Sosialisasi Kebijakan Fiskal pada Kunjungan Mahasiswa STAN
Jakarta (03/02): Dalam rangka mendiseminasikan kebijakan-kebijakan fiskal terkini terhadap dunia akademisi, Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan menyelenggarakan sosialisasi kebijakan fiskal bertempat di Ruang Rapat Gazebo Besar, Gedung R.M. Notohamiprodjo. Sosialisasi kali ini dilaksanakan pada Kunjungan Mahasiswa Program Diploma IV Spesialisasi Akuntansi Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) ke BKF.
Sosialisasi yang dihadiri 55 peserta yang terdiri dari Dosen Pendamping, Mahasiswa dan beberapa orang pegawai dari Ditjen Perbendaharaan dimulai dengan pemutaran video company profile BKF yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan oleh Lukas Lantip Ciptadi, Kepala Bagian Umum Sekretariat BKF, yang mewakili Sekretaris BKF. Dalam sambutannya, Lukas menyampaikan harapan semoga melalui kegiatan ini para mahasiswa dapat menimba ilmu dan mendapatkan pengetahuan yang diinginkan. Lukas juga berpesan agar kegiatan ini dijadikan kesempatan bagi para mahasiswa untuk memperoleh pengetahuan yang sebanyak-banyaknya dari para narasumber yang ahli di bidangnya terkait topik yang diminta.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan oleh perwakilan STAN, Tauhid, yang merupakan dosen pembimbing para mahasiswa dan juga Tenaga Pengkaji Bidang Perbendaharaan Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB) Kementerian Keuangan. Dalam sambutannya, Tauhid menyampaikan bahwa para mahasiswa ini memerlukan masukan-masukan yang banyak mengenai hal-hal yang terkait dengan kebijakan ke depan. Selain itu Tauhid juga mengharapkan para mahasiswa ini bisa melihat secara langsung situasi bagaimana fiscal policy formulation terjadi. Dan terakhir Tauhid mengharapkan para mahasiswa ini menjadi orang-orang yang tidak takut pada risiko tetapi mampu memitigasi risiko serta ke depannya mampu me-manage agar Indonesia tidak masuk ke jebakan middle income trap.
Sosialisasi kali ini menghadirkan 2 (dua) narasumber, yaitu Ivan Yulianto, Kepala Subbidang Risiko Keuangan dan Pengelolaan Utang, Bidang Analisis Risiko Ekonomi, Keuangan dan Sosial, Pusat Pengelolaan Risiko Fiskal (PPRF) BKF yang menyampaikan materi dengan judul “Risiko Fiskal APBN”; dan Abdurohman, Kepala Bidang Analisis Fiskal, Pusat Kebijakan Ekonomi Makro (PKEM) BKF yang menyampaikan materi dengan judul “Tantangan Pembangunan Ekonomi Jangka Menengah: Menghadapi Middle Income Trap dan Reformasi Kebijakan Ekonomi Terkini”; serta dimoderatori oleh Evy Mulyani, pegawai Sekretariat BKF yang baru saja menyelesaikan tugas belajar S3-nya.
Narasumber pertama, Ivan Yulianto mengawali dengan menjelaskan perencanaan anggaran yang mencakup penerimaan negara, belanja negara, dan surplus/defisit. Ivan kemudian menjelaskan mengenai obligasi pemerintah dan kemudian memaparkan risiko-risiko yang berkaitan dengan ekonomi makro yaitu yang disebabkan oleh variasi indikator-indikator ekonomi makro seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, suku bunga, nilai tukar rupiah, harga minyak, serta lifting minyak dan gas. Risiko fiskal didefinisikan sebagai segala sesuatu yang di masa mendatang dapat menimbulkan tekanan fiskal terhadap APBN. Ivan kemudian menjelaskan bahwa pengungkapan risiko fiskal dalam APBN Indonesia sudah dimulai dari tahun 2008 yaitu tercantum dalam Nota Keuangan 2008. Hal itu dilakukan hingga APBN yang sekarang. Ivan juga memaparkan risiko-risiko fiskal yang ada di APBN 2008 hingga 2015. Di akhir presentasinya Ivan menjelaskan bagaimana memitigasi risiko fiskal yang ada dalam APBN dan bagaimana menganalisis dana cadangan yang dibutuhkan untuk menangani risiko tersebut.
Narasumber kedua, Abdurohman mengawali dengan menyampaikan perkembangan ekonomi Indonesia dari tahun 1974 ketika terjadinya ledakan ekonomi Indonesia hingga keadaan ekonomi Indonesia di tahun 2012. Abdurohman kemudian menjelaskan mengenai definisi dan konsep middle income trap (MIT). Abdurohman juga menyajikan berbagai studi dan kajian berkaitan dengan MIT. Abdurohman kemudian menjelaskan bagaimana posisi Indonesia. Rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia setelah krisis berada dibawah rata-rata sebelum krisis. Dalam hal pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan harus mengoptimalkan bonus demografi yang waktunya terbatas. Ada beberapa tantangan yang dihadapi Indonesia: i) sektor manufaktur mengalami stagnasi; ii) rendahnya produktivitas dan efisiensi; iii) kualitas SDM relatif rendah; iv) kualitas SDM relatif rendah; v) pasar tenaga kerja rigid dan kapasitas inovasi yang rendah; vi) tingginya cost of fund dan pasar keuangan yang shallow; vii) rendahnya dukungan infrastruktur; dan viii) ketimpangan pendapatan dan ketimpangan regional. Abdurohman kemudian mengakhiri presentasinya dengan menyampaikan perkembangan reformasi kebijakan Indonesia.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang merupakan bagian akhir dari sosialisasi ini. Para peserta sangat antusias terhadap acara sosialisasi ini. Hal ini terbukti dengan banyaknya mahasiswa yang mengajukan pertanyaan kepada para narasumber terutama terkait cara memitigasi risiko fiskal yang melibatkan instansi/unit lain. Selain itu ada juga pertanyaan di luar topik yang dibahas yaitu mengenai kebijakan subsidi BBM dan penentuan target pajak. Sosialisasi akhirnya ditutup oleh Irfa Ampri, Sekretaris BKF, dan dilakukan tukar-menukar cendera mata antara perwakilan BKF dengan perwakilan STAN.(mi/gh)






