Menkeu: APBN Tetap Kuat Jadi Shock Absorber di Tengah Gejolak Global
Jakarta, (13/03/2026) – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap menunjukkan kinerja yang solid sebagai instrumen shock absorber di tengah eskalasi konflik geopolitik dan volatilitas harga energi global.
Dalam Konferensi Pers APBN KiTa di Jakarta pada Rabu (11/3), Menkeu menyampaikan bahwa fundamental ekonomi Indonesia berada dalam posisi yang kuat. Rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) hingga Maret 2026 tercatat sebesar US$68 per barel, masih di bawah asumsi APBN 2026 sebesar US$70 per barel meskipun harga minyak mentah Brent sempat menembus US$100 per barel.
"Sejauh ini masih terdapat ruang fiskal untuk mengantisipasi risiko kenaikan harga dalam pelaksanaan APBN 2026. Nanti kalau ke depan keadaan menekan lagi, kita akan tentunya mengatur APBN, tapi kita semua dalam berawal dari posisi yang kuat APBN-nya. Jadi teman-teman gak usah khawatir," ujar Purbaya.
Kinerja sektor riil juga menunjukkan penguatan. PMI manufaktur Indonesia pada Februari 2026 mencapai 53,8, tertinggi dalam dua tahun terakhir.
"Ekonomi kita sedang mengalami masa ekspansi dalam posisi yang kuat. Jadi teman-teman tidak usah takut, kita bisa mengendalikan dampak negatif gejolak global ke depan," tambahnya.
Hingga akhir Februari 2026, pendapatan negara mencapai Rp358 triliun atau 11,4 persen dari target dan tumbuh 12,8 persen (yoy). Sementara itu, belanja negara terealisasi Rp493,8 triliun atau 12,8 persen dari pagu, meningkat 41,9 persen dibandingkan tahun lalu. Defisit APBN tercatat Rp135,7 triliun atau 0,53 persen dari PDB.
"Jadi secara keseluruhan kombinasi pendapatan negara yang tumbuh positif, belanja yang terakselerasi untuk mendorong ekonomi, serta defisit yang tetap terkendali, menunjukkan bahwa APBN terus berperan optimal sebagai instrumen stabilisasi sekaligus penggerak pertumbuhan ekonomi nasional," tutup Menkeu.