Ekonomi Indonesia 2025 Kuat, Didorong Tingginya Investasi dan Ekspor serta Akselerasi Belanja Pemerintah
Jakarta, (05/02/2026) – Perekonomian Indonesia menunjukkan kinerja solid sepanjang 2025. Pertumbuhan ekonomi tercatat 5,39% (yoy) pada kuartal IV dan mencapai 5,11% secara tahunan. Capaian tersebut ditopang kuatnya permintaan domestik, investasi yang meningkat, ekspor yang terjaga, serta akselerasi belanja pemerintah sebagai penopang daya beli dan aktivitas usaha.
Dari sisi konsumsi, belanja rumah tangga sebagai kontributor terbesar PDB tumbuh 5,11% pada kuartal IV dan 4,98% sepanjang tahun. Kinerja ini tercermin dari meningkatnya Indeks Penjualan Riil, transaksi daring, serta mobilitas masyarakat selama periode libur akhir tahun. Berbagai program perlindungan sosial, bantuan langsung tunai, hingga diskon transportasi turut menjaga daya beli masyarakat dan mendorong aktivitas sektor restoran, hotel, serta transportasi.
Belanja pemerintah juga berperan sebagai shock absorber perekonomian. Sepanjang 2025, konsumsi pemerintah tumbuh 2,5% dengan realisasi belanja program prioritas mencapai Rp805,4 triliun, termasuk dukungan stabilisasi harga, penguatan produktivitas, dan stimulus rumah tangga serta dunia usaha. Langkah ini memberikan efek pengganda yang luas bagi sektor riil dan memperkuat momentum pertumbuhan.
Kinerja investasi mencatatkan penguatan signifikan. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,12% pada kuartal IV dan 5,09% sepanjang tahun, terutama didorong investasi mesin dan perlengkapan yang melonjak 17,99%. Realisasi investasi PMA dan PMDN juga meningkat 12,66%, mencerminkan terjaganya kepercayaan investor di tengah stabilitas makroekonomi dan sinergi kebijakan fiskal–moneter.
Sementara itu, sektor eksternal tetap menjadi penopang. Ekspor barang dan jasa riil tumbuh 7,03% sepanjang 2025, ditopang produk minyak hewan dan nabati, besi baja, mesin, serta peralatan elektronik. Ekspor jasa juga menguat seiring meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara. Impor yang tumbuh terutama berasal dari bahan baku dan barang modal, sejalan dengan ekspansi produksi domestik.
Dari sisi produksi, sektor manufaktur tampil konsisten dengan pertumbuhan 5,30% sepanjang tahun, sejalan dengan PMI manufaktur yang berada di zona ekspansif. Industri logam dasar, mesin dan perlengkapan, serta makanan-minuman menjadi motor utama. Sektor perdagangan, pertanian, transportasi, akomodasi, serta informasi dan komunikasi juga mencatat pertumbuhan tinggi, mencerminkan kuatnya mobilitas dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Secara kewilayahan, seluruh kawasan Indonesia tumbuh positif. Sulawesi mencatat pertumbuhan tertinggi didorong hilirisasi mineral, diikuti Jawa sebagai pusat manufaktur dan perdagangan, serta perbaikan sektor pariwisata di Bali–Nusa Tenggara. Perbaikan ekonomi tersebut turut berdampak pada penyerapan tenaga kerja dan penurunan tingkat pengangguran serta kemiskinan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan peran APBN dalam menjaga momentum pertumbuhan.
“Meskipun menghadapi berbagai tantangan, kinerja kuartal IV terakselerasi signifikan dan menjadi momentum untuk pertumbuhan lebih tinggi. APBN berperan strategis menjaga momentum tersebut, diperkuat sinergi kebijakan moneter dan sektor keuangan. Ekonomi tidak hanya tumbuh tinggi tetapi juga berkelanjutan, dengan makrofiskal yang stabil,” ujarnya.
Ke depan, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi 2026 dapat mencapai 5,4% dengan tetap menjaga kualitas belanja, memperkuat investasi swasta, serta mendorong kinerja ekspor bernilai tambah. Kebijakan fiskal akan terus dikelola secara hati-hati dan kredibel guna memastikan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan. (mdf/strkm)