Menguatkan Tanggap Darurat Kesehatan, Pemerintah siapkan Strategi Keuangan-Kesehatan yang lebih Komprehensif
Jakarta (11/092024) – Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Internasional, Parjiono berperan sebagai Co-Chair dari Kementerian Keuangan Indonesia, hadir pada pertemuan ketiga Joint Finance and Health Task Force (JFHTF) yang diselenggarakan secara hybrid dalam rangkaian Presidensi G20 Brasil pada 9 September 2024.
Pertemuan ketiga JFHTF ini merupakan yang terakhir sebelum pertemuan level Menteri atau Joint Finance and Health Ministers Meeting (JFHMM). JFHTF ketiga membahas tiga agenda prioritas, yaitu: (i) Social Determinants of Health (SDH); (ii) Debt-for-Health Swap Arrangements; dan (iii) Policy Responses on Global Health, and Social and Economic Vulnerabilities and Risks. Dalam agenda prioritas tersebut juga disampaikan beberapa perkembangan wabah Mpox (Cacar Monyet), khususnya terkait deklarasi dari Africa Centres for Disease Control and Prevention (CDC) yang menyatakan bahwa Mpox sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang mengancam secara regional pada 3 Agustus 2024. Sejalan dengan ini, WHO juga telah mendeklarasikan Mpox sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional pada 14 Agustus 2024.
“Indonesia berkomitmen pada prinsip-prinsip yang mendasari upaya bersama kita semua. Kami percaya bahwa tindakan nyata yang kita lakukan bersama mampu membawa perubahan besar di tingkat global. Tahun ini, di bawah kepemimpinan Brasil, fokus pada pendanaan inisiatif yang menangani faktor-faktor sosial penentu kesehatan menjadi sangat penting. Memahami bagaimana faktor sosial, ekonomi, dan lingkungan memengaruhi hasil kesehatan merupakan langkah kunci dalam pendekatan kesehatan masyarakat yang holistik,” ungkap Parjiono.
Parjiono melanjutkan bahwa ancaman yang terus berlanjut seperti Cacar Monyet, Flu Burung, dan tantangan keamanan kesehatan global membutuhkan kewaspadaan dan langkah-langkah proaktif. Pertemuan JFHTF ketiga ini harus secara realistis menilai ancaman dan celah yang ada, serta berkomitmen untuk mengatasinya dengan inovasi, kerja sama, dan tekad guna melindungi kesehatan global. “Langkah-langkah yang kita ambil pada pertemuan ini dapat membentuk masa depan tata kelola kesehatan global, menyatukan sektor kesehatan dan keuangan, serta membangun dunia yang lebih kuat dan adil, karena setiap langkah yang kita ambil akan berdampak pada miliaran orang. Bersama, kita bisa menetapkan standar baru dalam kerja sama global, dengan menempatkan kesejahteraan semua orang sebagai prioritas utama,” tegas Parjiono.
JFHTF ketiga ini ditutup oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, Kunta Wibawa yang sebelumnya telah menyampaikan update terkait persiapan penyelenggaraan JFHMM. JFHMM akan dilaksanakan pada tanggal 31 Oktober 2024 mendatang secara hybrid dan akan ada dua sesi back to back dengan JFHMM, yaitu sesi pledging Pandemic Fund dan WHO Investment Round (mobilisasi dana dari negara anggota, partner, filantrofi, dan sektor swasta untuk membiayai strategi WHO pada tahun 2025-2028).
Turut hadir pula menyampaikan pidato pembuka dari Presidensi G20 Brazil Antonio Freitas, Italia co-chair Sergio Lavicoli, serta Executive Head G20 JFHTF Secretariat Serina Ng. Pertemuan ketiga JFHTF ini dihadiri juga oleh para Deputi dan delegasi dari Negara Anggota G20, Negara Undangan, Organisasi Internasional dan Regional. (PKPPIM)
