Kunjungan Konsultasi Tahunan Asean+3 Macroeconomic Research Office (AMRO)

Jakarta, (26/10):  ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) adalah suatu organisasi internasional yang terbentuk sebagai hasil dari implementasi inisiatif dalam forum kerja sama ASEAN+3 (ASEAN, Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan). AMRO memiliki tugas dan fungsi surveillance di kawasan ASEAN+3, dan berperan penting dalam proses pengambilan keputusan untuk aktivasi Chiang Mai Initiative Multilateralization (CMIM) sebagai suatu bentuk fasilitas jaring pengaman stabilitas keuangan di tingkat kawasan. Dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsi surveillance, AMRO melakukan kegiatan kunjungan konsultasi tahunan ke masing-masing negara anggota ASEAN+3, termasuk ke Indonesia.

Untuk kunjungan konsultasi tahun 2016, delegasi AMRO yang dipimpin oleh Dr. Lee Jae Young mengadakan kunjungan konsultasi ke Indonesia pada tanggal 17 s.d. 21 Oktober 2016. Direktur AMRO, Dr. Junhong Chang, dan Chief Economist AMRO, Dr. Hoe Ee Khor, turut bergabung dalam kunjungan ke beberapa institusi dan melakukan courtesy call kepada Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Kementerian Keuangan, dan kepada Gubernur dan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).

Dalam kunjungannya, delegasi AMRO melakukan pertemuan dengan (i) kementerian/lembaga (K/L), termasuk diantaranya Kementerian Keuangan, BI, Otoritas Jasa Keuangan, Kementerian Koordinator Perekonomian, dan beberapa K/L lainnya; (ii) perusahaan swasta; (iii) organisasi internasional yang berada di Jakarta; dan (iv) lembaga penelitian. Rangkaian pertemuan tersebut membahas berbagai isu yang terkait dengan economic outlook, risks and vulnerabilities, medium- to long-term growth prospects, dan structural challenges. Diskusi yang dilakukan juga berfokus pada pengambilan kebijakan, termasuk kebijakan fiskal, moneter, dan juga reformasi struktural.

Selama kunjungannya ke Kementerian Keuangan, AMRO melakukan diskusi dengan Direktorat Jenderal Anggaran, Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko, dan BKF. Kunjungan tersebut diakhiri dengan courtesy call Direktur AMRO bersama tim kepada Kepala BKF, Dr. Suahasil Nazara. Dalam kesempatan tersebut, Kepala BKF menyambut baik kedatangan delegasi AMRO dan mengharapkan AMRO dapat menjadi organisasi internasional yang kredibel dalam melaksanakan tugas dan fungsi surveillance di kawasan ASEAN+3.

Dalam paparan mengenai hasil kunjungan konsultasi AMRO, delegasi AMRO menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia telah berhasil kembali meningkat setelah mengalami penurunan dalam beberapa kwartal, dengan didukung oleh pertumbuhan konsumsi masyarakat dan pengeluaran pemerintah. Estimasi pertumbuhan diperkirakan akan mencapai sekitar 5% pada tahun 2016. Dengan kondisi inflasi yang rendah, keterkaitan dengan kondisi global yang kuat, dan kondisi usaha yang masih lemah, pelonggaran kebijakan moneter akan memicu peningkatan pertumbuhan ekonomi. Dari sisi kebijakan fiskal, program tax amnesty dipandang berhasil dalam meningkatkan penerimaan negara untuk membiayai pembangunan infrastruktur dan program sosial. Namun demikian, program tax amnesty diharapkan dapat meningkatkan penerimaan dalam jangka menengah maupun panjang melalui peningkatan dan perluasan tax base. Selain itu, Indonesia juga telah melakukan efisiensi terhadap pengeluaran pemerintah untuk mengoptimalkan penggunaan anggaran, sebagai contoh pembatasan terhadap pengeluaran untuk perjalanan dinas, program sosialisasi, dan pertemuan konsinyering. Di sisi lain, pengeluaran untuk pembangunan infrastruktur tetap menjadi prioritas dalam penggunaan anggaran.

AMRO menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Indonesia atas pelaksanaan kunjungan konsultasi yang telah berjalan dengan lancar. Kunjungan ke Indonesia telah memperdalam pemahaman AMRO terhadap situasi makro ekonomi dan keuangan Indonesia terkini, termasuk juga isu-isu yang berkaitan dengan stabilitas ekonomi Indonesia. (rdp)