Catatan di Balik Optimisme Pidato Kenegaraan

PIDATO Kenegaraan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono di depan rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), 15 Agustus lalu, memaparkan banyak capaian yang telah kita peroleh bersama sebagai bangsa.

Harus kita akui, pidato tersebut bertabur pesona dan harapan. Di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian dan tudingan banyak pihak bahwa kita sedang berada dalam situasi ”pemerintah yang tidak berfungsi baik (broken government)”, pidato tersebut menghibur dan membangkitkan optimisme. Mari kita simak beberapa di antaranya.

Dikatakan oleh Presiden, Indonesia kini telah berubah menjadi bangsa yang dinamis dan penuh harapan. Kita telah melaksanakan reformasi menyeluruh di berbagai sektor. Kemudian, pada tahun ini kita kembali mencapai swasembada beras dan untuk pertama kalinya sejak Orde Baru harga beras di dalam negeri lebih rendah daripada harga internasional.

Selanjutnya, angka-angka kemiskinan dan pengangguran terus menurun secara signifikan, berkat paradigma pembangunan yang digunakan,yaitu ”pertumbuhan disertai pemerataan”( growth with equity). Anggaran pendidikan ditingkatkan, sehingga pada 2009 kita telah bisa memenuhi anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN sebagaimana diamanatkan konstitusi.

Program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun juga dapat dilakukan secara efektif dengan biaya yang rendah dan terjangkau oleh masyarakat. Program keluarga berencana (KB) pun berhasil karena ada peningkatan dari 4,2 juta peserta KB baru pada tahun 2005 menjadi 5,7 juta peserta pada 2007.

Di tengah tekanan eksternal yang bertubi-tubi, pertumbuhan ekonomi tercatat di atas 6% selama tujuh triwulan berturutturut, dan pertumbuhan semester I 2008, sebesar 6,4%, merupakan laju pertumbuhan tertinggi setelah krisis ekonomi 1998.Pada saat yang sama, anggaran untuk program penanggulangan kemiskinan telah meningkat sekitar tiga kali lipat dalam kurun waktu 2005–2008.

Tiga kluster program penanggulangan kemiskinan yang berturut-turut diibaratkan sebagai pemberian ikan bagi rakyat miskin, pemberian kail, dan pemberian perahu,berjalan baik. Kita mencatat, dalam beberapa hal Presiden memang tampak sangat optimistis. Dalam forum pidato kenegaraan Presiden tentu tidak memiliki waktu cukup untuk membahas hal-hal yang lebih detail atau mikro.

Pada saat berbicara tentang swasembada beras, misalnya,Presiden tentu tidak bisa membahas soal infrastruktur pengairan yang rusak parah di berbagai daerah atau tentang laju konversi lahan pertanian yang beralih fungsi.Atau pada saat bicara tentang upaya pemerataan Presiden tentu tak sempat menyinggung soal ketimpangan pendapatan yang semakin besar, baik antarwilayah maupun antargolongan penduduk. Jumlah pengangguran yang berkurang juga tidak diletakkan dalam konteks semakin membesarnya pekerja sektor informal.

Padahal,data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, dari 102,05 juta orang yang bekerja, hanya sekitar 28,52 juta orang yang bekerja sebagai buruh/karyawan di sektor formal.Presiden tentu juga tidak menyinggung hasil berbagai survei yang menunjukkan daya beli petani dan buruh merosot dalam beberapa tahun terakhir.Fakta menurunnya pertumbuhan sektor industri, dari kisaran angka 6–8% per tahun menjadi antara 4-5%, yang mendorong banyak kalangan bicara soal ancaman deindustrialisasi, juga tidak mendapat perhatian.

Tentang efektivitas anggaran, tingkat realisasi anggaran yang rendah yang mengurangi peran APBN sebagai stimulator dan dinamisator perekonomian, juga tidak disinggung. Pola yang selalu berulang setiap tahun, yaitu anggaran baru ”dihabiskan” pada dua-tiga bulan terakhir, belum jelas kapan akan diperbaiki. Demikian juga sebagian besar anggaran yang terserap untuk biaya birokrasi (gaji, tunjangan, sarana dan prasarana kantor atau rumah dinas, perjalanan dinas, dan lain-lain), yang besarnya diperkirakan sekitar 70%, tidak dibahas.

Jumlah pembayaran bunga utang, yang dalam RAPBN 2009 dianggarkan Rp109 triliun, mungkin rekor tertinggi sejak Orde Baru, sesungguhnya sangat mengkhawatirkan. Dari sisi penerimaan,jumlah wajib pajak (WP) yang dijadikan andalan, yang hanya sekitar 50.000 dari sekitar 6 juta pemegang NPWP (nomor pokok wajib pajak), yang menyiratkan kerentanan tinggi dan relatif stagnan, tak jelas bagaimana akan ditingkatkan.

Dalam hal penerimaan sektor migas,penurunan produksi minyak bumi yang disertai penggelembungan cost-recovery, juga seperti dibiarkan tetap menjadi teka-teki. Kondisi usaha mikro,kecil, dan menengah (UMKM) yang sedang terpuruk di era liberalisasi dan globalisasi pasar tak dibicarakan. Presiden hanya memaparkan peningkatan animo dan ekspansi kredit usaha rakyat (KUR) yang per 31 Juli 2008 telah direalisasikan sejumlah Rp8,9 triliun.

Namun, laporan tentang KUR yang baru menjangkau sekitar 21% UMKM dan kecenderungan daya hisap sektor korporasi yang semakin besar dalam alokasi kredit tidak mendapat porsi ulasan. Terhadap paradigma ”pertumbuhan dengan pemerataan” sesungguhnya kita bisa membandingkannya dengan paradigma ”pemerataan sebelum pertumbuhan”(equity before growth) yang sekarang dianggap semakin tepat sebagai model pembangunan negara sedang berkembang berpenduduk besar.

Presiden harus kita ingatkan, sistem ekonomi yang sesuai konstitusi adalah sistem ekonomi yang memberi tekanan dan mengedepankan aspek pemerataan dan kemakmuran bersama. Tentu saja kita semua sependapat, prestasi ekonomi tidak mungkin bisa diciptakan dalam semalam, seperti kata pepatah ”Roma tidak dibangundalamsemalam”.

Kita juga tak boleh terperangkap dalam mentalitas berpikir ”seharmal”(sehari semalam) gaya kisah Sangkuriang dan Bandung Bondowoso yang berjanji membuat perahu atau candi dalam semalam. Presiden benar, kita harus bermental bisa, karena kalau kita semua bisa maka Indonesia pasti bisa.Harapan besar pemimpin akan melahirkan semangat besar dan capaian tinggi dari yang dipimpin, semacam ”self-fulfilling prophecies”.

Ini fenomena psikologi yang oleh Stanley Livingstone (1969) disebut sebagai ”pygmalion effect”. Sejarah telah mencatat, orang-orang besar adalah mereka yang percaya dengan mimpi-mimpi besarnya (the great people are those who believe in the beauty of their dreams).

Tentu yang kita butuhkan adalah mimpi kolektif,bukan mimpi di siang bolong (day dream) yang setiap saat bisa berubah menjadi mimpi yang menakutkan (nightmare).(*) *) Penulis,Guru Besar FE UKSW,Salatiga; Alumnus Tinbergen Institute,Belanda.

PROF HENDRAWAN SUPRATIKNO PH.D*

Seputar Indonesia