Pemerintah Dorong Transisi Energi dan Investasi, Ajak Spanyol Tingkatkan Kolaborasi Strategis
Jakarta, (19/11/2025) — Pemerintah Indonesia menegaskan arah kebijakan pembangunan nasional yang semakin inklusif dan berkelanjutan dalam acara Bridging Markets: Ties Between Spain & Indonesia yang diselenggarakan oleh BBVA of Spain. Dalam pidato kuncinya, Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, memaparkan bagaimana Indonesia memperluas pusat-pusat pertumbuhan di luar Jawa, mempercepat transisi energi bersih, dan memperkuat investasi untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 2026.
Acara yang digelar di hotel bilangan Jakarta ini mempertemukan pemerintah, pelaku industri, lembaga keuangan, dan perwakilan Spanyol untuk memperkuat kerja sama ekonomi dua negara. Forum ini menjadi ruang dialog mengenai peluang investasi, energi terbarukan, ekonomi hijau, dan penguatan rantai pasok global. BBVA dan Kedutaan Besar Spanyol menegaskan komitmen untuk memperluas kolaborasi strategis, termasuk pembiayaan hijau serta potensi investasi pada industri energi baru.
Febrio menekankan bahwa pembangunan ekonomi Indonesia kini benar-benar meluas ke seluruh wilayah. “Tidak hanya di pusat Jawa, tetapi juga menyebar ke pusat perkembangan lainnya,” ujar Febrio.
Febrio menjelaskan bahwa ketahanan energi diperkuat melalui berbagai proyek strategis nasional, yakni pembangunan smelter tembaga di Papua, penguatan ekosistem nikel di Maluku Utara, pengembangan gas dari Tangguh, hingga pendirian pabrik amonia baru di kawasan timur.
Proyek-proyek ini tidak hanya menyediakan pasokan energi yang lebih kuat, tetapi juga membangun pusat ekonomi baru dari hulu ke hilir.
Di tengah tuntutan global terhadap penggunaan energi rendah karbon, Indonesia mempercepat transisi energi bersih melalui pengembangan PLTS, pemanfaatan energi angin, dan eksploitasi panas bumi. “Jika kita memiliki listrik, kita akan meningkatkan campuran renewable dan memberikan lebih banyak dukungan dari sisi fiskal untuk membuat lebih banyak renewable,” jelas Febrio.
Ia menambahkan bahwa business plan terbaru PLN kini menempatkan porsi energi terbarukan lebih tinggi dibanding energi fosil untuk 10 tahun ke depan—pergeseran besar dalam arah kebijakan energi nasional.
Indonesia juga tengah mengembangkan pasar karbon yang semakin terbuka secara internasional. “Kami membangun pasar karbon kami untuk terbuka secara internasional dan kami berharap melihat lebih banyak kesempatan dikembangkan antara Indonesia dan Eropa,” ungkapnya.
Dengan hutan terluas ketiga di dunia, peluang kolaborasi Indonesia–Spanyol dalam perdagangan karbon dinilai sangat strategis.
Sejalan dengan agenda energi dan investasi, Febrio menekankan bahwa pemerintah tetap menjaga keseimbangan pembangunan, termasuk dukungan bagi sektor kerakyatan. Program-program unggulan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Cek Kesehatan Gratis (CKG), revitalisasi sekolah, Sekolah Rakyat, serta Koperasi Merah Putih disebut telah memberikan manfaat nyata di tingkat desa dan kecamatan. Hal ini sejalan dengan data dalam Fiscal Outlook yang mencatat bahwa transaksi ekonomi kini semakin bergerak di tingkat akar rumput.
Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,4% pada 2026 dan membuka peluang melaju lebih tinggi sejalan dengan berjalannya mesin-mesin pertumbuhan ekonomi.
“Kita akan berpindah dari ekonomi berdasarkan konsumsi, kita akan mendorong lebih banyak aktivitas ekonomi berdasarkan investasi,” kata Febrio.
Salah satu kebijakan besar yang menjadi motor transformasi ini adalah konsolidasi BUMN menjadi Danantara, yang diposisikan sebagai penggerak utama investasi nasional.
“Dengan konsolidasi ini, mereka akan lebih kompetitif secara global dan itulah yang diinginkan banyak investor ketika berbicara dengan Danantara,” jelasnya.
Febrio juga mengingatkan pentingnya menjaga sektor padat karya sebagai tulang punggung perekonomian. “Ketika kita berusaha menghasilkan pertumbuhan tinggi, kita tidak boleh lupa resiliensi sektor intensif pekerjaan,” ujar Febrio.
Pertanian, tekstil, serta industri makanan dan minuman tetap menjadi prioritas karena menyerap puluhan juta pekerja.
Menutup pidatonya, Febrio mengajak sektor swasta Spanyol untuk memanfaatkan peluang investasi yang terus berkembang di Indonesia. “Saya mengharapkan banyak kolaborasi dari Spanyol dan BBVA lihat peluang di depan untuk mendukung pembangunan ekonomi tinggi Indonesia,” tutup Febrio. (fms/aa)
.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
