Rupiah Merosot Dekati 9.200 Per Dolar AS
Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Selasa (26/8) pagi turun tajam mendekati Rp9.200 per dolar AS karena pelaku pasar aktif membeli mata uang asing itu akibat merosotnya harga minyak mentah dunia."Pelaku pasar aktif membeli dolar AS, karena mata uang asing itu di pasar global menguat terhadap mata uang Asia mengakibatkan rupiah turun tajam, " kata Analis Valas PT Bank Himpunan Saudara Rully Nova di Jakarta.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada pada Rp9.178/9.185 per dolar AS naik dibanding hari sebelumnya Rp9.156/9.160 atau menguat 22 poin. Menurutnya, aksi beli dolar AS saat ini mendominasi pasar, sehingga mata uang Indonesia tertekan cukup tajam. Rupiah diperkirakan akan terus merosot hingga mencapai angka Rp9.200 per dolar AS.
"Kami optimis mata uang lokal itu akan terus terpuruk hingga mencapai level Rp9.200 per dolar AS," katanya.
Merosotnya harga minyak mentah dunia hingga mencapai level lebih dari US$114, ujarnya, mengakibatkan pelaku pasar asing maupun lokal memburu dolar AS. Turunnya harga minyak mentah dunia itu akibat merosotnya permintaan konsumen di pasar global.
Dolar AS diperdagangkan Selasa pagi membaik akibat berkembang spekulasi penurunan suku bunga di Eropa untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Euro merosot menjadi US$1,4751 dari US$1,4779. Greenback juga menguat menjadi 109,31 yen.
Data penjualan rumah bekas AS meningkat 3,1% pada Juli yang mendorong menguat nilai dolar AS di pasar. Menurut Rully Nova, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan masuk ke pasar melakukan intervensi dengan melepas cadangan dolar AS sehingga tekanan terhadap rupiah akan bisa berkurang.
"Namun BI untuk sementara itu hanya memantau saja, karena pergerakan rupiah dinilai masih stabil berada di bawah angka Rp9.200 per dolar AS," ucapnya.
Tekanan terhadap rupiah, lanjut dia saat ini dinilai wajar, karena mata uang Indonesia ini sempat menguat hingga mendekati angka Rp9.000 per dolar AS. Jadi, katanya, tidak masalah kalau koreksi terhadap rupiah masih terjadi yang didukung pula oleh melemahnya harga minyak mentah dunia.
Media Indonesia