Perekonomian Indonesia Tetap di Jalur, Didukung Ekspansi Manufaktur dan Stabilitas Harga

Jakarta, (3/11/2025) – Perekonomian Indonesia terus menunjukkan kinerja yang solid di awal November 2025. Sejumlah indikator utama mencerminkan tren positif, antara lain ekspansi sektor manufaktur, surplus neraca perdagangan yang berkelanjutan, serta inflasi yang tetap terkendali.

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, menyampaikan bahwa capaian tersebut mencerminkan ketahanan ekonomi nasional yang didukung oleh kuatnya permintaan domestik dan meningkatnya kepercayaan pelaku usaha.

“Kita terus berupaya agar ekonomi tumbuh lebih tinggi dengan berbagai akselerasi kebijakan yang terukur dan terarah untuk mendorong aktivitas ekonomi domestik sekaligus mendorong ekspor bernilai tambah,” ujar Febrio.

Manufaktur Tetap Ekspansif

Aktivitas manufaktur nasional tercatat tetap ekspansif selama tiga bulan berturut-turut. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Oktober 2025 berada di level 51,2, menunjukkan peningkatan permintaan domestik dengan sisi produksi yang relatif stabil. Kondisi ini mendorong peningkatan pembelian bahan baku untuk menambah stok serta mengantisipasi penguatan permintaan ke depan.

Optimisme pelaku industri juga masih tinggi terhadap prospek produksi setahun mendatang, seiring ekspektasi terhadap stabilitas usaha dan peningkatan permintaan. Secara global, negara mitra dagang utama seperti India (58,4) dan Tiongkok (50,6) juga mencatat ekspansi, begitu pula Thailand (56,6) dan Vietnam (52,2) di kawasan ASEAN. Tren ini menjadi sinyal positif bagi kinerja ekspor Indonesia di periode mendatang.

Neraca Perdagangan Kembali Surplus

Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia juga tetap tangguh. Pada September 2025, neraca perdagangan mencatat surplus sebesar USD4,34 miliar, meningkat USD1,15 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Surplus ini memperpanjang rekor positif selama 65 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Surplus perdagangan terutama disumbang oleh sektor nonmigas sebesar USD5,99 miliar, sementara neraca migas masih mencatat defisit USD1,64 miliar. Nilai ekspor mencapai USD24,68 miliar atau tumbuh 11,41% (yoy), didorong oleh ekspor industri pengolahan dan pertanian. Sebaliknya, ekspor pertambangan menurun akibat harga komoditas yang melemah.

Impor turut meningkat 7,17% (yoy) menjadi USD20,34 miliar, terutama pada barang modal, barang konsumsi, serta bahan baku dan penolong—menandakan aktivitas produksi dalam negeri yang masih tinggi. Capaian surplus ini membantu menjaga kestabilan nilai tukar rupiah serta mendukung terkendalinya inflasi.

Inflasi Terjaga

Inflasi Oktober 2025 tercatat sebesar 2,86% (yoy), masih dalam kisaran sasaran yang ditetapkan Pemerintah. Kenaikan harga pangan akibat gangguan cuaca dan kenaikan harga emas menjadi faktor pendorong utama. Komponen Volatile Food naik 6,59% (yoy) dipicu oleh kenaikan harga beras, cabai rawit, dan daging ayam ras.

Sementara itu, inflasi inti relatif stabil di 2,36% (yoy) meski harga emas perhiasan meningkat, dan inflasi Administered Price tercatat 1,45% (yoy) akibat kenaikan tarif air minum dan rokok di beberapa wilayah.

Pemerintah Perkuat Mitigasi dan Hilirisasi

Pemerintah memastikan langkah-langkah mitigasi terus dilakukan untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan di tengah potensi gangguan cuaca. Peran Bulog diperkuat untuk menyerap hasil panen domestik serta menjaga ketersediaan melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Di sisi eksternal, Pemerintah juga terus mendorong keberlanjutan ekspor melalui hilirisasi industri, peningkatan daya saing, dan diversifikasi mitra dagang lewat berbagai perjanjian perdagangan internasional.

Dengan fundamental ekonomi yang tetap kuat dan kebijakan fiskal yang adaptif, perekonomian Indonesia diyakini akan tetap berada di jalur yang positif untuk menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan. (fms)