Menyikapi Rupiah secara Wajar

Investor Daily - Rupiah bergerak dalam teritori yang mengkhawatirkan dalam dua hari terakhir, di atas Rp 12.000 per dolar AS, ke posisi terlemah sejak September 1998. Tanda tanya pun hadir di benak kita semua, apakah nilai tukar rupiah ke depan akan memburuk dan rupiah sedang menuju titik ekuilibrium yang baru? Atau gejolak yang terjadi belakangan ini hanyalah bersifat temporer?

Pertanyaan itu sama sulitnya untuk menebak ke mana arah harga minyak mentah, ke mana resesi global bakal berujung, dan sampai seberapa dalam bursa global akan memburuk, termasuk indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia.

Tak hanya Bank Indonesia dan pemerintah yang meradang gara-gara pelemahan rupiah. Pengusaha pun demikian juga, terutama importir dan sektor-sektor yang memiliki kandungan impor tinggi.

Gubernur Bank Indonesia Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani sampai harus menyerukan agar siapa pun, apakah pengusaha, pejabat, masyarakat umum, sampai ibu-ibu rumah tangga untuk melepas dolar AS. Seruan dan persuasi ini ditanggapi beragam. Ada yang menyebut sebagai hal positif, ada yang menilai kontraproduktif karena menunjukkan BI dan pemerintah panik, dan ada yang beranggapan imbauan ini tidak akan efektif.

Lantas, haruskah rupiah dibiarkan terombang-ambing disapu gelombang devisa bebas dengan kekuatan pasar yang tak terkontrol? Kita tahu BI sudah mati-matian mengintervensi pasar dengan cadangan devisa yang dimiliki. Selama Oktober saja, cadangan devisa sudah amblas US$ 6,5 miliar, sehingga pada posisi 31 Oktober tinggal US$ 50,6 miliar. Belakangan BI agak pelit mempublikasi posisi terkini cadangan devisa, yang sebelumnya selalu di-update setiap pekan. Mungkin BI tidak ingin membuat publik risau jika kenyataannya cadangan devisa memang banyak tersedot untuk intervensi.

Bagaimanapun, BI menghadapi situasi sulit, sama seperti yang dihadapi banyak negara karena mata uangnya tenggelam oleh supremasi dolar AS. Ekonomi AS yang memburuk tapi mata uangnya kian perkasa memang anomali dan sulit dicerna, namun situasi ini tak bisa dilawan. Mayoritas dolar AS yang selama ini berada di luar AS, terutama emerging markets, kembali ke kampung halaman untuk berkonsolidasi. Entah sampai kapan dolar-dolar itu akan kembali berinvestasi ke negara lain.

Ilustrasi itu sekadar ingin mengimbau kepada semua pihak untuk tidak risau oleh kondisi kurs rupiah. Semua pihak perlu menyikapi depresiasi rupiah secara wajar, dan menyadari bahwa kondisi ini bersifat temporer karena suplai dolar global terbatas, sementara kebutuhan musiman dolar jelang akhir tahun cenderung naik. Dengan demikian, BI pun tidak perlu terlalu agresif mengintervensi pasar.

Dengan pemahaman seperti itu, kita wajib memiliki keyakinan bersama bahwa kurs rupiah akan kembali normal, meski belum diketahui kapan. Sebab, pasar finansial global pun belum ekuilibirum barunya. Itu sebabnya, masyarakat tidak perlu ikut-ikutan menubruk dolar. Sebaliknya, para pemegang dolar tak perlu menahan, karena semua itu bisa membangun ekspektasi yang buruk tentang kurs rupiah.

Dalam konteks ini, kewajiban menyimpan hasil devisa ekspor ke BI hendaknya tidak hanya berlaku bagi BUMN, tapi juga swasta. Repatriasi dolar yang disimpan konglomerat di luar negeri perlu terus diupayakan dengan cara memberi insentif.

Selain itu, semua transaksi bisnis di dalam negeri diharuskan menggunakan mata uang rupiah, bukan dengan dolar. Sudah saatnya kita menghargai dan memercayai mata uang bangsa sendiri.

Yang lebih penting lagi, energi pemerintah dan BI jangan terkuras hanya untuk mengurusi nilai tukar rupiah. Yang perlu dilakukan pemerintah adalah menjamin kecukupan suplai barang agar harga-harga tidak melonjak, mengundang investor asing masuk dengan menciptakan iklim investasi yang kondusif, dan segera menyeluarkan paket stimulus ekonomi agar sektor riil bergairah dan kebal menghadapi deraan krisis global.