Masa Depan Penerimaan Negara, Masa Depan Generasi Penerus Bangsa

Tangerang Selatan, (09/01/2026) - Sektor mineral dan batubara (Minerba) merupakan salah satu kontributor utama Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Indonesia. Dalam konteks penerimaan negara kontemporer, mahasiswa perlu memahami dinamika kebijakan Minerba tidak hanya dari perspektif Sumber Daya Alam (SDA), tetapi juga dari sudut pandang ekonomi, keberlanjutan fiskal, serta tata kelola penerimaan negara. Inilah latar belakang pelaksanaan Kuliah Umum Seminar Penerimaan Negara Kontemporer bertemakan ‘Hilirisasi Minerba dan Masa Depan Penerimaan Negara’ yang diselenggarakan di Aula Gedung N Politeknik Keuangan Negara STAN (09/01). Materi kuliah umum disampaikan langsung oleh Direktur Strategi Penerimaan Negara Bukan Pajak, Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Kementerian Keuangan, Supriyadi dan dimoderatori langsung oleh Dosen PKN STAN, Mohammad Fachrudin.

Dalam Mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045, Indonesia membutuhkan akselerasi ekonomi dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Strategi akselerasi pertumbuhan ekonomi dilakukan melalui penguatan Industri Berbasis SDA untuk mencapai Keunggulan Kompetitif melalui transformasi berkelanjutan subsektor Minerba. Hilirisasi tidak hanya berkontribusi dalam penerimaaan negara, juga penting untuk mencapai nilai tambah yang lebih tinggi atas pengelolaan Minerba.

“Bauran kebijakan fiskal yang mendorong hilirasi diantaranya: (i) pemberian fasilitas untuk mendorong investasi; (ii) menerapkan bea keluar untuk lebih mendorong hilirisasi di dalam negeri,” jelas Supriyadi.

“Insentif fiskal yang dimaksud adalah dengan pemberian tax holiday, tax allowance, fasilitas KEK, PNBP tarif lebih rendah. Ditambah dengan disentif fiskal berupa bea keluar harapannya dapat membantu industri hilirisasi minerba meningkatkan nilai tambah dalam bentuk produk-produk hilirisasi minerba yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui perluasan basis pajak. Selain itu, harmonisasi kebijakan dari setiap stakeholder mutlak untuk dilakukan,” lanjut Supriyadi.

Selain itu, kehadiran Danantara diharapkan dapat menjadi katalisator hilirisasi melalui investasi di sektor-sektor strategis termasuk minerba.

Insentif fiskal telah dimanfaatkan industri hilirisasi minerba, namun perlu dilakukan kembali penentuan fokus target industri yang dapat diberi insentif, yaitu industri hilirisasi dengan nilai tambah lebih tinggi. Harapannya, kegiatan ini dapat memberikan pemahaman komprehensif mengenai tantangan dan peluang penerimaan negara di era hilirisasi Minerba. (fms/dspnbp)