Raksasa India Kurang Dimanfaatkan RI
Bila kita ikuti perkembangan ekonomi dan perdagangan India-Indonesia sepertinya banyak mengalami pasang surut. Sejak dulu, perkembangan budaya India sangat mendominasi dan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan di beberapa wilayah tanah air. Hal ini sekaligus mempengaruhi hubungan dan perkembangan ekonomi serta perdagangan kedua belah pihak.
Demikian juga dalam perkembangannya baik sebelum kemerdekaan, telah terjalin hubungan kerja sama. Bentuk hubungan dan kerja sama itu juga telah dicatat dalam sejarah bahwa Indonesia pernah menyumbangkan beras untuk membantu kelaparan di India pascakemerdekaan mereka. Namun, India sekarang ini telah banyak mengalami kemajuan.
Perkembangan ekonomi mereka diawali dengan reformasi keterbukaan ekonomi dan perdagangan India yang dimulai awal 90-an, yang telah membawa berbagai perubahan di India. Beberapa keberhasilan itu diantaranya adalah meningkatnya PDB India, terakhir tahun 2007 telah menembus urutan sepuluh besar dunia dan telah melampaui beberapa negara maju.
Demikian juga pertumbuhan ekonomi India yang di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia. Tentu hal ini berpengaruh pada meningkatnya kebutuhan akan bahan baku, sumber daya manusia, kebutuhan infrastruktur, termasuk kebutuhan pangan bagi ma-syarakat yang berjumlah 1,2 miliar ini.
Indikator lainnya adalah meningkatnya golongan miskin menjadi golongan menengah dan golongan menengah menjadi kelas atas. Ini semuanya merupakan potensi dan sekaligus peluang bagi negara Indonesia untuk memenuhi kebutuhan mereka tersebut.
Peluang membaiknya perekonomian India atau kalau boleh dibilang kebangkitan raksasa India ini tidak banyak dimanfaatkan oleh pemerintah Indonesia. Perkembangan investasi India ke Indonesia terlihat masih sangat kecil.
Rata-rata investasi India ke Indonesia dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2007 adalah hanya sebesar 55,95 juta d�lar AS. Apalagi bila dibandingkan dengan rata-rata rencana investasi India terhadap total investasi negara-negara lain, ke Indonesia yang hanya sebesar kurang dari 1 % atau 0,33%.
Bila dibandingkan dengan investasi dari negara-negara ASEAN, masih jauh lebih besar dari investasi negara-negara ASEAN yang masuk ke Indonesia yang rata-rata sebesar 3.919,9 juta d�lar AS. Atau rata-rata investasi ASEAN terhadap total investasi dunia ke Indonesia sebesar 23,32% jauh lebih tinggi dari rata-rata investasi India terhadap total investasi dunia ke Indonesia yang kurang dari 1 %. Gambaran tersebut terlihat sebagai berikut:
Oleh karena itulah, hubungan ekonomi dan perdagangan India-Indonesia masih perlu dioptimalkan terutama karena potensi investasi India ke Indonesia masih cukup menjanjikan.
Banyak perusahaan India, seperti Tata, yang sekarang ini terus mengadakan ekspansi usaha ke berbagai kawasan. Demikian juga deversifikasi produk ekspor ke India perlu dilakukan.
Ekspor Indonesia ke India masih banyak didominasi oleh komoditas hasil alam dan pertanian seperti batu bara, minyak sawit (CPO), rempah-rempah serta peralatan rumah tangga (house hold equipment) ataupun hasil kerajinan, termasuk ekspor tekstil dan produk tekstil.
Peluang ekspor ke India masih cukup banyak. Berbagai produk olahan masih banyak dibutuhkan negara ini. Memang, masih banyak kendala yang masih dirasakan oleh eksportir kita antara lain masih tingginya pengenaan bea masuk komoditas tertentu yang diterapkan pemerintah India, seperti CPO (Crude Palm Oil) maupun beberapa produk pertanian lainnya.
Demikian juga masalah hubungan dagang yang masih menggunakan negara ketiga atau negara perantara seperti Singapura atau Malaysia. Tentu ini tugas pemerintah untuk membuat Memorandum of Understanding (MOU) hubungan bilateral kedua negara untuk mengatasi hambatan-hambatan perdagangan baik hambatan tarif maupun nontarif.
MoU tersebut sedikit banyak akan membuka peluang produk-produk baru yang mempunyai vallue added lebih tinggi seperti kertas, otomotif (suku cadang), dan barang-barang elektronik lainnya, dibanding dengan produk-produk hasil pertanian atau hasil alam. Tentu hal ini perlu kesepakatan kerja sama ekonomi dan perdagangan bilateral kedua negara yang menyeluruh segera direalisasikan, sekaligus meningkatkan efisiensi perdagangan.
Demikian juga kerja sama regional seperti Free Trade Area antara Asean-India untuk segera direalisasikan perdagangan bebas kedua wilayah tersebut.
Di sisi lain ke depan, kita mesti memanfaatkan peningkatan kerjasama dibidang teknologi informasi. Kita tahu bahwa permintaan bidang teknologi informasi dalam negeri kita meningkat cukup besar. India sangat terkenal sebagai penyedia teknologi informasi yang cukup maju.
Beberapa negara bagian di India seperti Karnataka dan Kota Bangelore sebagai ibu kotanya sudah menggantikan Silicon Valley sebagai kiblat IT dunia. Kerja sama teknologi ini tentu diharapkan mempunyai tujuan ganda, yang pertama adalah merealisasikan perdagangan langsung, termasuk produk-produk teknologi informasi dan yang kedua adalah sekaligus transfer technology.
Sungguh gembira dan penuh harap dengan pernyataan Dubes baru kita di India yang telah lama kosong (vacum), yang ingin segera merealisasikan kesepakatan kerja sama ekonomi dan perdagangan bebas (FTA) yang komprehensif antara Indonesia dan India yang diharapkan selesai bulan Agustus 2008. Kerja sama ini tentu mempunyai banyak target, yang salah satunya adalah perdagangan India-Indonesia akan dapat mencapai US$ 10 milyar di tahun 2009.
*Peneliti pada Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan. (pernah dimuat di Sinar Harapan, 4 Juli 2008)