Konferensi Internasional IRSA Kembali Digelar, Tahun ini di Ambon

Jakarta, (15/07/2024) – Indonesian Regional Science Association (IRSA) kembali menggelar konfrensi internasional yang ke-19. Kegiatan ini merupakan kerja sama antara IRSA, Kementerian Keuangan dan Universitas Pattimura (UnPati). 19th IRSA International Conference tahun ini diselenggarakan di Kota Ambon, Maluku dengan mengangkat tema Gender Inequality and Climate Change Impacts in Archipelagic Regions. Konfrensi ini bertujuan untuk mempromosikan kemajuan penelitian di seluruh negeri. 

 

“Harapannya dengan adanya acara ini, akademisi dan lembaga pemerintah dapat menyelaraskan satu pemikiran dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan dapat memberikan masukan bagi Pemerintah Daerah Maluku,” ujar Presiden IRSA Djoni Hartono dalam pidato pembukanya.

 

Acara ini memfasilitasi diskusi dan debat terbuka, transfer pengetahuan, dan strategi perumusan kebijakan. Badan Kebijakan Fiskal (BKF) turut berpatisipasi memaparkan kajiannya pada salah satu sesi dalam konfrensi ini. Kajian tersebut antara lain berjudul “Should Indonesia's Corporations Become Greener?" yang dipaparkan oleh Analis Pusat Kebijakan Ekonomi Makro (PKEM) Lalu M. Azmi Prasetya dan  Andi N.S. Kuncoro. Dalam kesimpulan penelitiannya, Andi menjelaskan bahwa kepatuhan terhadap kerangka Environmental, Social, and Governance (ESG) yang rendah mencerminkan rendahnya kesadaran perusahaan terhadap lingkungan. Diperlukan campaign yang lebih persuasif agar dampak produktivitas dari pengurangan risiko kerusakan lingkungan menjadi lebih signifikan. 

 

Sementara itu, kajian lainnya berjudul “Analysis of the Technology Gap Impact on ICT and Export Relations: A Comparison between Developed and Developing Countries” dipaparkan oleh pegawai Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Wignyo Parasian. Dalam kesempatan ini, Wignyo mengungkapkan bahwa kesenjangan teknologi masih tinggi antara negara maju dan negara berkembang.

“Kebijakan perdagangan seharusnya mengurangi kesenjangan teknologi dengan cara mendorong transfer teknologi ke negara berkembang,” jelas Wignyo. 

Disamping itu, terdapat pula kajian menarik BKF lainnya, yakni berjudul “New Pathways Towards Inclusive and Equitable Development: Multidimensional Deprivation Measure for Indonesia” yang dipaparkan oleh Analis PKEM Rina Karlina dan “Did Eastern Indonesia Growth-Catch Up Inclusive” oleh Analis PKEM Andi N.S. Kuncoro. 

 

Konfrensi Internasional IRSA tahun ini dihadiri oleh sekitar 250 peneliti dan pakar ekonomi dari seluruh Indonesia dan mancanegara. IRSA telah menciptakan jaringan besar akademisi dan pembuat kebijakan yang peduli terhadap isu-isu pembangunan daerah. Jaringan ini kini telah memainkan peran besar tidak hanya di arena akademis melalui penelitian dan publikasi, namun juga berkontribusi terhadap kebijakan pembangunan daerah berbasis bukti secara nasional, regional, dan lokal.  (cs)