkembangan tersebut membuka peluang peningkatan permintaan eksternal yang dapat mendukung keberlanjutan ekspansi manufaktur Indonesia.

Inflasi September 2026 tercatat sebesar 3,28% (yoy), terutama dipengaruhi komponen harga bergejolak sebesar 5,03%. Kenaikan moderat pada komponen inflasi ini utamanya disumbang oleh naiknya harga daging ayam ras, aneka cabai, dan daging sapi. Perkembangan ini berlangsung di tengah dampak El Nino yang masih berlanjut serta peningkatan permintaan daging ayam ras, termasuk untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sementara itu, inflasi harga diatur pemerintah mencapai 3,25% (yoy) dipengaruhi normalisasi tarif angkutan udara pada masa low season. Inflasi inti tercatat sebesar 2,84% (yoy) dengan tekanan harga komoditas global masih menjadi tantangan yang menyebabkan kenaikan harga beberapa produk seperti ponsel, laptop, dan pelumas. Pemerintah terus berkomitmen mengendalikan inflasi di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian. Akses energi masyarakat akan dijaga dengan harga BBM subsidi yang tetap terjangkau. Selain itu, ketahanan pangan akan terus diperkuat untuk mengantisipasi dampak El Nino serta gangguan cuaca.

Dari sisi eksternal, neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2026 mencatat surplus USD3,35 miliar. Kinerja ini ditopang oleh ekspor yang tumbuh 6,72% (yoy), terutama berasal dari peningkatan ekspor nonmigas dengan industri pengolahan sebagai pendorong utama. Perkembangan ini berlangsung di tengah kenaikan harga komoditas internasional dan ekspansi manufaktur sejumlah mitra dagang utama. Sementara itu, impor tercatat mencapai USD23,26 miliar (19,09% yoy), dengan peningkatan terutama berasal dari bahan baku/penolong, disertai kenaikan impor barang modal, yang mengindikasikan berlanjutnya aktivitas produksi dan investasi di dalam negeri. Secara kumulatif, pada Januari – Agustus 2026 surplus mencapai USD7,25 miliar, dipengaruhi oleh kenaikan nilai ekspor sebesar 4,74% (ctc) seiring dengan kenaikan impor sebesar 19,84% (ctc). Terjaganya surplus perdagangan menjadi modal positif untuk memperkuat ketahanan sektor eksternal dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, sementara peningkatan daya saing dan nilai tambah produk ekspor perlu terus didorong agar momentum tersebut berkelanjutan.

Perekonomian nasional menunjukkan prospek yang baik, sejalan dengan tetap kuatnya keyakinan dan aktivitas ekonomi domestik. Keyakinan konsumen meningkat, dengan IKK Agustus 2026 mencapai 118,5; naik dari 116,8 pada Juli 2026. Sejalan dengan perkembangan tersebut, penjualan ritel tumbuh 0,5% (yoy), terutama didorong oleh peningkatan penjualan suku cadang dan aksesori serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Permintaan domestik juga tercermin dari penjualan kendaraan yang tetap kuat, dengan penjualan mobil dan sepeda motor masing-masing tumbuh 32,4% dan 3,2% (yoy). Dari sisi aktivitas pembangunan, penjualan semen domestik tumbuh 6,4% (yoy), antara lain sejalan dengan pelaksanaan berbagai program prioritas. Sementara itu, pertumbuhan penjualan listrik yang mencapai 8,4% (yoy) menunjukkan aktivitas ekonomi yang tetap kuat pada berbagai segmen, baik rumah tangga, bisnis, maupun industri.

Pemerintah terus memperkuat sinergi kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus menciptakan ruang bagi akselerasi pertumbuhan melalui pengendalian harga dan perlindungan daya beli masyarakat, penguatan aktivitas sektor riil dan investasi, serta peningkatan daya saing perekonomian. Upaya tersebut didukung oleh sinergi kebijakan Pemerintah, Bank Indonesia, dan OJK untuk mengedepankan keseimbangan antara dukungan terhadap pertumbuhan dan terjaganya stabilitas. Upaya juga dilakukan melalui debottlenecking regulasi dan penyederhanaan berbagai ketentuan yang dapat menghambat investasi dan ekspor. Bauran kebijakan diarahkan untuk mendorong aktivitas ekonomi dan meningkatkan produktivitas sebagai landasan penguatan pertumbuhan yang berkelanjutan. Dalam kerangka tersebut, APBN berperan untuk Menumbuhkan, Melindungi, dan tetap Kredibel, dengan memastikan kebijakan fiskal berfungsi sebagai katalis pertumbuhan sekaligus dikelola secara kredibel dan berkelanjutan.

*****

Narahubung Media:
Elang Tomi Ariefianto
Plt. Kepala Bagian Komunikasi, Layanan Informasi, dan Manajemen Pengetahuan
Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal
Kementerian Keuangan