Pasar Surat Berharga Negara 2009 Lebih Cerah
Pemerintah mematok target penerbitan surat berharga negara tahun depan sebesar Rp 103,478 triliun untuk menutup defisit anggaran negara. Target ini lebih besar ketimbang pencapaian penjualan surat berharga negara 2008 sebesar Rp 102,8 triliun. Pemerintah pun yakin target penerbitan tersebut bisa dipenuhi. "Secara umum, sepanjang 2009, kondisi pasar akan lebih baik," kata Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan Rahmat Waluyanto ketika ditemui di kantornya kemarin.
Ia menambahkan, indikator makro tahun depan lebih bagus ketimbang tahun ini. Kurs diproyeksi menguat, inflasi semakin rendah, dan suku bunga juga lebih rendah. "Semua itu," kata dia, "adalah sentimen positif bagi pasar meskipun target penerbitan masih relatif tinggi, di atas Rp 100 triliun."
Optimisme pemerintah ini juga mengacu pada penjualan surat berharga sepanjang 2008 yang sudah memenuhi target Rp 102,8 triliun. Kalaupun pemerintah sampai sekarang masih terus menerbitkan surat utang, menurut Rahmat, itu dimaksudkan untuk berjaga-jaga dan sebagai acuan (benchmark).
Penerbitan surat berharga negara tahun ini telah dikoreksi dari target sebelumnya sebesar Rp 117,8 triliun. Perubahan itu dibuat karena pemerintah mengurangi target defisit menjadi 1,7 persen dari produk domestik bruto (Rp 78,1 triliun). Pada anggaran perubahan 2008 pemerintah mematok defisit 2,1 persen (Rp 94,5 triliun).
Penurunan defisit, tutur Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu, adalah dampak dari membaiknya penerimaan pajak dan belum optimalnya belanja pemerintah. Selain itu, melorotnya harga minyak telah menurunkan beban subsidi bahan bakar minyak. "Neraca pembayaran kita makin baik," katanya.
Rahmat melanjutkan, dengan penurunan defisit tersebut, kebutuhan pembiayaan melalui penerbitan surat utang juga menurun sekitar Rp 15 triliun. Karena itulah, dia berujar, target penerbitan surat utang ditekan dari 2,6 persen anggaran (Rp 117,8 triliun) menjadi 2,2 persen anggaran (Rp 102,8 triliun).
Pada tahun depan, ditambahkan Rahmat, penerbitan obligasi tetap berfokus pada pasar di dalam negeri untuk memperkuat basis investor domestik. Adapun obligasi global hanya berperan sebagai pelengkap.
Ia mengungkapkan, meski pembelian surat utang negara oleh investor asing sangat cepat, pemerintah tidak bisa melarang mereka. Satu-satunya cara menangkal serbuan pemodal asing adalah dengan memperkuat basis pasar domestik melalui penerbitan surat utang retail, baik sukuk (obligasi syariah) retail maupun obligasi negara retail (ORI).
Terkait dengan sukuk, Rahmat mengimbuhkan, pemerintah berencana menerbitkan sukuk retail pada tiga bulan pertama tahun depan. Sebelumnya, pemerintah akan melakukan sosialisasi secara nasional bersama pasar modal, Departemen Agama, dan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia.
Dirjen menuturkan pemerintah menetapkan target penerbitan sukuk retail lebih tinggi daripada penerbitan ORI. "Target penerbitan sebesar-besarnya. Kalau ORI saja bisa sampai Rp 13 triliun, mudah-mudahan sukuk retail bisa lebih," ucap Rahmat.
Pemerintah, paparnya, akan menunjuk agen penjual sukuk retail awal tahun ini. Selanjutnya para agen inilah yang akan menyampaikan jumlah sukuk retail yang sanggup mereka distribusikan. Menurut Rahmat, calon investor sukuk retail adalah para deposan yang merupakan klien dari private banking.
Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance, Aviliani, menilai tahun depan kondisi pasar keuangan masih belum cukup kondusif untuk penerbitan surat berharga negara. Penyebabnya, likuiditas banyak terserap di sektor perbankan yang diprediksi masih akan tumbuh pada tahun depan.
"Likuiditas masih akan cukup ketat," kata dia kepada Tempo kemarin. Ketatnya likuiditas akan membuat bank berlomba-lomba menyedot likuiditas dari pasar dengan bersaing menawarkan bunga tinggi. Dengan demikian, investor akan lebih tertarik menyimpan uangnya di deposito.
Sebagai catatan, Departemen Keuangan melaporkan penjualan ORI 005 meleset jauh dari target. Hasil pemesanan pembelian ORI 005 dari 18 agen penjual hanya mencapai Rp 2,71 triliun atau 43,61 persen dari target penjualan sebesar Rp 6,225 triliun.
Calon investor ORI ternyata lebih tergiur dengan bunga deposito yang menawarkan bunga rata-rata 12 persen, bahkan sampai 14 persen, jauh di atas imbal hasil ORI 005 sebesar 11,45 persen dengan tenor 5 tahun.
Sementara itu, kata Aviliani, investor asing juga sewaktu-waktu bisa memindahkan dananya jika suasana investasi tidak kondusif. "Banyaknya investor asing membuat hot money justru makin besar. Mereka bisa keluar kapan saja," katanya.
Ke depan, Avilliani menyarankan agar pemerintah memperkuat investor domestik dengan melakukan diversifikasi instrumen pembiayaan. Defisit anggaran juga harus terus ditekan agar kebutuhan pembiayaan melalui utang bisa ditekan. "Kita seharusnya bisa lebih mandiri, defisit harus terus diturunkan," katanya.
Ditemui terpisah, anggota Komisi Keuangan dan Perbankan Dewan Perwakilan Rakyat, Harry Azhar Azis, menilai situasi tahun depan masih akan lebih baik. Apalagi jika Amerika Serikat berhasil pulih dari krisis sektor keuangan. Namun, ia berpandangan target penerbitan surat berharga masih cukup tinggi dan perlu dipangkas lagi dengan efisiensi.
Sumber : E-Kliping (Koran Tempo 25 September 2008)