Manufaktur Kembali Ekspansif, Inflasi Melandai, Prospek Ekonomi Tetap Terjaga

Manufaktur Kembali Ekspansif, Inflasi Melandai, Prospek Ekonomi Tetap Terjaga

Jakarta, (03/08/2026) – Di tengah dinamika perekonomian global yang masih penuh tantangan, sejumlah indikator ekonomi nasional menunjukkan perkembangan yang tetap terjaga. Aktivitas manufaktur kembali memasuki fase ekspansi, inflasi tahunan melandai, serta berbagai indikator konsumsi dan produksi domestik masih menunjukkan penguatan. Sementara itu, defisit neraca perdagangan pada Juni 2026 menjadi perhatian pemerintah untuk terus mencermati dinamika permintaan global dan perkembangan impor, khususnya yang dipengaruhi harga energi dunia.

Pada Juli 2026, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia meningkat ke level 50,2 dari 46,9 pada bulan sebelumnya dan kembali berada di zona ekspansi. Perbaikan tersebut didorong oleh meningkatnya produksi dan penambahan tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan operasional perusahaan. Penguatan aktivitas manufaktur juga tercermin pada sejumlah negara mitra dagang, memberikan sinyal positif terhadap prospek pemulihan manufaktur global.

Dari sisi perdagangan, ekspor Indonesia pada Juni 2026 tumbuh 8,84 persen (yoy) menjadi USD25,46 miliar, didorong oleh peningkatan ekspor nonmigas, terutama batu bara serta minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya. Sementara itu, impor meningkat 34,27 persen (yoy) menjadi USD25,91 miliar, terutama pada kelompok bahan baku/penolong dan barang modal. Kondisi tersebut menyebabkan neraca perdagangan Juni 2026 mengalami defisit tipis sebesar USD0,45 miliar, meskipun secara kumulatif Januari–Juni 2026 masih mencatat surplus USD3,58 miliar.

Inflasi Juli 2026 tercatat 2,88 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 3,34 persen, terutama dipengaruhi melandainya inflasi komponen harga bergejolak seiring meningkatnya pasokan hortikultura. Di sisi lain, inflasi inti tetap stabil pada 2,76 persen (yoy), mencerminkan permintaan domestik yang masih terjaga di tengah tekanan harga komoditas global.

Berbagai indikator lainnya juga menunjukkan prospek ekonomi nasional yang tetap solid. Penjualan mobil tumbuh 32,9 persen, konsumsi BBM meningkat 6,5 persen, penjualan semen naik 13,5 persen, serta penjualan listrik tumbuh 10,8 persen. Optimisme masyarakat juga tetap terjaga dengan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang berada di level 117,8. Pemerintah akan terus menjaga stabilitas makroekonomi melalui pengendalian inflasi, penguatan daya beli masyarakat, peningkatan daya saing sektor manufaktur, serta mendorong perdagangan dan investasi guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. (fms)