Januari 2009,Harga Solar Diturunkan

Jakarta (Sindo)-Setelah menurunkan harga premium mulai kemarin,pemerintah saat ini mengkaji kemungkinan penurunan harga solar bersubsidi mulai Januari 2009.

Menurut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kemungkinan penurunan itu akan disesuaikan dengan kemampuan APBN 2009. ”Kita baru saja menurunkan premium.Kita sedang melakukan exercise apakah misalkan bulan berikutnya, harga solar bisa kita turunkan,” ujar Presiden SBY saat memberikan keterangan pers di Istana Negara Jakarta,kemarin.

Presiden mengatakan, penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meringankan beban rakyat. Kendati begitu, langkah tersebut mesti diselaraskan dengan kebijakan penyelamatan ekonomi secara keseluruhan.

”Tentu saja peluang ini harus bisa digunakan sebaikbaiknya agar tujuannya bisa dicapai, agar tidak ada penyimpangan lain, dalam upaya kita meringankan beban rakyat,” tandasnya. Sebelum memberikan keterangan pers, Presiden SBY memimpin rapat terbatas yang dihadiri oleh beberapa menteri Kabinet Indonesia Bersatu di Istana Merdeka Jakarta,selama hampir satu jam.

Rapat antara lain dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Widodo AS,Pelaksana Tugas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sri Mulyani Indrawati, Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa, Kapolri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri,Panglima TNI Jenderal (TNI) Djoko Santoso, dan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Syamsir Siregar.

Di tempat terpisah,Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR Harry Azhar Azis menilai penurunan harga solar bersubsidi memang sudah sepantasnya dilakukan. Selain anggaran pemerintah memungkinkan untuk menurunkan harga solar bersubsidi, menurutnya, langkah tersebut akan mendorong pergerakan ekonomi.

”Itu keputusan yang positif, apalagi solar dipakai oleh nelayan untuk melaut. Solar juga digunakan oleh transportasi umum,seperti bus,”katanya. Berdasarkan perhitungannya, harga solar bersubsidi bisa diturunkan dalam kisaran Rp800-1.000 per liter.Perhitungan ini mengacu asumsi bahwa pemerintah memperoleh penghematan hingga Rp17 triliun pada tahun ini dan 2009.

”Salah satunya penghematan sebesar Rp5 triliun hingga Rp7 triliun akibat penurunan asumsi harga minyak dunia pada November– Desember 2008 yang membuat anggaran subsidi turun,”katanya. Selebihnya, penghematan didapat dari selisih realiasi harga minyak mentah Indonesia (ICP) dengan asumsi APBN 2009 yang dipatok USD80 per barel.Tidak menutup kemungkinan realisasi rata-rata sepanjang tahun hanya USD60 hingga USD70 per barel sehingga akan diperoleh penghematan Rp10 triliun pada tahun depan.

”Tetapi, sebaiknya tidak semua hasil penghematan ini digunakan untuk menurun harga BBM. Idealnya 75% yang digunakan untuk menurunkan harga BBM,” katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan mengatakan, penurunan harga premium sebesar Rp500 per liter dapat menekan inflasi Desember 2008 sekitar 0,35%. Angka ini diperoleh berdasar kenyataan bahwa bobot inflasi harga bahan bakar sekitar 4,3%, dan penurunan harga premium mulai Desember 2008 sebesar 8,3%. ”Dengan demikian akan ada perlambatan inflasi,”katanya.

Lonjakan Permintaan

Di bagian lain, pada hari pertama penurunan harga premium dari Rp6.000 menjadi Rp5.500 per liter kemarin, terjadi lonjakan permintaan terhadap bahan bakar jenis tersebut di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).Kenaikan permintaan berkisar 10-50% dibanding hari normal.

Menurut Manager SPBU 31.13101 di Jalan Pramuka, Jakarta Timur,Arif Budiman, peningkatan konsumen terjadi sejak pukul 06.00–12.00 WIB. ”Asumsi saya masyarakat sengaja menahan untuk tidak membeli dulu pada hari Minggu dan baru membeli sekarang,” ungkapnya kemarin.

Kendati begitu, menurut Arif, peningkatan ini tidak sampai membuat persediaan premium habis. Stok premium cukup untuk mengatasi lonjakan permintaan konsumen. Sedangkan Kepala SPBU 34.104.01 Kramat Raya, Jakarta Pusat Arif Rahman menuturkan, di SPBU-nya, jumlah permintaan premium hanya naik 10%. ”Meski terjadi kenaikan permintaan, namun stok BBM masih cukup tersedia, sehingga tidak menimbulkan kelangkaan,” tandasnya.

Berdasar pantauan Sindo, sejumlah pompa bensin terlihat tutup. SPBU di Jalan Kesehatan Raya dan R.CVeteran,Bintaro,Jakarta Selatan tutup lebih awal, yakni pukul 12.00 WIB.Selain di kedua lokasi tersebut, sejumlah SPBU di Jakarta Barat seperti di SPBU Tanjung Duren, Grogol dan Slipi juga tutup dengan alasan persediaan premium dan pertamax sudah habis Di Kota Serang, Banten, persedian premium bersubsidi di beberapa SPBU kemarin habis.

Bahkan ada SPBU yang terpaksa harus menghentikan penjualan sejak pukul 09.00 WIB. Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Banten Rahmat Halim mengatakan, kekosongan persediaan di sejumlah SPBU lantaran masyarakat pemilik kendaraan langsung membeli premium begitu harganya diturunkan.

”Sebelumnya mungkin masayarakat menahan diri untuk membeli premium. Baru kemudian saat harganya turun, masyarakat langsung memborong,” kata dia. Di tempat terpisah,masyarakat Kota Bandung memadati SPBU kemarin.Kenaikan permintaan premium terjadi sejak pagi hari. Berdasarkan pantauan Sindo, antrean terlihat di beberapa SPBU di Kota Bandung. Bahkan ada beberapa SPBU yang langsung kehabisan premium hanya dalam beberapa jam.

Di Palembang, Sumatera Selatan, antrean panjang kendaraan terjadi hampir di seluruh SPBU. Bahkan tepat tengah hari, beberapa SPBU menghentikan aktivitasnya dan memasang pengumuman premium habis. Ketua DPD II Hiswana Migas Djunaidi Ramli mengakui, tutupnya operasional beberapa SPBU kemarin akibat stok premium di tangki SPBU habis.

Hal itu terjadi lantaran beberapa pengusaha SPBU tidak mau rugi lantaran membeli BBM dengan harga sebelum penurunan, namun menjualnya saat terjadi penurunan harga. ”Jika di dalam tangki SPBU terdapat 10 kiloliter premium yang dipesan sebelum harga penurunan maka kerugian yang pasti ditanggung SPBU sebesar Rp5 juta,”katanya.