Rupiah Kembali Terkoreksi

Jakarta, Kompas— Rupiah pada Selasa (6/1) pagi merosot di atas angka Rp 11.000 per dollar AS. Nilai tukar rupiah berada pada Rp 11.120/11.240 per dollar AS.

Direktur Retail Banking PT Bank Mega Tbk Kostaman Thayib di Jakarta mengatakan, koreksi harga terhadap rupiah terutama disebabkan pelaku pasar membeli dollar AS dalam jumlah besar. "Pelaku pasar membeli dollar AS untuk membayar utang yang jatuh tempo kepada kreditor, terutama BUMN, seperti Pertamina dan PLN," katanya.

Menurut dia, Bank Indonesia (BI) pada hari kedua tahun ini kemungkinan belum aktif turun ke pasar mengawasi kegiatan bank-bank asing yang bermain valas. "Akibatnya, transaksi valas di pasar didominasi aksi beli dollar AS yang cukup besar sehingga menekan rupiah merosot tajam," katanya.

BI, ujar dia, biasa mengamati dengan ketat pergerakan transaksi kedua mata uang itu di pasar, tetapi melihat pergerakan rupiah yang stabil pada kisaran antara Rp 10.900 dan Rp 10.950 per dollar AS mengurangi pengawasannya. "Keterpurukan rupiah saat ini hanya sementara karena peluang untuk menguat kembali masih cukup besar," ucapnya.

Ia mengatakan, pemerintah melalui Departemen Keuangan akan melakukan penawaran Surat Utang Negara sebanyak 24 kali dengan nilai sebesar Rp 99 triliun untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih baik.

"Selain itu, pemerintah juga mencanangkan dana sebesar Rp 50 triliun untuk usaha kecil dan menengah karena pada sektor ini cukup tahan terhadap tekanan krisis," katanya.