Pemerintah Jaga Stabilitas dan Ketahanan Ekonomi di Tengah Dinamika Global
Jakarta, (01/04/2026) – Pemerintah terus menjaga stabilitas dan ketahanan perekonomian nasional di tengah meningkatnya dinamika global. Hal ini tercermin dari kinerja sektor manufaktur Indonesia yang masih berada pada zona ekspansif pada Maret 2026, meskipun mengalami moderasi. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur tercatat sebesar 50,1, menurun dari bulan sebelumnya sebesar 53,8, dipengaruhi oleh penurunan permintaan baru dan ekspor serta meningkatnya biaya input akibat kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok global.
Meski demikian, fundamental industri manufaktur domestik tetap terjaga, didukung oleh permintaan dalam negeri yang stabil serta optimisme pelaku usaha terhadap prospek ke depan. Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, menegaskan bahwa ketahanan sektor manufaktur mencerminkan kemampuan ekonomi Indonesia dalam menghadapi berbagai tekanan eksternal.
“Sektor manufaktur Indonesia tetap ekspansif pada Maret 2026, ditopang permintaan domestik dan kinerja mitra dagang utama yang terjaga. Dengan adanya beberapa tantangan seperti kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok internasional akibat eskalasi geopolitik global, serta libur dalam rangka Hari Besar Keagamaan Nasional, PMI tetap di zona ekspansi. Hal ini menegaskan ketahanan fundamental sektor manufaktur nasional dan upaya Pemerintah untuk terus antisipatif terhadap risiko ke depan,” ujar Febrio.
Sentimen bisnis tetap terjaga seiring dengan prospek permintaan global yang masih positif. Sejumlah negara mitra dagang utama seperti Vietnam, Filipina, Thailand, India, dan Amerika Serikat masih mencatatkan PMI manufaktur pada zona ekspansif. Bahkan, kawasan Eropa juga mulai menunjukkan perbaikan dengan Eurozone yang kembali ekspansif. Kondisi ini menjadi sinyal positif bagi prospek ekspor manufaktur Indonesia.
Dari sisi domestik, aktivitas ekonomi menunjukkan kinerja yang solid. Indeks Penjualan Riil (IPR) Februari 2026 tumbuh tinggi sebesar 6,9% (yoy), didorong oleh peningkatan konsumsi selama Ramadan dan menjelang Idulfitri. Kinerja sektor otomotif juga menguat, dengan penjualan mobil tumbuh 12,2% (yoy) dan penjualan sepeda motor yang tetap positif. Selain itu, aktivitas sektor riil tercermin dari pertumbuhan penjualan semen sebesar 5,3% serta konsumsi listrik sektor bisnis dan industri yang tetap meningkat. Optimisme masyarakat juga terjaga, tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang berada pada level optimis sebesar 125,2.
Stabilitas harga turut menjadi indikator penting yang tetap terjaga. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Maret 2026 tercatat sebesar 3,5% (yoy), menurun dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini dipengaruhi oleh meredanya tekanan pada seluruh komponen inflasi, terutama administered price dan volatile food. Berbagai kebijakan pengendalian inflasi yang dilakukan pemerintah, termasuk operasi pasar dan pengawasan distribusi, turut berperan dalam menjaga stabilitas harga di tengah meningkatnya permintaan selama Ramadan dan Idulfitri.
“Terjaganya inflasi selama periode Ramadan dan Idulfitri turut didukung upaya Pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat melalui berbagai kebijakan, seperti insentif diskon transportasi, bantuan pangan, serta pengendalian inflasi dengan operasi pasar, intervensi harga, dan pengawasan distribusi,” tambah Febrio.
Kinerja sektor eksternal juga menunjukkan ketahanan yang baik. Neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2026 kembali mencatat surplus sebesar USD1,27 miliar, melanjutkan tren surplus selama 70 bulan berturut-turut. Secara kumulatif Januari–Februari 2026, surplus perdagangan mencapai USD2,23 miliar, dengan total ekspor sebesar USD44,32 miliar atau tumbuh 2,19% (ctc). Kinerja ini didukung oleh ekspor komoditas unggulan seperti besi dan baja, minyak nabati, serta bahan bakar mineral. Sementara itu, peningkatan impor yang didominasi bahan baku dan barang modal mencerminkan penguatan aktivitas produksi dan investasi domestik.
Ke depan, Pemerintah akan terus mencermati perkembangan geopolitik global serta memperkuat langkah mitigasi untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Berbagai bauran kebijakan akan terus dioptimalkan, termasuk penguatan iklim investasi melalui percepatan penyelesaian hambatan usaha (debottlenecking) serta penguatan kemandirian energi dan transformasi digital. Upaya ini diharapkan dapat menjaga momentum pertumbuhan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional dalam menghadapi dinamika global yang semakin kompleks.