Joint Conference

Jakarta (4/9): Kementerian Keuangan bersama dengan Asian Development Bank Institute (ADBI) mengadakan Joint Conference dengan highlightManaging Financial Integration and Inclusion in ASEAN: Opportunities and Challenges” pada tanggal 3-4 September 2014 di Hotel Borobudur. Tujuan diselenggarakannya konferensi ini untuk meningkatkan saling pengertian, kesepahaman, memperkaya perspektif regional, serta memperkuat upaya regional dalam rangka integrasi keuangan dan keuangan inklusif (financial integration and inclusion).

Pada pembukaan Joint Conference ini, M. Chatib Basri selaku Menteri Keuangan dan Naoyuki Yoshino selaku Dean Asian Development Bank Institute (ADBI) berkenan untuk memberikan keynote speech. Menteri Keuangan menyampaikan pandangannya bahwa dalam integrasi keuangan dan keuangan inklusif di ASEAN harus mempertimbangkan tiga dimensi yang ada, yaitu kondisi dan perkembangan ekonomi global (global context), inisiatif, peluang, serta tantangan dalam kerja sama di kawasan (regional context), serta kesiapan dan inisiatif yang telah dikembangkan oleh negara anggota (national context). Melihat kondisi ekonomi global saat ini yang mendapat banyak tekanan, salah satu tantangan pentingnya adalah memastikan stabilitas ekonomi di kawasan ASEAN yang kebal dari guncangan eksternal, baik itu melalui perdagangan dan/atau saluran keuangan. Walaupun demikian, ASEAN telah terbukti menjadi daerah yang relatif stabil dan tangguh dalam menghadapi tantangan eksternal dan peristiwa ekonomi global baru-baru ini. Oleh karena itu, peran dari kata “Managing” dalam konferensi ini mencerminkan koordinasi yang lebih erat antar anggota, peningkatan kapasitas, pertukaran informasi dan pengetahuan, peningkatan peran sektor keuangan dalam mendukung sektor riil, peningkatan measures of prudency seperti monitoring, surveillance, dan safeguard measures, guna menjaga stabilitas sistem keuangan di kawasan. Fokus integrasi keuangan dan keuangan inklusif juga perlu diseimbangkan, mengingat peran dari keuangan inklusif yang semakin besar dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di tengah situasi ekonomi global saat ini.

Konferensi ini dibagi ke dalam tujuh sesi yang masing-masing sesi terdiri dari satu moderator dan empat pembicara. Setiap sesi dalam konferensi ini mengusung pokok bahasan yang berbeda-beda. Sesi pertama mendiskusikan perkembangan terakhir di pasar keuangan global dan pengaruhnya terhadap pasar keuangan regional, termasuk implikasi untuk arus modal dan arus investasi lainnya. Sesi kedua mendiskusikan inisiatif ASEAN dalam mengintegrasikan bank dan pasar modal termasuk Qualified ASEAN Banks (QABs), harmonisasi standar pasar modal, serta hubungan ASEAN dan pengembangan pasar obligasi. Sesi ketiga mendiskusikan peranan infrastruktur pasar keuangan regional dalam memperkuat hubungan keuangan, terutama pentingnya hubungan perdagangan dan pembayaran yang terintegrasi/harmonis, dan sistem penyelesaian untuk mendukung transaksi dan proses pembayaran. Sesi keempat mendiskusikan hubungan antara integrasi keuangan dan keuangan inklusif khususnya dampak pasar keuangan yang terintegrasi dalam meningkatkan sumber-sumber pertumbuhan domestik, seperti konsumsi dan investasi. Sesi kelima mendiskusikan peranan postal saving system sebagai alternatif untuk meningkatkan akses dan memenuhi kebutuhan masyarakat miskin dan berpenghasilan rendah terhadap layanan keuangan, mengembangkan basis investor domestik, celah sempit di layanan perbankan, dan dukungan stabilitas keuangan. Sesi keenam mendiskusikan peranan micro insurance sebagai solusi alternatif untuk menyediakan layanan keuangan bagi masyarakat miskin. Dan yang terakhir, sesi ketujuh mendiskusikan prospek-prospek integrasi keuangan dan keuangan inklusif dalam ASEAN dengan mempertimbangkan the key issues dan tantangan yang muncul dalam sesi-sesi sebelumnya.

Ditandai dengan selesainya ketujuh sesi tersebut, Joint Conference ini ditutup dengan closing remarks oleh Isa Rachmatarwata selaku Staf Ahli Bidang Kebijakan dan Regulasi Jasa Keuangan dan Pasar Modal dan Naoyuki Yoshino selaku Dean Asian Development Bank Institute (ADBI). Key messages dari Isa Rachmatarwata, setidaknya ada dua pelajaran penting yang dapat diambil dalam konferensi ini, yakni melalui inisiatif seperti postal saving system dan micro insurance untuk tambahan alternatif dan inisiatif pengembangan keuangan inklusif. Kemudian pesan penting yang harus digaris bawahi dari konferensi ini untuk kerjasama ASEAN adalah ASEAN perlu lebih meningkatkan kerja sama pada sektor ini pasca 2015, mengingat keuangan inklusif merupakan agenda yang relatif baru di wilayah tersebut. Tujuan mendasar keuangan inklusif di kawasan adalah untuk meningkatkan akses layanan keuangan yang tepat dan produk untuk masyarakat ASEAN. Hal ini akan meningkatkan kesejahteraan, serta dapat mendukung stabilitas dan kelangsungan pembangunan ekonomi di masing-masing negara dan kawasan. (aip/ar)