Seminar Nasional
Jakarta (10/09): Bertempat di Aula Mezzanine Gedung Juanda I Lantai 2 Kementerian Keuangan, Pusat Pengelolaan Risiko Fiskal (PPRF) Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan bekerja sama dengan Lembaga Pembiayaan Ekspor dan Impor (LPEI) menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema “Inisiatif Program National Interest Account (NIA) Sebagai Alternatif Percepatan Pertumbuhan Ekspor Nasional”. Peserta yang hadir dalam seminar ini merupakan stakeholders terkait yaitu Kementerian Perdagangan dan Kementerian Koperasi dan UKM, serta Kementerian/Lembaga terkait lainnya, asosiasi-asosiasi, dan akademisi. Seminar diawali dengan penyampaian laporan kegiatan oleh Kepala PPRF BKF, Freddy R. Saragih. Freddy R. Saragih menyampaikan bahwa seminar ini merupakan sarana untuk saling berbagi pendapat dalam kaitannya dengan mengakselerasi pengembangan ekspor nasional melalui NIA. NIA merupakan salah satu satu elemen terpenting untuk tujuan-tujuan strategis tertentu dalam pengembangan ekonomi nasional.
Seminar ini dibuka dengan penyampaian sambutan kunci oleh Menteri Keuangan, Chatib Basri. Dalam sambutannya Chatib Basri menyampaikan bahwa seminar ini merupakan kegiatan yang sangat penting dan waktunya tepat sekali dalam konteks perekonomian dunia dan perekonomian Indonesia pada kondisi saat ini. Chatib Basri juga menyampaikan mengenai perkembangan situasi perekonomian global terkini.
Seminar ini dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama mengangkat tema mengenai arah kebijakan ekspor nasional dan sesi kedua membahas mengenai konsep implementasi NIA.
Sesi I
Sesi ini menghadirkan Kepala BKF Kementerian Keuangan, Bambang Brodjonegoro dan Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Gusmardi Bustami sebagai penyaji, serta Kepala Pusat Pengkajian Kebijakan dan Iklim Usaha Industri, Badan Pengkajian Kebijakan Iklim dan Mutu Industri (BPKIMI) Kementerian Perindustrian, Haris Munandar sebagai pembahas. Sesi ini dimoderatori oleh Ketua Lembaga Pengkajian Penelitian dan Pengembangan Ekonomi Kamar Dagang dan Industri (LP3E KADIN), Didik J Rachbini. Penyaji pertama, Gusmardi Bustami memaparkan mengenai tantangan dan hambatan ekspor nasional dalam rangka menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN. Dalam presentasinya, Gusmardi menjelaskan mengenai bagaimana geopolitik dan geoekonomi masalah perdagangan dunia saat ini. Penyaji kedua, Bambang Brodjonegoro memaparkan mengenai trade finance sebagai alternatif solusi akselerasi ekspor. Dalam paparannya, Bambang menjelaskan mengenai defisit transaksi berjalan, pilar-pilar utama dalam trade finance, model institusi trade finance, LPEI sebagai institusi trade finance, serta harapan kepada LPEI dan tantangan yang harus dihadapi. Setelah penyampaian materi dari kedua penyaji, sesi ini dilanjutkan dengan penyampaian tanggapan oleh pembahas. Haris Munandar menanggapi antara lain terkait perekonomian saat ini masih terkonsentrasi di Pulau Jawa; perlu ada investasi di hilir (hilirisasi); serta perlu sikap yang hati-hati dalam menghadapi globalisasi berkaitan dengan perjanjian-perjanjian perdagangan yang berpengaruh pada transaksi berjalan. Sesi ini kemudian diakhiri dengan tanya jawab dan diskusi yang dipimpin oleh moderator.
Sesi II
Sesi ini menghadirkan Kepala PPRF BKF, Freddy R. Saragih dan Direktur Eksekutif LPEI, I Made Gede Erata sebagai penyaji, serta Deputi Bidang VII Bidang Pengkajian Sumber Daya UKMK, Kementerian Koperasi dan UKM, I Wayan Dipta dan Kepala Subdirektorat Kekayaan Negara Dipisahkan III, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan, Tio Serepina Siahaan sebagai pembahas. Sesi ini dimoderatori oleh Kepala LPEM FEUI TM Zakir Mahmud. Penyaji pertama Freddy R. Saragih memaparkan mengenai NIA sebagai alternatif kebijakan strategis impor yang terintegrasi. Dalam presentasinya, Freddy menjelaskan kebijakan fiskal terkait fasilitas pembiayaan ekspor nasional, kerangka alur penugasan khusus (NIA), dan contoh program NIA dan manfaatnya bagi perekonomian Indonesia. Penyaji kedua, I Made Gede Erata memaparkan mengenai kapasitas LPEI dalam menjalankan program NIA. Dalam paparannya, Erata menjelaskan profil LPEI, konsep NIA, serta pembelajaran yang bisa diambil dan peluang LPEI. Setelah penyampaian materi dari kedua penyaji, sesi ini dilanjutkan dengan penyampaian tanggapan oleh pembahas. Pembahas pertama, I Wayan Dipta menyampaikan bahwa banyak produk usaha kecil di Indonesia yang perlu dikembangkan. Dengan dukungan dari LPEI, banyak UMKM yang dapat go international. Pembahas kedua, Tio Serepina Siahaan menyampaikan dengan adanya seminar ini, DJKN sebagai unit yang in-charge terkait NIA ini mendapatkan masukan yang berharga. Selain itu Tio juga menyampaikan bahwa diperlukan adanya suatu keputusan yang penting dari sisi kebijakan dan operasional terkait NIA. Sesi ini kemudian diakhiri dengan tanya jawab dan diskusi yang dipimpin oleh moderator.
Seminar kemudian diakhiri dengan penyampaian closing remarks oleh Wakil Menteri Keuangan II, Mahendra Siregar. Mahendra Siregar menekankan bahwa LPEI sebagai pelaku utama dari program NIA ini harus didukung secara optimal dan program NIA yang dilaksanakan harus benar-benar untuk kepentingan nasional bangsa Indonesia. (mi/gh)




