Sosialisasi Kebijakan Fiskal pada Kunjungan Mahasiswa Universitas Jember

Jakarta (21/01): Bertempat di Ruang Rapat Gazebo Besar, Gedung R.M. Notohamiprodjo Lantai 4, Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan menyelenggarakan sosialisasi kebijakan fiskal dalam rangka mendiseminasikan kebijakan-kebijakan terkini terhadap dunia akademisi. Sosialisasi kali ini dilaksanakan pada Kunjungan Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Jember, Jawa Timur ke BKF dan merupakan kegiatan kunjungan akademisi yang pertama di tahun 2015 ini.

Sosialisasi yang dihadiri 27 mahasiswa semester 8 dan satu dosen pendamping jurusan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Jember ini dimulai dengan sambutan oleh Lukas Lantip Ciptadi, Kepala Bagian Umum, Sekretariat BKF, yang mewakili Sekretaris BKF. Dalam sambutannya, Lukas Lantip Ciptadi mengawali dengan mengenalkan struktur organisasi Kementerian Keuangan secara garis besar. Kemudian Lukas menjelaskan secara lebih rinci mengenai visi dan misi, tugas pokok dan fungsi, struktur organisasi, dan karakteristik BKF sebagai salah satu unit eselon I di Kementerian Keuangan.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan Universitas Jember, Ciplis Gema Qoriah yang merupakan dosen pendamping para mahasiswa. Dalam sambutannya, Ciplis Gema Qoriah menyampaikan harapan bahwa melalui kegiatan sosialisasi ini, para mahasiswa Universitas Jember yang hadir dapat mengkombinasikan ilmu yang didapat secara teori di universitas dengan praktik yang terjadi di lapangan khususnya dalam lingkup kebijakan fiskal. Disamping itu para mahasiswa diharapkan dapat mengetahui lebih jelas bagaimana suatu kebijakan fiskal diterapkan.

Sosialisasi kali ini menghadirkan 2 (dua) narasumber, yaitu Dalyono, Kepala Bidang ASEAN, Pusat Kebijakan Regional dan Bilateral (PKRB) BKF yang menyampaikan materi dengan judul Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dalam Perspektif Kerja Sama Keuangan ASEAN; dan Kindy Rinaldy Syahrir, Kepala Bidang Pemantauan Dini Ekonomi Makro, Pusat Kebijakan Ekonomi Makro (PKEM) BKF yang menyampaikan materi dengan judul Stablisator Otomatis Fiskal; serta dimoderatori oleh Harris Noor Rabbasa Roslim, Kepala Subbagian Manajemen Sistim Informasi, Bagian Data dan Informasi, Sekretariat BKF.

Narasumber pertama, Dalyono mengawali pemaparannya dengan menyampaikan penjelasan mengenai MEA. MEA adalah bentuk integrasi Ekonomi ASEAN yang direncanakan akan tercapai pada tahun 2015. Intisari dan karakteristik utama MEA adalah pasar tunggal dan basis produksi; kawasan ekonomi yang berdaya saing tinggi; kawasan dengan pembangunan ekonomi yang setara; dan Kawasan yang terintegrasi ke dalam ekonomi global. Dalyono menekankan terkait isu dan tantangan yang dihadapi oleh Indonesia dalam menghadapi MEA 2015 yaitu MEA dipandang akan membawa dampak positif bagi peningkatan ekspor dan aliran investasi ke Indonesia; langkah kolektif ASEAN, seperti pengembangan infrastruktur dan Financial Inclusion, sejalan dengan program reformasi ekonomi Indonesia yang selama ini aktif memainkan peran dalam mendorong proses integrasi di tingkat ASEAN; serta masalah kesiapan daya saing nasional. Dalam menghadapi MEA 2014, Pemerintah Indonesia menyiapkan respon kebijakan yang berkaitan dengan Pengembangan Industri Nasional, Pengembangan Infrastruktur, Pengembangan Logistik, Pengembangan Investasi, dan Pengembangan Perdagangan.

Narasumber kedua, Kindy Rinaldy Syahrir mengawali dengan menyampaikan definisi stabilisator otomatis. Stabilisator otomatis adalah perubahan pendapatan atau pengeluaran pemerintah karena perubahan siklus ekonomi untuk membantu menstabilkan siklus bisnis. Ukuran stabilisator otomatis berdasarkan OECD antara lain pajak penghasilan, iuran jaminan sosial, pajak perusahaan, pajak tidak langsung, dan tunjangan pengangguran. Kindy kemudian menjelaskan mengenai kebijakan fiskal sebagai alat stabilisasi. Ada 2 keberatan teoritis terhadap penggunaan kebijakan fiskal untuk tujuan stabilisasi yaitu efektivitas teknik kebijakan dan kemampuan menggunakan kebijakan stabilisasi fiskal dengan cara yang efektif. Di akhir presentasinya Kindy menjelaskan efektifitas stabilisator otomatis dengan menyajikan data-data mengenai krisis global di tahun 2008 dan penanganannya antara lain koreksi nilai pasar sebelum dan sesudah krisis keuangan 2008; dampak stimulus fiskal terhadap PDB di Negara G-20; bauran stimulus fiskal G-20 tahun 2008; dukungan langsung perbankan di Negara G-20 tahun 2009; komponen APBN sesudah krisis keuangan 2008; pertumbuhan PDB Sektoral; stimulus perpajakan APBNP 2009; dan stimulus belanja APBNP 2009.    

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang merupakan bagian akhir dari sosialisasi ini. Para peserta sangat antusias terhadap acara sosialisasi ini. Hal ini terbukti dengan banyaknya mahasiswa yang mengajukan pertanyaan kepada para narasumber terutama terkait masalah tantangan yang dihadapi Indonesia terkait dengan MEA dan langkah kongkret apa yang dilakukan oleh pemerintah untuk menghadapinya. Selain itu ada juga pertanyaan mengenai pengaruh peningkatan belanja terhadap pertumbuhan ekonomi dan dampaknya dalam mengurangi kemiskinan. Sosialisasi akhirnya ditutup dengan penyampaian kesimpulan oleh moderator yang kemudian dilanjutkan dengan pemberian doorprize kepada para peserta yang telah mengajukan pertanyaan terbaik serta tukar-menukar cendera mata antara perwakilan BKF dengan perwakilan Universitas Jember.(mi/gh)